Antara Aku Kau Dan Dia

Antara Aku Kau Dan Dia
10. Hari Minggu


__ADS_3

Sinar matahari yang mulai muncul disela sela tirai jendela masih membuatku enggan beranjak dari tempat tidur. Tanganku mulai meraba mencari sosok wanita kuat yang menemaniku tidur semalam tapi kurasakan kini hanya boneka berwarna biru bernamakan Doraemon. “Mungkin mama lagi di dapur” pikirku. Karna mama adalah orang pertama yang akan mulai sibuk di dapur. Walaupun ada bi Surti sebagai asisten rumah tangga, tapi mama tetap membuat masakan dengan tangannya sendiri. Biasanya hari minggu ini Kak Enda sudah lebih dulu bangun dan jogging di area komplek. Tapi tidak denganku yang berbalik menarik selimut menutupkan lagi pada tubuh ini. Bagiku hari minggu adalah hari Q-time for me..cukup kasur empuk itu sudah membuatku betah berlama-lama di kamar. Aku mulai memejamkan mata lagi walau jam menunjukkan pukul 7.


“Non Tata belum bangun ya nyah?”tanya Bi Surti dengan nama panggilan kesayanganku.


“Belum bi..biasalah bibi tau sendiri kalo hari minggu dia akan menjadi peserta termalas di rumah ini” jawab Mama tertawa.


Ting tong...ting tong...ting tong....


Bel berbunyi segera bi Surti membukakan pintunya. Cowok ganteng dengan style celana jeans, kaos warna merah dan sepatu sport berdiri depan pintu.


“Pagi bi..”sapanya lembut.


“Pagi den, mau cari siapa ya?”tanya Bi Surti.


“Saya Satya..mau nyari Vrita bi..Vritanya ada?”tanya Satya.


“Ohh..aden temennya non Tata ya?”tanya Bi Surti balik.


“Iya bi..”jawab Satya.


“Masuk den, saya panggilkan dulu soalnya kalo hari minggu non Tata bangunnya siang” bi surti mempersilahkan masuk dan segera ke dapur membuatkan minum baru memanggilkan Vrita.


Kan ini udah jm 8...masak masih belum siang, gumam Satya melihat jam tangannya.


“Siapa bi yang datanga?”tanya Mama.


“Temennya non Tata nyah, namanya Satya.”jelas Bibi ke Mama. Mendengar nama Satya, mama langsung pergi meninggalkn dapur dan menemui Satya. Mama ngajak ngobrol Satya nggak lupa selingan tawa dari mereka. Sementara Bi Surti sekarang bertugas membangunkan Vrita selesai membuatkan minuman untuk tamunya.


“Non...bangun non..”panggil Bi Surti menepuk badan Vrita tapi cuma jawaban hemm aja yang keluar.


“Non...bangun non..non ada tamu nyariin non tuh diluar” katanya lagi.


“Siapa sih bi ganggu orang tidur aja deh”gerutu Vrita kesal.

__ADS_1


“Cowok non namanya Satya” jelas bi Surti. Mendengar nama Satya, sontak aku langsung bangun bergegas ke kamar mandi. Mandi kilat, dandan cepat, milih kaos dan celana pendek selutut. Bi Surti yang melihat cuma geleng2 kepala sampai berpikir tumben nona mudanya kaget bukan kepalang kedatangan tamu cowok ini. Dengan segera Vrita menuruni tangga menuju ruang tamu. Disana terdengar tawa antara mama dan Satya. Melihat aku jalan menuju mereka, mama mengurungkan diri dengan alasan lanjut masak di dapur. Sekarang tinggal aku dan Satya duduk berdua di ruang tamu.


“Kamu ngapain pagi-pagi kesini?tanyaku membuka pembicaraan.


“Aku mau ngajak kamu jalan-jalan”ucapnya menatapku dalam.


“Kemana?”tanyaku lagi.


“Kamu maunya kemana?”tanya Satya singkat.


“Iya kamu kan yang——...”belum selesai aku bicara suara sepatu masuk kerumah ternyata Kak Enda sama Ayah habis jongging.


“Ayah..” sontak aku langsung berlari memeluk ayah. “Ayah kapan pulang? Kok aku nggak tau seh ayah pulang?”pertanyaan bertubi-tubi membuat ayah bingung menjawab.


“Ayah pulang tadi pagi dek..”jawab ayah sambil melihat cowok di tempat duduk.


“Om..”sapa Satya sopan.


Ayah juga membalas sapaan dari Satya dengan senyum ramahnya.


“Teman apa pacar nih..?”tanya ayah yang seketika membuat pipiku merah merona.


“Ayah!” kataku kesel.


“Lo kan ketua Osis di SMA Pelita Harapan kemarin kan?” tanya Kak Enda yang baru aja masuk.


“Iya kak..”jawab Satya.


“Makasih ya kemarin udah nolongin adik gue pas pingsan..pingsan efek laper” ucap Kak Enda disertai tawa Ayah dan Kak Enda. Ini wajahku udah malu banget sumpah. Satya meminta ijin sama ayah untuk ngajak aku jalan-jalan. Dan ayah mengijinkan dengan syarat nggak boleh pulang larut malam. Aku ke kamar mengambil baju ganti kalo nanti ke pantai pikirku, dan sepatu favoritku. Aku dan Satya pamit sama mama dan ayah.


