
Deg!
Deg, deg, deg...
"Mak-sudnya mah?" tanya Abryne dengan terbata.
"Duh Bryne, masa gitu aja gak paham. Jadi kamu bakal jadi suami dan istri kamu ini, Tia. Kalian belum kenalan kan, ayo sekarang kenalan."
Tia tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke depan Abryne yang berada didepannya. Sedangkan Abryne, ia hanya melihat uluran tangan tersebut sebentar setelah itu ia berkata.
"Maaf om, tante tiba-tiba saya baru ingat kalau saya ada kerjaan malam ini. Saya pamit om, tante. Sekali-lagi saya minta maaf," setelah mengatakan hal tersebut, Abryne bendiri dan melangkah menjauhi ruang tamu.
Erica mengepalkan tangannya dengan mata yang menyorot punggung Abryne tajam, sementara Andre menatap punggung Abryne dengan tatapan bersalah, sedangkan Andi sekali lagi ia bersmirk ke arah Abryne.
Disisi lain, Rani menatap Abryne dengan tersenyum sedangkan Cakra menatap Abryne dengan tatapan marah dan juga Tia yang menatap Abryne dengan kecewa.
Erica kembali melihat kearah keluarga Rani dan melihat respon mereka membuat Erica segera mengangkat suara. "Ahaha, maaf ya. Maklumlah dia polisi pasti banyak kerjaannya yang harus dilakukan."
"Saking sibuknya baru duduk di rumah langsung pergi lagi keinget pekerjaan yah?" sinis Cakra.
Rani menatap Cakra terkejut lalu ia mencubit pinggang suaminya seraya berkata. "Biasanya ayah juga iya, ngaca sana."
Sedangkan Erica hanya menatap mereka canggung seraya tertawa. "Hahaha."
⋇⋆✦⋆⋇
Kini Abryne tengah duduk sendirian di bangku taman kota, memikirkan ucapan Erica yang berkali-kali berputar di pikirannya. Sungguh, hal tadi membuatnya gelisah dan juga takut.
Abryne gelisah, ia bingung harus bagaimanapun cara menolak perjodohan ini, apakah ia harus mengungkapkan pernikahannya?
Lalu bagaimana jika mamahnya tidak setuju dengan pernikahannya? Apakah mamahnya akan berbuat nekad terhadap istrinya, Amoera?
Abryne takut hal itu terjadi.
Bug!
Seorang pria paruh baya menepuk pundak Abryne membuat sang empu terkejut.
Pria itu tersenyum ke arah Abryne. "Boleh duduk?"
Abryne mengangguk.
"Haaah," suara helaan nafas dari samping Abryne terdengar.
"Sebuah pemikiran yang belum pasti terkadang membuat diri kita resah, dan dari keresahan itu membuat kita ingin menemukan solusi dari hal yang tengah dipikirkan. Tapi, bagaimana jika solusi yang ingin kita dapat tidak dapat kita temukan?" celetuk pria paruh baya itu.
Abryne menoleh kesamping, melihat pria paruh baya itu dengan intens beberapa saat sebelum kembali melihat ke depan.
"Maka, kita hanya perlu mengubah pemikiran yang membuat diri kita resah," jawab Abryne.
Pria paruh baya itu menarik kedua sudut bibirnya mendengar jawaban dari Abryne. "Ubahlah pemikiran itu menjadi sebaliknya, maka kamu akan menemukan solusi dari keresahan itu."
"Bagaimana jika solusi itu merupakan solusi yang salah?"
"Kembali lagi ke awal titik dari keresahan."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tadi, pria paruh baya itu bangkit dari duduknya dan pergi menjauhi posisi Abryne.
Abryne melihat kepergian pria paruh baya itu. "Kenapa kita harus memikirkan yang membuat kita resah? Bukankah kita hanya perlu bertindak dengan tepat?"
⋇⋆✦⋆⋇
"Serius, besok aku ke lokasi syuting?"
"Iya, kita kesana melihat para aktor-aktor dalam berakting dan kamu harus mempelajari itu dari mereka."
Amoera memundurkan wajahnya dari layar handphone dengan dahi yang berkerut. "Siapa saja Aktor yang ada dilokasi syuting itu mas?"
"Ada sehun, doyoung, mark, jaehyun, jaemin terus eee--"
Amoera memaksakan senyumnya. "Mas tau yang namanya vas nggak?"
