
" Tadi ada pak Nurdin.."
mendengar nama Nurdi di sebut, Ajeng langsung menoleh pada Agung,
" dia ngomong aneh aneh lagi?" tanya Ajeng yang baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya mendekati suaminya.
" Tidak.. dia membicarakan tentang tanah.." jawab agung tenang,
" tanah? tanah apa?" Ajeng duduk disamping suaminya, di atas tempat tidur.
" Aku juga tidak tau, katanya kau punya tanah, dan dia mau membelinya,"
Ajeng berpikir sejenak,
" Tanah yang di berikan Mbah kung mungkin," kata Ajeng kemudian,
" mungkin, dia bertanya padaku supaya kau bersedia menjualnya, tapi aku yang tidak tau menau tentu saja tidak berani.."
Ajeng bangkit, berpindah ke meja riasnya,
" apa katanya mas..?" tanya Ajeng sembari mengambil body lotionnya.
" Kalau tanah itu tidak di olah lebih baik di jual,"
" lalu Mbah kung bicara apa?"
" sepertinya terserah dirimu saja.."
" aku memang membiarkan tanah itu begitu saja, dari pada di jual, bagaimana kalau mas yang mengolahnya?"
" aku tidak mau turut campur, pandangan pak Nurdin akan semakin buruk padaku.." tolak agung langsung.
" Kenapa mas terlalu memperdulikan ucapannya, aku yang keponakannya saja tidak perduli.."
" tidak bisa, serahkan saja pada orang lain jika mau mengolahnya..
aku mau fokus dinas dan mencari rumah untuk kita," mendengar itu Ajeng tidak menjawab.
" Bicara apa tadi dengan mas bagus?" tanya Ajeng ketika sudah selesai dengan pelembabnya,
" Bicara sekedarnya.."
" apa mas bagus tidak pernah membahas seorang wanita?"
" dia selalu memikirkan mu, mana ada waktu memikirkan dirinya.."
" mas benar, mas bagus terlalu memikirkanku.. karena itu aku semakin khawatir.." ucap Ajeng sembari memandang cermin.
" Aku ingin mengenalkannya pada seorang teman, bagaimana menurut mas?" tanya Ajeng,
" semua terserah dirimu, tapi jangan asal memilih perempuan,"
" asal bagaimana??"
" asal cantik dan baik.."
" lalu aku harus memilih yang bagaimana, cantik dan baik itu tidak cukup?"
__ADS_1
" tentu tidak, carilah seorang perempuan yang mau menerima kekurangannya, sabar juga kuat ketika di hadapkan dengan kondisi mas bagus yang tidak stabil..
kalau kau salah memilih, bukan sembuh, mas bagus akan lebih buruk keadaannya dari sekarang.." nasehat agung.
" Dimana kucari perempuan yang seperti itu?" raut Ajeng sedih,
" karena itu, kubilang jangan sembarangan.. bisa bahaya kalau hatinya patah karena kau salah memilih..
dari luar dia tampak baik baik saja, ganteng gagah, punya uang.. setiap perempuan pasti mau padanya, tapi setelah tau apa yang mas bagus derita, mungkin mereka akan berangsur menjauh atau bahkan langsung pergi meninggalkan mas bagus,"
" apa benar benar tidak ada kesempatan bagi mas bagus? dia sudah stabil bertahun tahun, tidak pernah dia relapse sekalipun setelah itu sampai sekarang..
selama dia minum obat dengan teratur semua baik baik saja.."
" aku tau keresahanmu, tapi menyerahkan semua pada yang bersangkutan adalah yang terbaik..
jodoh tidak akan kemana.. akan datang pada waktunya.."
" tapi usianya.."
" lalu usiaku? aku juga lebih tua darinya.. saat pindah kesini aku Sama sekali tidak memikirkan tentang hubungan dengan seorang wanita, tapi ternyata Tuhan sudah berencana, tanpa perlu berpacaran aku sudah menjadi suami sekarang.."
Ajeng menghela nafas panjang sembari menatap agung dari cermin, benar kata suaminya itu, lebih baik ia menyerahkan segalanya pada mas bagus sendiri.
Tidak menikahpun kelak Ajeng akan merawatnya.
Agung bangkit dari duduknya, mengambil sisir disamping Ajeng, membuka jepit rambut Ajeng, sehingga rambut panjang itu terurai.
Mulai di sisiri rambut itu pelan pelan,
" Aku bisa menyisirnya sendiri mas.." kata Ajeng mendongak ke atas, menatap agung yang berdiri di belakangnya itu, keduanya saling menatap.
" Menghadaplah ke kaca," kata agung pelan,
mendengar itu Ajeng kembali menghadap ke kaca, Ajeng tau bahwa baru saja agung ingin menciumnya, tapi entah apa yang membuat laki laki itu mengurungkan niatnya.
