
"Sampai kapanpun, diantara kita nggak ada perceraian! Ingat itu! "
"Aku juga nggak ingin ada perceraian diantara kita!! Aku nggak minta cerai! Aku nggak akan ngajuin surat-surat itu ke pengadilan! Aku cuma mau lihat suratnya!" marah Amoera.
Mendengar Amoera mengatakan hal tersebut membuat Abryne lega seketika, hilang sudah pikiran-pikiran buruk yang menghantui fikiran nya.
Abryne segera mendudukkan dirinya di sofa dengan kepala yang menunduk, kedua tangan yang menahan kepalanya dan mulutnya yang bergerak mengucap istighfar berkali-kali.
Melihat hal tersebut, membuat Amoera segera duduk di samping Abryne. "Aku nggak bakal minta cerai Abryne kecuali kalau kamu melakukan hal aneh-aneh ke aku, dan aku juga nggak bisa menceraikan. Kamu lupa? Kalau seorang istri nggak bisa menceraikan suami nya kecuali kalau aku minta dan memberikan sesuatu ke kamu agar kamu men-"
Abryne segera menoleh, menatap Amoera dengan tajam. "Jangan pernah kamu minta hal kayak gitu! Kalaupun kamu minta dan memberikan aku uang, mobil dan lainnya. Aku nggak akan bakal menceraikan kamu!"
"A-"
"Stop bahas ini! Aku capek," setelah mengatakan hal tersebut, Abryne bangkit dari duduk dan kembali ke kamar dengan surat-surat nikah yang masih dalam genggamannya.
Amoera melipat bibirnya kedalam setelah itu menyenderkan kepala ke kepala sofa dan dengan lengan tangan yang menutupi matanya. Sebuah bulir air mata mengalir.
"Aku lebih cape, tertekan, dan terkejut mengetahui fakta-fakta ini.... Secepat itu statusku berubah? Mengapa ayah tidak tanya dulu ke aku... hikss... Hiksss."
Didalam kamar, lebih tepatnya didalam kamar mandi. Abryne menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bak mandi termasuk kepalanya. Didalam air tersebut, ia dapat merasakan kesunyian yang berada di sekitarnya, seolah-olah masalahnya telah pergi meninggalkannya sendirian didalam air karena masalah tersebut tidak melihatnya dipermukaan.
Didalam air, Abryne teringat bahwa ia akan segera menyelesaikan misinya tentang orang 'itu' nanti malam.
Abryne segera bangkit dari bath up dan segera menyiapkan diri untuk nanti malam.
⋇⋆✦⋆⋇
"Hahaaa akhirnya kita mendapat uang banyak dari hasil kerja kita, " ucap pria sedikit gemuk.
"Hahaa, iya benar. Sekarang kita bisa memiliki uang lebih. Dibanding sebelumnya mendapat uang sedikit," jawab pria berkepala plontos.
Didalam ruang gelap remang-remang yang diisi dengan dua orang berjas tidak lupa dengan laptop yang berada didepan mereka. Mereka tertawa bahagia sampai sebuah--
Ceklek.
"Pak, kayak nya kita harus berhenti melakukan hal ini. Saya merasa bersalah terhadap masy--"
Pria yang sedikit gemuk bangkit dari duduk dan berjalan menuju pria yang baru saja tiba, pria itu bertubuh ideal dan terlihat sang at rapi.
"Halah, buang rasa bersalah mu itu. Kamu harus ingat, pekerjaan kita tidak dianggap oleh masyarakat, pekerjaan kita diremehkan, gaji kita sedikit dari para yang popular. Padahal kita yang paling berjasa untuk mereka, tapi pekerjaan kita yang sering dilupakan oleh masyarakat. Anggap saja yang kita lakukan ini, imbalan untuk kita, " pria sedikit gendut itu menepuk bahu pria ideal tersebut beberapa kali.
Pria bertubuh ideal mengangguk. "Iya, benar. Perbuatan kita tidak salah."
Pria sedikit gemuk dan pria berplontos tersenyum dan senyuman tersebut menular keep pria bertubuh ideal.
"Bawa rokok nggak?" tanya pria plontos.
"Bawa, tadi sekalian beli di toko yang deket pertiga."
"Bagus--"
__ADS_1
"Rokok nya bagi kita juga, kita mau."
Suara yang asing dari mereka bertiga, membuat mereka seketika tegang dan segera menolehkan kepala ke arah suara.
Cekleklek cekleklek
Sebuah pistol mengarah ke mereka. "Angkat tangan, bukti telah kami pegang, " ucap Abryne tegas tidak lupa dengan mata yang menatap mereka tajam.
Para pria berjas itu mengangkat tangannya, "Heh Abryne, eh salah. Seharusnya Pak Abryne, duh mulut suka lupa kalau sekarang Abryne sudah menjadi perwira pangkat 4. Cepet banget naik pangkatnya, emang nggak capek ngurusi masyarakat yang kadang diatur malah mbajuk?" ejek pria berplontos.
Abryne tetap menjaga ketenangannya dengan mengarahkan polisi-polisi yang ia bawa untuk segera memborgol mereka.
"Saya ikhlas menjalankan tugas saya sebagai seorang polisi. Saya tidak peduli dengan mereka yang meremehkan pekerjaan ini."
"Yayayaya... Terserah, kamu pikir setelah kita ditangkap, kita akan menyesal dengan keputusan kita yang korupsi ini?" pria sedikit gendut itu menatap teman-temannya lalu mereka tertawa bersama.
