Antara Cinta Dan Restu

Antara Cinta Dan Restu
12. Ngaji Bareng


__ADS_3

"Mulai hari ini kita tidur bareng ya."


Mendengar hal itu membuat Amoera terkejut tidak lupa dengan jantungnya yang seketika berdebar kencang. "Tidur bareng?"


Abryne mengangguk yakin dengan tampang lugu. "Iya, bukankah wajar jika suami istri tidur bareng di satu kasur? Yang nggak wajar pacaran tapi tidur di satu kasur."


Amoera terdiam mendengar kalimat ultimate dari Abryne. "Tapi ak--"


"Kamu mau nolak? Kenapa?" tanya Abryne dengan wajah yang terlihat sangar.


Amoera menggaruk pipi nya beberapa kali. "Eeee... Bukan maksud nolak, tap-"


Abryne langsung mengembangkan senyumnya, lalu memajukan wajah nya ke wajah Amoera dan mencium pipi yang digaruk Amoera.


Cup.


Setelah mencium pipi Amoera, Abryne langsung melangkah pergi ke kamar mandi yang berada di kamar Amoera. Ia akan mencuci tangan dan wajahnya sebelum tidur.


Brak.


Amoera menatap pintu kamar mandi dengan wajah salah tingkahnya. "This is crazy!"


Setelah itu Amoera berjalan mondar mandir dengan giginya yang menggigit kuku jempol tidak lupa dengan jantungnya yang terus berdetak kencang. "Gimana nih?!"


Tiba-tiba tatapan matanya jatuh pada kasur. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Amoera segera membaringkan badannya di kasur dengan selimut yang menyelimutinya.


Sedangkan didalam kamar mandi, Abryne tengah menatap dirinya didalam cermin dengan wajah yang kentara senang. "Yes, akhirnya tidur bareng istri."


"Hal yang saya tunggu dari kemaren, yuhuuuu.... takgendang gendanggdesss," kepala Abryne bergoyang ke kanan kiri beberapa kali tidak lupa dengan tangannya yang ikut bergerak.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Abryne berdiri dengan kepala menunduk menatap Amoera yang sudah terlelap dalam tidur nya. Abryne terkekeh seiring dengan kepala nya terangkat tidak lupa dengan jarinya yang memijat pangkal hidungnya.


"Hahaa, sengaja tidur duluan rupanya," Abryne mengakhiri kalimat tersebut dengan menggelengkan kepala.


Lalu melihat lampu kamar yang masih menyala dengan terang membuatnya segera mematikan lampu tersebut dan mengganti kan dengan lampu tidur. Setelah selesai, Abryne berjalan melangkah memutari kasur untuk tidur disisi lain samping Amoera yang masih lebar.


Setelah membaringkan tubuhnya dengan nyaman, Abryne segera menutup mata dengan tangan yang bersedekap mencoba untuk bisa segera tidur, karena jujur saja. Abryne sudah sangat lelah dan sangat mengantuk, namun posisi saat ini membuatnya sulit tertidur sehingga ia segera merubah posisi nya menjadi membelakangi Amoera. Hal tersebut masih saja membuatnya sulit tidur.


Abryne beralih melihat Amoera yang memunggunginya dan tertidur dengan tenang, membuatnya memiliki sebuah pemikiran untuk memeluk gadis didepannya.


Abryne mendekati Amoera, lalu mengangkat kepala Amoera sedikit dan Abryne segera meletakkan tangan kanannya di bawah kepala Amoera. Setelah selesai memindahkan letak kepala Amoera, Abryne segera menaruh tangan kirinya di atas pinggang Amoera.


Selesai dengan kegiatannya, Abryne segera mencoba tidur dengan posisi tersebut. Abryne akui, posisi saat ini menjadi posisi yang nyaman dari sebelum nya.


"Hoamm, " kini, Abryne mulai bisa beristirahat didalam tidur nya.


⋇⋆✦⋆⋇ 


"


حَيَّعَى الصَّلاَةِ."

__ADS_1


"حيّعى الصلاة."


"حَيَّعَى الْفَلاَحِ."


"حيعىى الفلاح."


Pagi hari, jam menunjukan pukul 05.00 subuh. Amoera terbangun dari tidur nya setelah mendengar suara Adzan berkumandang. Masih dengan mata yang tertutup, Amoera merasakan berat di pinggangnya dan ke-engaban.


"اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ."


Pemandangan pertama yang Amoera lihat sebuah warna hitam dengan ujung yang menusuk dan sesuatu yang menggelitik di hidungnya.


"Hachihhh."


"اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ."


Amoera menjauhkan wajahnya dari benda tersebut yang ternyata sebuah rambut kepala berwarna hitam legam yang didepannya. Amoera memutar otaknya dan otaknya language merespon persoalan tadi malam, bahwa ia dan Abryne akan tidur bersama mulai tadi malam.


Yang jadi pertanyaan Amoera, kenapa posisi awal ia tidur dan bangun tidur nya berbeda?


