Andai Kau Mencintaiku

Andai Kau Mencintaiku
itu bayu


__ADS_3

Ajeng berdiri di balkon, memandangi ibu ibu pemetik teh.


Perempuan itu tampak tertarik sekali dengan apa yang di lihatnya.


Tapi tatapannya berubah saat ia melihat seseorang laki laki berjalan di bawah kamar yang ia tempati persis, laki laki itu terlihat kebingungan melihat kesana dan kemari.


Apakah aku tidak salah lihat?, tanyanya dalam batin.


" Itu bayu.." gumamnya pelan, dan saat ia bergumam, si laki laki melihat keatas, dan berbenturan lah pandangan keduanya.


Lama keduanya saling menatap, hingga si laki laki itu melambaikan tangannya, meminta Ajeng untuk turun.


Benar, itu Bayu..


Ajeng lama terdiam, ia ingin turun, tapi kemudian ia mengingat Agung.


Bayu melambaikan tangannya lagi, tapi Ajeng langsung menggeleng pelan,


" Pergilah..!" ujar Ajeng.


" tidak, turunlah sebentar, aku juga menginap disini?!" jawab Bayu,


betapa kagetnya Ajeng saat mendengar Bayu juga menginap di tempat ini,


tapi tetap saja, ia tidak bisa menemui Bayu, ia sudah bersuami sekarang, meski agung tidak mengatakan apapun, dan akan diam saja, ia harus menjaga perasaan agung.


Sekali lagi Ajeng menggeleng menandakan tidak pada laki laki berkacamata itu, lalu segera berjalan masuk ke dalam kamar.


Dengan perasaan yang tak karu karuan karena kedatangan Bayu, Ajeng segera mengambil Hpnya di atas tempat tidur.


Ia menghubungi Mia,


" Mi?! kau yang memberitahu Bayu kalau aku sedang menginap di kebun teh?!" Ajeng langsung bertanya saat Mia sudah mengangkat panggilan Ajeng.


" Aku tidak gila?!" jawab Mia cepat,


" lalu kenapa dia bisa disini?!" tanya Ajeng,


" mana kutahu jeng?, aku masih waras, kau sedang bulan madu, masa aku memberitahu lokasimu pada Bayu yang tidak tau diri itu?!" Mia kesal.


Mendengar itu Ajeng terdiam, kalau bukan Mia lalu siapa.. batin Ajeng.


" Apa dia menemui mu dengan suamimu?" tanya Mia,


" Di berada di luar kamarku, menyuruhku untuk turun tapi aku tidak mau?"


" suamimu dimana?"


" dia sedang keluar membeli rokok.."


" jangan temui dia, kau gila kalau masih mau menemuinya, apalagi dalam moment yang seperti ini,

__ADS_1


meski suamimu itu tidak akan marah padamu, tapi kau harus bisa berpikir mana yang pantas dan tidak pantas," nasehat Mia,


" aku tau Mi.." jawab Ajeng pelan,


" Baguslah kalau kau tau.. abaikan Bayu, ceritakan lah tentang malam pertamamu?"


" malam kedua,"


" memang malam kedua, tapi aku tidak yakin malam pertama kemarin kalian melakukannya, jadi apakah di hari kedua ini sudah ada malam pertama??" tanya Mia penasaran sambil cekikikan,


" jangan bilang kalau kalian hanya tidur berdampingan saja di cuaca dan suasana yang seromantis itu??" tanya Mia lagi saat Ajeng hanya diam.


" Jeng?!" panggil mia,


" apa sih Mi?!"


" sudah atau belum?"


" apanya?"


" pura pura bodoh! suamimu benar benar ya? bisa bisanya dia tahan melihatmu hanya tidur disampingnya saja dengan suasana semacam itu? kalau suamiku sudah habis beronde ronde!" tegas Mia,


" Jangan bilang sampai detik ini kau masih perawan Jeng?? astaga jeng.. apa gunanya kau menikah kalau hanya status saja jeng..??" keluh Mia lagi,


" Sudah tidak.." jawab Ajeng pelan.


