
" Selamat pagi bang..!" sapa agung pada Sofyan dan Panji yang sudah tiba terlebih dahulu.
" Selamat pagi pengantin baru!" jawab Panji,
" Wah.. selamat pagi adekku sayang.. sini duduk, cepat bicara?!" Sofyan menepuk kursi disampingnya.
" Bicara apa tho bang?" Agung duduk,
" Sudah tho? sehari tiga kali tampaknya ini.. wajahmu sampai berseri begitu?" goda Sofyan,
Agung tidak menjawab, ia hanya tersenyum.
" Memangnya bisa ya Gung? kalian kan di jodohkan?" tanya Panji penasaran,
" eh.. agung kan sudah kenal dari kecil.. ya bisalah!" jawab Sofyan,
" sulit kalau tidak ada perasaan cinta kataku.." Panji menatap agung serius,
" Bisa sajalah kalau aku, toh sudah jadi istriku.." sahut Sofyan,
" kecuali sudah sama sama suka dari dulu.. iya Gung?" tanya Panji berasumsi,
" karena kulihat hari ini kau tampak bahagia sekali setelah kembali dari liburmu?"
" apa tidak ada pembahasan yang lain ini bang?" tanya agung tidak ingin menjawab,
" eh, mumpung yang lainnya belum datang, jadi enak ngobrol.."
" iya, tapi ya jangan membahasku juga.." kata agung,
" kenapa? kau takut kami tau ya kalau kau itu sebenarnya sudah cinta dari dulu dengan istrimu?" goda Panji,
" wes tho bang.." kata agung, lalu seseorang tiba tiba masuk ke dalam ruangan sehingga Panji dan Sofyan langsung diam dan kembali ke kursi masing masing.
Bagus keluar dari ruangan dokter, lalu duduk tenang di kursi tunggu untuk menunggu obatnya.
Sekitar lima menit menunggu seseorang berjalan mendekat ke arahnya.
" Kontrol mas?" terdengar suara Bayu yang sudah berdiri di depan bagus.
" Kau bicara padaku?" tanya bagus tidak ramah,
" siapa lagi mas, bagaimana kabar mas?" tanya Bayu masih berdiri.
" Pergilah, dari pada aku memukulmu." ujar bagus,
Bayu mengerutkan dahi,
" salahku apa mas? sampai sampai ingin memukulku?" tanya Bayu,
__ADS_1
" sejak kau meninggalkan adikku aku sudah ingin memukulmu, tapi semua orang mencegahku, lalu kemarin kudengar kau menganggu bulan madu Ajeng dan suaminya?!" tegas bagus namun dengan suara tertahan karena takut membuat orang lain di tempat itu tidak nyaman.
" Itu adalah tempat umum, aku kesana dengan istriku juga mas, salahnya dimana?" jawab Bayu tenang,
" salahnya dimana kau bilang? kau sengaja membuntuti Ajeng, katakan siapa yang memberimu informasi?!" bagus benar benar menahan dirinya.
" kau ini bukan rumah sakit sudah habis kau!" imbuh bagus.
" Ajeng masih mencintaiku mas, mas tidak bisa merubah kenyataan itu,
dan aku juga masih mencintainya.."
kata kata Bayu membuat telinga bagus panas,
" mana aku perduli, yang penting adikku sudah punya suami sekarang, jadi jangan kau temui adikku lagi dengan alasan perasaanmu itu!" bagus menatap Bayu dengan sorot tajam.
" Aku tidak ingin ribut denganmu mas, aku ingin kita baik baik saja seperti dulu, karena bukannya tidak ada kemungkinan suatu ketika aku akan bersama Ajeng kembali, entah bagaimana caranya.."
mendengar itu bagus bangkit dari kursinya, tangannya mengepal menahan kemarahannya.
" Bapak Bagus Aji Pramono..!" terdengar nama bagus di panggil oleh petugas apotik.
" Ambil obatmu mas, sampai bertemu lain kali.." ujar Bayu mundur lalu berbalik pergi.
" Pak Bagus Aji Pramono..!" panggil petugas apotik lagi, membuat bagus segera berjalan ke arah apotik.
" Lho kau kok pulang, bukannya ke bengkel?" tanya Mbah kung saat melihat bagus tiduran di kamarnya dengan pintu kamar yang terbuka.
" lho? kenapa marah marah? ada yang tidak beres?" tanya Mbah kung mendekat.
