
Mobil Ajeng yang di kemudikan oleh agung mulai memasuki area perkebunan teh Wonosari.
Mungkin karena keduanya berangkat terlalu sore, jadi kabut dari gunung Arjuna sudah mulai turun.
Agung memarkirkan mobilnya,
" Benar ini hotelnya?" tanya agung pada Ajeng,
" benar sih.." jawab Ajeng berjalan di belakang Agung.
Suasana tampak sendu seiring kabut yang turun, keduanya berjalan ke arah hotel yang bernuansa coklat dan berlantai dua itu.
" Pantas kau membawa jaket yang tebal.." ujar agung,
" Mas tidak membawa jaket tebal?"
" jaket biasa saja, aku tidak punya jaket tebal, di tempatku berdinas dulu cukup panas.."
" wah bagaimana ini kalau mas kedinginan?"
" tidak apa, aku bisa mengatasinya.." jawab agung berjalan ke arah lobi.
Keduanya diantarkan kelantai dua, sungguh bagus kamar pilihan bagus, saat keluar dan berdiri di balkon hamparan kebun teh terlihat bebas, begitu juga gunung Arjuna yang memukau mata.
di bawah juga terlihat sebuah balkon besar seperti dari kayu yang menjorok ke perkebunan teh, meski belum gelap, lampu lampu disana sudah di nyalakan, sungguh suasana yang amat romantis dan cocok untuk pengantin baru.
Ajeng langsung merebahkan dirinya ke atas tempat tidur,
__ADS_1
" nyamannya.." gumam Ajeng pelan,
Sementara agung berdiri di balkon, menatap perkebunan yang mulai di tutupi kabut, membiarkan hawa dingin menyentuh wajahnya.
Sungguh luar biasa tempat ini, situasi yang romantis dan magis..
pikir agung, andai saja ia menikah dengan orang yang mencintainya, tentunya bulan madu ini akan sangat luar biasa.
Agung mengeluarkan rokoknya sebatang, dan membakarnya,
berandai andai tentang ini dan itu.
" Mas.." terdengar suara Ajeng dari belakang punggung agung,
" iya.." jawab agung menoleh,
Agung yang merasa Ajeng terlalu dekat sedikit bergeser, ia tidak sanggup melihat betapa cantiknya wajah disampingnya itu.
" Sudah sering kesini?" tanya agung menutupi perasaan tidak tenangnya,
" berapa tahun yang lalu, dengan teman teman kuliahku.." jawab Ajeng,
" oh.." agung berkata pelan,
" aku pernah berkata pada teman teman ku,
kelak kalau aku menikah, aku mau berbulan madu kesini dengan suamiku.." ujar Ajeng,
__ADS_1
" karena itu kau mengajakku kesini?"
" menurut bapak?" Ajeng tersenyum lagi, membuat hati agung semakin tidak karuan,
" Masuklah, di luar dingin.." ujar laki laki bersweater navy itu, rambutnya terlihat basah oleh Pomade, dan bau Pomade yang harum itu sampai di hidung Ajeng.
Aroma yang maskulin, beda sekali dengan aroma Bayu yang kalem dan lebih terkesan manis.
Ajeng menatap agung,
benar, laki laki di hadapannya ini memang lebih manly, kulitnya lebih gelap, tubuhnya lebih tinggi dan gagah, raut wajahnya pun tegas.
jelas berbeda dengan Agung yang sering mengantar jemput nya dulu.
Ajeng tertunduk sesaat, entah kenapa pikirannya tiba tiba kemana mana, ia malu terhadap pikirannya sendiri.
Apakah ini karena suasananya, pikir Ajeng, suasana yang sungguh membuat Ajeng tidak bisa tidak melihat betapa Kokoh bahu dan dada laki laki yang berdiri disampingnya itu.
Bau tembakau menyentuh hidung Ajeng, membuatnya tersadar.
" Aku ingin menikmati udara juga, kenapa mas mengusirku?" kata Ajeng pada agung,
Agung menatap Ajeng, sambil menjauhkan rokoknya yang masih menyala,
" Aku tidak mengusir mu, mana berani.. hanya saja hawanya terlalu dingin.." suara agung dalam seperti menahan perasaan.
" Aku kesini memang ingin menikmati udara yang dingin dan masih bersih ini mas.." jawab Ajeng,
__ADS_1
mendengar itu agung terdiam, ia tidak berkata apapun lagi, di hisapnya rokok di tangannya, pelan namun pasti, matanya di lemparkan jauh ke arah rerimbunan teh, di buyarkan perasaannya yang mulai terbentuk.