Antara Aku Kau Dan Dia

Antara Aku Kau Dan Dia
18. Takdir Tuhan


__ADS_3

Hari-hari Vrita begitu bahagia dengan kehadiran Satya dalam hidupnya. Walaupun awal pertemuan yang tidak baik tapi mereka berharap akhir yang indah. Pembuktian ucapan Satya yang akan selalu menjaga kesetiaan hubungannya dengan gadis cantik dambaan hatinya.


Ddddrrrtt ddrrrttt...


Berulang kali ponsel Vrita bergetar di atas meja, entah sudah berapa kali panggilan tak terjawab dari Satya terabaikan.


“Hmmm...”ucap Vrita malas mengangkat telfon.


“Sayang..kamu pasti belum bangun ya?”mendengar suara yang tak asing ditelinganya buru2 Vrita bangun dan mengganti suara supaya jelas di dengar.


“Nggk kok sayang..aku udah bangun dari tadi, lagi beres2 kamar aja nih”kata Vrita sambil menggaruk garuk kepala yang nggak gatal.


“Kamu tu ya nggak pinter bohongnya”ucap Satya di seberang telfon.


“Hehehe..kamu kok tau seh aku bohong”ucapnya lagi malu.


“Orang aku udah telfon kamu dari tadi, coba tuh dilihat dari jam berapa aku telfon!”langsung saja Vrita melihat catatan panggilan dari Satya, benar saja Satya telfon dari jam 6 pagi. Sekarang sudah jam 8.


“Iyaa maaf yang..kamu tau sendiri kan ini hari minggu”alasan yang selalu diucapkan Vrita.


“Hmm..”jawab Satya malas.


“Yang..”ucap Vrita memelas. “Sayang..maafin aku” ulangnya lagi. Tapi masih tidak ada respon dari Satya.


“Kami jangan marah donk yang..aku minta maaf ya” Satya cuma tersenyum di balik telfon mendengar kekasihnya minta maaf. Aslinya nggak masalah sekali juga mau Vrita bangun jam berapa.


“Iya iya aku maafin tapi kisa dulu donk” ucap Satya meminta.


“Tuhh kan..” ucap Vrita manyun.


“Lewat telfon sayang kissnya” pintanya lagi.


“Hmmmmmmmuuaaahhhh...” kiss jarak jauh yang sering dilakukan padahal kalo ketemu cuma cipika cipiki doank.


“Makasih sayang..udah sana buruan mandi terus sarapan” kata Satya.

__ADS_1


“Iya sayang..nanti aku kabari kalo udah selesai, love u yang” ucap Vrita lembut.


“Love u too sayangku..muuahh..”ucap Satya sambil menutup telfonnya.


Vrita beranjak dari tempat tidurnya dan melakukan aktivitas mandinya. Selesai semua kegiatan di dalam kamar dia menuruni tangga menuju ke lantai bawah. “Pasti sudah pada sarapan semua” gumamnya sendiri.


“Hmm hmm..” suara Tian yang mengagetkan Vrita.


“Sarapan kak..” tawaranku ke Kak Tian.


“Boleh..kakak juga belum sarapan dek” panggilan dek pagi ini membuatku geli di telinga.


“Kakak mau makan apa?” Ucapku memberikan tawaran lagi.


“Apa aja dek..” balasnya sambil meletakkan kedua tangannya di dagu.


“Bi..mama sama ayah kemana? Kak Enda juga nggak kelihatan”tanyaku pada Bi Surti yang baru saja dari luar rumah.


“Ohh..tuan sama nyonyah tadi berangkat ke Singapura non, kalo Mas Enda ada latihan band tadi pagi sudah berangkat” jelasnya Bi Surti.


“Tadinya nyonyah nggak ikut non, tapi tuan ada pertemuan dengan keluarga rekan bisnisnya jadi tuan minta nyonyah ikut” jelasnya lagi.


“Ya udah bi..nanti biar aku telfon mama deh” kataku sambil menyendokkan nasi goreng ke mulutku.


