
"Abryne, sini gak!"
"Gak," Abryne mengangkat satu tusuk cilok ke atas.
"Ryne, sini. Mau diliatin."
Abryne melihat sekitar nya, dimana orang-orang yang berjalan melalui mereka dengan sebuah kikikan keluar dari mulut mereka.
"Biarin, yang malu kan kamu."
Amoera melototkan matanya tidak lupa kedua tangannya yang terangkat melakukan gerakan seakan-akan tengah meremas laki-laki didepannya. "Ngeselin banget ya kamu."
Abryne menunjukkan senyumnya. "Emang iya."
"Bodo amat!" setelah itu Amoera menghentakkan kakinya ke lantai kesal, lalu berjalan melewati Abryne dengan cepat menuju lift.
Abryne terkekeh geli melihat tingkah Amoera yang seperti anak kecil.
Didalam lift, Amoera melipat kedua tangannya didepan dada dengan mata yang menyorot Abryne tajam.
"Sayang,..... Hahaha," ketawa Abryne.
"Siying,.... Hihihi, CEPAT!!" teriak Amoera diakhir kata.
Orang-orang yang berada disamping Amoera berjengit kaget. "Santai mba," ucap salah seorang disana.
"Santai-santai noh dipantai!" semprot Amoera.
Orang yang terkena semprotan Amoera mengelus dada sabar, sedangkan orang yang melihat hanya diam kaku merasakan emosi Amoera.
Abryne yang baru masuk ke dalam lift dan melihat hal tadi hanya menggelengkan kepalanya seraya terkekeh geli. Setelah Abryne menekan tombol yang dituju, lift pun bergerak naik ke atas.
"Ngapain kamu ketawa hah?!"
"Ketawa ibadah, sayang."
"Senyum noh ibadah, kata dari mana ketawa ibadah hah?! Jangan ngadu-ngadu kamu!"
"Ngada-ngada, " ucap mereka serentak yang berada di lift termasuk Abryne juga.
Amoera menelan salivanya malu. "Saka-saka saya lah!"
"Suka-suka, sayang," koreksi Abryne.
"Nggak denger tadi, hah?!"
"Siap, denger!"
Amoera mengangguk lalu mengacungkan jempolnya ke depan wajah Abryne. "Good!".
Ting!
Amoera langsung melangkah pergi dari lift yang diikuti Abryne, namun sebelum itu ia membalikkan badannya dan menghadap orang-orang tadi yang masih berada di lift. "Maaf ya, istri saya lagi sensitif."
Orang-orang didalam lift tersenyum dan ada juga yang terkekeh. "Iya, kami maklumi."
Abryne mengangguk seraya tersenyum lalu ia membalikkan badannya dan menyusul Amoera yang sudah beberapa meter darinya.
"Sayang, tungguin."
"Cepet makanya!"
Abryne tetap melangkah dengan santai seraya terkekeh geli akan perilaku Amoera tadi yang terlihat seperti anak kecil. "Hahaha, it's my wife ahahaha."
Tawa Abryne mulai mereda ketika ia melihat orang-orang berpakaian hitam yang berada didepan pintu apartemennya. Orang-orang itu, Abryne kenal siapa mereka. Dalam sekejap, matanya beralih melihat Amoera yang mulai mendekati mereka.
Sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas dalam otaknya. Abryne membalikkan badannya, lalu kakinya melangkah menjauhi lokasi.
Tap tap tap
"Halo, ini ada apa ya? Kenapa kalian di depan pintu apartemen saya?" tanya Amoera.
Salah satu dari pria itu menatap Amoera dari atas kepala sampai bawah kakinya. Pria itu melirik ke arah teman-temannya yang dibalas anggukan oleh mereka. "Apakah anda kenal tu- orang yang bernama Abryne?"
Dahi Amoera menyerngit mendengar nama suaminya di ucapkan. "Ya, dia suami saya. Ada apa ya?"
Pria itu mengerutkan kening dan teman-teman pria itu menggelengkan kepala. "Suami?"
Amoera mengangguk.
Pria itu mengangguk. "Khem,... Maaf kami salah orang."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut para pria itu melangkah pergi dari hadapan Amoera. Sedangkan Amoera, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali seraya melihat kepergian mereka.
"Loh, Abryne mana?" sadar Amoera.
"Perasaan tadi dibelakang gue."
