Antara Aku Kau Dan Dia

Antara Aku Kau Dan Dia
12. Tumbuh Rasa


__ADS_3

Hampir enam bulan hubungan Vrita dan Satya terjalin dengan baik. Iy..walaupun kadang2 mereka berselisih pendapat tapi itu merupakan bumbunya orang pacaran. Setiap pulang sekolah Satya nggak pernah absen buat nganter pulang kekasihnya. Tapi untuk urusan malam minggu, Vrita nggak pernah nuntut Satya harus datang kerumahnya seperti anak2 yang lain. Wakuncar istilahnya..


Kadang kala mereka sering nongkrong di Cafe milik Wilo, sekalian bantu2 gitu. Apalagi sekarang Vino juga hampir setiap hari dateng ke cafenya Wilo. Sepertinya mereka sedang PDKT..😀


Beberapa hari setelah dilaksanakan tes semester pertama Vrita nggak pernah terlihat bareng sama Satya di Kantin apalagi waktu pulang. Bukan karna hubungan mereka renggang ya...tapi Satya tengah mempersiapkan diri untuk pertandingan persahabatan dengan SMA Angkasa. Secara Satya kapten basket di sekolah ini, pasti dia bakal sibuk banget. Nggak kalah penting juga dengan Vrita yang ditunjuk sebagai kapten vollynya karna banyak prestasi yang dia dapatkan di SMP dulu. Jadwal latihan yang nggak sama tidak menutup kemungkinan mereka saling memberi kabar.


“Ta..hari ini kamu ada latihan volly lagi?”tanya Raisya sambil menyeruput es teh di depannya.


“Iya Sya..hari ini latihan terakhir bareng sama anak basket juga”jelasnya.


“Berarti ada babang Vino donk Ta”tanya Wilo antusias.


“Iyaa..emang kenapa?”tanya Vrita curiga.


“Ngk pa pa kok Ta” ucapnya menunduk menyembunyikan malu. Padahal kita tahu kalo aslinya Wilo sama Vino ada rasa. Tapi mereka pada jaim nggak mau ngaku.


“Hmm..kamu semangat gitu denger Kak Vino latihan basket” ucap Dara nunjuk hidungnya Wilo.


Kali ini muka Wilo udah bener2 merah kayak tomat. Sampai kita bertiga nggak kuat nahan tawa.


“Boleh ya Ta...kita ikut nonton?”tanya Wilo memelas.


“Kita? Lo aja sendiri!” Jawab Dara sama Raisya bebarengan. Wilo bener2 bikin ketawa terbahak-bahak cuma mau nonton babangnya.


Selesai makan di kantin kita berempat menuju gor tempat latihan. Ketiga sahabatku langsung menempatkan diri di tribun penonton. Jelas Wilo akan mencari tempat duduk yang strategis biar bisa lihat Vino pastinya. Vrita bersiap diri mengganti seragam sekolah dengan seragam olahraga. Tak lupa dia mengikat rambu ekor kuda, terpampang jelas leher jenjang yang putih.


Di bagian tribun lain terlihat geng Mak Lampir yang bersorak memberikan semangat kepada Satya dkk, sesekali Bianca melemparkan tanda kiss bye tapi nggk direspon oleh Satya..kasihan deh..

__ADS_1


Satya yang melihat Vrita tengah mempersiapkan diri untuk latihan melambaikan tangan dan senyuman balasan dari Vrita cukup membuat dia bahagia.


“Duh dek..meleleh hati abang” ucap Leon menggoda.


“Apaan sih lo..diem tau nggak..ganggu aja” balas Satya ketus sambil melemparkan bola ke arah Leon.


“Senyumnya aja manis apa lagi orangnya?” ucap Leon lagi tapi kali ini Satya cuma diem dan terus menatap Vrita yang sedang melakukan passing atas.


“Permainan yang bagus..” ucap Satya dalam hati diiringi senyumannya.


“Latihan hari ini cukup, kalian boleh pulang dan jangan lupa istirahat, besok kalian masih membutuhkan banyak tenaga untuk menghadapi siswa dari SMA Bangsa!” ucap pelatih memberikan saran untuk kita.


“Ta..kamu jaga kondisi dan stamina, bapak percaya sama kamu!”ucap pelatih kembali dan aku menganggukinya.


