Antara Cinta Dan Restu

Antara Cinta Dan Restu
Undangan


__ADS_3

Ting tong... Ting tong


Suara keras bel apartemen membangunkan Abryne dari tidurnya. Matanya mengerjap perlahan sebelum terbuka lebar.


Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas saat kelopak matanya melihat wajah Amoera yang terlihat cantik. Namun, senyuman itu hanya berlangsung beberapa saat ketika Abryne melihat Amoera lebih jelas lagi yang terlihat kelelahan.


"Istri aku kelelahan, maafin suami kamu ini ya?" setelah mengatakan itu Abryne mencium kening Amoera dengan sayang.


Ting tong


Dahi Abryne menyerngit, lalu tidak lama ia bangkit dari ranjang dan melangkah menuju pintu.


Ceklek.


Kedua mata Abryne melihat satu orang laki-laki dan satu orang perempuan, mereka seperti sepasang kekasih dimata Abryne.


"Siapa?"


Amel dan Rendy melakukan contact eyes setelah mereka melihat Abryne.


"Suaminya Amoera?" tanya Amel memastikan.


Abryne terdiam beberapa saat sebelum mengangguk.


Amel menyenggol lengan Rendy yang dibalas dengan senggolan pula.


"Kalian?" tanya Abryne bingung, pasalnya baru pertama kali ia melihat orang yang begitu asing dimatanya mengunjungi apartemen dan mengetahui pernikahannya. Mungkinkah mereka teman Amoera?


"Kami teman Amoera," jawab Rendy.


Abryne mengangguk, sesuai dugaannya. "Mau masuk atau di sini saja?" tanya Abryne seraya membuka pintu lebar.


"Boleh masuk?" tanya Rendy yang langsung dijawab Abryne dengan anggukan.


Rendy dan juga Amel segera memasuki apartemen setelah Abryne mengizinkan mereka masuk.


Melihat sofa, Amel segera menduduki tempat itu. Rendy yang melihat langsung menyuruh Amel untuk berdiri lagi melalui sorot mata.


"Duduk saja, mau minum?"


Rendy yang siap menjawab tawaran Abryne terhenti, ketika pendengarannya mendengar teriakan.


"Ryne! Ryne! Abryne!"


Rendy dan juga Amel saling tatap mendengar teriakan Amoera yang terdengar manja. Sedangkan Abryne, ia menatap Rendy, Amel dengan datar.


"Saya keatas dulu," setelah mengatakan itu, Abryne melangkah pergi.


"Itu teman kamu?"


Amel mengangguk.


"Suara aslinya gitu?"


Amel menggeleng dengan wajah polosnya.


"Rynee!"


Disisi lain, Abryne yang baru saja memasuki kamar kaget, melihat Amoera yang tengah berbaring di ranjang dengan handphone ditangan gadis itu.


"Astaghfirullah, aku kira kamu terjadi sesuatu sampai teriak manggil aku kayak gitu."


Amoera menatap Abryne manja. "Huwaaaa, sakittt. Aku gerak sedikit aja langsung kerasa sakittt, ini gimana?!"


Abryne langsung berlari ke sisi Amoera. "Sini, aku bantuin. Kamu mau kemana emang?"


"Dapur, ini semua salah kamu!"

__ADS_1


"Iya-iya, maaf," ucap Abryne yang merasa bersalah kepada Amoera, tangan Abryne mulai mengangkat Amoera dalam gendongannya ala bridal style.


"Maaf-maaf, pokoknya aku gak mau kaya gitu lagi nanti malam!"


Mendengar itu, Abryne melotot seraya memberhentikan langkahnya sebentar. "Tapi, sayang--"


"Apa? Mau ngomong apa kamu hah?!"


Abryne menggeleng. Saat langkah Abryne yang akan memasuki ruang tamu, Abryne baru  ingat. Jika saat ini di dalam Apartemen terdapat tamu yang tengah menunggu sang tuan rumah.


Plak!


"Ada Amel sama Rendy kamu gak bilang sama aku?!" bisik Amoera yang menahan rasa malu sekaligus marah ke Abryne.


"Maaf, sayang. Aku lupa," Amoera memutar kedua bola matanya.


Sedangkan Rendy dan juga Amel yang melihat mereka tengah bermesraan dengan cara gendong-gendongan dibuat salting.


"Kamu kok gak pernah kaya gitu ke aku?" tanya Amel.


Rendy mengulum senyumnya. "Besok kalau sudah nikah, sekarang belum muhrim."


Amoera menepuk-nepuk bahu Abryne. "Turunin aku."


Dahi Abryne menyerngit. "Kita kan belum sampai di dapur?"


"Cepet turunin!" perintah Amoera seraya matanya yang melotot.


Abryne segera menurunkan Amoera dengan pelan-pelan. Lalu tangan Abryne ia rangkul kan ke pinggang Amoera bermaksud menuntun gadis.


"Shh, aw," ringis Amoera.


"Pelan-pelan."


Amel melihat Amoera yang terlihat kesakitan langsung menampilkan raut khawatir. "Lo kenapa? Kesleo?"


"Ko bisa? Sini gue lihat, separah apa sih sampai lo keliatan kesakitan banget?!" ucap Amel yang akan pindah tempat duduk ke samping Amoera.


