Andai Kau Mencintaiku

Andai Kau Mencintaiku
suami ajeng


__ADS_3

Agung mengangkat tubuh Ajeng tanpa bertanya, di gendongnya tubuh Ajeng yang langsing itu agar wajah Ajeng berhadapan dengannya.


Di pegang erat kedua paha Ajeng yang melingkar di pinggangnya.


" Kau yang bilang aku boleh melepaskan perasaanku.." ucap Agung pelan,


Ajeng yang tiba tiba di gendong masih kebingungan.


" Kenapa? setelah menarikku masuk sekarang ingin mendorongku keluar?" tanya agung dengan wajah sudah mendekat.


Mendengar itu Ajeng diam, ia sekarang sadar kalau sudah memancing Agung, dan sekarang ia harus bertanggung jawab.


Bisa bisanya ia memeluk seorang laki laki yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk, pikirannya sungguh tidak sejauh itu.


" kenapa tiba tiba diam, padahal tadi banyak bicara?" tanya agung masih menggendong Ajeng dengan kuat.


" apa menyesal sudah mengatakan itu pada bekas sopirmu?" tanya agung lirih lalu mencuri bibir Ajeng.


Ajeng yang diam saja tidak merespon disandarkan ke dinding oleh agung, di ciuminya lagi perempuan itu dengan lebih hangat, dari bibir turun ke leher.


Bekas yang belum hilang semalam di tambah lagi oleh agung, hal itu tentu saja membuat Ajeng menggeliat dan tangannya yang melingkar di leher agung tanpa sadar meremas rambut agung yang tipis itu.


Merasakan Ajeng menggeliat, tentu saja agung semakin tidak bisa di hentikan,


Ia kembali ke bibir Ajeng, di ciuminya lagi perempuan itu,


bedanya sekarang Ajeng merespon, di balasnya ciuman agung seperti semalam.


Keduanya berciuman seperti tidak ada puasnya, hingga akhirnya agung membawa Ajeng yang di atas gendongannya itu ke arah meja panjang yang terletak disamping jendela persis.


Di rebahkan ya Ajeng disana, dengan pintu balkon yang masih terbuka sehingga kabut tipis masuk ke dalam kamar membawa hawa dingin.


Suara ramai pun terdengar dari luar, karena ini jam makan malam banyak orang yang lewat dengan bercanda dan berbincang, namun hal itu tidak dapat menyurutkan hasrat pasangan suami istri ini,


dan Handuk yang sedari tadi di pakai agung pun kini sudah jatuh ke lantai.


Udara yang dingin baru terasa menyentuh kulitnya sekarang, Ajeng yang sempat tertidur karena kelelahan itu membuka matanya dengan cepat.


Ia melihat tubuhnya sudah tertutupi selimut, dan agung sedang duduk disampingnya, laki laki itu terlihat sudah mandi dan mengganti bajunya.


Tatapannya lekat ke arah Ajeng, terlihat jelas penuh kasih sayang.

__ADS_1


keduanya berpandangan sesaat hingga akhirnya Ajeng membuang pandangannya ke arah lain karena canggung dan segera bangkit dengan selimut yang menutupi dirinya.


Karena hari Minggu, suasana di resto itu sedikit ramai, Agung dan Ajeng memilih duduk diluar resto sembari menikmati udara malam.


Sebenarnya Ajeng capek, tapi karena ini malam terakhir mereka di kebun teh, Ajeng jadi memaksakan dirinya untuk keluar.


Ia pun ingin memakan sesuatu yang pedas dan berkuah.


" Kau harus makan nasi, kok malah makan bakso.." komentar Agung saat pesanan bakso Ajeng datang.


" Sedang ingin makan yang pedas dan berkuah.." jawab Ajeng.


Tak lama datang pesanan Agung, yaitu sate dan satu nasi goreng kambing.


" Makan satenya.." agung mendekatkan piring sate beserta nasi ke Ajeng.


" Mana muat perutku?" Ajeng menatap agung,


" makan saja, kalau tidak habis biar aku yang habiskan nanti.." kata agung tenang.


Saat keduanya mulai makan, beberapa perempuan lewat disamping agung, mata Ajeng tidak sengaja menangkap tatapan ketertarikan dari para perempuan itu kepada agung.


Ajeng menaruh sendoknya, ada ketidak senangan yang menggelitik hatinya.


Tapi sekarang, saking gagahnya dan menariknya, banyak perempuan yang terang terangan menatapnya, hal itu ia sadari setelah berjalan dengan agung dua hari ini.


Ajeng kesal dengan hidung mancung dan alis yang lebat teratur itu.


Ajeng kesal dengan postur tubuhnya yang tegap dan menarik itu.


" Kenapa?" tanya agung saat Ajeng menaruh sendoknya lalu menatapnya,


" mau ganti menu?" tanya agung,


" tidak," jawab Ajeng pendek.


Tak lama seseorang tiba tiba saja berjalan mendekat ke arah mereka, menganggu suasana yang tenang itu.


" Hai jeng.."


Deg, suara Bayu.

__ADS_1


Ajeng langsung menoleh dengan ekspresi kaget.


Bayu sedang berdiri disampingnya, dan di belakangnya ada seorang wanita, yah itu istrinya.


Ajeng langsung menatap agung,


agung terlihat tidak kaget, ia mengunyah makanannya dengan tenang.


" Kebetulan ya bertemu disini, kau dengan suamimu?


emh.. ngomong ngomong kau belum memperkenalkan aku dengan suamimu?" ujar Bayu mengulas senyum memandang agung.


" Aku dengan istriku, kau juga belum berkenalan dengan istriku kan," kata Bayu,


" ini Ajeng.. Fik, dulu kami teman baik.." ujar Bayu pada istrinya sehingga istrinya itu maju dan menjabat tangan Ajeng.


Mau tidak mau Ajeng menjabat tangan istri Bayu pula sembari memaksakan senyum.


Bayu terlihat senang melihat istrinya bersalaman dengan Ajeng.


" Saya Bayu mas.. kita pernah bertemu sebelumnya.." sekarang Bayu menoleh pada agung dan mengarahkan tangannya untuk berjabat tangan.


Agung menaruh sendoknya, dan membalas jabatan tangan Bayu,


" Agung, saya suami Ajeng," ujar agung tanpa senyum.


Bayu melihat tangan agung yang Kokoh itu lalu kembali menatap wajah agung,


Dengan memaksakan senyumnya,


" Baiklah.. silahkan melanjutkan makannya, kami hanya menyapa saja.. semoga lain kali kita bertemu lagi.." Bayu yang seperti orang bingung itu tiba tiba saja pamit pergi dengan istrinya.


Ajeng terlihat kesal dan bingung, entah apa mau Bayu sesungguhnya sampai bersikap seperti ini di depan agung.


" Aku sungguh sungguh tidak memb.."


" iya,"


belum selesai Ajeng bicara, tapi agung sudah memotong perkataan Ajeng, hal itu membuat Ajeng semakin tidak enak, apalagi ekspresi yang tenang itu.


" Aku tidak tau apa maksudnya seperti itu? aku sungguh sungguh tidak tau.." keluh Ajeng di hadapan agung yang masih meneruskan memakan nasi goreng kambingnya dengan tenang.

__ADS_1


" Teruskan makanmu, kenyangkan perutmu.. aku tidak mau kau sakit.. setelah itu kita kembali ke kamar.." kata agung dengan raut datar, ia tidak terlihat marah,


tapi Ajeng tidak tau apa yang sesungguhnya laki laki itu pendam setiap melihat mantan kekasih Ajeng itu.


__ADS_2