Suasana kamar tiba tiba hening, keduanya tidak saling bicara lagi, dan agung hanya sibuk menyisir rambut Ajeng.
" Tok tok tok..!" terdengar seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
Agung yang berdiri, berjalan ke arah pintu dan membukanya.
" Ada apa mbok?" tanya agung,
" ini minum dulu jamunya.." kata mbok gatik membawa dua gelas jamu.
" Jamu apa mbok?" tanya Ajeng berdiri dan berjalan kesamping agung.
" Jamu, yang satu sehat laki laki, yang satu sehat perempuan.. biar cepat dapat momongan.." mbok gatik tersenyum,
" siapa yang suruh mbok?" tanya Ajeng dengan raut canggung,
" ya Mbah Kakung, seminggu sekali akan saya bikinkan.." jawab mbok gatik tidak menangkap kecanggungan pada agung dan Ajeng.
" Ya sudah, mana mbok.." Ajeng mengambil dua gelas itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.
" Terimakasih mbok," ucap agung,
__ADS_1
" sami sami mas.. oh iya, kalau sudah minum jamu, mas agung disuruh Nemani Mbah kung main catur sebentar.."
" iya mbok,"
" ya wes, segera di minum jamunya," kata mbok gatik berbalik dan berjalan menuju dapur.
Agung menutup kembali pintu kamar dan berjalan ke arah tempat tidur.
" minum jamunya mas," kata Ajeng mendekat dan memberikan segelas jamu itu.
Agung menatap Ajeng sesaat, lalu segera mengambil gelas itu.
Dengan dua kali tegukan, jamu di gelas itu langsung menghilang.
di berikannya gelas itu pada Ajeng, agung melirik gelas Ajeng, masih penuh, belum di sentuh sedikitpun.
" Aku akan meminumnya nanti.." kata Ajeng tau agung melirik gelasnya,
" buang saja lewat jendela kalau tidak mau," kata agung,
mendengar itu Ajeng merasa tidak enak, ia langsung mengambil gelasnya dan meminum jamu yang sesungguhnya tidak terlalu pahit itu.
" Sudah kuminum," kata Ajeng, lalu menyerahkan dua gelas kosong itu pada agung.
" Katanya mau temani Mbah kung catur, tolong bawakan gelasnya ke dapur sekalian.."
Agung tidak menjawab, namun tangannya menerima dua gelas kosong itu.
Dengan langkah tenang agung berjalan keluar dari kamar menuju dapur.
" Pinter, langsung di minum..!" kata mbok gatik saat melihat agung membawa dua gelas kosong,
" ini di minum kan sama mbak Ajeng? bukan di buang?" tanya mbok gatik faham betul Ajeng tidak suka minum jamu.
" Diminum kok mbok, di depan saya langsung.." jawab agung,
" Alhamdulillah, padahal biasanya tidak suka jamu..
pasti saking sayangnya dengan mas agung ini, sampai rela minum jamu..
owalah mas, tak doakan cepat dapat momongan ya, mbok pingin lihat anak sampean dan Mbah Ajeng..?" mbok gatik menyentuh lengan agung penuh harap.
Agung tertunduk sejenak, lalu mencoba tersenyum,
" iya mbok, saya ke Mbah kung dulu.." katanya lalu segera pergi ke arah ruang keluarga.
Setelah sampai di ruang keluarga, ternyata Mbah kung sudah duduk disana dengan papan catur di atas meja.
" istrimu sudah tidur?" tanya Mbah kung saat agung duduk di hadapannya,
" belum Mbah.." jawab agung pelan,
" jamu yang di buatkan mbok gatik sudah di minum?" tanya Mbah kung membuat agung kembali canggung dan malu, entahlah, padahal ia sudah melewati malam dengan Ajeng, tapi setelah kembali kerumah ini, semuanya terasa berbeda dengan di hotel, di hotel keberaniannya entah muncul dari mana, entah karena perasaannya, entah karena suasana yang amat mendukung.
" Sampun.. ( sudah )" jawab agung sembari memperbaiki posisi duduknya.
" Bagus.. rajin rajinlah minum jamu, itu resep rahasia Mbah utimu dulu, setelah menikah, tidak menunggu waktu lama Mbah utimu langsung hamil.. selain anugerah Tuhan, itu karena kami rajin meminum jamu itu, untuk Ajeng, itu bisa menyehatkan kandungan,
__ADS_1
Mbah kung sudah tua, jadi jangan lama lama kalian punya momongannya.."
mendengar kata kata Mbah kung, agung hanya bisa mengangguk, ia segera mengambil papan catur dan menatanya.