Antara Aku Kau Dan Dia

Antara Aku Kau Dan Dia
6. Perpustakaan


__ADS_3

Di meja perpus...


Tiga cewek sedang bercanda sama tiga cowok juga. Tau nggak siapa mereka?? Dara, Wilo, dan Raisya ditambah lagi Leon, Vino dan Reza. Gombalan-gombalan nggak mutu dari Leon buat Dara bikin semuanya jadi tertawa terbahak-bahak sampai nggak tau kalo 1 temennya jadi sandra. “Kan kita udah tau nama kalian nih..sekarang boleh nggak kalo kita tau nomor hpnya??sapa tau jodoh gitu??”ucap Reza versi genit. Setelah mendapatkan persetujuan dari kelompok cewek, ketiga cowok tersebut langsung menyodorkan hpnya ke masing-masing cewek yang disuka.


Tapi tidak dengan Avrita, gadis yang kini dibekap mulutnya pakai tangan. Kini dia masih enggan membuka mata karna takut sama orang yang membekapnya. Perlahan-lahan dia membuka mata dan bola matanya seketika pengen keluar karna tau cowok yang membekapnya adalah Satya. “Hai..kita ketemu lagi,”ucap Satya sinis. Aku masih diem nggak berani komentar bahkan membuka suara. “Lo..masih utang ke Gue, utang tanda tangan karna Lo nggak mgasih apa-apa ke Gue!”penjelasannya yang seketika aku mengingat kejadian beberapa hari lalu. “Dan satu lagi, ucapan terima kasih dari Lo karna kemarin Gue udah gendong lo pas pingsan,”penjelasannya satu ini yang pengen aku tanyain ke sahabat-sahabatku. Dia melepaskan tangan yang tadinya buat bekap mulutku. Rasanya aku langsung pengen teriak dan dia nunjukin kertas bertuliskan “Dilarang Berisik” . Akupun cuma mengangguk paham dengan yang dimaksud. “Gimana tadi?”tanyanya lagi dengan ekspresi senyum sinis. “Aku nggak punya apa-apa buat aku kasih ke kamu.”ucapku dengan nada gemetar.


“Berarti sekarang Lo harus ngasih sesuatu ke Gue bukan barang, tapi....,”terhenti sejenak lalu dia melanjutkan kata-katanya “ciuman” rasanya jantungku mau copot denger kata itu. Seumur-umur aku belum pernah yang namanya pacaran apalagi ciuman. “Maksudmu apa sihhh ngomong gitu?”langsung aku bentak aja tuh Satya. Dia malah semakin mendekatkan wajahnya yang sekarang jarak wajah kita cuma beberapa centi aja persis kejadian di kantin waktu itu. Aku langsung merem dan takut buat nglihat dia lagi. Bel masuk berbunyi dan pikirku ini kesempatan buat aku lari dari dia tapi pas aku nyoba kabur malah tangan kiriku ditarik lagi. Langsung aku pakai jurus Taekwondoku, aku injek kakinya dan berhasil kabur dari cowok rese itu. Aku sampai nggak peduli sama sahabat-sahabatku yang teriak manggil aku. Pokoknya aku pengen segera kabur dari cowok itu, aku menggerutu sampai aku nggak sengaja nabrak Geng Mak Lampir. Tapi bomat...aku pengen kabur aja. Geng Mak Lampir juga ikutan teriak maki-maki nggak jelas tapi terserahlah pengen lari aja. Sampai di kelas, sahabat2 ku langsung berhamburan nanyain aku tadi kemana, terus kenapa lari2 kayak dikejar anjing. Akhirnya aku ceritain semua ke mereka dan alhasil mereka juga ketawa nggak percaya kalo Satya Rahardian Ketua Osis ganteng ngejar2 Avrita adik kelasnya.

