Antara Cinta Dan Restu

Antara Cinta Dan Restu
08. Sayang


__ADS_3

5 hari berlalu


Tok tok tok


"Ya."


Pintu terbuka menampilkan seorang pria berbadan tegap namun pada wajahnya terdapat kumis tipis yang menghiasi, pria itu memakai seragam yang sama dengan Abryne yang saat ini tengah duduk di kursinya.


"What's up bro."


"Minimal ingat umur pak."


Orang itu yang tak lain adalah Bima, memasang wajah tersinggung. "Heh Abryne, jangan mentang-mentang kamu lebih muda dari saya, kamu jadi ngelarang saya gaul!"


"Gaul si gaul, tapi ya Pak Bima harus tetap ingat kalau Bapak sudah ber umur 38, harus tetap jaga kesehatan. Di umur yang segitunya kadang orang-orang--"


Brak!


Bima menggebrak meja Abryne, jika ia membiarkan Abryne terus berbicara entah jam berapa ia akan beristirahat.


Abryne mendongakkan wajahnya menatap Bima. "Jangan mukul kayu keras pak, nanti tangan Bapak--"


"Ada hal mencurigakan soal orang 'itu'?" tanya Bima setelah ia mendudukan diri di depan kursi yang terhalang meja kerja Abryne.


Abryne langsung mengalihkan pandangannya ke layar didepan seraya mengangguk menjawab pertanyaan Bima.


"Apa?" wajah Bima kini terlihat sangat ingin tahu yang bercampur dengan wajah serius.


"Nggak tahu, saya lagi budeg 1 menit," jawab lempeng Abryne.


Seketika Bima menampilkan raut sengit apalagi ditambah melihat wajah lempeng Abryne, dimana tatapan mata tersebut yang hanya fokus pada komputer saat mengatakannya, ingin sekali ia mencekik Abryne saat itu juga.


Abryne melirik Bima ketika dirinya merasakan hawa aneh disekitarnya. "Mukanya dikondisikan pak."


Bima tersenyum dengan raut yang terlihat tertekan. "Astaghfirullahal'adzim, jadi pengin istighfar disini terus... Cepet jelasin!" desak Bima.


"Ck, ini rahasia. Bapak jangan kepo," kesal Abryne.


"Dih, bocorin sedikit lah."


Mendengar kata 'bocor' Abryne teringat terdapat ruang tahanan yang genteng nya bocor. "Oh iya, Bapak suruh orang benerin genteng yang bocor di ruang tahanan 12A sana."


"Nanti lah."


Teng terenteng tenteng...


Abryne membuka handphonenya ketika telinganya mendengar nada dering khusus pada salah satu kontaknya.


"Halo?"


Abryne bangkit dari duduknya lalu menjauh dari tempat Bima.


"Lo pulang kapan?"


Senyum Abryne terbit. "Kenapa? Kamu sudah nggak sabar ketemu saya?"


"Dih, pd banget lo! Pulang nanti lo beliin gue otak-otak ya? Plisss."


"Mau berapa?" dapat Abryne duga disana Amoera tengah tersenyum kegirangan, membayangkan senyum Amoera membuat nya ingin cepat-cepat menenggelamkan Amoera kedalam dekapannya.


"10 ribu cukup kok, oh ya bumbunya yang pedes."


"Nggak kurang cuma 10 ribu?"


"Enggak."


"Oke, info saya terima."


"Makasiih sayaanggg."


Tut.

__ADS_1


Diseberang sana, Amoera menatap handphone nya heran. "Loh? Dimatiin?"


Kembali lagi kedalam ruangan Abryne yang terdapat Bima tengah menatap ke arah Abryne ngeri, pasalnya Bima melihat Abryne tengah melilitkan lehernya dalam gorden jendela.



Gambar diatas hanyalah gambaran imajinasi.


Bima segera bangkit dari duduknya. "Kamu sedang apa Bryne!! Jangan mengada-ngada kamu! Inget, kamu sudah beristri!"


Mendengar kata istri Abryne semakin mengencangkan lilitannya. "Saya nggak kuat Pak!"


