Andai Kau Mencintaiku

Andai Kau Mencintaiku
sayur pakis


__ADS_3

Agung dan Ajeng baru saja masuk ke dalam rumah,


" Pengantin barunya sudah pulang ini?!" sambut mbok Gatik ceria.


" Iya mbok.. masak apa hari ini?" tanya Ajeng langsung,


" lho Ndak makan di jalan tho?"


" makan mbok tapi dua hari sudah kangen masakan mbok.."


" lho alah, baru dua hari.. itu yang pernah pergi bertahun tahun Ndak pernah kangen masakan mbok.." sindir mbok gatik sambil melihat Agung yang berdiri di belakang Ajeng,


" Kok di bahas lagi sih mbok, saya ini kangen.. cuma namanya orang tugas, mau bagaimana.." jawab agung sembari tersenyum, wajah laki laki itu terlihat segar sekali, tampak raut kebahagiaan yang terpancar jelas.


Hal itu tentu saja di tangkap oleh mbok gatik, sehingga perempuan tua itu diam diam merasa lega.


" Kalau mbak Ajeng mau makan langsung ke dapur, ada oseng oseng pakis sama udang, goreng mujair sama sambel.." ujar mbok gatik,


Mendengar oseng oseng pakis kesukaannya di sebut, Ajeng langsung berjalan ke dapur, rasanya memang sedikit aneh bagi orang lain, tapi sejak kecil Ajeng suka sekali apalagi kalau di tumis dengan udang.


Melihat Ajeng yang berjalan ke dapur, mbok gatik menatap Agung yang sedang membawa tas berisi pakaian itu.


" Gimana bulan madunya?" tanya mbok gatik,


" bagus tempatnya mbok, saya baru tau kalau ada tempat semacam itu di kota ini.."


" lha kok bisa, wong malang nggak ngerti kebuh teh??"


Agung tersenyum,


" yah kan dulu tidak pernah kemana mana mbok, pulang sekolah ya langsung pulang.." kata agung.


" Ya wes, mas Agung kalau mau makan juga langsung ke belakang.."


" saya nanti saja, masih kenyang.."


" ya wes, semangat Yo mas Agung.. biar cepat dapat momongan.." goda mbok Gatik,


" opo aee sih mbok.."


" lho di doakan baik kok opo aee.. memangnya Ndak pingin cepat dapat momongan?"


Agung diam, ia tidak berani menjawab.


" Wah kok malah diam, jangan jangan belum Yo mas?" tanya mbok gatik penasaran.


" Saya masuk dulu mbok, pun sampean ke dapur sana.." kata agung menghindari pertanyaan mbok gatik, ia berjalan masuk ke dalam kamar yang di tempatinya bersama Ajeng.


Entah kenapa setelah kembali ke kamar Ajeng, agung malah menjadi canggung kembali, rasanya tidak seperti saat di hotel, di hotel ia seperti bisa menjadi dirinya sendiri, sementara disini, ia seperti tidak bisa lepas.

__ADS_1


Mungkin karena ' Unggah ungguh ' yang harus ia jaga.


Setelah makan malam Agung duduk di gazebo, seperti biasa, setelah memberi makan ikan dia merokok.


Dari luar terlihat Bagus yang berjalan menuju ke arahnya, laki laki itu baru saja pulang karena ia tidak ikut makan bersama tadi.


Wajah bagus terlihat lelah, tapi ia tetap menemui Agung.


" Baru pulang mas?" tanya agung pada bagus yang langsung duduk disampingnya.


" Iya mas, hari ini agak ribet di bengkel.." jawab bagus sembari menyandarkan punggungnya di dinding bambu gazebo.


" Makan dulu mas, lalu istirahat.." kata Agung,


" nanti saja, aku ingin bicara padamu mas.." Bagus terlihat santai tapi serius.


" Bicara apa mas?"


" apa sempat terjadi masalah di kebun teh kemarin?" tanya bagus mengambil rokoknya dan menyalakannya.


" Tidak mas.." jawab agung,


" yang benar? kudengar dari Ajeng ada Bayu disana.."