"Jam berapa?" Tanya Abryne yang terbangun mendengar Amoera bersin dan sebuah gerakan dari Amoera.


Amoera langsung melihat jam yang terpasang didinding. "Jam 05.00."


"Owhh." gumam Abryne, setelah itu Abryne mengeratkan pelukannya terhadap Amoera dan melanjutkan tidur nya.


Dahi Amoera berkerut merespon tindakan Abryne, setelah itu tangannya terangkat melepaskan pelukan Abryne yang berada di pinggangnya. Namun, bukannya terlepas, Abryne malah semakin mengeratkan pelukan tersebut.


"Nanti."


"SEKARANG! SOLAT SUBUH IH! SUDAH MAU IQAMAH ITU! NANTI KAMU KETINGGALAN!"


Abryne menghela nafasnya, lalu ia melepaskan pelukan nya dan bangkit dari posisi tidurnya.


Amoera melihat wajah Abryne yang terlihat kesal membuatnya ingin tertawa, namun segera Amoera mengalihkan tawanya dengan melipat bibirnya ke dalam dengan bentuk matanya yang jelas sekali tengah tertawa. Terlihat dari bentuk mata yang melengkung dengan indah.


Amoera segera menetralkan wajahnya, setelah itu ia--


"Sayang, ayo cepet wudhu. Nanti ketinggalan sama imam yang di mushola, " ucap Amoera dengan nada lembutnya.


Mendengar itu, Abryne langsung melihat Amoera dengan wajah terkejut. "Sekali lagi."


Amoera menahan senyumnya melihat ekspresi kaget Abryne, apalagi wajahnya masih sangat terlihat baru bangun tidur. "Sayang, a--"


Grep! Brugg


Abryne menubruk tubuh Amoera dan memeluknya kencang. Sekarang ekspresi kaget terdapat pada Amoera.


"Sekali lagi," bisik Abryne.


قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ ،قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ"


اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ

__ADS_1


لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ."


"Tuhkan, kamu ketinggalan. Udah iqamah itu." alih Amoera.


Abryne menatap manik Amoera sambil berbisik. "Sholat bareng yuk."


Amoera yang ditatap dalam oleh Abryne dan ddiajak beribadah bersama membuat pipi Amoera bersemu sekaligus detak jantung yang berdetak lima kali lipat dari sebelumnya.


"Ayok, kamu mau nggak?"


Amoera mengalihkan tatapannya ke sembarang arah, asal jangan bersitatap dengan Abryne. "I-iya," pelan Amoera


Bibir Abryne bertambah merekah mendengar jawaban Amoera, segera Abryne bangkit dari posisi menindih Amoera dan berjalan menuju kamar mandi. Namun, sebelum bangkit dari posisinya. Abryne menyempatkan diri untuk mengacak rambut Amoera dengan gemas terlebih dahulu.


Brak!


Melihat pintu kamar mandi yang tertutup, Amoera segera membalikkan posisi baringnya menjadi terlungkup. Kaki Amoera menendang-nendang kasur tidak lupa dengan tangan yang mencengkram bantal kuat. "Gila, gila, gila!"


"Fix, dia suamiku."


⋇⋆✦⋆⋇ 


"Assalamu'alaikum warahmatullah... " ucap Abryne pada tahiyat akhir sebelum menolehkan kepala ke samping kanan.


"Assalamu'alaikum warahmatullah... " mendengar Abryne yang mengucapkan salam, Amoera segera mengikuti Abryne menoleh ke samping kanan setelah terlihat Abryne sudah menoleh ke samping kiri.


Abryne segera membalikkan badannya dan menunggu Amoera yang tengah menoleh ke samping kiri dengan bibir yang mengucap salam.


Setelah Amoera menyelesaikan solatnya, mata Amoera segera melihat Abryne yang kini juga tengah menatap matanya. Amoera segera menjulurkan tangannya berniat salim dengan Abryne, namun Abryne bukannya menyambut uluran tangan Amoera. Abryne malah menyembunyikan tangannya ke belakang yang membuat Amoera heran. "Kenapa?"


"Kita ngaji bareng ya."


Seketika bibir Amoera langsung merekah dan menatap Abryne kagum. "Iya."


Amoera dan Abryne segera mengambil Al-Quran yang tidak jauh dari mereka. Setelah mengambil Al-Quran, mereka segera duduk bersama dengan posisi yang saling berhadapan.


Sebelum memulai Abryne menatap Amoera lembut yang di balas Amoera dengan senyuman pipi yang merona.


"Surah apa?"


"Al-Baqarah."


Jawaban Abryne membuat Amoera merubah ekspresi nya dengan cepat menjadi datar, yang dibalas Abryne dengan sebelah alis yang terangkat. "Kenapa?"


"Kayaknya lebih enakan baca sendiri, Ryne."


"Astaghfirullah, kenapa?"


Amoera menatap Abryne dengan sinis lalu Amoera membuka Surah Al-mulk dan membacanya sendiri.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Apabila ada kesalahan, mohon diingatkan🙏

__ADS_1


__ADS_2