"Lepasin dulu lilitannya! Nggak kuat kenapa hah?!"


"Saya habis digodain istri, jantung saya berasa mau copot. Gimana ngatasinnya pak?" belum Abryne melepas lilitannya, ia menambah dengan menggigit gorden yang berada didekatnya. Suara Amoera yang memanggilnya 'sayang' terus terlintas difikirannya, sungguh membuatnya resah. Haruskah ia memberi pelajaran pada istrinya?


Seketika Bima menatap Abryne datar lalu tangan Bima mengambil alih ujung gorden yang dipegang Abryne dan menariknya kencang. "Mati kamu Bryne! Mati!!"


"Aduh, pak. Lepas leph-as!"


⋇⋆✦⋆⋇ 


"Pak ke tempat penjual otak-otak."


Sopir Abryne mengangguk. "Baik, mas."


Mobil yang ditumpangi Abryne mulai berjalan dan ikut berbaur di dalam kumpulan transportasi yang mengisi jalanan.


15 menit kemudian mobil yang Abryne tumpangi berhenti di sebuah jalan yang terdapat banyaknya pedagang kaki lima.


Abryne segera turun dari mobil dan mulai mendekati gerobak yang terdapat tulisan otak-otak. "10 ribu pak."


"Tunggu mas, silakan mas duduk disana."


Penjual itu menatap Abryne mengenakan kaos putih beserta celana panjangnya, lalu penjual itu menunjuk tempat yang sudah disediakan untuk menunggu pesanan. Namun, dalam tempat tersebut kebanyakan yang tengah menunggu pesanan seorang wanita, hal itu membuatnya tidak pd akan duduk disana.


"Saya tunggu di dalam mobil sana saja ya pak, tolong nanti antarkan."


"Baik, mas."


"Saya tunggu disini pak."


Sopir tersebut ber umur 35 tahun, ia sudah 5 tahun bekerja dengan Abryne sehingga membuatnya sedikit faham akan sikap dan sifat Abryne. Tiba-tiba sopir itu teringat sesuatu--


"Mas Abryne, kemarin saya di telfon orang rumah, katanya mas disuruh pulang."


"Kenapa keluarga saya tidak langsung telfon saya pak?


Sopir itu melirik Abryne dari kaca spion atas. "Mereka tidak sempat untuk bertelfonan katanya mas."


Mendengar itu, Abryne menidurkan kepalanya ke sandaran kursi dengan lengan tangannya ia jadikan penutup mata. "Bilang saja saya lagi sibuk pak."


"Tapi mas--"


"Bapak tahu kan saya sudah menikah?"


Sopir itu mengangguk kaku. "I-ya mas."


Sopir itu sudah sangat hafal dengan peringai keluarga atasannya. Ia menduga saat Abryne melaksanakan ijab kabul Abryne tidak memberi tahu orang tuanya terlebih dahulu terlihat saat orang rumah atasannya yang mencari Abryne.


Tok tok tok..


Kaca jendela samping Abryne diketuk oleh orang luar yang tidak lain penjual otak-otak.


"Ini mas pesanannya." penjual itu memberikan satu kantong plastik yang beserta tusuknya ke pada Abryne yang tentunya langsung di terima oleh Abryne sendiri.


Abryne mengambil dompetnya yang berada disampingnya dan mengambil uang yang berwarna hijau. "Makasih Pak."


"Tunggu bentar mas, saya ambil uang kembaliannya." penjual itu melangkah menjauh dari mobil Abryne.


"Pak jalan." perintah Abryne kepada sopirnya.

__ADS_1


"Baik, mas." sopir itu segera menjalankan mobil dan menjauh dari tempat penjual otak-otak.


Penjual otak-otak yang tengah mengambil uang kembalian langsung melotot dan langsung berlari menuju mobil Abryne yang masih dekat dengannya.


"Woi mas! Ini kembaliannya nggak mau diambil hah?!" teriak nya.


Melihat tidak ada tanda-tanda mobil Abryne berhenti penjual otak-otak menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Alhamdulillah, rezeki emang nggak kemana.... Makasih mas!!" teriak penjual itu di akhir kata nya.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Akhir nya mobil yang dikendarai Abryne sampai di apartment. Segera Abryne melangkah menuju tempat dirinya kini tinggal.