“Kita ke pantai ya?”tanya Satya meminta pendapatku hingga aku anggukan saja. Rasanya mata ini benar-benar ingin terpejam. Sampai nggak sadar aku sudah masuk ke alam mimpiku. Di sebuah minimarket pinggir jalan Satya membeli beberapa makanan dan minuman. Dia masuk ke dalam mobil masih mendapati Vrita tidur dengan lelap. Ketika mencoba membenarkan kepalanya agar terasa nyaman malah kini mereka saling berhadapan sangat intens. Melihat wajah cantik kekasihnya Satya hanya bisa menelan ludah. “Baru lihat wajahnya..kalo lihat yang lain nggak bisa tidur aku”pikirnya ngeres.


Tanpa sadar Satya mencium kening Vrita dengan lembut. Sentuhan yang dirasakan Vrita membangunkannya tapi Satya sudah pada posisi mengemudi melanjutkan perjalanan menuju pantai. “Perasaan tadi ada yang cium kening aku deh, apa cuma mimpi ya?”gumamku dalam hati sambil menyentuh dahinya.Satya yang melihat itu hanya bisa melirik dan tersenyum tipis.

__ADS_1


Sesampainy di lokasi ,mobil harus diparkirkan di tempat yang disediakan. harus berjalan kurang lebih 300 meter menuju bibir pantai. Satya berjalan mengekori dibelakang Vrita sambil membawa makanan dan minuman yang sudah dibeli. Vrita memilih duduk di bawah payung yang tersedia. Kini Satya ikut duduk di samping Vrita menikmati keindahan ciptaan Tuhan terpampang indah di depan mata.


“Kamu suka kesini?”tanya Vrita menoleh ke arah Satya yang tengah berbaring.


“Kalo lagi suntuk aja sih..”kata Satya.


“Sama Vino?”tanya Vrita.


“Sendir aja, Vino nggak pernah suka pantai..dia lebih suka naik gunung”jelasnya. “Kamu sendiri?”tanya Satya balik ke Vrita.


“Aku suka pantai, suka suasananya yang tenang,”ucapku menjelaskan.


Lama kita ngobrol nggak terasa sudah hampir sore. Makanan dan minuman pun sudah habis menemani obrolan kita. Tawa lepas dari Satya membuatku berpikir bahwa dia ternyata bukan orang yang menakutkan. Ternyata jiwa humorisnya masih ada, dia berusaha membuatku tertawa terus hingga perutku sakit.


“Kak...pulang yuk” ajakku. Dia langsung berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. Dengam sigap aku menerima uluran tangannya. Dia memasukkan jari-jari tangannya di sela jari tanganku, awalnya ragu aku membalasnya tapi mencoba membuka hati untuk dia mungkin nggak ada salahnya.


Di perjalanan aku merasakan pusing karna efek laper.


“Kak..kita cari makan dulu ya..aku laper banget nih” bujukku dianggukin Kak Satya sebagai jawan iya.


Restoran yang nggak terlalu besar tapi nggak masalah buat kita. Ayam bakar dan jeruk hangat menjadi makan malam sederhana. Vrita berpikir bahwa Satya akan menolak makan di restoran yang sederhana. Ternyata dia mau makan dimana aja dan apa saja yang penting bersih. Selesai makan kita melanjutkan perjalanan menuju rumah. Karna efek kenyang Vrita tertidur pulas sampai dia nggak menyadari sudah sampai rumahnya. Satya yang nggak tega membangunkan gadis cantik di sebelahnya memilih mengetuk pintu rumahnya.


Pintu rumah terbuka bersamaan mama keluar. Dengan menjelaskan kalo Vrita tertidur jadi mama minta tolong Satya untuk menggendongnya sampai kamar karna Ayah sudah berangkat lagi ke Singapura untuk perjalanan dinas dan Kak Enda masih latihan band. Dengan hati-hati Satya menggendong Vrita menuju kamar ala bridal. Satya meletakkan Vrita di kasurnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga bagian dada. Walaupun seharian nggak mandi tapi gadis yang kini tengah menjadi kekasihnya tetap terlihat cantik dan manis.


Satya menuruni tangga dan berpamitan kepada Mama Vrita. Dia melajukan mobilnya menuju rumah mewah bercat putih. Sesampainya di rumah itu Satya memberikan kunci mobil kepada Bimo yang tak lain asisten pribadi keluarga Rahardian. Satya masuk kamar dengan senyam senyum nggak jelas mengingat kejadian hari ini bersama gadis cantiknya. Sampai Mama Rani dan Vino yang masih nonton TV di ruang keluarga cuma bingung dengan sikap putra sulungnya.


“Vin, kakak kamu kenapa? Senyum2 gitu?”tanya Mama Rani.


“Lagi jatuh cinta mah...”jawab Vino jelas tanpa babibo.


“Sama siapa?”tanya Mama Rani penasaran.


“Ntar juga di bawa pulang kalo udah saatnya mah,”jawab Vino.

__ADS_1


Mama Rani cuma senyum-senyum mendengar itu..


__ADS_2