Vrita yang kini tengah membereskan bola volly melihat Satya yang dikerumuni cewek2 gatel. Iya..siapa lagi kalo bukan Mak Lampir and the geng. Rasanya bola volly ini pengen di lempar di muka Bianca sampe pingsan. Dalam hati dia terus menyabarkan dirinya melihat itu semua. Entah kenapa lama menjalin hubungan dengan Satya. Vrita merasa ada yang aneh dengan hatinya yang kadang merasa kesal bahkan jengkel kalo laki2 itu dekat dengan cewek apalagi Bianca.


“Ta..kamu nggak pa pa?”tanya Dara khawatir yang melihatku seperti menyimpan amarah melihat Satya dengan Bianca.


“Ngk pa pa kok Ra”jawabku datar.


Vrita kembali memunguti bola volly yang berserakan dan meletakkannya kembali ke dalam keranjang. Dia berjalan mengambil tas dan membelakangi kondisi tersebut. Ternyata Satya kini juga ikut berjalan mengikuti keempat gadis itu. Langkahnya yang lebih cepat hingga dia menarik tangan Vrita mendahului sahabat2nya.


“Sayang..kamu kenapa kok nyuekin aku sih” tanya Satya.


“Gak pa pa” jawabku singkat.


“Hey...kamu kenapa? Nggak mungkin kalo kamu diem karna nggak ada masalah?”tanyanya lagi,

__ADS_1


“Udah mesra2nya sama mak lampir?” tanyaku ketus.


“Ohh..jadi kami cemburu nih critanya?” tanyanya menggoda.


“Ngk kok..siapa yang cemburu?”jawabku kesel tapi nggk bisa menyembunyikannya karna pasti pipiku sekarang tengah memerah.


“Tuh apa..kalo nggak cemburu. Pipi kamu udah merah pengen aku cubit” jawabnya sambil menunjuk ke arah pipiku. “Aku anterin pulang ya..mumpung kita bisa pulang bareng?” tawarnya untuk menghiburku. Tanpa basa basi aku mengganggukkan kepalaku sebagai tanda setuju.


Di dalam mobil, Satya cuma senyum melirik keadaanku. Karna gemas melihatku cuek sama Satya sekarang dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Tanpa ijin dari si empunya dia langsung mencium pipi kanan Vrita. Kekasihnya kini cuma bisa melotot merasakan ciuman singkatnya. Memang ini pertama kalinya untuk Vrita. Hawa panas dan gerah merasuki tubuh Vrita efek ciuman yang diberikan. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Vrita sampai dia memasuki halaman rumahnya.


“Makasih ya Kak udah di anterin pulang” ucapnya malu mengingat kejadian barusan.


“Udah tugas aku nganterin kamu pulang kalo perlu jemput kamu sekolah setiap hari” ucap Satya enteng menahan tawa.


“Hmm..ngk ngk perlu kok Kak, aku di anter sopir aja berangkatnya” balasnya gelagapan dan Satya terus menahan senyum di bibirnya.


“Kami kan udah jadi pacar aku, kamu nggak perlu khawatir kalo aku bakal selingkuh, kamu lebih cantik dari Bianca. Aku bakal buktiin kalo aku sayang sama kamu. Aku akan berusaha agar bisa menjadi pendamping hidupmu nanti” ucapnya jelas di telingaku hingga aku merasa terharu dengan kata2 itu.


“Kakak harus buktiin ucapan kakak, karna semua wanita membutuhkan bukti bukan janji yang akan diingkari” kataku seraya membalas tatapan wajahnya yang kini terlihat tulus. “Aku masuk dulu ya kak, sampai ketemu besok” ucapku sambil keluar dari mobil.


“Kamu jangan lupa istirahat..jaga kondisi ya..nanti aku telfon kalo udah sampe rumah” ucapnya.


“Okee...” ucapku tersenyum.


Setelah tak terlihat lagi mobil Satya, Vrita masuk ke dalam rumah yang terasa sepi. Dia mencari sosok mama yang biasanya berkutat di dapur. Bi surti yang sepertinya juga pergi entah kemana. Merasa lelah dengan latihan vollynya Vrita masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri.


Drrrrtttt....drrrrtttt....ponsel Vrita yang dari tadi tidak mendapatkan jawaban karena si pemiliknya tengah melakukan ritual mandi.

__ADS_1


Vrita yang kini memakai kimono mandi berwarna merah mencari asal suara benda tipis itu berada. Ternyata panggilan tak terjawab dari ayah sebanyak 11 kali dan dari Satya sebanyak 5 kali. Dia membalas pesan Satya yang memberitahukan bahwa telah sampai rumah. Baru selesai mengirim pesan, benda tipis bergetar kembali menandakan ada panggilan. Panggilan dari ayah saat ini...


__ADS_2