Orang yang berada di dalam layar handphone Amoera terlihat dahinya yang mengerut. "Tau kok, kenapa?"
"Ituloh mas, kemaren kan aku baru nonton drakor the glory kalo aku nyobain cara mereka ke mas gimana?"
Orang itu terlihat mengangguk. "Boleh sih, kalau itu buat percobaan akting kamu."
"Yakin mas?"
"Vid-call sama siapa kamu?" suara datar Abryne terdengar di telinganya.
"Ehh?" suara Amoera dan orang yang berada di layar handphone terdengar bersamaan.
Amoera menengok kan kepalanya ke arah Abryne yang terlihat berantakan begitu juga orang yang berada di layar handphone Amoera, yang melihat Abryne terlihat cool dimata.
Abryne melirik handphone Amoera lalu ia mengulurkan tangannya dan memencet tombol merah di layar tersebut.
Suasana seketika hening, dimana Amoera yang melihat Abryne dengan intens begitu juga dengan Abryne.
"Dia siapa?" tanya Abryne dengan datar.
"Manager aku."
"Sejak kapan manager kamu laki-laki?"
"Itu manager baru aku, managerku sekarang ganti karena aku sudah mau masuk dunia perfilman."
"Karena baru, kamu jadi manggil dia mas? Ganjen ya kamu."
Plak!
"Maksud kamu ngomong gitu apa? Bukannya aku udah bilang, kalau manager aku diganti karena aku sudah mau masuk dunia film."
"Makanya itu, ngapain kamu manggil dia mas? Emang gak ada panggilan lain selain mas?"
"Panggilan itu yang cocok buat dia Ryne!"
"Cocok? Terus menurut kamu, kamu manggil aku Ryne cocok dengan status aku yang suami kamu? Kamu mikir sampai situ gak?"
Amoera mengacak rambutnya kesal. "Apasih maksud kamu? Nama panggilan aja diributin!"
__ADS_1
Amoera melihat kembali penampilan Abryne dan saat itu juga, Amoera paham bahwa ia harus memeluk suaminya ini sekarang juga.
Abryne terdiam.
"Balas pelukan aku Ryne."
Abryne dibuat terenyuh dengan tindakan Amoera dan hal inilah yang membuat jantungnya kembali berdebar kencang.
Abryne mengangguk lalu mengikuti perintah Amoera, ia membalas pelukan istrinya. Mendekap gadis kecilnya. Merasakan aroma khas yang dimiliki gadisnya, candunya.
Amoera mengelus belakang kepala Abryne dengan lembut. "Kamu nggak mau cerita?"
Abryne menggeleng kan kepala.
"Mau nangis?"
"Nangis? Pria sejati tidak kenal menangis."
Mendengar itu, Amoera menjambak rambut Abryne.
"Kenapa dijambak?"
"Kata-kata dari mana itu kalau pria sejati tidak kenal menangis?"
"Ck, kamunya yang gak tau kalau pria sejati menghadapi masalahnya dengan bertindak bukan dengan menangis."
"Matamu. Kamu pikir wanita menghadapi masalahnya hanya dengan menangis?"
Abryne terdiam.
"Tidak, wanita menghadapi masalahnya juga dengan cara bertindak. Wanita menangis untuk melegakan hati dan pikirannya yang terasa sesak. Semua emosi yang terasa ingin meledak bisa terasa melegakan dan juga meringankan pikiran, sok tau kamu tadi."
Abryne kembali terdiam, namun ia semakin menduselkan wajahnya kedalam ceruk leher Amoera dan Amoera sendiri ia menempelkan pipinya di rambut kepala Abryne.
5 menit kemudian.
"Kaki aku pegel berdiri terus Ryne."
"..."
Amoera merasakan pundaknya yang semakin lama terasa berat dan terdengar suara hembusan nafas yang teratur di telinganya membuat ia tersadar.
Abryne tertidur dalam pundaknya.
Mata Amoera melotot ketika ia merasakan tubuhnya yang akan jatuh ke belakang.
"E e eeeeh--"
Brugh
Amoera jatuh diatas karpet bulunya dengan Abryne yang masih dengan nyaman tertidur dalam pelukannya, bahkan kini Abryne terasa semakin mengeratkan pelukan tersebut.
"Sakit... " keluh Amoera ketika merasakan punggung dan juga kepalanya yang terasa sakit akibat berbenturan dengan kerpet lantai bulunya.
⋇⋆✦⋆⋇
__ADS_1
Pak suami asal tidur ae