
Sebuah mobil porsche melaju melewati gerbang yang menjulang tinggi. Mobil itu mendekati rumah yang berdiri dengan megahnya yang telah dikelilingi tembok atau pembatas.
Mobil itu berhenti tepat di depan rumah, selang beberapa detik keluarlah pria berpakaian casual dengan sebuah sandal jepit yang menghiasi kakinya.
"Dia pulang."
"Iya, sekarang lebih berotot dan berkharisma ya."
"Kalian, buat makanan kesukaan tuan sulung."
Pria itu tetap melangkah memasuki rumah dan hal pertama yang menyambut kepulangan nya adalah adik kandungnya.
"What's up bro. Akhirnya lo ingat punya rumah."
"Papah sama mamah mana?"
Andi menengok ke belakang dengan bibir yang ber smirk. "PAH! MAH! BANG ABRYNE PULANG NIH!"
Abryne berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya disana. Andi mengikuti Abryne dan melakukan hal sama.
"Tumben pulang bang, ada apa?"
Seorang pembantu datang, membawa satu gelas jus jeruk dan meletakkan nya di meja depan Abryne.
Abryne mengambil gelas tersebut dan meminumnya setengah.
"Akhirnya pulang juga kamu, Bryne." ucap Andre yang datang bersama Erica menuju Abryne.
Abryne bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Erica yang sudah merentangkan tangannya.
"Sudah makan?" tanya Erica setelah melepaskan pelukan.
"Sudah mah."
Andre bersedakap dada, menatap Abryne dengan dingin. "Papah nggak perlu jelasin perkara nyuruh kamu pulang kan, Bryne?"
Mendengar itu, Andi bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati mereka seraya memasang senyum lebarnya. "Kenapa bang?"
Abryne menggeleng. "Enggak pah."
Ekspresi Erica yang sedari tadi terlihat menahan gelisah karena praduga terganti menjadi ekspresi marah. "Jadi, maksud kamu benar Bryne? Kamu sudah menikah tanpa minta restu kami?! Kamu anggap kami apa Bryne?!"
Andi menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura terkejut. "Apa? Lo sudah nikah?"
Andre menarik kerah Abryne lalu meninju perut putra sulungnya itu dengan keras.
Bug!
"Kurang ajar! Kita membebaskan kamu diluar sana bukan berarti membebaskan kamu menikah tanpa izin kami!"
Erica menutup mulutnya dengan air mata yang mengalir. "Apa yang kamu lihat dari perempuan itu Bryne? Hingga kamu melupakan kami-orangtuamu!! Hikss."
Andi menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Jawab Bryne, hiksss."
Bug!
"Anak durhaka!!"
Mendengar itu, Abryne mengangkat wajahnya lalu menatap mereka disertai ringisan yang sekali-kali keluar dari mulut pria itu.
__ADS_1
"B-bukan itu pah, mah. Kalian salah paham."
Andi menatap tak percaya Abryne. "Bukti kita salah paham apa bang? Bukankah sudah jelas, abang bilang send--"
"Abryne belum nikah pah, mah."
Andre, Erica dan Andi menatap Abryne dengan tampang terkejutnya.
⋇⋆✦⋆⋇
"Hai, Amel."
"Lama banget si lo, gue nunggu lo sudah 15 menitan nih," ucap Amel kesal.
Amoera menyengir lalu menarik kursi didepan Amel dan mendudukinya. "Maaf yah, tadi macet banget."
Amel memasang wajah sinisnya. "Dari dulu jakarta macet neng."
"Hehe.. Oh ya, tunangan lo mana? Katanya tadi lo habis foto prewed," tanya Amoera seraya celingukan.
"Dia langsung pulang tadi, katanya males nongkrong sama cewe-cewe," jawab Amel dengan nada illfeel.
"Kenapa juga sih kita harus nongkrong disini? Biasanya juga kalau nongkrong di apart lo," lanjut Amel.
"Mulai saat ini gue nggak mau nongkrong di apart."
"Kenapa?" tanya Amel dengan penasaran.
"Takut suami tiba-tiba pulang," enteng Amoera
"Hah?" Amel menatap Amoera dengan bingung tidak lupa dahinya yang menyerngit.
"Nggak, lo nggak salah denger. Emang suami, suami gue." Amoera memanggil seorang waiters yang kebetulan mewatinya.
"Mba pesen ketang goreng sama es teh."
"Baik, " setelah itu Waiters pergi dari tempat mereka.
"Jangan halu Mer, " ledek Amel
Amoera menghela nafasnya. "Gue nggak halu sama sekali, gue beneran sudah nikah."
