
05.00
Ceklek
Abryne membuka pintu kamar Amoera dan melihat gadis itu masih berbaring diatas ranjang dengan bantal guling yang berada didalam pelukannya.
Abryne melangkah mendekati Amoera lalu berbaring di samping Amoera namun sebelum itu Abryne menyingkirkan bantal guling yang berada di dekapan Amoera dan menggantinya menjadi dirinya yang berada dalam dekapan Amoera.
Amoera yang merasakan pergerakan disekitarnya langsung membuka matanya sedikit demi sedikit. "Kamu sudah bangun dari tadi atau baru bangun?"
Abryne yang baru menutup mata, kembali terbuka dan menatap Amoera. "Sudah bangun, ayo tidur lagi."
Dahi Amoera menyerngit mendengar ajakan Abryne. "Kamu nggak denger?"
"Denger apa?"
"Di mushola sudah ada yang tadarusan, kamu malah ngajak tidur," Amoera segera bangkit dari posisinya.
"Kamu sudah solat belum?"
"Sudah."
"Dimana?" tanya Amoera mengintrogasi.
Abryne menghela nafasnya. "Masjid, istriii."
Amoera mengangguk puas lalu ia melangkah menuju kamar mandi berniat wudhu, sedangkan Abryne melanjutkan tidurnya seraya bergumam. "Untung nggak ketahuan."
⋇⋆✦⋆⋇
"Abryne, bangun!" Amoera menggoyangkan tubuh Abryne beberapa kali namun tidak ada respon apapun dari sang empu.
Menghela nafasnya, Amoera mengambil gelas yang berada di nakas lalu meneteskan air tersebut ke tangannya sedikit setelah itu Amoera mengarahkannya ke wajah Abryne.
Abryne bereaksi dengan dahi yang berkerut lalu memalingkan wajahnya ke arah lain dan kembali tidur.
"Ih! Kebo banget sih!" kesal Amoera.
Amoera melihat jam yang menunjukan pukul 08.00 pagi dan kini Amoera memiliki jadwal akan bertemu kliennya. Namun Abryne belum juga bangun, hal itu membuatnya dilanda kesal dan juga panik. "Bodoamat lah!"
__ADS_1
Melangkah pergi menuju pintu dan menutupnya kembali.
⋇⋆✦⋆⋇
"Ren, kamu buat undangan berapa?"
"Aku buat 200."
"Oke, jadi kita cetak undangannya 500," kemudian Amel mengetik di pesan whatsapp nya dan mengirimkannya ke toko cetak undangan.
Rendy mengangguk setuju. "Yang belum disiapin apa saja, by."
Amel mencoba mengingat-ingat. "Emm kayaknya sudah semua deh, paling kita tinggal nyebarin ini saja."
Mengingat sesuatu, Amel langsung menghadapkan tubuhnya ke Rendy yang tengah memakan tempe mendoan.
Dahi Rendy menyerngit bingung. "Apa?"
"Selesain dulu makannya, aku mau cerita. Pliss, ini ceritanya hot banget."
Rendy mengangguk lalu ia segera menyelesaikan makan tempe mendoannya.
Rendy yang belum menyelesaikan makan tempe nya langsung berhenti dan menatap Amel serius. "Amoera... Amoera sahabat kamu yang itu?"
Amel mengangguk semangat. "Iya yang itu."
"Loh? Bukannya selama ini dia single?"
Amel kembali mengangguk. "Iya, nggak nyangka kan?"
Dahi Rendy menyerngit. "Kapan nikah? Perasaan kamu kayak nggak dapat undangannya?"
Amel menggebrak meja. "Nah, ini yang buat aku terkejut juga. Ternyata Amoera dinikahi nya secara diam-diam tanpa minta pendapat dulu sama Amoera."
Rendy mendengarkan cerita tersebut dengan serius. "Terus, sahabat kamu gimana itu? Dia nerima gitu aja atau gimana?"
Amel menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu ia meremas bantal sofa yang ada di pangkuannya erat. "Aku nggak ngerti lagi sama pemikiran ayahnya, bisa-bisanya dia memercayai anaknya sama orang yang baru dikenal dan dia nyuruh Amoera buat mertahanin pernikahannya."
"Jadi kesimpulannya, Amoera nerima gitu aja?"
__ADS_1
Amel menatap Rendy kesal. "Kamu gimana sih, dari awal aku cerita sampai akhir. Kamu masih nanyain yang jawabannya sudah ada."
"Loh, kok kamu jadi kayak nyalahin aku gitu sih. Aku kan cuma nanya buat mastiin."
"Yang kamu pastiin itu sudah jelas pasti."
"Males banget kalau sudah kayak gini, aku sudah dengerin cerita kamu agar kamu merasa didengerin tapi setelah selesai kamu malah nggak hargain aku."
"Nggak hargain gimana maksud kamu?"
"Setiap kamu selesai cerita pasti akhirnya kamu bakal nyalahin aku."
"Ak-"
"Aku mau pulang, lebih baik kamu renungin dulu kelakuan kamu selama ini dan semoga saat kita besok ketemu kamu sudah berubah, inget kita bentar lagi mau nikah," Rendy bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi dari tempat Amel.
⋇⋆✦⋆⋇
"Jadi kamu setuju masuk dunia perfilman?"
"Iya, saya setuju."
Pria itu tersenyum puas mendengar jawaban Amoera. "Mari kita berjabat tangan sebagai bentuk awal kerja sama kita," pria berjas itu mengulurkan tangannya ke depan Amoera yang langsung disambut.
"Kalau begitu, saya akan segera mencarikan anda manager dalam perusahaan kami," ucapnya seraya melepaskan jabat tangan tadi.
Amoera mengangguk. "Baik."
Pria berjas itu mengecek jam yang berada di pergelangan tangan. "Saya pamit pergi karena topik yang kita bicarakan sudah selesai dan juga saya akan segera menghubungi anda jika saya sudah menemukan manager untuk anda."
"Baik, sekali lagi saya terimakasih Pak," Amoera berdiri mengikuti pria didepannya yang berdiri sebagai bentuk menghormati pria didepannya ini.
Setelah melihat pria tadi pergi menjauh, Amoera segera mendudukkan dirinya di bangkunya dan meminum sisa jus mangganya. "Seneng banget asli, job baru yeyyy."
"Setelah ini kayaknya bakal lebih sibuk lagi."
Setelah selesai minum, Amoera segera bangkit dan menuju kasir.
⋇⋆✦⋆⋇
__ADS_1
Amoera calon artis nih bos