"Apa ada yang ketinggalan, terus dia balik lagi ya?" Amoera mengangguk dengan asumsinya itu. Setelah itu, ia membuka pintu apartemen.
Ceklek.
⋇⋆✦⋆⋇
"
Halo, nya."
"Mana orangnya? saya mau bicara dengan dia!"
"Khem, anu."
"Anu-anu? Ngomong yang jelas!"
"K-kita salah orang, ternyata orang yang kita tunggu orang yang berbeda dengan tuan muda," gugupnya.
"Maksud kamu?"
"Kita salah informasi nyonya, kita mendatangi orang yang bernama Abryne tapi orang itu berbeda dengan tuan muda. Hanya namanya saja yang sama, " jelas pria itu.
Dari seberang telepon terdengar suara gerusuh. "Akhhhh, kalian gimana sih kerjanya?! Nyari orang aja gak becus!" marah Erica.
Pria itu melihat ke arah teman lainnya, yang dibalas gelengan oleh mereka dengan tampang gusar.
"KALIAN CARI YANG BENER, CARI NAMA LENGKAPNYA BUKAN CUMA NAMA PANGGILANNYA DOANG!!"
"I-iya nyonya, kita akan mencari tuan muda lebih teliti lagi."
"Ck!"
Tut tutt.
Pria itu melihat ke arah temannya. "Kita cari tuan muda lagi."
"Ck, laper gue," ucap salah seorang pria.
Pria itu melihat ke teman-temannya dengan kerutan di dahinya. "Sama gue juga."
"Ahahaha," tawa mereka seraya melangkah pergi menuju lift.
Setelah kepergian mereka. Abryne yang bersembunyi di balik tembok menatap mereka dengan tatapan tajamnya sebelum pergi menyusul Amoera di dalam Apartemen.
⋇⋆✦⋆⋇
Amoera yang tengah membersihkan make up melihat Abryne datang dan mulai mendekatinya.
"Tadi kamu balik lagi ke bawah ya?"
Mendengar itu Abryne mengangguk kaku. "I-iya,.... Kenapa emangnya?" tanya pura-pura Abryne.
Amoera menghentikan kegiatannya lalu mengahadap Abryne dengan tampang serius. "Tadi didepan pintu apartemen ada tiga orang laki-laki, badannya besar-besar....-"
Abrye mengulum senyumnya ke dalam. Entah mengapa, ia merasa gemas dengan Amoera yang bercerita kepadanya. Abryne rasa saat ini ia tengah mendengarkan seorang anak kecil yang tengah bercerita kepada ayahnya.
Mengingat anak kecil, sebuah pemikiran terlintas dikepalanya.
"... - terus mereka bilang, kalau mereka lagi nyari yang namanya Abryne."
Mata Abryne seketika menatap mata Amoera dengan serius. "Terus?"
"Terus aku jawab, Abryne suami aku. Setelah mengatakan itu, mereka kan nanya lagi. Suami? Aku ngangguk, terus mereka bilang kalau mereka salah orang terus mereka pergi deh," setelah selesai bercerita, Amoera menyambungkan pekerjaannya tadi.
"Mereka langsung pergi gitu aja?"
"Iya."
Kedua sudut bibir Abryne terangkat.
Jadi, mamah belum tahu aku sudah nikah, batin Abryne dalam hati.
Dalam hitungan detik, dahi Abryne menyerngit dengan sorot mata yang mulai serius dan juga kedua tangannya yang mengepal.
Amoera yang melihatnya melalui cermin langsung bertanya ke arah Abryne. "Kamu kenapa? Aneh banget, tadi tiba-tiba senyum tiba-tiba lagi kek lagi marah."
__ADS_1
Mendengar ucapan Amoera, Abryne langsung menetralkan perilakunya dan mulai mendekatkan wajahnya ke arah Amoera. "Aku lagi mikir."
"Mikirin apasih sampai serius banget."
"Gimana kalau kita punya anak? Pasti nanti rumah kita jadi rame, terus nanti kamu gak kesepian lagi kalau aku pulangnya larut malam. Gimana?"
Dahi Amoera seketika menyerngit dan segala pemikiran terlintas di benaknya. "Eehmmm, kita tunda dulu punya anaknya yah?"
"Kenapa?" nada tidak suka langsung keluar dari mulut Abryne.
"Bentar lagi aku kan mau jadi artis, pasti nanti aku bakalan sulit ngurus anak dan ngulangin waktu buat dia," jelas Amoera.
