
Raut wajah Ajeng sedari tadi terlihat kurang baik, karena itu agung mengemudikan motornya lebih pelan.
" Terjadi sesuatu?" tanya agung sembari melihat ke depan.
" Tidak,"
" kenapa wajahnya di tekuk begitu? aku terlalu lama ya? aku sudah bilang kan tadi kalau mau lihat lihat rumah dulu?"
" Iya, bagaimana rumahnya?" tanya Ajeng mengalihkan pembicaraan.
" Ada yang dekat dengan rumah Mbah kung, naik motor lima menit sampai.. tapi bangunannya sedikit lama.."
" bisa di perbaiki kan?"
" bisa, rencanakan memang begitu, kau lihatlah dulu besok.."
" apa halamannya luas?"
" bisa untuk kolam ikan dan menanam bunga bunga.."
" baguslah.. perkara yang lain kan bisa di perbaiki?"
" iya.. asal kau bilang iya, akan kubeli dan kuperbaiki.." jawab agung.
" Mau langsung pulang?" tanya agung,
" mau kemana memangnya?" tanya Ajeng,
" mau makan di luar?"
" boleh.. sepertinya makan yang pedas pedas enak.." Ajeng melingkarkan tangan nya ke perut agung, lalu menyandarkan kepalanya ke punggung agung.
" Kalau lelah langsung pulang saja.." kata agung merasakan kepala Ajeng bersandar di punggung nya.
" Tidak.. kita makan saja di luar, sekalian bungkus untuk orang orang.."
__ADS_1
" tidak capek?" tanya agung takut kalau kalau istrinya itu lelah tapi memaksakan diri.
" Ah.. nanti juga capeknya hilang kalau ketemu makanan enak.." jawab Ajeng.
Mendengar kata kata istrinya agung patuh saja, ia mengemudikan motornya ke arah tempat makan yang kira kira akan di sukai istrinya.
Fika yang sedari tadi diam akhirnya bicara,
" Apa pekerjaan suami mantanmu itu mas?" perempuan itu bertanya pada suaminya yang rebah disampingnya.
" Kudengar seorang tentara.." jawab Bayu dengan mata terpejam.
" apa dijodohkan juga seperti kita?"
" tentu saja, mana mungkin tidak di jodohkan,"
Fika terdiam sesaat,
" dia masih mencintaimu?" tanya Fika membuat Bayu membuka matanya,
" tatapannya penuh luka saat melihatmu," jawab Fika.
Bayu diam tak menjawab, tapi terlihat jelas kebimbangan di hatinya.
" Apa kau sakit hati?" tanya Bayu beberapa saat kemudian.
" aku tidak tau harus bersikap seperti apa, karena menurut cerita mas, mas sedang berpacaran dengannya saat mas tiba tiba di jodohkan denganku,
mana mungkin aku bisa marah pada perempuan yang kuhancurkan perasaannya?" jelas Fika,
Bayu menghela nafas berat,
" Bagaimana dengan kau sendiri.. apa bagimu tidak masalah mendampingi seorang laki laki yang masih saja memikirkan masa lalunya?" tanya Bayu menatap langit langit kamarnya.
" Aku tidak punya pilihan, aku hanya bisa berharap yang terbaik bagi kita semua.."
__ADS_1
" maafkan aku.." ujar Bayu pelan,
" untuk apa minta maaf, kita di hadapkan pada situasi yang hampir sama.." kata Fika.
" Tapi kau lebih pintar menyembunyikan perasaanmu,"
" aku sudah menerima kenyataan.. bahwa cintaku tidak boleh mengalahkan baktiku pada orang tua.."
Bayu tersenyum getir,
" Aku heran, kenapa perempuan mudah sekali berpindah hati.."
" maksudmu mas? kau membicarakan ku atau mantanmu?"
" kalian berdua.." jawab Bayu.
" Bukannya mudah berpindah hati, tapi kami lebih baik menerima kenyataan dari pada terus menerus menyakiti diri sendiri dan mengharapkan seseorang yang tidak bisa di miliki.."
" jadi Ajeng juga sepertimu? akhirnya menyerah, dan melupakanku..?"
" Aku tidak tau, tapi mungkin saja begitu.. apalagi kata mas suaminya itu adalah sosok yang sudah lama ia kenal,"
" iya, di anak kesayangan Mbah kungnya Ajeng.. dulu dia yang mengantar dan menjemput Ajeng sekolah,"
" pantas pembawaannya tenang sekali, mungkin karena usia yang sudah matang.."
" memangnya aku juga belum matang?" Bayu menatap istrinya.
" dalam hal perasaan mas terkadang masih impulsif.. terbukti dengan cara mas menganggu bulan madu mereka.. mas kira aku tidak tau maksud dan tujuanmu tiba tiba mengajakku menginap di kebun teh yang suasananya cukup romantis itu?"
" Kalau kau tau kenapa kau diam saja tidak protes?"
" buat apa aku protes.. selama kau bersikap sebagai suami yang baik dan tidak bersikap sembarangan, aku akan mengikutimu.." jawab Fika merebahkan kepalanya di lengan Bayu.
" Ah, kau ini.. aku benar benar tidak habis pikir, dari mana kau dapatkan ketenangan mu itu.." Bayu setengah mengeluh.
__ADS_1