Antara Cinta Dan Restu

Antara Cinta Dan Restu
15. Unprend


__ADS_3

Kini keluarga Abryne berkumpul di ruang keluarga dengan Abryne yang menjadi titik pusat mereka.


"Jadi bener kamu belum nikah kan?" tanya Erica sekali lagi yang dijawab Abryne dengan anggukan.


Erica mengelus dadanya lega dan tersenyum ke arah suaminya. Sedangkan Andi menatap Abryne dengan tatapan tidak percaya. "Jangan percaya mah, pah. Bang Abryne bohong! Kalian lupa? Bang Abryne nge-live akad nya di instagram! Jangan ngelak lo, bang!"


Deg!


Andre menatap Abryne tajam. "Jujur kamu Bryne!"


"Bryne... " lirih Erica yang kembali menatap Abryne dengan kecewa.


"Mah, pah... Kalian percayakan sama Abryne. Abryne nggak mungkin melakukan hal itu."


Andi menatap Abryne tajam. "Pah, mah. Bang Abryne--"


"Cukup ndi! Kamu diam!" bentak Andre.


"Abryne, ikut papah ke ruangan papah," Andre bangkit dari duduknya yang lalu diikuti oleh Abryne.


Erica dan Andi menatap kepergian mereka dengan tanda tanya. "Mah, kayaknya mereka mau ngomongin sesuatu yang kita gak boleh tahu."


Mendengar itu membuat Erica terdiam dengan tangan yang mengepal beberapa saat.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Plak!


Bugh!


Abryne memegang pipi kiri dan perutnya yang terasa nyeri. "Bukannya Bryne sudah beritahu ke papah, kalau Abryne belum--."


"Tutup mulutmu Abryne, kamu fikir papah bodoh bakal percaya sama omong kosongmu itu?" Andre menatap marah ke Abryne.


Abryne mendadak tegang. "Maksud papah?"


Plak!


"Menurutmu kamu pantas dianggap suami? Brengsek kamu Abryne!"


Mendengar teriakan Andre yang mengetahui pernikahannya, Abryne langsung menjatuhkan tubuhnya seraya menatap Andre lemah. "Pah, jangan apa-apakan istri aku pah. Aku mohon."


Andre memundurkan langkahnya beberapa kali ketika melihat Abryne yang akan mendekati kakinya.  "Kamu pikir papah bakal diam aja ngelihat istri kamu yang berkeliaran bebas diluar sana?"


Abryne menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Pah Abryne mohon, jangan pah..."


"Apa ini alasan kamu tidak mengakui kalau kamu sudah menikah?" tanya Andre dengan tangan yang terlipat di depan dadanya.


Abryne terdiam mendengar pertanyaan Andre yang benar, dirinya takut jika ia mengakui kebenaran itu orangtuanya akan menyakiti Amoera. Dan ia benci membayangkan hal tersebut.


"Kamu pikir papah bakal nyelakain istri kamu jika kamu ngakuin, iya?"


"Pah... "


"Asal kamu tau Bryne, papah sudah menyelidiki latar belakang istri kamu dan papah selama ini mengawasi kalian setelah mendengar pernikahan kalian. Dan papah fine dengan itu, its oke."

__ADS_1


Senyum Abryne merekah mendengar hal tersebut. "Serius pah?"


"Yes, why not?"


Ini diluar dugaan Abryne, Abryne kira papahnya tidak bakal merestui statusnya yang sekarang. Ia pikir papahnya akan melakukan hal yang bad seperti sebelumnya apabila hal itu diluar kepuasan papahnya.


"Mamah juga bakal ngrestuin kan pah?"


Andre menatap mata Abryne. "Nanti malam kamu tidur disini dan pulanglah ke apartemen subuh-subuh."


Mendengar perintah Andre yang menyuruhnya pulang dalam keadaan pagi buta membuat Abryne langsung menyadari, jika mamahnya tidak merestui pernikahannya.


Abryne mengangguk lalu membalikkan badannya dengan tangan yang terkepal.


"Minta mamah buat bantu ngobatin lukanya Bryne."


"Abryne bisa ngobatin sendiri,..... makasih pah."


Setelah itu Abryne melangkah menuju pintu.


"Jadilah laki-laki yang gentleman. Kamu harus selalu ngakuin istri kamu, jaga dan sayangi dia. Bertanggung jawablah sama keputusan yang kamu ambil jangan lepas tangan."