"Kamu gak usah kerja, gak usah jadi artis. Biar aku saja yang kerja, kamu hanya tinggal ngurusin anak, suami, terus rumah!"
Amoera menggeleng keras, ia bangkit dari kursinya lalu menatap Abryne tak setuju. "Gak bisa! Aku pengin jadi wanita karir, gak mau jadi ibu rumah tangga kayak gitu!"
"Apa gunanya jadi wanita karir kalau gak bisa ngurus rumah, anak, suami?!"
"... "
Melihat keterdiaman Amoera, membuat Abryne tak tega. "Oke, aku setuju kamu jadi wanita karir. Tapi kamu janji, jangan terlalu mendalami pekerjaan itu. Dan kamu juga harus bisa nempatin posisi kamu menjadi istri sekaligus ibu kelak buat anak kita."
Amoera tersenyum mendengar itu. "Jadi, kita fiks tunda--"
"Tapi, aku mau jatah aku sebagai suami sekarang."
Amoera terdiam membisu mendengar ucapan Abryne. "Tapi-"
"Mau jadi istri solehah kan?"
Amoera terdiam lalu ia mengangguk.
"Jadi, kamu mau kan?"
Amoera mengangguk sekali lagi.
Abryne tersenyum. "Jawab sayang."
"Iya."
"Yang ikhlas, yang ridho."
Amoera menghela nafasnya, lalu ia maju mendekati Abryne dan mencium pipi pria itu, kedua tangan Amoera tidak lupa ia rangkul kan leher Abryne. "Iyaa, aku mau, aku ikhlas, dan aku juga ridho."
Abryne tersenyum senang, lalu ia mengecup ujung hidung Amoera. "Kita solat sunah dulu ya, baru itu. Tapi, kamu tau kan bacaan do'a nya?"
Amoera mengangguk dengan senyuman bangga.
"Apa coba? Aku pengin dengar."
"Bismillahirrahmanirrahim.
Bismillahi Allahumma jannibna as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaqtana."
Abryne mencubit ujung hidung Amoera gemas. "Solehah nya istriku, artinya tau?
Amoera menggeleng, melihat itu Abryne tersenyum. "Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami."
Amoera mengecup pipi Abryne. "Soleh nya suamiku."
"Ahahaha, pinter ya sekarang," tawa Abryne gemas.
"Gurunya siapa dulu?" tanya Amoera menggoda.
Abryne mencium kening Amoera. "Sudah-sudah. Kamu wudhu dulu gih."
Amoera mengangguk, lalu ia melepaskan lilitan tangannya yang berada di leher Abryne lalu berjalan melangkah menuju kamar mandi.
⋇⋆✦⋆⋇
Bersambung
Kegiatan selanjutnya dari mereka tidak usah kita bahas ya🙏
Bismillahirrahmanirrahim, disini saya sebagai penulis ingin menyampaikan apa yang saya ketahui sebelumnya dan semoga bisa jadi renungan untuk diri sendiri dan kalian para readers🖤 karena pemahaman saya yang takutnya kurang jelas, kemudian saya gali lebih lanjut alias search di gugel yang bersumber dari Viva.co.id. inshaAllah sumber ini benar, dan jelas.
Urusan ranjang bersama pasangan sudah semestinya hanya dikonsumsi kedua belah pihak saja sebagai pasangan suami istri. Jangan sampai dibicarakan atau bahkan diumbar kepada orang lain. Hal ini menjadi perhatian Rasulullah bahwa perilaku itu terlarang. Rasulullah SAW pernah bersabda dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim berikut ini.
"Paling buruknya kedudukan manusia di sisi Allah nanti di akhirat adalah orang laki-laki yang berhubungan badan dengan istrinya, lalu ia menceritakan rahasianya pada orang lain." (HR. Muslim)
Perbuatan mengumbar masalah ranjang suami istri kepada orang lain juga diibaratkan sebagai setan laki-laki dan perempuan yang tengah berhubungan intim. Rasulullah pernah berkata hal demikian dari hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad.
__ADS_1
Perlu diketahui bahwa sebagai pasangan suami istri, harus menjaga martabat satu sama lain serta menjauhkan dari perbuatan yang sia-sia. Tentu, mengumbar urusan ranjang kepada orang lain termasuk kegiatan yang sia-sia. Sebab itu, perbuatan mengumbar aib hubungan suami istri ini hukumnya adalah haram.
Viva.co.id.