
Ayah kini tengah sampai di Singapura bersama dengan sekretarisnya Lani. Mbk Lani kira-kira berumur 22 tahun. Tinggi dan memiliki tubuh yang proporsional. Dia mengabdikan dirinya di Perusahaan Perdana Corp sejak berumur 20 tahun. Karena prestasinya menyandang predikat cumlaude di universitas terbaik Oxford. Gelar sarjana yang hanya dia dapatkan dalam waktu 3,5 tahun membuat dia dipermudah masuk di perusahaan ayah. Dia juga termasuk siswa berprestasi di sekolah sebelumnya karna mbk Lani mengikuti program akselerasi. Jadi tak dipungkiri dengan usianya yang masih muda saat ini. Ayah nggak akan mungkin asal memilih sekretaris ditambah dia harus menghandle semua pekerjaan ayah jika sedang di perusahaan cabang. Mbk Lani yang sudah di anggap seperti anak sendiri oleh ayah tapi Mbk Lani tetap menghormati ayah sesuai pekerjaannya.
“Tuan..untuk pertemuan hari ini dengan Tuan Reihan kemudian siang nanti dengan Tuan Sebastian”tutur Mbk Lani membacakan jadwal pertemuan ayah dengan client. Jawaban ayah cuma mengangguk.
Sesampainya di sebuah hotel mewah di Singapura ayah melakukan pertemuan pertamanya dengan Tuan Reihan yang bergerak dalam bidang pangan. Mbk Lani dengan sigap mencantat apa saja hasil dari meeting pagi ini untuk di laporkan ke Ayah setelahnya. Melanjutkan meeting kedua dengan Tuan Sebastian Wijaya Kusuma. Seorang pengusaha muda yang kini berstatus single dan katanya terkenal bersikap dingin dengan siapa pun. Tapi dengan Ayah tentu berbeda karena ayah adalah sahabat ayahnya yakni Tuan Wijaya. Tuan Wijaya baru 1 tahun lali meninggalkan keluarga tercinta dikarenakan serangan jantung. Kini perusahan Wijaya Kusuma grup telah dikelola oleh putra satu-satunya Sebastian. Tuan Wijaya memiliki 2 orang anak, yang kedua seorang putri seumuran Vrita namanya Aurin.
Sosok laki-laki berwajah tampan dan gagah berjalan memasuki hotel yang tadinya digunakan ayah untuk meeting sebelumnya. “Siang om..”sapanya sambil mengulurkan tangan.
“Siang Tian,”jawab ayah ramah.
“Halo mbk Lani apa kabar?”tanyanya pada sekretaris ayah.
“Baik Tuan” jawab Mbk Lani singkat. Mbk Lani memang sering bertemu dengan client ayah yang masih muda tapi dia nggak pernah tertarik sama mereka. Karna Mbk Lani cuma tertarik sama anak cowok ayah. Yuppss...betul banget Kak Enda.
__ADS_1
Awal Mbk Lani kerumah waktu ada acara hari ulang tahun pernikahan ayah sama mama. Mbk Lani diminta untuk mempersiapkan segala keperluan untuk acara. Ketika acara berlangsung Kak Enda menyumbangkan suaranya dengan bantuan gitar. Saat itulah Mbk Lani ada rasa sama Kak Enda. Tapi Mbk Lani takut untuk mengakuinya mengingat posisinya hanya seorang sekretaris.
“Gimana Tian hasil pertemuanmu dengan Tuan Banyu kemarin?”tanya ayah kepada Tian.
“Lancar om, ternyata Tuan Banyu hampir sama dengan Om. Orangnya ramah dan nggak mempersulit kerja sama”jelasnya.
“Dia memang partner kerja yang baik, ayahmu dulu berteman lama dengan Tuan Banyu,”kata ayah.
Obrolan ayah dengan Sebastian bukan membahas bisnis melainkan obrolan-obrolan ringan. Ayah memberi tawaran makan malam dengan keluarga jika nanti pulang ke Indonesia. Meeting kali ini di tutup dengan hidangan makan siang. Selesai melakukan makan siang ayah kembali menuju bandara untuk pulang ke Indonesia dengan pesawat pribadi.
Dari pagi hingga jam pulang sekolah obrolanku dan sahabat-sahabatku cuma seputar menginterogasiku tentang hari minggu kemarin. Iya pastinya mereka kepo gimana aku bisa jalan sama Kak Satya.
“Makan gih..nanti kamu pingsan lagi”ucap Kak Satya menyodorkan seporsi bakso didepanku. Diikuti 3 cowok lainnya.
__ADS_1
“Makasih kak”jawabku seneng karna emang udah laper banget. Sahabat2ku sampai nggak mgasih kesempatan buat aku makan.
Kita ngobrol sampai lupa udah mau sore. Warung tenda biru seberang sekolah menjadi tempat favorit kita buat nongkrong dari awal masuk SMA ini. Macam-macam makanan yang enak dan pastinya murmer abis. Apalagi sekarang ditambah Satya dkk jadi tambah rame.
“Aku anterin kamu pulang ya yang?”tawar Satya.
“Udah panggil sayang sayang nih critanya?”ledek Leon membuat semua tertawa.
“Mukamu udah merah tuh Ta”ucap Raisya langsung aku ambil cermin di tas memastikan. Ternyata benar merah mukaku sampai aku menutup mukaku sendiri.
“Udah sana pulang Ta kan sekarang udah ada pacar yang anter jemput”sindir Wilo cengengesan.
“Apaan seh...aku tadi berangkat sama sopr tau”ucapku kesel.
__ADS_1
“Berarti mulai besok aku jemput kamu nanti pulangnya aku anter gimana?”tanya Satya membuat gemuruh teman-teman yang mendengar tawaran Satya.
“Nggak ah,.nggak perlu kak,”tolakku halus. “Aku dianter pulang aja nggk pa pa”ucapku pelan. Seketika semua tertawa lepas. Tapi nggak dengan Bianca, dia melihat itu mengepal tangan dan entah apa yang ada dipikirannya.