Abryne mengangguk mendengar nasehat tersebut lalu ia membuka pintu dan keluar dari ruangan.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Kini Abryne tengah mengobati lebam yang berada di pipinya menggunakan es batu seraya melamunkan sesuatu sebelum sebuah suara membuyarkan nya.


Ceklek.


Erica mendekati Abryne dengan tatapan prihatin setelah melihat luka-luka yang berada di wajah Abryne. "Maafin papah kamu ya, dia lagi ada masalah sama pekerjaannya malah jadi ngelimpahin ke kamu."


Abryne tersenyum. "Iya mah."


Setelah Erica meletakkan segelas susu di meja, ia mendudukkan dirinya di samping Abryne. Lalu Erica mengambil alih es batu yang tengah di pegang Abryne dan menempelkan nya di pipi Abryne. "Kamu tadi habis ngomongin apa sama papah?"


Abryne menggelengkan kepalanya. "Pekerjaan mah."


Erica mengerutkan kening seraya menatap curiga. "Pekerjaan? Bukannya pekerjaan kalian berbeda? Kamu polisi ayah kamu di perfilm an, apa yang kalian bahas?"


Abryne menghela nafasnya frustasi. "Ab--"


Teng terenteng teng...


Sebuah telepon masuk kedalam handphone Abryne. Abryne yang sudah mengatur nada dering khusus tersebut langsung mengetahui si penelpon.


"Eee mah. Abryne ada telepon, mamah keluar dulu ya," ucap Abryne canggung seraya mengambil es batu yang berada di tangan Erica.


"Apasih, ko rahasia banget sampai mamah disuruh keluar."


"Pekerjaan mah, ini rahasia jadi mamah nggak boleh tau hehe. Maaf ya mahh."


Erica menghela nafasnya setelah itu ia mencium kening Abryne. "Nanti jangan tidur malem-malem. Jaga kesehatan."


Abryne tersenyum seraya menjawab. "Iyaa."

__ADS_1


Ceklek, brak.


Melihat Erica yang sudah keluar dari kamarnya. Abryne segera mengangkat teleponnya yang terus berdering.


"Halo?"


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Suara lembut yang menyapa pendengarannya membuat Abryne luluh dan entah mengapa hatinya menjadi lebih tenang dari sebelumnya. "MasyaAllah, Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa istriku."


"Kapan pulang?"


Abryne tersenyum setelah dipertanyakan hal yang mengandung keromantisan tersebut, ia melihat jam dinding yang terpasang menunjukkan pukul 9 malam. "Sudah kangen ya?"


"Dih, pd banget. Pintunya mau gue kunci jadi ya--"


"Pintunya kunci saja sekarang, saya bawa kunci cadangan. Lain kali kalau saya lagi tidak dengan kamu, pintunya dikunci."


"Ish, iyaa."


Terjadi keheningan beberapa saat dimana Abryne yang tengah membaringkan tubuhnya di ranjang dan Amoera yang di seberang sana tengah mengunci pintu.


"Sudah makan?"


"Sudah, kamu sendiri sudah belum?"


"Iya sudah, kamu makan sama apa?"


"Tadi aku Delivery kfc."


Abryne menaruh handphonenya di sampingnya tidak lupa ia membesarkan volume telepon. "Hari ini kamu ada cerita?"


"Ada, tadi aku ke kafe terus ketemu sahabat aku dan aku blanalajanajsksjslanama..."


Abryne terus mendengarkan Amoera yang terus bercerita dengan senyum di bibirnya. Baginya mendengarkan Amoera yang terus berbicara membuatnya terasa damai dan suara Amoera yang terasa lucu di pendengarannya membuatnya terhibur.


"Terus Amel tiba-tiba keselek baajahwkwm.... "


Kelopak Abryne tertutup dengan sendirinya begitu pula pegangan pada hpnya yang merenggang.


"--Menurutmu gimana?"


"... "


"Halo? Abryne?"


"Masih tersambung kok, Abryne? Mas suami?"


"Woyy... Hpnya ditinggalin apa gimana sih?


Ck, cuih kita unprend!"


Tut. Tut.


⋇⋆✦⋆⋇ 

__ADS_1


Sipaling unprend


__ADS_2