Antara Cinta Dan Restu

Antara Cinta Dan Restu
10. Surat Nikah


__ADS_3

"Maaf sayang, kita nggak mau nganggu acara bulan madu kalian."


Amoera terdiam beberapa saat setelah mendengar hal tersebut. Jadi benar, pengakuan Abryne bahwa Ia sudah menikah dengannya.


"Hikss, hikss, hikss. Vetya butuh penjelasan dari kalian!"


Suara gaduh terdengar dari seberang telefon, entah sedang melakukan apa si penelpon sehingga membuat suara gaduh sangat terdengar jelas.


"Vetya, kamu minta penjelasan ke ayah. Dia biang keroknya," ucap bundanya


Tidak lama suara diseberang berbeda dari sebelumnya. "Dia suami yang baik buat kamu vetya," jawab ayah. Amoera menduga hp yang tadi nya berada di tangan bundanya telah beralih ke tangan ayahnya.


"Yahh, Vetya butuh penjelasan."


"Khem, kamu masih ingat? Kalau ayah pernah cerita, jika ayah pernah bertemu dengan seorang polisi yang--"


Mendengar ayahnya mengatakan hal tersebut membuat Amoera ingat, waktu saat ia berumur 17 tahun dan masih kelas 12 SMA. Ayahnya pernah bercerita kalau dia pernah dicegat seorang polisi di perempatan jalan.


"Halo? Vetya?"


Mendengar ayahnya memanggil namanya, membuat Amoera sadar dari lamunan. "A-ah, iya. Vetya ingat, terus apa hubungannya ayah?"


"Waktu itu ayah belum selesai cerita karena kamu yang sudah dipanggil Amel pergi nge-mall kan?"


Amoera tersenyum dengan melipat bibir nya kedalam mengingat hal itu.


"Jadi gini... "


Flashback on


Wiu wiuuu wiuuu wiuuu....


"Motor dengan plat nomor AA 3127 BK            mohon untuk segera menepi, sekali lagi motor dengan plat nomor AA 3127 BK  segera menepi." Teriak Abryne menggunakan toa yang dibawanya dengan posisi Ia di atas motor.


Ayah Amoera yang bernama Ahmad Adijaya merasa motor plat nya yang disebut segera melihat ke arah spion yang ternyata terdapat seorang polisi terus mengejar nya.


Ahmad segera menepi kan motornya tepat di sebuah perempatan jalan raya, begitu juga dengan Abryne yang segera menepi kan motornya didepan motor Ahmad.


Abryne turun dari motor dan menghampiri Ahmad.


"Ada apa ya pak?" tanya Ahmad dengan posisi yang tetap duduk di atas motor.


Abryne berdiri didepan Ahmad dengan aura tegas nya. "Standar motor bapak belum di benar kan, mohon di benar kan dahulu. Takut nya nanti terjadi sesuatu yang buruk."


Ahmad segera melihat ke bawah dan melihat standar motornya yang masih dengan posisi berdiri dan Ahmad segera menarik standar ke arah motor dengan kakinya.


"Makasih pak, sudah diingatkan. Apakah ada hal lain lagi?"

__ADS_1


"Pasang helm dengan benar, nyalakan lampu sent nya apabila akan berbelok. Karena saya tadi tidak melihat bapak melakukan hal tersebut."


Ahmad menganggukkan kepalanya dan segera membenarkan helm nya yang belum terpasang dengan benar. "Saya minta maaf soal lampu sent nya pak, tolong maklumi saya yang sudah berumur pak."


"Saya juga seorang berumur pak, para pengendara juga seorang berumur dan saya bisa memaafkan bapak, tapi tidak dengan mereka yang kesulitan akan jalur yang akan bapak lalui karena bapak tidak menyalakan lampu sent nya. Mohon diperhatikan kembali lagi," jelas tegas Abryne.


Ahmad seketika melihat bet nama di baju bagian dada sebelah kanan Abryne. "Pak polisi sudah menikah? Umur berapa sekarang?"


"Kenapa anda menanyakan hal privasi pak?" tanya Abryne.


"Saya memiliki seorang putri yang sangat cantik dia berumur 17 tahun dan  tengah bersekolah di SMA Tunas Bangsa dan dia kelas 12 IPS sekarang. Apakah pak polisi tertarik dengan putri saya?


Abryne mengerutkan keningnya. "Maaf pak, maksudnya  gimana yah?"


