
Ketika Vrita keluar dari kamar, dia nggak sengaja melihat ke arah kamar Tian. Vrita mendekati kamarnya dan mencoba mengetuk pintu tapi karna lama tidak ada jawaban akhirnya dia memutuskan masuk tanpa ijin dari Tian. Vrita melihat beberapa baju yang sudah dimasukkan ke dalam koper. Tanpa sengaja Vrita melihat sebuah kotak berwarna biru terbalik. Namun ketika dia mencoba melihatnya tiba-tiba seseorang keluar dari dalam kamar mandi. Tian yang keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk di bagian lingkar pinggangnya. Vrita yang melihat itu langsung menutup mata dengan kedua tangannya dan membelakangi badan Tian.
“I..ituu..kamu kok nggak pakai baju” ucap Vrita terbata-bata.
“Kamu kok bisa masuk kamar?” tanyanya curiga.
“Tadi pintunya nggak ke kunci, aku udah ketok2 pintu tapi nggak ada jawaban” jelas Vrita dengan malu.
“Kamu tadi lihat apa” tanya Tian santai sambil memakai baju.
“Eee..nnggaakk..!! bantah Vrita.
“Aku udah selesai pakai baju, kamu bisa buka mata” ucap Tian mendekati Vrita perlahan tapi Vrita kini malah ikut mundur seirama langkah maju Tian. Tian mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku dan Vrita berpikir kalo Tian akan menciumnya karena begitu dekat jaraknya. Tetapi Vrita salah, dia mengambil kotak warna biru itu yang tak lain bingkai foto.
“Ini fotoku sama mama dan adik perempuanku” ucapnya menjelaskan.
“Oh..” jawabku singkat. Di dalam foto itu terlihat ada 3 orang, 2 perempuan dan 1 laki-laki. Kedua perempuan itu sangat cantik. “Kamu mau pergi?” tanyaku penasaran.
“Iya..hari ini aku harus kembali ke Jerman” ucapnya menolehku. Kenapa mendengar Tian mau pergi ada sesuatu yang aneh sama Vrita. Mungkin karna memiliki sifat penyayang seperti Kak Enda.
“Kenapa begitu cepat?” tanyaku cepat.
“Aku sudah disini selama 1 minggu, dan aku harus menyelesaikan pekerjaanku di Jerman, apa kamu takut rindu denganku?” jelasnya dan melontarkan pertanyaan yang cukup aneh untuk di dengar.
“A..aakkkuu...ngapain aku kangen kamu. Aku kan punya pacar juga” ucapku sedikit gagap tetapi di balas senyumannya.
__ADS_1
Ponsel Vrita berdering pertanda ada panggilan. Iyaa dari Satya kekasihnya. Vrita langsung meninggalkan Tian tanpa kata.
Seberang telfon..
“Tuan, pesawat anda akan tiba satu jam lagi” ucap asisten pribadi Tian.
“Aku akan segera kesana, jangan lupa dengan tugasmu yang sudah ku minta!” ucap Tian tegas
“Sudah saya siapkan orang untuk mengawasi Tuan” ucap Asistennya.
“Bagus..” ucapnya singkat.
Tian menuruni tangga sambil membawa koper berukuran sedang. Di bawah sudah ada ayah dan mama. Dari meja makan Vrita hanya melihat itu dan melanjutkan makannya lagi.
“Sama-sama nak, kamu kalo pulang ke Indonesia pulang kesini aja” kata mama sambil memegang lengan Tian.
“Kamu sudah seperti anak kita..maaf om dan tante tidak mengantar kamu sampai bandara” ucap Ayah. “Tapi...Vrita akan mengantar kamu ke bandara” mendengar kalimat itu Vrita yang sedang makan langsung tersedak.
“Uhuuukkk...uuuhhhukkk..taaapi yah..aku mau..” kataku beralasan.