Amel melihat ekspresi Amoera yang terlihat serius, lalu matanya beralih menatap jari jemari Amoera. "Bohong banget, cincin nikah juga nggak ada di jari lo. Ngomong sudah nikah, mehh. Ngebet pengin nikah ya lo? Cari calonnya dulu sono!"
Seketika Amoera teringat Abryne yang memakaikannya cincin dijarinya ketika ia baru selesai memasak.
.......
Flashback
"Sayang... "
Amoera menatap Abryne yang tepat berada didepannya. "Apa?"
Abryne mengambil jemari tangan Amoera dan memakaikan cincin di jari manis Amoera, selesai memakaikan cincin, Abryne menatap manik Amoera seraya berucap. "Menurutku, ini waktu yang tepat untuk memberikan kamu cincin nikah kita..... Maksudku waktu Pengganti di akad, gapapa kan?"
Amoera menelan sakit di hatinya. "Iya."
"Makasih, aku sayang kamu." Abryne memeluk Amoera dengan erat, namun tidak dengan Amoera yang hanya menerima pelukan tersebut dengan tatapan yang menatap ke depan datar.
__ADS_1
Flashback off
........
Amoera menatap Amel dalam. "Cincinnya gue lepas, kelonggaran. Takut hilang hehe."
Melihat reaksi Amoera, membuat Amel faham, bahwa Amoera tengah dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Amel memegang tangan Amoera seraya menatap manik mata Amoera dengan tatapan dalam juga. "Ada apa? Jujur dan cerita sama gue. Ya... Mungkin gue nggak bisa ngehibur lo atau semacamnya, tapi gue bakal jadi pendengar lo yang bisa bikin lo lega daripada lo pendem, ya kan?"
Amoera menatap Amel beberapa detik sebelum air matanya mengalir deras. "Huwaa, hikss.. Hikss...Gue nggak ngerti sama kehidupan gue sendiri, tolong gue Mell hikss... Hikss."
"Terus keluarin tangisan lo, sampai lo bisa tenang."
"Huwaaa, hiks hiks hikss."
Lama Amel menunggu Amoera meredakan tangisannya, membuat Amel kebingungan mengatasi Amoera dan penasaran mengenai masalah yang dihadapi Amoera sampai menangis lama.
Seorang waiters datang dan meletakkan pesanan Amoera di depan Amoera, sesekali Waiters itu melirik Amoera.
"Makasih mba," ucap Amel dengan maksud Waiters didepannya cepat pergi dari meja mereka.
Waiters itu mengangguk kaku lalu pergi menjauh dari meja mereka setelah selesai meletakkan pesanan Amoera.
"Sudah tenang?" tanya Amel melihat Amoera yang meminum tehnya.
Amoera mengambil tisu dan meletakkan nya di hidung-membersihkan
"Sudah bisa cerita?"
Amoera mengangguk lalu ia meletakkan tisunya dan mengaduk-ngaduk tehnya. "Terakhir kita ketemu kapan?"
Amel menyerngit bingung. "Eee, kapan yaa... Seinget gue kita ketemu di kafe kan, ada tunangan gue juga juga waktu itu."
Amoera mengangguk. "Iya betul, setelah pulang dari kafe. Ternyata gue sudah dinikahi dan itu tanpa persetujuan gue, hikss.. Huwaa."
Amel menatap Amoera terkejut. "Yang bener lo? Emang ada yang kayak gitu?"
Amoera memutar bola matanya. "Gue buktinya."
"Siapa cowok itu? Gue kenal nggak?"
"Nggak. Gue baru ketemu dia sekali tapi kata dia, dia sudah ketemu gue sebelumnya dan alasan dia bikin gue bingung. Hikss."
Amel menggeleng kan kepalanya tidak terima. "Ayah lo, ibu lo, keluarga lo gimana? Mereka tau?"
"Hiks.. Mereka ngrestuin terutama ayah gue yang megang kuasa penuh. Ayah gue yang paling setuju. Tapi kenapa ayah gue nggak ngasih tau dulu ke gue?! Kenapa nggak minta pendapat gue?! Hikss... Gue nggak trima Mel.."
"Lo ceraikan dia aja, " enteng Amel.
Amoera menggeleng. "Nggak bisa mel, gue disuruh mertahanin sama ayah. Dan lo jangan lupa kalau wanita nggak bisa nyeraikan pria kalau tidak ada alasan yang memaksa seperti kekerasan kan?"
Amel terdiam membisu. "Lo dikasih mahar berapa?"
"Duaribu gram emas, dua puluh rumah kontrakan, lima mobil porsche, lima motor matic, dan seperangkat alat sholat."
"APAAAA?"
⋇⋆✦⋆⋇
__ADS_1