__ADS_1


Jam pelajaran selesai dan sekarang aku males buat ketemu sama Satya. Aku nitip makanan ke Dara dan nggak lupa minum karna nih tubuh udah mulai dehidrasi gara2 lari tadi. “Tapi bisa aja seh Ta kalo Kak Satya suka sama kamu, kamu kan lebih cantik dari Mak Lampir itu.”hiburnya Raisya yang dari tadi aku cuma sender meja. “Udah jangan bahas lagi Sya..aku males harus urusan sama dia, apalagi geng Mak Lampir itu yang gayanya selangit.”jawabku. Baru aja mingkem nih mulut, geng Mak Lampir nylonong masuk ke kelas sambil gebrak2 meja. “Maksud Lo apa nabrak2 gue tadi?”ucap Bianca si Mak Lampir. “Aku tadi udah minta maaf karna nggak sengaja nabrak kamu, lagian kamu kan tau itu tangga umum bukan tangga pribadi kalian malah asyik selfi2 nggak jelas”akupun juga nggak mau kalah. “Dasar Lo ya cewek ingusan, siapa sih orang tua Lo? apa jangan2 Lo cuma simpanan om2 sampe Lo bisa sekolah disini!”sindir Bianca. “Asal kamu tau ya, buat beli sekolah ini Vrita lebih mampu dari pada Lo!”ucap Raisya yang nggak mau kalah dari mulut Mak Lampir. “Udah aku males buat ngadepin mulut yang nggak guna kayak kamu. Ini sekolah tempat buat belajar bukan buat pamer harta,”ucapku sambil berdiri dan berjalan meninggalkan merek Geng Mak Lampir. “Sialan...emang dia siapa sih??perasaan Gue yang paling cantik dan paling kaya di sekolah ini. Tau sendiri kan kalo bokap Gue Direktur Utama Perusahan Angkasa”ucap dia berlalu meninggalkan kelas XIPA 1.


Aku dan Raisya mulai berjalan menuju kantin mencari Dara dan Wilo. Sampai di kantin ternyata mereka berdua malah asyik ngobrol sama cowok2 dari geng Satya. Tambah males lagi kan, tapi perutku laper banget..😭😭.


“Ra..pesenanku mana??”tanyaku tapi malah dapat tatapan tajam dari Satya yang sekarang kita tengah berhadapan. “Nih Ta...maaf ya lama tadi antri dulu tapi untung ada Kak Leon mau nolongin aku antri dan aku tinggal duduk aj deh”ucap Dara memberi penjelasan. Pas aku mau ambil pesenanku, tiba2 Satya narik aku dan entah kemana dia bawa aku jauh dari sahabat2ku. “Kak..Vrita mau dibawa kemana?”teriak Wilo tapi udah dihadang sama Vino aja. “Satya cuma mau kenalan aja sama temen kamu, dia nggak bakal macem2,”ucap Vino nenangin kita semua biar nggak pikiran negatif.


“Lo..masih nggak mau ngasih sesuatu buat ucapan terima kasih lo ke gue??”tanyanya.

__ADS_1


“Kalo buat ngasih sesuatu berupa barang, oke aku mau tapi kalo “ciuman” aku nggak sudi!”tatapku tajam seakan menantangnya.


“Emang kamu sekarang bawa apa heh??tantangnya sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Dengan polos aku menyodorkan gelang dari tali berwarna biru. “Kamu pikir aku mau terima barang kayak gini?tanyanya sadis sambil nunjuk gelang yang aku kasih. “Terus kamu mau barang apa heh?tanyaku sambil mendongakkan kepala mencoba menatap tajam ke arah cowok rese ini.


Haduhhh...sebenernya kamu tuh ganteng banget tapi kenapa kelakuanmu rese gini, gumamku dalam hati sambil menatap tajam ke arahnya. Kita berdua berhadapan dengan tatapan yang amat tajam dengan amarah masing-masing. Aku juga nggak tau kenapa dia rese banget sama aku, baru juga beberapa hari ketemu. Tatapan kita terhenti saat bel masuk berbunyi. Aku langsung melarikan diri dari dia tapi dia cuma diem aja nggak ada ekspresi ngejar atau narik tanganku lagi kayak pas di perpus. Aku nggak peduli dia mau ngapain intinya sekarang keluar dari singa yang siap menerkam kapan saja.


“Cantik...”gumamnya sambil melihatku berlari meninggalkanku. Satya masih menggenggam gelang warna biru sambil senyum2 semdiri. “Liatin aja bro gelangnya, orangnya gimana?tanya Leon cengar cengir. “Orangnya galak tapi cantik,”ucapnya masih dengan gelang di tangan mengingat apa yang telah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2