" Aku tadi mengambil obat kung, lalu aku bertemu dengan Bayu,"
" Bayu??"
" iya Bayu kung,"
" hemm.. dia bicara apa Lee? kok sampai membuatku kesal?" Mbah kung duduk di atas tempat tidur, disamping bagus.
" Dia belum bicara saja aku sudah ingin memukulnya kung?!"
melihat itu Mbah kung mengelus punggung bagus,
" Ndak usah nesu nesu tho le.. sabar.. obatmu sudah mbok minum?" tanya Mbah kung pelan,
mendengar kata kata Mbah kungnya bagus menghela nafas panjang,
" andai Mbah kung tau, waktu di kebun teh kemarin, Bayu itu datang menemui Ajeng kung, di depan mas Agung lagi?"
raut wajah Mbah kung nya terlihat kaget.
__ADS_1
" Yang benar kau Gus?"
" iya kung, Ajeng sendiri yang menelfonku, karena takut mas agung salah faham dan marah?"
" siapa yang memanggil Bayu kesana? adikmu jangan jangan?"
" bukan, Ajeng sudah berkata kalau bukan dia, bagus juga tidak tau ulah siapa itu kung, apa mungkin Mia, tapi Mia tidak mungkin.."
sekarang Mbah kung yang menghela nafas,
" agung diam saja?"
" yah mas agung, Semarah marahnya dia pasti dia tahan kung, mana mungkin dia memarahi Ajeng, yang ada di pendam sendiri perasaannya," kata bagus membuat Mbah kung berpikir,
" kalau Bayu tidak di peringatkan bisa bahaya Gus.. andaikata bukan agung, pasti bulan madunya sudah berantakan, atau.. bisa bisa adikmu di cerai gara gara ulah Bayu yang kurang ajar.." kata Mbah kung diam diam bersyukur karena sudah memilih agung.
" Nah itu kung, mana ada laki laki yang terima kalau sewaktu bulan madu istrinya di datangi mantan pacarnya?"
" Aku harus bicara pada agung kalau begini le.."
" jangan mas agung yang di ajak bicara, seharusnya Bayu kung?!"
" kita tidak bisa mengatur Bayu lee.." kata Mbah kung,
" kalau Bayu seperti itu terus bagaimana?"
" biar agung sendiri yang menghadapinya kalau memang dia sudah keterlaluan.."
" bukankah mendatangi Ajeng itu sudah keterlaluan kung?!"
Mbah kung lagi lagi menghela nafas, ia mengelus punggung bagus lagi,
" Sekarang yang penting tenangkan dirimu Lee.. jangan terbawa emosi.." nasehat Mbah kung takut kondisi bagus tidak stabil gara gara permasalahan ini.
Bagus paling tidak bisa melihat atau merasakan sesuatu terlalu dalam, karena hal itu pasti mempengaruhi kejiwaannya.
Dulu tidak jarang Bagus pulang kuliah dengan tangan gemetar dan keringat dingin, mengurung diri di kamar, dan menangis sembari berteriak.
Meski kondisinya sedikit mencemaskan dulu, tapi Bagus selalu sadar untuk tidak melukai orang lain, namun yang Mbah kung takutkan, bagus justru menyakiti dirinya sendiri, seperti yang terjadi pada almarhum ibunya.
Karena tidak kuat di tinggalkan dan di campakkan, putri Mbah kung yang juga anak pertama itu lebih memilih mengakhiri hidupnya, meninggalkan dua anak kecil yang tidak bersalah dan tidak tau apa apa.
Betapa nelangsanya hati Mbah kung, andai saja putrinya masih hidup.. mungkin Bagus tidak akan seperti ini, dan Ajeng akan menerima kasih sayang yang penuh dari seorang ibu.
Ajeng terkadang suka menangis sendiri, bukannya Mbah kung tidak tau, karena itu Mbah kung selalu berusaha menuruti apapun yang Ajeng mau, itu semata mata untuk menutupi luka hati cucu perempuannya.
Hal yang sama Mbah kung lakukan untuk Bagus, meski kata orang memanjakan itu tidak baik, tapi tidak ada yang Mbah kung bisa lakukan selain mengisi kekosongan keluarga dengan apa yang Ajeng dan bagus inginkan.
Laki laki itu itu sungguh sungguh berjuang di masa tuanya untuk kedua cucunya,
__ADS_1
Ia mengumpulkan uang sebanyak yang ia bisa, demi masa depan bagus dan Ajeng ketika Mbah kung meninggal nanti.