"Eeeh, jangan! Gak usah. Cuma bengkak biasa kayak orang kesleo," tolak Amoera spontan tidak lupa tangannya yang mencubit Abryne, meminta pertolongan.


"Awss, sak,... mau minum apa?" ucap Abryne terpaksa.


Rendy yang mengetahui situasi langsung menjawab. "Air putih saja, mas."


Mendengar kata 'mas' diucapkan Rendy, raut muka Abryne langsung berubah. Amoera yang melihatnya mengulum senyum, menahan tawa.


"Ka--"


"Sayang," potong Amoera cepat setelah mengetahui jika Abryne akan memarahi Rendy.


"Ck, tap--"


"Sayang," Amoera menampilkan senyumnya. Melihat senyuman Amoera yang terlihat mengerikan, Abryne segera melangkah menuju dapur yang memang dapur itu dekat dengan ruang tamu.


Amoera beralih melihat Amel dan juga Rendy. "Kalian sudah lama disini?"


"Enggak, baru sampai kok," jawab Amel yang di angguki Rendy.


Amoera mengangguk. "Kalian ada apa kesini?"


"Owh, ini gue sama Rendy mau ngasih undangan wedding buat lo," ucap Amel seraya menyerahkan undangan ke Amoera.


Amoera dengan senyuman lebar mengambil undangan tersebut dan melihatnya sekilas. "Ciee yang sudah mau jadi pasutri halal."


"Hahaha," tawa mereka.


"Jangan lupa, ajak suami lo," ujar Rendy.

__ADS_1


"Pasti," angguk Amoera.


Mendengar kata suami, Amel langsung memajukan wajahnya beberapa senti ke arah Amoera. "Btw, suami lo keliatan serem. Kerja apasih dia?" bisiknya.


Rendy mengangguk setuju.


"Polisi."


Ucapan dari Abryne yang tiba-tiba datang menyela pembicaraan, membuat mereka terkejut terkecuali Amoera.


"Apaa?!" teriak kaget Amel, Rendy yang berada di samping Amel langsung menutup mulut gadis itu seraya menatap Abryne dengan senyum kaku.


Abryne meletakan minuman di depan mereka. "Kalian kapan pulang?" tanyanya setelah ia mendudukkan diri di samping Amoera.


Plak!


"Aduh, awss," ringis Abryne seraya matanya menatap Amoera dengan tanda tanya.


Sedangkan, Rendy dan juga Amel. Mereka menatap Abryne tak percaya dan juga tercengang.


"Kita baru sampai loh, ini.... Ini kita juga baru disuguhi minuman. Serius, kita sudah disuruh pulang?" tanya Amel.


Amoera menatap tamunya tak enak. "Ahaha, suami gue emang suka bercanda Mel, jangan di ambil hati ya? E eh itu minumannya silakan diminum."


Selesai mengatakan hal tadi, Amoera mencubit Abryne kuat seraya memberikan pelototan mata.


"A ah, ya. Silakan diminum. Tadi saya hanya bercanda, just joke hahaa," ucap Abryne kaku.


"O oh hahaha, just joke rupanya... Gue boleh minum?" tanya Rendy.


"Ya, silakan silakan. Jangan sungkan," ucap Amoera.


Rendy mulai mengambil gelas didepannya dan meminumnya, sedangkan Amel. Ia menatap Abryne sinis.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Brak!


Suara keras pintu mobil tertutup membuat Rendy terkejut.


"Lama-lama pintunya bisa rusak kalau kamu nutupnya kayak gitu, sayang," ucap Rendy dengan suara yang di lembut-lembutkan.


"Rusak tinggal diganti pintu baru. Kalau bisa sekalian ganti mobil!" kesal Amoera.


Rendy mulai menjalankan mobilnya meninggalkan area parkir apartemen.


"Nada suara kamu kok kaya lagi orang marah, aku buat salah?" tanya Rendy.


"Suaminya Amoera ngeselin banget ga sih? Masa kita yang baru aja duduk santai sudah disuruh pulang aja? Bingung gue sama Amoera, perbuatan apa yang sudah dia lakuin bisa dapetin suami kaya gitu? Kerja jadi polisi aja belagu, najong banget," dumel panjang Amel.


Kepala Rendy menggeleng beberapa kali. "Polisi itu ke--"


Amel menatap Rendy aneh. "Heran aku sama kamu, bisa-bisanya kamu gak marah, gak kesal setelah di perlakuin kayak tadi?"


Tangan sebelah Rendy mengusap rambut Amel. "Buat apa marah, kesel? Cuma buang energi. Suaminya teman kamu, mungkin lagi buru-buru ada urusan yang harus di selesaiin, jadi dia bilang kayak gitu ke kita."


Dahi Amel menyerngit menatap Rendy. "Jadi dia keganggu dengan kehadiran kita? Cuih."


Rendy tersenyum mendengar gerutuan Amel, matanya tak sengaja melihat sebuah restoran yang terlihat ramai lalu beralih melihat Amel yang tengah cemberut. "Mau makan?"


Amel mengangguk antusias. "Mau!"


"Okay."


⋇⋆✦⋆⋇ 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2