Antara Cinta Dan Restu

Antara Cinta Dan Restu
Pingsan


__ADS_3

Bruummmmm


Andi mengendarai motornya dalam terpaan angin malam yang terasa dingin dan melewati kendaraan-kendaraan yang berada di lalu lintas jalan.


25 menit kemudian Andi sampai di apartemen yang dimaksud Abryne. Ia melihat-lihat sekelilingnya yang penuh akan kendaraan terparkir disana, baik beroda empat maupun beroda dua.


Kakinya melangkah mulai masuk kedalam gedung apartemen yang langsung saja ia mendekati meja kasir.


Seorang kasir pria yang melihat seorang pria mendekatinya langsung memasang wajah ramah. "Ada yang bisa kami bantu mas?"


Andi mengangguk. "Kamar nomor 125 lantai berapa?"


Kasir itu melihat ke layar komputer sebentar setelah itu ia kembali melihat ke arah Andi. "Lantai 9."


Andi mengangguk. "Thanks."


"Sama-sama mas."


Setelah mengatakan hal itu Andi melangkah memasuki lift seorang diri dan menekan angka 9 di lift tersebut.


Lift mulai berjalan dengan Andi yang menyenderkan tubuhnya pada dinding lift.


Ting!


Lift berhenti tepat pada lantai 9 dan Andi segera berjalan keluar lift lalu melangkah mencari kamar nomor 125.


Kakinya terus melangkah menelusuri lorong dengan kepala yang celingak-celinguk setiap melihat kamar yang bernomor guna dibacanya.


Dan tepat, setelah lama ia berjalan. Kakinya akhirnya berhenti tepat di depan kamar nomor 125. Tangannya mulai menjulur menekan tombol yang ada disana.


2 menit kemudian, pintu yang ada di depannya terbuka menampilkan seorang wanita yang ia rasa tidak asing dimatanya.


"Siapa ya?"


⋇⋆✦⋆⋇ 


Ting Tong! Ting Tong!


Kepala Amoera menoleh kaget ketika telinganya mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia yang tengah merebahkan tubuhnya di kasur seraya menonton televisi segera bangun dari ranjang dan berjalan menuju pintu utama.


Sebelum ia benar-benar membuka pintu didepannya, Amoera membuka penutup lubang yang ada di pintu guna melihat orang yang telah menekan belnya.


Dahinya menyerngit bingung. "Dia siapa?"


Dengan gerakan ragu, tangan Amoera bergerak membuka pintu tersebut. "Siapa ya?"


"Gu- ekhem saya rekan kerja Pak Abryne."


"Oh, lalu dimana suami saya?" tanya Amoera setelah melihat tidak ada Abryne disana.


"H-hahh?!"


Amoera melihat perubahan ekspresi laki-laki didepannya membuat ia bingung namun ia tetap diam.


"Khem, maaf apa saya boleh masuk?" tanya Andi yang secara pribadi risih jika berbincang didepan pintu.


Mendengar pertanyaan itu membuat Amoera sadar bahwa tamunya masih di luar apartemen namun Amoera telah menerapkan prinsip dalam dirinya bahwa orang asing dilarang memasuki apartemennya.


"Maaf juga, boleh minta bukti kalau anda rekan kerja suami saya? Saya tidak percaya pada anda, apalagi suami saya tidak mengatakan apapun tentang anda kepada saya," tanya Amoera.


Andi terdiam kaku bingung, ia tidak memiliki apapun untuk membuktikan bahwa ia rekan kerja Abryne.


Melihat keterdiaman Andi membuat bibir Amoera menyunggingkan sinis. "Langsung saja mas, saya agak curiga sama mas kalau--"


Andi menggeleng panik. "Tidak, bukan seperti yang tengah anda pikirkan."


"Loh, memangnya saya sedang memikirkan apa?" tantang Amoera.

__ADS_1


"Saya orang jahat? Maling? Eee ya semacam itu," jawab Andi ragu.


"Ahahahahahaha," tawa Amoera pecah mendengarnya.


Andi menatap Amoera heran. "Kenapa?"


Amoera menggeleng. "Ahahaha, jangan terlalu tegang gitu mas. Jadi ada apa anda kesini? Maaf ya mas saya larang masuk, itu pesan suami saya. Katanya gini, kalau ada orang asing jangan dibukakan pintu tapi saya malah bukain dan konsekuensinya gini, anda saya larang masuk tapi memang itu juga sudah menjadi prinsip saya sendiri mas. Sekali lagi maaf ya mas?"


Andi mengangguk kaku. "Jadi, mba ini benar istrinya A-Pak Abryne?"


Amoera mengangguk. "Iya, memangnya ada apa ya mas? Kok keliatan gak percaya gitu."


"Eee, ah iya Pak Abryne menitip pesan kepada saya kalau Pak Abryne ada tugas ke luar kota, jadi beberapa hari Pak Abryne tidak pulang," alih Andi


Amoera mengangguk percaya seraya dahi yang menyerngit. "Kok Abryne gak kirim WA ke saya malah nitip pesan ke mas ya?"


"Eee katanya handphone A-Pak Abryne hilang, belum ketemu."


"Masa si?"


"Kalau gitu saya pulang ya mba?" pamit Andi segera.


