
kaki Ajeng berkali kali menyentuh kaki agung sehingga agung membuka matanya.
Di lihatnya Ajeng yang sedang lelap itu, rupanya perempuan itu tidak menyadari kalau tingkahnya saat tidur sudah menganggu Agung.
Agung menjauhkan kakinya, lalu bangkit.
Ia terdiam sejenak di atas tempat tidur, rasanya kantuknya sudah hilang, berganti dengan perasaan yang tak karu karuan melihat Ajeng tergolek lelap disampingnya.
Hatinya berdesir saat ini, karena itu ia memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar dengan berhati hati.
Agung membuka pintu dapur dan berjalan ke gazebo.
Laki laki itu duduk sendiri sembari membakar rokoknya.
Lama dia duduk termenung sendiri, hingga mbok gatik menyusulnya ke gazebo.
" Lho? kok belum tidur mbok?" tanya agung kaget melihat mbok gatik yang sedang memakai jaket rajut itu berjalan mendekat ke arahnya dan kemudian duduk.
" Sudah malam kok malah duduk disini?" tanya mbok gatik,
" mbok sendiri?" tanya agung,
" mendengar pintu belakang di buka saya langsung terbangun mas.."
" owalah sepuntene ( maaf ) mbok??"
" ada yang di pikirkan mas?" tanya mbok gatik melihat agung dengan tatapan redup.
" Ah tidak mbok, sedang tidak bisa tidur saja.. karena itu cari angin sebentar.." jawab agung pelan.
Ia mematikan rokok yang sudah di nyalakan ya demi mbok gatik, ia tidak mau perempuan tua itu menghirup asap rokoknya.
" Dulu tidak suka merokok lho sampean.."
" merokok bisa menghilangkan stress mbok.. hehehe.." agung mengulas senyum.
" Bagaimana dengan Mbah Ajeng?" tanya mbok gatik,
" Ajeng baik mbok.. kenapa?"
" masih sering menangis?"
" semenjak kami menikah dia tidak pernah menangis,"
" baguslah, itu berarti mas bisa membawa dampak baik untuk Mbah Ajeng.
" begitu kah mbok? tapi tetap saja saya tidak bisa mengerti apa yang sesungguhnya ia rasakan.." jawab agung sembari menatap mbok gatik,
" Apa yang mas agung risaukan?
Agung diam sesaat mendengar pertanyaan mbok gatik,
" Banyak mbok.." jawab agung pelan,
" status sosial kami yang berbeda.."
" berbeda dari mana sih mas? sampean itu sudah layak untuk mbak Ajeng.."
" tapi semua orang akan mengira saya menikah dengannya karena mengincar harta Mbah kung.."
Mendengar itu mbok gatik terdiam sesaat.
" Buang jauh jauh pikiran macam itu mas, atau sampean tidak akan pernah benar benar bahagia.." nasehat mbok Gatik.
__ADS_1
" Saya mau pindah mbok.. tapi rahasiakan dulu dari Mbah kung.." agung memperbaiki posisi duduknya,
" kemana??" raut mbok gatik berubah cemas,
" mau ke asrama??" tanya mbok gatik lagi,
" tidak, saya akan mencari rumah yang dekat dari sini, supaya bisa kapan saja datang kesini.." jelas agung,
tapi raut mbok gatik Masih cemas.
" Mbak Ajeng tidak bisa masak dan mengurus rumah?" kata mbok gatik.
" Kan ada saya mbok.. "
" Mbah kung tidak akan mengijinkan?"
" tetap saya harus pindah nanti, biar saya dan Ajeng belajar mandiri tanpa bantuan orang orang disini.."
" terus nanti kalau Mbak Ajeng hamil??"
Agung terdiam sesaat.
" Mungkin Ajeng tidak akan langsung hamil mbok.."
" kenapa? mbak Ajeng ikut KB?" tanya mbok gatik,
" tidak, kami tidak ikut KB, tapi saya merasa Ajeng masih perlu menghabiskan masa mudanya, saya tidak mau membebani ia dengan anak.." benar apa yang di katakan agung, ia tidak ingin membuat Ajeng hamil tanpa kemantapan hatinya,
Percuma saja mempunyai anak jika luka hati Ajeng belum sembuh sepenuhnya.
" usia mas agung sudah tidak lagi muda? mau punya anak usia berapa?"
Agung diam, ia tertunduk sejenak.
" Lakukan saja tugas sebagai seorang suami dengan baik, jangan berpikir kalau Mbak Ajeng hamil nanti akan begini begitu.." nasehat.
" selama saya masih sehat, saya akan membantu sampean dan Mbak Ajeng sekuat tenaga.." ujar mbok gatik.
" Tidak mbok, Ajeng masih belum siap untuk hamil.." kata Agung pelan,
" jadi mas agung sengaja?"
