
Suasana dirumah itu ramai dengan para keluarga dan teman teman agung,
rumah putih dan luas itu terlihat indah dengan bunga bunga yang terangkai setiap sudut ruangan dan di atas meja.
Agung duduk dengan setelan baju pengantinnya di depan penghulu, ia terlihat gagah dengan setelah putih dan blangkonnya, tak lupa keris yang di kalungi melati segar di pinggang belakangnya.
Wajahnya tampak tegang menunggu sang pengantin perempuan keluar dari kamar.
" Tenangkan dirimu Gung.." ujar Sofyan yang duduk di belakang agung persis,
Agung tak menjawab, ia hanya mengangguk saja.
Di ujung ruangan terlihat para saudara jauh Mbah kung, mereka hadir untuk menyaksikan akad nikah yang memang di adakan dengan sederhana pagi ini, sementara acara besarnya akan di adakan nanti sore di gedung.
" Jangan menangis, nanti make up mu berantakan?" ujar Mia pada Ajeng, yang sedari tadi berwajah sendu itu.
" Iya Mbak, saya yang susah nanti.." sahut si perias.
Ajeng sudah menggunakan kebaya putih lengkap dengan sanggul putri Solonya yang di hiasi mawar merah maroon di sisi sisi sanggul.
sementara di atas sanggulnya di hiasi sari ayu.
Make up yang tipis itu membuat Ajeng tampak cantik natural, cocok dengan potongan kebaya kutu barunya yang penuh Payet sehingga tampak anggun dan elegan.
Ajeng mengangguk meski dadanya terasa sesak, ia sudah menguatkan hatinya,
ia sudah berusaha sungguh sungguh menerima pernikahan ini dengan lapang hati, toh ia juga tidak mungkin lari,
mungkin memang agunglah yang menjadi jodohnya, meski pun ini semua akan ia jalani tanpa cinta.
__ADS_1
Ajeng berjalan keluar kamar, di temani oleh Mia,
" pelan pelan nduk.." ujar bulek Susan memegang ujung kebaya Ajeng yang panjang.
Semua mata tampak takjub dengan dandanan Ajeng yang ' manglingi ' ( terlihat berbeda dari wajahnya biasanya ), perempuan itu tampak anggun, setelah sampai disamping agung, perempuan itu duduk dengan hati hati.
Jika semua mata menatap Ajeng dengan kagum, namun tidak dengan Agung,
laki laki itu tidak menoleh atau menatap Ajeng sedikit pun, tatapannya lurus ke arah meja di hadapannya,
ia sungguh tidak berani menatap Ajeng,
baginya semua ini masih terasa seperti mimpi, dan mimpi yang benar benar tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya.
" Wah.. pengantin perempuannya cantik sekali ini, tapi sayang.. pengantin laki laki tidak mau menoleh sama sekali.. kenapa mas?" goda pak penghulu merasakan ketegangan agung, maksud pak penghulu ingin mencairkan suasana dan membuat agung lebih rileks, tapi nyatanya agung tetap saja tegang.
" Waduh, pengantin laki lakinya terlalu tegang ini, sampai tidak bisa di ajak bercanda.." ujar penghulu lagi membuat semua orang yang berada di ruangan itu tertawa, kecuali Nurdin.
Laki laki itu terlihat tidak senang sekali dengan akad nikah yang akan segera di laksanakan.
" Ya sudah, kita mulai saja, saya takut pengantin laki lakinya keburu pingsan.. dari tadi yang di lihat meja terus.. padahal pengantin wanitanya sudah berdandan cantik..
kan Eman Eman tidak di lihat Yo mas ee..?" pak penghulu tertawa, tapi kemudian berubah menjadi serius.
" Sudah siap mas agung?" tanya penghulu akhirnya,
" siap!" jawab agung langsung mengarahkan pandangannya pada penghulu.
Setelah berbicara sebentar dengan Mbah kung, pak penghulu langsung mengulurkan tangannya di atas meja.
__ADS_1
" Monggo mas agung.." kata si penghulu.
Agung mengulurkan tangannya, dan seperti yang di harapkan semua orang, ia mengucapkan ijab qobul dengan lancar dan cepat, membuat semua orang kaget dengan kata katanya yang rapi dan berurutan itu.
" Alhamdulillah.. sah?"
" Sahh..!!!" jawab semua orang di ruangan serempak, termasuk senior dan teman teman agung.
Sekarang mau tidak mau agung harus menatap pengantinnya, karena ia harus menyematkan cincin di jari manis Ajeng.
Di tatapnya Ajeng, namun perempuan itu masih belum juga mengulurkan tangan, hingga akhirnya agung yang menggapai tangan Ajeng sendiri dan memegangnya, lalu menyematkan cincin di jari Ajeng.
" Giliranmu jeng?!" bisik Bulek Susan disamping Ajeng, membuat Ajeng yang sedari tadi melamun tiba tiba tersadar dan segera mengambil cincin lalu menyematkan cincin itu di jari agung dengan tangannya yang gemetar.
Agung melihat dengan jelas tangan kecil yang gemetar itu, tapi agung mengerti, ia menghela nafas pelan,
dan tangan yang gemetar itu di ciumnya lembut, tentunya dihadapan semua orang, hal itu membuat Ajeng kaget, ada perasaan aneh yang mengaliri hatinya, sedih, nelangsa..
air mata yang di tahan sedari tadi tiba tiba saja menetes merasakan betapa lembut sikap agung padanya.
Tidak cukup mencium tangan Ajeng, di kecupnya kening Ajeng dengan hati hati, lalu menyeka air mata yang membasahi pipi Ajeng itu.
" Jangan menangis, aku akan menjagamu mulai sekarang.." ucap agung pelan namun terdengar oleh pak penghulu dan Mbah kung.
Ajeng mengangguk, dengan air matanya yang jatuh kembali, entah air mata apa itu, sedih, atau bahagia, yang jelas sikap agung membuatnya benar benar nelangsa, bagaimana bisa laki laki di hadapannya ini bersikap seperti ini, padahal ia tau benar kalau perempuan yang ia nikahi tidak mencintainya sama sekali, dan mungkin saja ia hanya akan menjadi sebuah pelarian.
Semakin lembut perlakuan agung, semakin deras air mata Ajeng yang jatuh.
melihat itu agung menggenggam erat tangan Ajeng, dan menyeka air mata itu kembali.
__ADS_1