
Setelah selesai mengobrol,aku dan Deki,bangun dari tempat tidur kami.Kebetulan hari itu Deki tidak ke kantor. Jadi aku tidak terlalu terburu mengurus sarapan pagi untuk suamiku.
Hari itu Deki meminta aku,dan bibi Manda membuatkan makanan kesukaan dirinya.
" Bi..! hari ini bibi bantu siapan bahan-bahan,karena kita mau memasak makanan kesukaan Deki." Pintaku kepada bibi Manda,tampa menunggu lama bibi manda sudah mengambil semua bahan yang akan digunakan.
Aku dan bibi Manda saling bantu membantu,sehingga sebelum waktu makan siang semuanya sudah beres.
" Papa...! papa...!,kamu di mana..?" Aku naik turun tangga mencari suamiku.Ternyata dia lagi terbaring di sofa sambil menonton tv.
" papa...! dari tadi mama cariin,bukannya menyahut.malahan asyik nonton tv,udah mau makan atau belum.?" Tanyaku sambil,menonton tv juga.
" Belum mama,aku masih kenyang soalnya perutku masih aman,nanti kalau udah keroncong baru aku makan." jawab Deki,dengan posisi tangannya di ules di perutnya.
Aku pun masuk kedalam kamar,aku tanggal- kan semua pakaian,lalu ke kamar mandi dan mandi.Setelah aku selesai mandi,ternyata Deki sudah berada di atas tempat tidur.
__ADS_1
"papa,bukannya kamu masih mau nonton.Kenapa sekarang sudah berada di dalam kamar.? Tanya Sonia,sambil melangkah menuju meja rias.
Deki memeluk aku dari belakang,diciumnya leher aku,seketika bulu romaku berdiri.Dia terus mencium leher aku,kadang di sebelah kiri,dan kadang di sebelah kanan.
Aku semakin tidak jadi dengan sentuhan itu.Dia memalingkan wajah aku, dan menengadahkan wajahku ke atas.Diciumnya bibir aku dengan lembut,kini bukan hanya bibirnya yang bekerja.Namun,tangannya mulai meremas pepayaku.Sambil tangannya yang sebeleh memutar ujung pepayaku.
" Ah....! papa,jangan siksa aku gini dong." Desahku,agar Deki megurangi aksinya.Namun,Deki terus beraksi.
" Ayo mami..! kita ditempat tidur saja." Ajak Deki,dengan posisi tangannya masih menggenggam pepayaku yang cukup besar itu.
Dibaringkan tubuhku di atas tempat tidur.Namun,tubuh aku udah polos tampah mengenakan sehelai kain pun.
"Ah...papa...! pelan papa...!" Aku mendesah, karena tongkatnya yang cukup besar itu Terasa sesak masuk di dalam lahanku.Mungkin sudah cukup lama baru digunakan lagi.Namun,Sepertinya Deki sudah pandai dalam hal ini.
Sehingga bukan aku merasakan agak sempit dan sedikit nyerih.Namun kenikmatan yang kudapat.Bagaimana tidak nikmat,di dalam lahan aku tongkatnya terus digesekkan.Sedangkan lidahnya,dengan lincah bermain di ujung pepayaku.
__ADS_1
" Ah...papa,terus papa...!! aku mau keluar,tidak lama kemudian kami sama-sama memuntahkan lahar panas.Yang cukup banyak,mungkin Deki juga sudah lama tidak menggunakan tongkatnya.
Kejadian sore itu,membuat aku selalu terbayang dan menjadi candu dengan gaya permainan suamiku.Aku akui, Deki memang pandai memberi kepuasan yang tak terlupakan.
Sebulan kemudian, aku telat datang bulan Aku sampaikan ke Deki.Namun jawabnya santai saja.
"Kalau dua bulan telat,baru patut di curigai.Kalau belum sabar saja." Gitu deh ucapannya.
Suatu hari,aku berdiri membantu bibi Manda membersihkan kaca jendela.Kepalaku terasa pusing dan rasa mual mau muntah.
"Papa...!mengapa kepala aku kayak pusing.?Apa lagi kalau berdiri,puyengnya bukan main." Ucap aku,ketika aku berkata demikian,suatu malam suamiku membawah test pack kehamilan untuk diriku.
"Papa..! papa,akurat papa..!" sambil berlari,aku memberi tahu Deki.
"Hey..!! mama jangan lari,itu masih hamil muda." Deki mencegah aku untuk jangan lari,terpaksa aku ikuti saran suamiku.
__ADS_1
" oawk....!! oawk...!" Aku muntah lagi,aduh sangat tersiksa bukan main rasanya.Aku ngidamnya aneh,maunya cuman makan kelapa muda saja.
Mau pagi,siang,maupun malam,aku cuman pingin kelapa muda sajah.