"Tidak, kami tidak menyesal. Kita hanya ingin imbalan atas jasa kita kepada mereka, pada negara. Masyarakat yang tidak ada terimakasih-terimakasihnya dan seenaknya menyalahkan kita kalau kita melakukan kesalahan sedikit, terus bagaimana dengan jasa kita? Kita sampai begadang, tidur tidak cukup, berfikir terus cara menyejahterakan mereka sampai kepala nggak ada rambut, kenapa hal yang kita korbankan nggak diingat? Kamu fikir kita nggak capek hah? Kita malah senang, bisa terbebas dari beban--"
"Sudah, sesi curhat di kantor polisi saja," celetuk salah satu polisi.
"Bawa mereka," titah Abryne.
Setelah itu para polisi menyeret para pria berjas itu untuk mengikuti mereka.
"Saya agak tersinggung dengan kalimat mu tadi," ucap pria berplontos kepada pria yang sedikit gendut.
"Kenyataan, terima saja, " sela polisi yang membawa pria plontos.
Pria plontos itu menghela nafasnya mengingat kenyataan.
⋇⋆✦⋆⋇
Abryne membereskan barang-barang yang berada di meja dan segera mengganti pakaiannya menjadi pakaian casual.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Abryne melangkah menuju pintu untuk keluar dari ruangannya.
Bug!
Saat ia berjalan santai dalam lorong, sebuah tepukan di bahu mengagetkannya dan hal tersebut membuatnya menatap sang pelaku dengan datar. "Apa?"
"Selamat broh, akhirnya misi kamu sudah selesai."
"Iya, thanks."
"Ngomong-ngomong, kamu kan pengantin baru. Emang istrimu nggak keberatan kamu selalu pulang selarut ini? Eh malah menjelang pagi lagi," tanya Bram dengan penasaran.
Abryne memasukkan tangannya ke saku celana lalu kepala nya ia hadapkan ke depan, tak menghiraukan pertanyaan Bram. "Saya pulang dulu, salam untuk istrimu pak."
Bram menatap Abryne yang mulai menjauh dengan gelengan kepala. "Ngebet banget ketemu istri, sampai pertanyaan saya nggak dijawab."
Disisi lain, Abryne yang sudah duduk di bangku belakang mobil mulai menyuruh sopirnya untuk segera menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Didalam perjalanan, Abryne yang merasa pundak dan leher belakang nya pegal mulai memijatnya.
Sopir Abryne yang ingin mengutarakan sesuatu melirik Abryne dari kaca spion dalam. Disaat melihat Abryne yang terlihat sangat kelelahan, membuatnya urung mengutarakan maksud tujuannya.
"Ada apa pak?" tanya Abryne yang sudah tau bahwa sopirnya akan mengatakan sesuatu namun ditahan karena melihatnya yang seperti saat ini.
Sopir tersebut gelagapan, namun ia segera menyantaikan badannya. "Gini mas, tadi orang tua mas Abryne Nelfon. Katanya--"
Abryne yang sudah mengerti kata selanjutnya langsung jengah. "Iya, besok kalau saya sudah tidak terlalu sibuk. Saya akan pulang, bilang pada mereka seperti itu."
"B-baik mas."
Sopir itu segera mem fokuskan tatapannya menghadap depan. Sedangkan Abryne, ia menidurkan kepalanya dengan mata yang mulai terpejam dengan nafas yang mulai teratur.
⋇⋆✦⋆⋇
Ceklek
Abryne membuka pintu apartment, semua ruangan gelap. Kecuali ia yang melihat kamar Amoera dan dirinya yang masih terdapat cahaya.
Melihat kamar Amoera dimana lampu yang masih menyala, membuat ia menduga bahwa Amoera tengah lembur dari pekerjaannya itu. Abryne mempercepat langkahnya menuju kamar Amoera dan segera membuka kamar gadis itu tanpa mengetuk terlebih dahulu, karena ia yang melihat pintu gadis itu terbuka sedikit sehingga membuatnya susah payah, ia bisa langsung membuka.
Di meja belajar, terdapat Amoera yang duduk disana dengan sebuah laptop didepannya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Abryne.
"Kenapa baru pulang? Kamu darimana?" tanya Amoera yang tidak kaget ketika Abryne yang tiba-tiba datang ke kamarnya dan menanyakan hal tadi.
"Kerja."
Mendengar hal tersebut membuat Amoera bangkit dari duduk nya. "Kerja? Pekerjaan apa yang ada selesai sampai jam segini?!"
Abryne menghela nafas. "Kamu lupa? Bukankah ayah sudah memberitahui mu di telefon?"
Sebuah ingatan tiba-tiba muncul dalam pikiran Amoera.
"......Polisi yang ayah temui......"
".......Kalau dia polisi yang ayah temui......"
Seketika Amoera langsung menutup mulutnya terkejut. "Jadi, kamu beneran polisi itu?"
Abryne mengedikkan bahu nya sebagai jawaban.
Mata Amoera langsung tertuju pada pakaian Abryne "Dimana seragam kamu? Kenapa kamu pakai pakaian santai kayak gitu? Kamu kelayapan tengah malem?!" tuding Amoera.
Abryne menundukkan kepala nya melihat pakaiannya lalu kembali melihat Amoera yang berada didepannya. "Oh ini, saya memakai seragam hanya di saat saya memang harus memakainya, kenapa saya harus memakai seragam dirumah?"
Amoera mengangguk percaya mendengar penjelasan Abryne lalu fikiran nya terlintas saat pertama kali bertemu Abryne di atas jembatan. Dimana Abryne yang menggunakan baju lusuh.
Sedangkan Abryne tengah meneliti setiap sudut kamar Amoera, lalu tatapannya jatuh pada ranjang. "Mulai hari ini kita tidur bareng ya."
__ADS_1
⋇⋆✦⋆⋇
Abryne mulai aktif thernyata