" tidak mbok, tapi Ajeng masih fokus pada karirnya, juga keinginan keinginannya..
kalau dia tiba tiba hamil pasti akan sangat merepotkan untuknya..
dan saya pasti akan merasa bersalah jika ia tidak bisa melanjutkan apa yang dia mau dan cita citakan.." jelas agung sopan pada mbok gatik.
" Mas.. saya bingung, sampean itu sedang menjalani pernikahan atau hanya sedang balas Budi?" mbok gatik tidak habis pikir dengan pemikiran agung yang lebih mementingkan perasaan orang lain dari pada perasaannya sendiri.
" Mas Bayu itu tidak akan mudah menyerah mas, jadi lakukanlah apa yang seharusnya di lakukan,
mbak Ajeng itu milik sampean seutuhnya, sampean sudah menjadi kepala keluarga, jangan lembek lembek ke Mbak Ajeng, jangan semuanya dituruti dan di maklumi.."
agung mengangguk,
" mbok benar.. tapi saya akan menahan diri selama saya bisa.."
" owalah.. sampean ini tentara lho mas?"
" kalau tentara harus galak dan tegas begitu maksudnya mbok?" agung tertawa kecil.
" Saya yang di kantor, dan saya yang ada dirumah berbeda mbok..
__ADS_1
sudahlah mbak jangan khawatirkan saya..
saya mampu mengatasi perasaan saya mbok.." kata agung.
Belum selesai keduanya berbincang, terdengar suara sandal mendekat,
" Sedang apa malam malam begini mas? mbok juga, kok belum tidur?" Ajeng berdiri di hadapan Agung, wajah perempuan itu tampak lesu karena menahan kantuk.
" Kok bangun, tidurlah kembali, aku hanya mencari angin sebentar..
kalau mbok gatik, beliau keluar karena mendengarku membuka pintu dapur.." jelas Agung.
" Mas masih mau disini?" tanya Ajeng,
" tidak aku akan masuk sebentar lagi.." jawab agung,
" kalau begitu mbok masuk dulu mbak, mas.." pamit mbok gatik bangkit dan berjalan ke arah pintu belakang.
" Aku kaget tau mas, mas tiba tiba menghilang dari atas tempat tidur, mana tengah malam begini?" Ajeng masih berdiri di hadapan agung.
" Ya sudah, ayo masuk.. maafkan aku membuatmu bingung tengah malam begini.." agung bangkit dan merangkul pundak Ajeng agar berjalan berdampingan dengannya.
" Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu mas? sehingga kau sampai keluar dan duduk disini tengah malam begini?" tanya Ajeng.
" tidak ada, hanya sedang tidak bisa tidur saja.." jawab agung,
" apa kelakuanku buruk saat tidur sehingga mas terbangun dan keluar?"
" tidak," jawab agung mengulas senyum.
" Kalau sampai di lihat Mbah kung dan mas bagus, bisa runyam aku.. dikiranya aku berbuat yang tidak tidak padamu.."
" Tidak, itu hanya pikiranmu saja.. aku hanya ingin merokok sebentar tadi, tapi mbok gatik langsung datang dan menghampiriku.." jelas agung masih berjalan pelan bersama Ajeng.
" Lain kali jangan begitu mas, membuatku kaget saja?"
" soal aku tidak ada disampingmu?"
" iyalah.. semua orang akan menilai bahwa mas tertekan menikah denganku,
mana ada suami yang bangun dan meninggalkan istrinya sendiri tengah malam begini?" Ajeng terlihat kecewa.
" Tidak akan ku ulangi lagi.. jadi jangan memperluas kalimatmu yang entah kemana arah dan tujuannya itu.."
Ajeng diam mendengar itu, ia tidak menjawab hingga keduanya sampai di dalam kamarnya kembali.
Di biarkan Ajeng merebahkan dirinya, dan setelah itu agung menyusul berbaring di samping Ajeng.
Agung membuka lengannya dengan sengaja, membuat Ajeng mau tidak mau mendekat dan membuat lengan agung menjadi bantalnya.
" kau tidak risih tidur di lenganku?" tanya agung,
Ajeng menggeleng pelan,
" Begini saja enak.." jawab Ajeng entah kenapa perasaan hangat menggelitiknya.
Agung membalikkan tubuhnya ke arah Ajeng, dan mendekap perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.
" cup.." satu ciuman di kening,
Ajeng yang di kecup menatap agung, hingga keduanya beradu pandang.
" Sudah.. ayo tidur.." kata agung menguasai dirinya, kedekatan yang membuatnya merasa senang, namun juga tidak nyaman karena posisi tubuh mereka sangat dekat.
__ADS_1
Ajeng mengangguk lalu segera berusaha memejamkan mata, meski di rasanya akan sulit tidur dengan nyenyak malam ini di bawah dekapan agung.