Antara Aku Kau Dan Dia

Antara Aku Kau Dan Dia
13. Meet you


__ADS_3

Suara diseberang telepon..


“Hallo yah...ada apa?” tanyaku ke ayah.


“Hallo Ta...kamu dimana? Ayah telfon dari tadi kok nggak di angkat?” tanya ayah khawatir.


“Aku baru aja pulang terus lanjut mandi” jawabku menjelaskan ke ayah.


“Iy sudah..sekarang kamu siap-siap terus jemput Sebastian di Bandara, mungkin dia sebentar lagi mendarat”pinta ayah.


Siapa Sebastian?? Kenapa aku yang jemput?” tanyaku dalam hati.


“Dirumah nggak ada orang yah..tadi pas aku pulang mama sama bi surti lagi keluar mungkin” jelasku ke ayah menceritakan keadaan rumah yang dari tadi nggak ada orang.


“Mama sama bi surti baru ke supermarket belanja buat makan malam nanti, udah buruan kamu siap2 jemput Sebastian sekarang keburu nanti dia nunggu lama kasihan, pak ujang dirumah..” ucap ayah panjang kali lebar.


Tanpa berlama-lama lagi aku memakai dress motif bunga selutut dan nggak lupa sepatu putih favoritku. Aku berjalan menyusuri lantai bawah mencari keberadaan Pak Ujang.


“Lohh..mama udah pulang?” tanyaku ketika mama sedang menurunkan belanjaan.


“Udah sayang..”jawabnya sambil merentangkan tangannya memelukku. “Kamu udah cantik..mau kemana?”tanya mama lagi.


“Aku disuruh ayah jemput Sebastian di bandara mah, aku kan nggak tau orangnya, nanti kalo aku salah orang gimana donk?”ucapku memelas. “Lagian aku capek banget nih mah..besok mau ada pertandingan volly di sekolah” ucapku lagi.


“Tenang non..mamamg tau kok Tuan Sebastian..nggak mungkin salah orang nanti” ucap pak ujang yang entah dari mana dia muncul.


“Iyaa sayang..pak ujang nggak bakal salah orang, beberapa bulan yang lalu sudah pernah kesini kok..” jelas mama.


“Kapan mah? Kok aku nggak tau” ucapku memang aku nggak tau kapan orang bernama Sebastian itu datang kerumah ini.

__ADS_1


“Udah buruan sana berangkat..nanti keburu Sebastian nunggu lama..” pinta mama sambil mengelus rambutku.


“Iya udah..aku berangkat mah..awas ya Pak nanti kalo sampe salah orang!”ucapku mengancam Pak Ujang takut salah orang.


“Ati2 di jalan ya sayang..”teriak mama yang kini aku berlalu mengikuti Pak Ujang.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, Pak ujanh memberitahukan ciri-ciri Sebastian.


“Waktu Tuan Sebastian kerumah itu..non dikamar” kata Pak Ujang tapi aku hanya menatap ke arah luar jendela sesekali membalas pesan dari Satya.


“Non..sudah sampai..” ucap Pak Ujang memberitahukan bahwa kita sudah sampai di bandara.


Aku turun dari mobil dan berjalan menuju tempat duduk yang disediakan oleh penunggu yang datang menjemput.


Drrrrtttt...drrrtttt....


“Hallo yah..aku udah sampai di bandara ini” ucapku memberitahukan ayah.


Tak lama telfon ayah terputus, muncul panggilan dengan nomor yang tidak aku kenal. Tanpa pikir panjang aku angkat saja siapa tau memang dari Sebastian.


“Hallo..”ucapku menyapanya.


“Benarkah ini Vrita putri Tuan Hadi?” tanyanya balik.


“Iya benar...”ucapku singkat.


“Saya sedang menuju ruang tunggu..bisa anda sebutkan bagaimana ciri2 anda”? pintanya. Aku menyebutkan ciri2ku dan begitu pula dengannya. Ini terlihat seperti orang yang pertama kali ingin berkencan.


Tak lama kemudian muncul suara dari belakang menyebut namaku lembut. Hingga aku langsung bangkit berdiri dan tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang.

__ADS_1


“Vrita ya...?” tanyanya dengan tatapan mata yang pernah aku lihat sebelumnya.


“Iya benar..”jawabku yang masih menatapnya.


Kini pandangan kami beradu satu sama lain. Entah apa yang dia pikirkan tentangku tapi aku memikirkan dimana aku pernah melihat wajah ini. Saat aku mulai menyeimbangkan badanku rasanya kakiku berasa tidak sinkron dengan otakku sampai hampir terjatuh. Dengan sigap dia menahan tubuhku dengan tangan kirinya. Detak jantungku yang sedari tadi berguncang tidak beraturan seperti rumus GLBB. Lama aku melihat manik mata yang indah ini berusaha mengingat dimana pernah bertemu sebelumnya.


“Non...kita pulang sekarang” aku tersadar setelah suara Pak Ujang menyadarkan kami.


“Maaf..maaf..”ucapku bingung gelagapan.


“Iya pak..kita pulang sekarang”ucapku sambil berjalan meninggalkannya.


Vrita langsung saja masuk ke dalam mobil dan memilih duduk terlebih dulu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Vrita tidak membuka suaranya dan lebih memilih melihat luar jendela. Sesekali dia memainkan ponselnya atau membalas pesan dari Satya. Obrolan di dalam mobil hanya dipenuhi oleh Pak Ujang dan Sebastian. Rasa lelah yang menghampiriku sekarang merubahku menjadi rasa kantuk. Entah sejak kapan Vrita tertidur hingga dia nggak tahu kalo sudah sampai rumah.


“Non Tata sepertinya lelah tuan..”ucap Pak Ujang yang melihatnya dari spion dalam mobil.


“Iya pak..memang kegiatan sekolahnya berat ya pak?”tanya Tian pada Pak Ujang sembari melihat Vrita yang kini tengah tertidur pulas.


“Lumayan tuan..kalo nggak salah tadi non Tata crita besok ada pertandingan volly di sekolah” jelas Pak Ujang.


“Dia bisa main volly juga pak?”tanyanya nggak percaya.


“Bisa tuan...non Tata bisa olahraga volly, renang, basketpun bisa. Tapi yang nggak bisa satu tuan” jelasnya pada Tian dan sekarang dia malah tambah penasaran.


“Apa pak?” tanyanya singkat.


“Sepak bola tuan” ucap Pak Ujang dan malah Tian tersenyum.

__ADS_1


“Ternyata kamu lebih indah dari yang aku bayangkan..terima kasih Om Hadi sudah mengijinkanku bertemu dengan putrimu” gumamku dalam hati.


__ADS_2