Suasana hening sesaat,


" ya yang kau tanyakan apa mi?"


" kau masih perawan?"


" sudah tidak.." jawab Ajeng lagi pelan, entah kenapa ada perasaan malu menghinggapinya.


" Sungguh kau?!" tanya Mia tidak percaya,


" sudah mi.. tadi malam.."


" awas kau bohong jeng?! berapa kali?!"


" sekali mi, mau berapa kali, orang sakitnya minta ampun.." jawab Ajeng membuat Mia akhirnya yakin kalau Ajeng benar benar sudah tidur dengan suaminya.


" bagaimana respon suamimu yang biasanya bersopan santun padamu itu? aku jadi penasaran?" Mia terkekeh,


" huss..! apa sih Mi, sudah kumatikan telfonnya?"


" Ya sudah, awas! jangan temui Bayu!" tegas Mia,


" iya," jawab Ajeng mengangguk lalu mematikan sambungan telfonnya.


Ajeng yang penasaran berjalan keluar lagi ke balkon, ia menatap sekitar, rupanya Bayu sudah pergi.

__ADS_1


Entah kenapa Ajeng sedikit tenang, ia duduk di kursi yang tersedia di balkon.


Tak lama ia duduk terdengar suara pintu terbuka.


Rupanya Agung, di tangannya memegang kantong kresek warna hitam.


" Di bawah ramai sekali.." ujarnya mendekati Ajeng,


" iya, karena sekarang hari Minggu.. banyak wisatawan lokal yang berkunjung bersama keluarga.. mas mau jalan jalan?" tanya Ajeng,


" kulihat ada kuda dan kereta yang berkeliling, lalu orang orang juga bermain ATV.."


" mas jalan jalan saja.. kan mas belum pernah kesini.."


" Tidak ah.. disini saja menemanimu.. kau sedang tidak fit.." jawab agung berdiri dan bersandar di pagar balkon.


Ia mengeluarkan rokok dan beberapa batang coklat dari kantong, memberikannya pada Ajeng yang sedang duduk, lalu kembali bersandar di pagar balkon.


" Wah, terimakasih..!" jawab Ajeng dengan wajah sumringah karena ada beberapa batang coklat kesukaannya di hadapannya.


Agung yang jauh dari Ajeng itu mulai membakar rokok dan menghisapnya.


laki laki itu melayangkan pandangannya pada perkebunan.


Tapi tak lama ia melihat seseorang berdiri di bawah balkon sembari menatapnya.


Laki laki berkulit putih dan berkacamata, sepertinya agung pernah melihatnya, siapa ya..?


Agung meraba raba,


mantan Ajeng? tanyanya dalam hati, yah ia ingat itu adalah mantan Ajeng.


Sedang apa laki laki itu disini, bahkan menatap ke kamar ini dengan terang terangan?


apa Ajeng yang memberitahunya bahwa kami disini?


batin agung bergolak, ada perasaan kesal menghinggapinya, di tatapnya Ajeng sejenak.


" Tadi keluar saat aku membeli rokok?" tanya agung tiba tiba,


" tidak.." jawab Ajeng polos sembari mengunyah coklat di mulutnya.


Mendengar itu Agung kembali menatap ke bawah, tapi rupanya Bayu sudah tidak ada.


Rasanya ingin meremas rokok yang sedang berada di jarinya, tapi melakukan itu sama saja dengan ia menunjukkan ketidak dewasaannya.


Bukankah saat menikahi Ajeng ia sudah tau hal ini akan terjadi,


tapi ia sungguh sungguh tidak mengira, setelah melewati malam dengannya, Ajeng masih bisa mengabari, atau mungkin saja sudah bertemu diam diam dengan mantan kekasihnya itu.


Agung tersenyum getir, di buang pandangannya kembali ke arah perkebunan, sembari menghisap rokoknya sampai habis.

__ADS_1


__ADS_2