Amoera mengangguk. "Oh iya, makasih ya mas. Omong-omong kamar mas dimana? Kok Abryne sampai nitip salam ke mas?"


"Eh? Ah ya dii di sana!" tunjuk Andi ke samping kamar apartemen milik Amoera.


Kepala Amoera menengok ke kamar sebelahnya. "Oh kamar ini, ternyata mas pendatang baru ya? Akhirnya apartemen sebelah ada yang nempatin."


Andi mengangguk kaku. "A-ah iya, kalau gitu saya pamit."


"Ya silakan."


Melihat Amoera yang masih berdiri di depan pintu apartemen membuat Andi kebingungan. "Mbak masuk saja dulu."


"Gak papa nih mas?"


"Oke kalau gitu," Amoera segera masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu tersebut.


Amoera melangkah kembali menuju kamarnya. "Orang tadi kenapa keliatan gak percaya kalau gue istrinya Abryne ya?"


Amoera melangkah menuju cermin. "Perasaan penampilan gue oke oke saja."


"Kenapa ya?"


⋇⋆✦⋆⋇ 


Disisi lain, Andi mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi dengan perasaan yang berkecamuk. "Harusnya gue gak kaget, bukannya gue sudah tahu kalau abang sudah nikah. Kenapa mesti kaget!" gumamnya.


"Ck! Apa ini sebabnya abang menolak perjodohan? Gue harus ngomong sama abang perihal ini."


Bruuummmmm


⋇⋆✦⋆⋇ 


Plak!


"Kamu barusan ngomong apa?" tanya Erica tak percaya.


"Bryne sudah nikah," jawab Abryne menatap datar ke Erica.


Plak!


Setelah menampar Abryne, Erica memundurkan langkahnya shok.


Ingatan-ingatan mengenai ucapan Andi dan juga elakan Abryne membuat Erica marah. Erica segera menarik tangan Abryne keluar dari kamar menuju ruang keluarga.


Disana, terdapat Andre yang tengah mengotak-ngatik laptopnya dan tidak lupa dengan televisi yang menyala.

__ADS_1


"Pah!"


"Iya mah," jawab Andre namun dengan fokusnya yang masih pada laptop.


"Papah!"


"Iya mah, langsung saja. Papah lagi sibuk."


Mendengar itu Erica langsung mendorong Abryne ke lantai yang sudah dilapisi karpet berbulu itu.


Bugh!


Andre segera mengalihkan perhatiannya ketika mendengar suara terjatuh. Satu kata untuk Andre yaitu dirinya terkejut.


"Pah! Anak ini! Anak yang sudah papah bangga-banggain, ternyata akhirnya telah mengecewakan papah juga akhirnya."


Andre menelan air liurnya keras. "M-maksudnya mah?"


Erica yang semula menatap marah Abryne langsung mengalihkannya ke Andre. "Dia sudah nikah!"


Andre diam.


Melihat reaksi Andre membuat Erica bertambah marah. "Kenapa papah diam?"


Andre menghela nafasnya. "Hah, papah sudah tahu--"


Spontan Erica mengeratkan kepalan tangannya dengan gigi yang saling bergemlatuk. "Hah! Keluarga macam apa ini?!"


"Kalian! Ka-ka-kali-a-aa-"


Tiba-tiba Erica merasakan dadanya yang terasa nyeri dan juga nafas yang terasa sesak. Tangannya spontan memegang dada. "Hah hah hah."


Abryne dan juga Andre yang melihat itu panik dan juga khawatir. Mereka segera mendekati Erica.


"Mah, mamah kenapa?" tanya Abryne cemas.


"Mah, denger suara papah kan mah mah!" tanya Andre.


"Hah hah hah! Ss-sakit, ss-sesak pa-pah."


"Kita ke rumah sakit, mamah tahan ya?" pinta Andre.


Sedangkan Abryne, ia segera berlari ke arah garasi untuk menyiapkan mobil dan seorang Pak sopir yang melihat itu dari post satpam dibuat bingung.


"Itu tuan sulung kayaknya mau pergi," ucap Pak satpam yang di angguki Pak sopir.


Pak Sopir itu langsung berlari ke arah Abryne. "Mau kemana tuan? Perlu saya yang sopir?"


"Gak usah Pak, tolong bantu papah saya--"


"Cepat buka pintunya!" titah Andre yang tengah menggendong Erica yang pingsan ala bridal.


Dengan sigap Pak sopir langsung membuka pintu belakang mobil untuk tuannya dan Andre segera memasuki Erica ke dalam mobil terlebih dahulu setelah itu ia masuk kedalam mobil dengan kepala Erica yang berada di pangkuannya.


Abryne yang sudah duduk di kursi kemudi segera menjalankan mobil yang bertepatan dengan Andi yang baru sampai rumah.


Brummm


Brummm


Andi menghentikan motornya di samping Pak sopir. "Bang Abryne mau kemana Pak, kok kaya keliatan buru-buru?"


"Itu, kayaknya mau ke rumah sakit. Nyonya tadi keliatan pingsan den."


"Apa?!"


⋇⋆✦⋆⋇ 

__ADS_1


...-Bersambung-...


__ADS_2