Ceklek!


Abryne membuka pintu apartment. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!"


"Wa'alaikumussalam." jawab salam Amoera sambil dirinya yang berlari ke arah suami nya.


Sesampainya didepan Abryne, Amoera menampilkan gigi putihnya dalam kutip ia menyengir ke arah Abryne. Amoera menengadahkan tangannya. "Mana?"


Abryne mengerut kan keningnya, lalu ia menyembunyikan kantong plastik tersebut di belakangnya. "Jawab salam yang bener!"


Sekarang gantian Amoera yang dahinya menyerngit. "Tadi sih?"


"Jadi orang jangan pelit menjawab salam, kamu tau nggak pahala menjawab salam dengan lengkap?"


Amoera menggelengkan kepalanya.


Abryne tersenyum lembut kepada Amoera lalu ia mengusap kepala Amoera lembut menggunakan tangan satunya. "Dengan ini dia akan mendapatkan tiga puluh pahala kebaikan, artinya setiap lafazhnya mendapatkan sepuluh kebaikan. Wallahua'lam bissawab. Pengin nggak?"


Amoera mengangguk serius. "Terus kalo yang memberi salam dapat pahala juga nggak?"


"Tentu ia juga mendapat pahala, tapi pahalanya Wallahua'lam bissawab," cengir Abryne.


"Emang artinya apa sih? Gue ngucapin salam dan menjawab salam nggak tahu artinya apa, kenapa umat muslim disuruh untuk menyebarkan salam juga?"


Abryne mengecup kening Amoera setelah itu ia menjawab. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh artinya 'Semoga keselamatan serta rahmat Allah dan juga keberkahannya terlimpah untukmu'. Nahh, sedangkan untuk jawaban dari salam artinya juga sama 'Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahannya terlimpah juga kepada kamu' indah dan penuh kebaikan kan artinya? Maka sebab itu disuruh untuk menyebarkan salam. Wallahua'lam bissawab."


Amoera mengangguk. "Oh gitu... Kalau begitu gue ulangi lagi ya. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Abryne menoel ujung hidung Amoera. "Duh, pinternya. Istri siapa sih ini, hmm?"


Amoera menggigit bibir bawahnya, lalu mencubit lengan Abryne dengan keras sampai membuat Abryne meringis. Menurut nya Abryne tengah meledeknya."Shhh, perih by."


"Ba by ba by! Lo samain gue sama hewan pink itu hah?!" Amoera menatap sinis Abryne lalu ia menendang betisnya tidak lupa ia mengambil otak-otak yang berada di tangan Abryne sebelum dirinya pergi.


Abryne melotot kan matanya. "Maksud saya bukan itu, sayangg." gemas Abryne.


Abryne mengikuti Amoera dan memanggilnya. "Hee Amoeraa!"


"Woii!"


"Budeg amat." celetuk Abryne tanpa disengaja.


Amoera yang berada di depan Abryne langsung membalikkan badan dengan mata yang melotot. "Kurang ajar lo!"


Abryne yang sadar dan melihat reaksi Amoera segera berlari mendahului Amoera ke dalam kamar, Amoera yang melihat itu tentu saja langsung mengejar Abryne. "ABRYNEEEE!!"


"Hapuntennn istriiii." teriak Abryne dengan raut yang kentara takut.


"GUE BELUM BILANG KALAU GUE UDAH TERIMA PERNIKAHAN INI YAA! JANGAN PANGGIL GUE ISTRI!"


Mendengar hal tersebut, Abryne langsung berhenti berlari dan membalikkan badannya. Menatap Amoera yang kini tepat berada di depannya. "Terus kenapa tadi pas kita telefonan kamu manggil Saya sayang?"


Abryne kini merasakan hatinya yang kembali nyut-nyutan mendengar Amoera mengatakan hal yang sama kesekian kali.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Pengin kasian sama Abryne:(

__ADS_1


Tapi nggak jadi deng🥺


__ADS_2