Antara Cinta Dan Restu

Antara Cinta Dan Restu
19. Restoran Ayah


__ADS_3

"Ryne, nanti aku mau ke lokasi syuting sama mas Gibran. Kamu izinin aku kan?" tanya Amoera disela makannya.


Abryne menatap datar Amoera. "Bukannya nanti kita mau ke restoran keluarga kamu."


Amoera mengangguk. "Iyaa, tapi kan kita kesananya jam 1 siang. Sedangkan aku sama mas Gibran ke lokasi syuting jam 8 pagi dan selesai paling ya cuma jam 10 doang, jadi gak papa kan?"


Abryne meletakkan sendok dan juga garpunya, lalu ia menatap intens Amoera. "Dari tadi kamu nyelipin nama mas Gibran mulu, gak sepet mulutnya?"


Amoera menelan sisa makanan yang berada di mulutnya lalu beralih meneguk air mineralnya yang berada di gelas.


"Minumnya jangan buru-buru, nanti keselek."


"Jujur Ryne, sebenarnya kamu dari tadi malam mempermasalahkan nama panggilan mas Gibran kenapa? Kamu cemburu?"


Mendengar itu, Abryne menggeleng keras. "Aku? Cemburu? GAK!"


"Yang bener?"


"Iya!" Abryne lalu kembali menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


Amoera melipat bibirnya kedalam. "Berarti kamu ngizinin aku sama mas Gibran ke lokasi syuting kan?"


"Saya ikut."


"Ha?"


⋇⋆✦⋆⋇ 


Brak!


Pintu mobil tertutup setelah Amel mendudukan dirinya di kursi samping kemudi mobil.


"Hai," sapa Amel.


"Hai."


Setelah itu mobil melaju dengan kecepatan standar. Disisi lain, suasana didalam mobil terjadi kecanggungan akibat keributan yang ditimbulkan mereka kemarin.


"Ekhm, hari ini kita cuma mau nyebarin undangan doang?" tanya Rendy memecahkan suasana canggung.


Amel yang tengah melihat keluar jendela menjawab. "Iya."


"Undangannya berapa?"

__ADS_1


Amel menolehkan kepalanya seraya dahi yang menyeringit. "Semuanya lima ratus, tapi kita cuma nyebarin dua ratus yang tiga ratus orang tua kita yang nyebarin."


Rendy mengangguk.


"Kamu..."


Rendy menolehkan kepalanya sebentar ke Amel. "Ya?"


"Kamu sudah gak marah sama aku soal kemarin?"


Rendy mengetuk setir mobil beberapa kali menggunakan jari telunjuk nya yang menunjukkan saat ini ia tengah berfikir. "Sebenarnya dihati masih sedikit kesal sih, you know sebentar lagi kita nikah dan aku gak mau terus nyimpen rasa yang seharusnya gak aku simpan lama-lama."


Amel terpaku dengan kalimat-kalimat yang di lontarkan Rendy.


Rendy menengok ke arah Amel sebentar. "But, aku juga berharap kalau kamu sudah menyadari kesalahan kamu dan kamu gak bakal ngelakuin itu lagi."


Amel menatap manik Rendy. "Sorry kalau memang selama ini aku banyak kekurangan dan melakukan banyak kesalahan sama kamu. Aku sadar, selama ini aku memang kurang ngehargain kamu di. But, kamu harus tau. Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan kamu untuk di sampingku."


Rendy memegang telapak tangan Amel di dashboard lalu mengarahkannya ke mulutnya.


"Aku juga bersyukur karena kamu sudah hadir dalam kehidupanku."


"Kalau aku ngelakuin kesalahan lagi, kamu langsung tegur aku ya. Jangan dipendem nanti hati kamu jadi sesak. Kalau kamu langsung negur aku, maka ada kesempatan untuk aku merubahnya."


