
"Dimana sayang?"
Amoera menunjuk sebuah taman, dimana taman tersebut terlihat sangat ramai.
"Disitu?"
Abryne segera memarkirkan mobilnya yang tidak jauh dari tempat lokasi syuting.
Terlihat seorang laki-laki berwajah tampan tengah menunggu seseorang di tempat tersebut. Sedangkan Amoera yang melihatnya langsung berlari kecil ke arah orang tersebut.
"Jangan lari!" peringat Abryne.
Namun, peringatan tersebut tak di idahkan oleh Amoera dan Abryne mendecakkan lidahnya melihat hal tersebut.
Puk!
Laki-laki itu menolehkan kepalanya ke arah orang yang menepuk bahunya. Melihat orang tersebut, laki-laki itu langsung tersenyum sumringah. "Lama banget si neng!"
"Hehe maaf--"
Laki-laki itu langsung menarik tangan Amoera dan menuntun gadis itu cepat tanpa mendengarkan penjelasan Amoera.
Setelah sampai, laki-laki itu langsung menyoroti Amoera. "Perhatikan dan pelajari akting mereka. Setiap gerakan, ekspresi, percakapan dan suasana kamu harus amati!"
Amoera mengangguk, lalu ia mulai mengamati akting para aktor yang melakukan syuting di setiap adegannya.
⋇⋆✦⋆⋇
"Tuan muda tidak bisa di hubungi nyonya," ucap seorang pengawal.
Erica mengepalkan tangannya kuat tidak lupa ekspresi wajah yang kentara tengah marah. "Cari dan seret dia menuju saya!"
"Baik!" pengawal itu lalu pergi keluar ruangan setelah mendapatkan perintah dari sang atasan.
Prang! Prang! Prang!
Erica melemparkan berbagai barang yang berada di didekatnya. "Arrrghh!"
⋇⋆✦⋆⋇
"Hahaha."
"Yang bener saja."
"Lihat cewe itu."
"Alim banget tuh cowok."
"Lipstik gue hari ini gimana?"
"Brengsek!"
Andi berjalan dengan penuh percaya diri melewati koridor yang penuh kumpulan para remaja. Dengan tangan kanannya yang dimasukkan ke dalam saku celana dan tidak lupa sebuah batang permen menghiasi mulutnya.
"Woi Andi!"
Andi menengok kan kepalanya ke arah si pemanggil. Namun kakinya tetap berjalan melangkah ke depan. Andi mengangkat tangannya ke atas. "Yoi!"
Tap tap tap tap, srett
"Apa kabar bro?"
Andi menengok kan kepalanya lagi, namun kali ini orang yang berbeda dengan orang yang memanggilnya tadi. "Lepas gak?!"
"Eh, lo tau Sinta gak?"
"Ck! Gak!" setelah menjawab, Andi melepaskan rangkulan yang berada di bahunya keras.
"Gue gak percaya kalo lo gak tau Sinta, Sinta si famous itu loh."
Andi diam tak merespon.
"Ah gak asik lo!"
Srett, bruk!
"Pesan bakso sama esteh sana!" perintah Andi.
"Imbalannya?"
"Gue traktir."
__ADS_1
"Yes! Oke!" setelah itu, orang tadi langsung pergi dari hadapan Andi.
Andi membuka handphonenya lalu men scroll layar tersebut. Tiba di sebuah postingan, jari itu berhenti men scroll lalu ia amati wajah dari postingan tersebut.
Andi bersmirk seraya mengucapkan. "Lumayan."
⋇⋆✦⋆⋇
Amoera mengelap keringat yang berada di dahinya, Amoera melihat ke arah langit lebih tepatnya ke arah sinar matahari.
"Panas banget," gerutunya.
Lalu Amoera menengok kan kepalanya ke samping, mencari sang manager berada.
"Eh!" kaget Amoera yang tiba-tiba merasakan sebuah benda dingin yang menyentuh pipinya.
"Abryne!"
Alis Abryne terangkat.
"Ngapain kamu disini?" tanya Amoera seraya mengambil minuman yang diberikan Abryne, lalu ia meneguk minuman tersebut.
Abryne tak mengidahkan pertanyaan Amoera, lalu ia mengeluarkan payungnya dan mulai memayungkan Amoera.
Perlakuan Abryne ke Amoera mendapat sorotan dan orang-orang disekitar mereka.
Sedangkan Amoera, ia merasakan pipinya yang memerah dan juga perutnya yang terasa menggelitik. "Ini apaan coba?"
