Andai Kau Mencintaiku

Andai Kau Mencintaiku
maafkan aku


__ADS_3

Di luar jendela di penuhi kabut yang pekat, lampu yang sinarnya redup menyinari balkon balkon hotel, begitu sunyi dan senyap.


Di luar sana hawa begitu dingin menusuk, membuat pasangan lain yang sedang berdiri di balkon yang lain berpelukan erat sembari memandangi indahnya malam di kebun teh Wonosari ini.


Agung melepas kaosnya, entah kenapa hawa di dalam kamar terasa panas untuk Agung.


Ajeng pun begitu, entah kapan sweater nya terlepas, ia pun lupa, tau tau ia sudah duduk di atas pangkuan agung di sertai pelukan yang erat.


Bibir keduanya sedari tadi bertaut mesra, seakan Sulit untuk terlepas sedetik saja.


Seperti sepasang manusia yang saling mencintai, keduanya bercumbu dengan perasaan yang begitu bergejolak.


Agung terus mencium Ajeng dengan penuh gairah,


laki laki itu seperti terlepas dari belenggu yang mengikatnya selama ini,


belenggu kepantasan dan rasa hormatnya pada Ajeng.


Laki laki yang biasanya sopan dan serba berhati hati dalam bersikap itu kini sudah tidak perduli lagi akan sikapnya bahkan tangannya menggerayangi hampir semua bagian tubuh Ajeng sekarang.


Ia membelai lembut kulit pinggang Ajeng yang bebas itu, lalu beralih ke paha Ajeng yang mulus.


Hal itu semakin menyulut hasrat dalam diri Ajeng, semakin di tekan tubuhnya kepada Agung, sementara tangannya membelai kuduk dan rambut Agung,


hal itu membuat agung tanpa sadar mengeluh dengan suaranya yang parau.


laki laki itu sungguh sudah tidak tahan lagi, di rebahkan tubuh Ajeng dengan ciumannya yang tak lepas, dan di tindihnya tubuh perempuan itu.


Di lepaskan hasratnya yang sudah hampir meledak,


Sementara Ajeng, perempuan itu benar benar lupa akan segalanya, bahkan rasa cintanya pada bayu,


Malam ini Agung menggerus habis rasa sakit hatinya dan menggantinya dengan debaran hangat, juga kepasrahan yang tidak bisa ia definisikan.


Suara burung berkicau bersahutan di luar sana saat Ajeng membuka mata.


disampingnya sudah tidak ada agung, entah laki laki itu kemana.


Ajeng bangkit, ada rasa nyeri menyerangnya hingga membuatnya meringis menahan sakit.

__ADS_1


Ia berusaha bangkit, tapi pahanya masih terasa lemas, hingga ia duduk kembali.


Ajeng menutupi tubuhnya dengan selimut, hawa dingin terasa menusuk kulitnya.


Di cari dimana pakaiannya semalam, rupanya berceceran di atas lantai tepat di bawah kakinya, pelan pelan di ambilnya dan di kenakannya kembali.


Saat akan memakai celananya tiba tiba saja Agung masuk dari pintu balkon,


melihat Ajeng yang masih belum berpakaian itu Agung langsung berbalik.


" Maaf..?!" katanya kembali keluar ke arah balkon.


Wajah Ajeng memerah, dengan buru buru ia mengenakan pakaiannya, dan berjalan secepat mungkin ke dalam kamar mandi, mengabaikan rasa pedih di pangkal pahanya.


Di dalam kamar mandi, ia memandangi dirinya sendiri di dalam kaca, betapa terkejutnya perempuan itu,


wajahnya langsung merona saat melihat jejak ciuman agung di leher dan dadanya.


Semalam itu benar benar tidak di rencanakan, malam pertama yang bahkan tidak pernah Ajeng bayangkan, karena sosok agung seperti takut dan enggan menyentuhnya.