Agung diam sesaat,


sesungguhnya ia ingin menutupinya,


" istrimu menelfonku, dia hampir menangis karena sampean tidak datang datang,"


mendengar itu agung lagi lagi terdiam,


" wajar sampean marah mas, tapi Ajeng berkata padaku bahwa bukan dia yang menyuruh Bayu kesana.." ujar bagus,


" Ajeng memang belum sepenuhnya bisa melupakan Bayu, tapi dia masih waras mas.." imbuh bagus sembari menghisap rokoknya.


" Ajeng sudah menjelaskannya," jawab agung,


" baguslah kalau Ajeng sudah menjelaskannya, lain kali bersikap tegas lah pada Bayu itu, kasih pelajaran sekali kali biar tidak melakukan lagi hal hal yang merugikanmu dan Ajeng mas?" kata bagus terlihat kesal.


Agung mengulas senyum tipis,


" saya takut melukai Ajeng.." katanya tenang,


" melukai bagaimana? kan Bayu yang harus mas beri pelajaran?" Bayu heran.


" Ajeng masih mencintai laki laki itu.." agung menghisap rokoknya,


tidak mudah kalimat itu keluar dari mulutnya, tapi itu tetap kenyataan yang harus ia katakan.

__ADS_1


Bagus terdiam sesaat, mendengar hal itu keluar dari mulut agung tentu saja membuatnya sedih.


" Tenanglah mas.. baru beberapa hari kalian menikah.. lama lama perasaan itu akan tergerus..


karena itu aku lekas menyuruhmu mempunyai momongan,


tidak ada perempuan yang tidak mencintai ayah dari anaknya.." bagus menenangkan.


Agung diam tidak menjawab,


" tapi kalian sudah melangsungkan malam pertama kan mas?"


agung menatap bagus,


" kenapa sampean sampai menanyakan hal itu?" tanya agung,


" khawatir tentu saja, kalian menikah karena di jodohkan, logikanya tidak akan mudah bukan untuk tidur bersama?"


mendengar itu agung sedikit malu, nyatanya ia dan Ajeng sudah tidur bersama, bahkan hasrat keduanya tersulut dengan mudah, entahlah kenapa, agung sendiri juga tidak tau.


" Jangan bilang kalian berdua memang belum melakukannya?!


melihat mas yang terlalu sopan pada Ajeng kurasa iya?!" bagus terlihat kecewa,


" tolong jangan bicarakan tentang malam pertama atau apalah itu mas, jangan sampai Ajeng mendengarnya, ia akan malu.. dan itu hal yang tidak patut kami ceritakan," ujar agung tenang.


bagus terdiam, ia menghela nafas panjang,


" Maaf jika aku terlalu turut campur dalam pernikahan kalian, aku hanya khawatir.." kata bagus kemudian,


" saya faham mas.." jawab agung,


" aku dan Mbah kung memilihmu dengan tidak sembarangan mas, kami yakin dengan kemampuanmu mengendalikan Ajeng,


sejak kecil meski galak, diam diam dia patuh padamu..


kami merasakan sudah ada bibit kasih sayang diantara kalian dulu, jika kalian di persatukan kembali bukan tidak mungkin bibit kasih sayang itu akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar.."


" saya tidak hanya menyayangi Ajeng, tapi keluarga ini juga.. mas jangan lupa itu.." agung mematikan rokoknya di asbak.


" Sampean jangan terus mencemaskan kami, cobalah untuk memikirkan diri mas sendiri.." kata agung kemudian,


" apa yang harus kucemaskan dari diriku, yang penting aku minum obat teratur dan bisa mencari uang selagi sehat.." jawab bagus,


" mas tidak ingin menikah suatu saat nanti?"


" bukan tidak ingin, tapi aku membuang keinginan itu..


aku sadar diri, tidak akan ada perempuan yang mau hidup dengan laki laki yang sakit jiwanya,"

__ADS_1


" mas itu sehat dan stabil.. tentu saja ada.. mas tampan begini, usaha mas juga berjalan dengan baik.."


" ah sudahlah.. kok jadi membahasku..?" bagus tidak ingin membicarakan dirinya, karena baginya kebahagiaan adiknya lebih penting, ia akan melakukan apapun demi kebahagiaan adiknya.


__ADS_2