"Pulang yuk, kamu sudah capek," ucap Abryne dengan tangannya yang mulai menghapus bulir keringat yang berada di wajah Amoera.
Amoera menggeleng. "Kamu pulang duluan saja."
"Lah, terus nanti kamu pulangnya gimana?"
"Kan ada mas Gibran."
Mendengar nama Gibran, Abryne langsung menarik Amoera menjauhi lokasi syuting.
"Abryne, apaan si. Lepas!"
"Pulang!"
"Abryne, aku belum sepenuhnya mengamati mereka akting dan masih ada yang harus aku pelajari juga. Jadi, lepas Abryne!"
Amoera terdiam, lalu ia pasrah mengikuti arah Abryne membawanya.
Brak!
Pintu mobil tertutup setelah Amoera duduk di dalam kursi, lalu Abryne memutari mobilnya dan duduk di depan kemudi mobil.
Abryne melihat ke arah Amoera yang menyamping kan wajahnya ke kaca mobil. Lalu Abryne menghela nafasnya dan mengusap wajahnya.
"Sayang?" panggil Abryne.
"... "
"Istrii?" panggil Abryne sekali lagi.
"... "
Karena sudah tidak tahan, Abryne bertindak dengan mendekati Amoera lalu ia menarik kuat badan gadis itu ke dalam pelukannya.
".... "
"Maaf, aku salah."
"... "
Amoera membalas pelukan tersebut namun ia tetap tidak mau bicara.
Abryne melihat ke arlojinya yang menunjukan pukul 11 siang. "Kamu lapar?"
".... "
Kruyukk..
Ujung bibir Abryne tertarik keatas. "Hahaha."
Sedangkan Amoera, ia menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Abryne-malu.
"Jangan ketawa!"
__ADS_1
"Hahaha."
"Jangan ketawa!" tangan Amoera bergerak mencubit Abryne keras.
"Hahaha, sssst. Sakit sayang."
"Makanya, jangan ketawa!"
"Ha-iyaa."
"Mau makan apa, hm?" lanjut Abryne.
"Apa saja."
"Yakin?"
Amoera menjawab dengan mengangguk.
"Rumput sama kayu mau?"
Amoera langsung mendorong Abryne dengan wajah kesalnya. "TERSERAH!"
"Oh, berarti mau ya? Kalau gitu turun gih, tuh rumput, tuh batang, eh itu ada batu juga tuh."
Amoera menyorot Abryne tajam. "ABRYNEEE!!" teriak Amoera yang langsung menarik rambut Abryne kesal.
"HAHAHAHA..... ADUHH, DUHH, DUHH, SAKIIT SAYANGG SAKITT, LEPASS."
"Bodoamat, rasain rasainn!"
⋇⋆✦⋆⋇
Ting tong ting tong!
Ting tong!
Tiga orang pria berdiri di depan apartemen, menunggu sang pemilik membuka kan pintunya.
Drt.. Drt.. Drt..
Handphone salah satu dari pria tersebut bergetar.
"Bagaimana?"
"Kami sudah menemukan tempat tinggal tuan muda nyonya."
"Bagus! Seret dia pulang!"
Dahi pria menyerngit. "Tapi, sepertinya tuan muda tidak dalam apartemen. Sudah beberapa kali kita panggil, tuan muda tidak membukakan pintunya."
"Tunggu dia di depan pintu, sebentar lagi dia bakal pulang."
"Baik!"
Tut.
⋇⋆✦⋆⋇
"Langsung ke restoran saja ya, sayang."
Amoera menggeleng. "Gak, kita gak jadi ke restoran."
Abryne menoleh. "Kenapa?"
"Mereka gak bakal datang, jadi kita gak usah kesana," ketus Amoera.
Abryne menatap Amoera dalam. Sedangkan Amoera yang merasa di perhatikan langsung menoleh ke Abryne, tatapan mereka bertemu beberapa saat. "Liat ke depan Abryne!"
Abryne tersenyum setelah melihat rona merah yang muncul di pipi istrinya, lalu ia kembali mengalihkan perhatiannya ke depan. "Ciee salting."
"Idih, apaan. Kayak gitu aja salting! Gak banget!" tolak tak terima Amoera.
"Ciee salting," goda Abryne.
"Gak!!"
"Ciee."
"ABRYNEEE!!!"
"Ahahahahahaha."
__ADS_1
Canda tawa menemani mereka dalam dalam perjalanan mereka.
⋇⋆✦⋆⋇