Tanpa di sadari, semalam Ajeng melihat sosok lain dari agung,


Wajah Ajeng semakin merona, membayangkan bagaimana ia dan agung bersama semalam, bisa bisanya, bisa bisanya.. keluh Ajeng dalam hati, ia malu terhadap dirinya sendiri, ia juga mendorong dirinya pada agung semalam, menciumnya dengan penuh hasrat, bagaimana dia harus menghadapi agung pagi ini, mau di sembunyikan dimana wajahnya.


Agung berdiri menatap para pemetik teh yang sudah berkerja mulai subuh tadi.


Yah benar, laki laki itu berada di balkon mulai subuh, mendinginkan kepalanya yang semalam sempat panas mendidih.


Entah sudah habis berapa batang rokok, Hatinya bahkan masih berdesir mengingat Ajeng berada di bawah tubuhnya semalam.


Sesungguhnya ia ingin langsung meminta maaf semalam setelah hasrat itu usai, namun mungkin karena kelelahan Ajeng langsung terlelap sampai pagi.


Dan kejadian barusan juga cukup membuatnya malu, tanpa sengaja dan dalam keadaan terang ia melihat tubuh Ajeng lagi.


" Dia istrimu kan Gung.." keluh agung pelan, tapi kenapa ada perasaan bersalah setelah menyentuh Ajeng.


Ia merasa sudah mengkhianati kepercayaan Ajeng padanya,


harusnya ia menjadi penjaga dan pelindung Ajeng, bukannya membuat Ajeng kesakitan karena perbuatannya.

__ADS_1


Ia bisa melihat bagaimana Ajeng menahan sakit semalam demi memenuhi hasratnya.


Agung menelan ludah, terbayang lagi saat ia menyentuh Ajeng semalam, wajahnya tiba tiba kembali panas.


Terdengar suara pintu di ketuk, agung segera berjalan ke arah pintu.


" Selamat pagi bapak.. sarapannya.." berdiri dua orang pekerja hotel membawa dua nampan besar berisi makanan.


" Oh ya, silahkan.." ujar agung mempersilahkan dua orang itu menaruh makanan di atas meja.


Tidak membutuhkan waktu lama hingga dua orang pekerja itu berbalik dan pergi.


Saat agung menutup pintu, Ajeng keluar dari kamar mandi,


perempuan itu terlihat melangkah perlahan, wajahnya juga sedikit pucat.


Agung benar benar merasa bersalah, karena hasratnya yang tidak bisa ia kekang, Ajeng menjadi seperti ini sekarang.


" Perlu kucarikan obat?" tanya agung yang masih berdiri di samping pintu itu pada Ajeng yang sudah duduk di atas tempat tidur.


" Tidak.." jawab perempuan itu pelan sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.


begitu hening nya suasana di dalam kamar sampai sampai suara kicau burung di luar sana terdengar nyaring.


" Maafkan aku untuk semalam.. aku tidak bermaksud.." ujar agung terhenti,


" semuanya mengalir begitu saja.. maafkan aku.." lanjut agung masih berdiri di samping pintu.


Ajeng diam, ia tidak menjawab, bukan karena apa, tapi dirinya sendiripun malu.


" aku salah jeng.." ucap agung lagi saat melihat Ajeng hanya terdiam,


" sudahlah mas.. kita berdua sama sama terlena, mungkin karena terbawa suasana yang.." Ajeng menghentikan kalimatnya,


" Sudahlah.. aku lapar mas.." kata Ajeng kemudian.


mendengar itu agung segera mendekat, ia berusaha membantu Ajeng berdiri dari tempat tidur,


" Aku tidak apa apa, kenapa memperlakukanku seperti orang yang baru melahirkan?" kata Ajeng sembari menolak bantuan agung,

__ADS_1


mendengar kata kata Ajeng, wajah agung tiba tiba saja bersemu merah kembali, ia malu.


__ADS_2