Ahmad menyalakan motornya dan tersenyum melihat Abryne. "Kapan-kapan mampir ke alamat kamboja nomer 19A, nanti saya sambut dan kenalkan anda dengan putri saya."


Bremmm.... Ngenggggg


Melihat motor Ahmad yang pergi begitu saja membuat Abryne dibuat kebingungan. "Kamboja nomer 19A? Kumpulan para pemilik restoran ternyata," gumamnya.


Flashback off


"... terus setelah 7 tahun, kemarin seorang pria berbaju hitam datang ke rumah, dia mewakili meminta restu kalau Abryne atau polisi yang ayah temui mau mempersunting kamu menjadi istri."


"Kenapa ayah percaya kalau dia polisi yang ayah temui? Siapa tahu polisi yang ayah temui waktu itu sudah menikah dan sekarang yang jadi suami Vetya bukan polisi yang ayah temui."


"Tapi yah--"


"Sudah nggak ada tapi-tapian, terima pernikahan ini dan berbaktilah pada suami kamu. Kapan-kapan bawa suami kamu ke rumah atau nggak ke restoran ayah."


Tut.


Melihat telefon nya yang dimatikan membuat Amoera memutarkan matanya. "Kebiasaan."


"Apanya yang kebiasaan hm?" Bisik Abryne di telinga Amoera.


Seketika mata Amoera membelalak, Ia baru sadar saat ini ia tengah berada dalam pelukan Abryne.


Amoera menjauhkan kepalanya dan menolehkan kepalanya ke samping kanan sehingga membuat kedua hidung pasutri tersebut saling bersentuhan dimana Abryne yang meletakkan kepalanya tepat di samping kepala Amoera, sehingga membuatnya dengar semua isi telefon tadi.


"Ih, kamu ngapain?" kerut dahi Amoera.


"Meluk istri," enteng nya.


"Lepas Abryne."


Abryne semakin mengeratkan pelukan tersebut sambil berkata. "Manjain suami dapat pahala loh."

__ADS_1


Amoera memaksakan senyumnya. "Oh ya?"


"Hmm."


Amoera mendatarkan wajah nya dan kembali melihat ke depan. "Aku mau nanya boleh?"


Seketika Abryne memfokuskan mata dan pendengarannya. "Tanya apa?"


"Dimana buku nikah kita?" tanya Amoera tiba-tiba.


Mendengar hal tersebut membuat Abryne terdiam dan mulai melepaskan pelukannya dari Amoera.


"Kenapa diam?" Amoera membalikkan tubuhnya.


"Kamu bingung mau jawab apa, karena kita--"


"Ngapain kamu nanya hal kayak begitu?" sela Abryne dengan sorot mata yang menajam menatap Amoera.


Amoera membalas menatap Abryne dengan sinis. "Heh!"


"Kayak nya aku terlalu bodoh, kenapa aku baru inget kalau kamu belum nunjukin bukti apapun kamu suami aku! Kenapa waktu itu aku bisa akan sepenuhnya percaya ya?"  lanjut Amoera.


"Jadi menurutmu aku bohong?"


"Aku nggak bilang gitu, aku cuma pengin lihat bukti kalau kita emang beneran sudah nikah. Apa itu sulit?"


Abryne bangkit dari duduknya, Ia menatap Amoera datar. Lalu melangkah menuju kamarnya mengambil bukti yang Amoera minta.


Setelah mengambil bukti tersebut, Abryne segera menunjukannya pada Amoera.


"Ini kan, yang kamu mau?"


Amoera yang melihat surat-surat nikah yang berada di tangan Abryne segera bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Abryne berniat mengambil bukti tersebut.


Namun, sebelum tangan Amoera menyentuh bukti, Abryne segera menjauhkan bukti tersebut dari Amoera.


"Buat apa?"


Amoera menghela nafas jengah. "Aku mau lihat, Abryne! Sini suratnya!"


"Kamu kira aku bakal ketipu gitu aja? Aku tau akal kamu! Setelah kamu pegang surat ini dan berhasil merebutnya dari aku, kamu mau ngajuin cerai ke pengadilan, iya-kan?!"


Amoera menatap Abryne dengan terkejut. "A-"


"Sampai kapanpun, diantara kita nggak ada perceraian! Ingat itu! " lanjut laki-laki itu.


⋇⋆✦⋆⋇ 

__ADS_1


Pengin jadi suami/ istri?


__ADS_2