⋇⋆✦⋆⋇ 


Ahmad dan juga Clarissa mengembangkan senyumnya setelah mendengar ucapan anaknya.


"Itu bagus! Pilihkan menu yang paling enak buat mantu bunda Vet!" ucap Clarissa.


"Menu restoran ayah enak semua bund," celetuk Ahmad.


"Nanti ayah sama bunda bakal ke restoran-nya kan?" tanya Amoera.


Clarissa menyenggol lengan Ahmad yang berada disampingnya, sementara Ahmad- dahinya menyerngit dengan giginya yang menggigit bibir luarnya pelan.


"Gini Vet, ayah sama bunda nanti mau ke Bandung, ada urusan disana. Jadi, gimana kalau kamu sama Abryne saja di restoran ayah. Hitung-hitung ngedate hahaha."


Clarissa mengangguk setuju. "Yang dibilang ayah kamu benar Vet, kamu sama menantu bunda belum pernah kencan kan? Jadi, anggap saja itu sebagai proses dari pendekatan antar suami-istri."


"Tapi yah, bund. Aku ngajak Abryne ke restoran dengan tujuan agar kita bisa ketemu, bisa saling kenal sesama keluarga. Kalau kaya gini, ajakan aku ke Abryne sia-sia!"


Clarissa memelototkan matanya ke arah Ahmad, yang dibalas Ahmad dengan pelototan juga.

__ADS_1


Clarissa mencubit kulit Ahmad sebelum menjawab Amoera. "Vetya, kamu tau kan. Cabang restoran ayah banyak, jadi banyak juga yang harus di urus ayah. Kamu ngerti kan?"


"Ya, Vetya ngerti. Tapi, kalian ngerti ga sih? Akhir-akhir ini kita jarang komunikasi, jarang kumpul. Kalau kaya gini terus hubungan keluarga kita bakal renggang yah, bund."


"Vetya, kenapa waktu itu kamu memilih tinggal berpisah dari kami, kamu memilih jadi influencer dari pada nerusin restoran ayah, kenapa? Apakah kamu sudah tau akibat dari keputusanmu itu?" tanya Ahmad.


"Vetya ngaku salah, vetya gegabah. Tapi ini semua dimulai dari kalian! Kalian terlalu ngekang Vetya, Vetya ingin bebas!"


"Sekarang, kamu sudah menemukan kebebasan itu. Mengapa kamu ingin--"


"Kalian kangen Vetya gak sih? Apa cuma Vetya yang hanya kangen kalian?"


Tut tut.


Clarissa memegang bahu Ahmad. "Yah, yang diucapin Vetya benar. Kamu gak kangen Vetya?"


Ahmad melihat ke depan dengan raut datar. "Sekarang kita siap-siap ke Bandung, bund."


Setelah mengatakan hal tersebut, Ahmad bangkit dari duduknya.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Cek lek


Hal pertama yang dilihat Abryne setelah membuka pintu yaitu, Amoera yang tengah duduk di ranjangnya dengan air mata yang mengaliri pipi tirusnya.


"Hikss, huhuhu."


Dahi Abryne langsung bereaksi menyerngit tanda ia tidak suka, lalu ia berjalan dengan cepat mendekati Amoera-membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "What makes you cry, baby?"


Amoera membalas pelukan Abryne kencang. "I miss them."


Abryne menutup matanya sebentar sebelum ikut mengencangkan pelukannya. "I know."


"No, you don't know."


Abryne melepaskan pelukan tersebut lalu menangkup kan wajah Amoera dan menghapus sisa air mata yang berada di pipi gadis itu. "Jadi ke tempat syuting?"


Amoera mengangguk menjawab.


Abryne tersenyum. "Siap-siap gih."


Amoera mengangguk lalu ia bangkit, berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Sedangkan Abryne, ia mengepalkan tangannya  dengan tatapan mata yang menyorot tajam.


⋇⋆✦⋆⋇ 


__ADS_2