“Kamu bangunnya kesiangan sih dek..” ledek Tian.


Selesai sarapan aku langsung bergegas ke kamar memgambil telfon dan menghubungi mama. Mendengar penjelasan mama akhirnya aku mengerti. Untuk mengisi kekosonganku di hari minggu ini, aku mengerjakan tugas di gazabo samping kolam renang.


“Sibuk ya..” tanya Tian sambil menenteng laptop dengan logo apel digigit.


“Lumayan kak..” jawabku melihat sekilas wajahnya.


Dia mulai mengerjakan sesuatu di dalam laptopnya. Ternyata Tian kalo lagi serius tampan juga ya, hidung mancung, bibir tipis sedikit merah, alis setajam pedang, mata yang menatap tajam ke arah laptop.


“Kenapa lihatnya gitu?” ucapnya yang masih fokus pada laptopnya dan dia menyadari kalo dari tadi aku memperhatikannya.

__ADS_1


“Hmm..hmm..nggak pa pa kok Kak, cuma mau nawarin minum aja” dia melirikku dan tersenyum.


“Mau minum apa kak?” tanyaku mengalihkan tapi dia menoleh dan mendekatkan wajahnya sangat dekat wajah Vrita hingga hidung mereka hampir menempel.


“Oohh..oke kak” Vrita langsung berlari ke dalam sembari memegang dadanya sebelah kiri. Jantungnya berdetak lebih kencang, rasa detakan jantungnya berbeda ketika Vrita dengan Satya. Detakan jantungnya lebih kuat dirasakan. Tian yang dari tadi juga memegang dadanya juga merasakan hal yang sama ketika berdekatan dengan Vrita. Dua gelas jus jeruk dibawa Vrita dari dalam ditemani cemilan ringan keripik kentang.


“Minum kak” ucap Vrita. Tian segera meminum jus jeruk tersebut dengan sekali tegukan. Dari samping Vrita melihat begitu jelas bagaimana kharisma seorang laki-laki keluar.


“Semalem pulang jam berapa?” tanya Tian datar.


“Hmm..jam 10 kak” jawabku sambil meneguk jus jeruk yang aku buat.


“Lain kali jangan pulang malem, nggak baik cewek keluar terlali malam” ucapnya tanpa menolehku.


“Hmm..” jawabku datar.


“Siapa sih dia ngatur-atur hidup aku, pacar bukan, saudara juga bukan” gerutuku dalam hati.


“Kamu percaya nggak kalo jodoh itu sudah disiapkan oleh Tuhan?” tanya Tian menolehku.


“Kenapa kakak tiba2 tnya itu?” tanyaku balik.


“Aku bertanya kenapa jadi tanya balik?” ucapnya meletakkan laptop sembarangan.


“Iyaa..aku percaya kak kalo jodoh sudah diatur oleh Tuhan. Bukan hanya jodoh tapi hidup, mati dan rejeki juga sudah di atur oleh Tuhan” jelasku padanya.


“Seandainya Tuhan menjodohkanku sama kamu, apakah kamu masih mau pacaran Satya?” tanyanya dan kini aku benar2 nggak bisa jawab pertanyaan itu. Aku cuma percaya jika suatu saat nanti aku tidak berjodoh dengan Satya mak itu semua adalah takdir Tuhan. Pastinya akan ada penggantinya yang lebih baik nanti.


“Heh..kok bengong,,bercanda tau” uca Tian membangunkan lamunanku.


“Hehehe..mana mungkin juga Kakak suka sama aku? Usia kita aja selisih 10 tahunan” ucapku tertawa dan dia malah tersenyum.


“Kamu mungkin nggak suka sama aku, tapi aku sudah jatuh hati sama kamu sejak pertama kali kita bertemu” gumam Tian dalam hati.


Kami melanjutkan aktivitas masing-masing. Telfon berdering hingga Vrita mendahului masuk ke kamar. Tian yang melihat Vrita meninggalkanny sendiri di gazebo terasa sedikit sakit di bagian hatinya.

__ADS_1


__ADS_2