“Kamu kan lagi nggak ada kegiatan, tolong ya anterin Tian ke bandara” kata mama memelas dan aku sudah kalah buat nolak. Vrita langsung ke kamar berganti baju dan mengambil tas selempang. Dia berjalan ke bawah dan mendahului Tian. Tian yang melihat hal itu merasa senang dan gemas dengan tingkah laku gadis kecilnya. Seusai berpamitan Tian memasuki mobil dan duduk di sebelah Vrita. Sepanjang perjalanan keduanya tidak ada yang bicara hingga Pak Ujanh yang mulai mengajak Tian ngobrol untuk mencairkan suasana.
“Tuan..sudah sampai” kata Pak Ujang memberitahukan sudah sampai di bandara.
Masih tanpa suara Vrita hanya mengikuti langkah Tian meninggalkan Pak Ujang. Seorang laki-laki gagah memakai jas hitam dan kaca mata hitam mirip bodyguard menghampiri Tian.
__ADS_1
“Selamat pagi Tuan..saya bawakan kopernya” ucapnya lembut.
“Tuan..??? Siapa dia??” tanya Vrita dalam hati.
“Pesawat anda ada di sana Tuan” ucapnya sambil menunjukkan ke arah lepas landas pesawat pribadi.
“Baik..aku akan kesana tapi aku berbicara sebentar dengan nona ini” ucap Tian menunjuk ke arahku. Dengan anggukan orang berjas tadi berlalu meninggalkan kita berdua.
“Aku mau ngomong sama kamu” ucapnya sambil menatapku dalam. Vrita yang kini melihat dengan seksama wajah laki-laki yang pernah dia temui sebelumnya. Tian memegang kedua tangan Vrita lembut. Rasa panas, keringat dingin keluar dari tubuh Vrita.
“Ta..” Tian mulai membuka suara. Vrita mendengar suara itu dengan perasaan gugup.
“Semenjak aku bertemu denganmu di supermarket itu, aku berusaha mencari siapa kamu. Aku tidak tau harus mencari kamu dimana, karna yang kuingat hanya wajahmu saja. Ternyata takdir berkata lain, lewat ayahmu yang membantuku dalam kemajuan perusahaanku, akhirnya aku bisa tahu gadis kecil itu siapa. Melihat foto di hp ayahmu, aku semakin yakin kalo itu kamu.” Ucapnya dan Vrita kini masih diam entah apa yang dia rasakan.
“Setelah menemukan informasi tentangmu, aku memberanikan diri untuk datang menemuimu, ternyata kamu suda memiliki kekasih, tapi itu nggak masalah buatku”ucapnya.
“Aku akan tetap menunggumu..menunggu hingga kamu mau membuka hati untukku” ucapnya.
“Tian..kamu adalah orang baik, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, aku sudah memiliki kekasih yang sangat aku cintai” jelas Vrita yang tidak ingin Tian kecewa.
“Aku suka kami memanggilku dengan nama itu, tapi sejak awal aku melihatmu...aku sudah mencintaimu” degg..ucap Tian yang nggak bisa aku jawab lagi.
“Aku akan menunggumu..aku akan tetap mencintaimu..”ucapnya meyakinkanku.
Vrita yang mendengar ungkapan itu tidak lagi berani menatap kedua bola mata Tian dan memilih menunduk. Tian mengangkat dagu Vrita dan menghadapkannya lurus dengan wajahnya. “Sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu dan akan selalu mencintaimu Vrita Putri Perdana” ucapnya sambil menempelkan bibirnya dengan bibir Tian. Tian mencium bibir pink itu dengan lembut hingga dia tak ingin melepaskan. Vrita merasa kaku dengan hal itu, rasanya ingin dilepaskan tapi tubuhnya menolak. Dia memilih memejamkan mata. Usai adegan ciuman, Tian mengecup ujung kepala Vrita dan membisikkan kalimat terakhir akan selalu menunggu dan mencintainya.
__ADS_1