
Perlahan mata yang semula tertutup terbuka dengan perlahan. Dahinya menyerngit melihat ke arah wanita yang sudah tidak asing dimatanya.
"Mah?" panggilnya pelan.
Wanita itu mengalihkan perhatiannya dari televisi ke arah suara. "Sudah bangun? Gimana rasanya?"
Abryne berusaha duduk dari posisi baringnya dan mulai bersandar pada kepala kasur. Tangannya bergerak memijit keningnya yang lumayan terasa pusing. Memori otaknya pun flashback ke kejadian sebelum ia pingsan. "Bryne butuh penjelasan mah."
Erica berjalan mendekati Abryne dengan tatapan lembut. "Kamu sekarang sudah besar ya nak?"
Abryne diam.
Wajah Erica mendekati wajah Abryne hingga berjarak 5 cm dengan wajah yang sama-sama datar. "Kenapa gak jawab? Gak bisa ngomong? Lupa caranya ngomong apa gimana? Mau mamah bantu ajarin lagi?"
Abryne menatap manik Erica. "Ya, Bryne sekarang sudah besar."
Seketika bibir Erica membentuk senyuman smirk lalu tangannya bergerak menepuk pipi Abryne beberapa kali.
"Sekarang juga sudah tambah pintar ya?-" Erica menjeda perkataannya disertai dengan tangannya yang menjalar ke rambut Abryne dan menariknya kuat-kuat.
"Aash."
"-Pinter ngelawan perintah! Punya apa kamu sampai berani ngelawan?! Jabatan polisi? Uang polisi?" Erica menatap remeh ke Abryne setelah melepaskan jambakan nya tadi.
"Semua itu, gak bakal mempengaruhi mamah. Kamu lupa? Mamah bisa saja ngebuat kamu keluar dari pekerjaan mu itu loh?"
Seketika Abryne langsung menatap tajam ke Erica. "Apa yang mamah mau?"
Bibir wanita itu terangkat tersenyum dingin. "Terima perjodohan ini."
Kepala Abryne menoleh ke arah lain enggan. "Sampai kapanpun, Abryne gak bakal nerima perjodohan gak guna ini."
"Jadi kamu mau keluar saja dari pekerjaan mu saat ini?"
Abryne diam.
Melihat reaksi Abryne yang hanya diam saja, membuat Erica tersenyum miring lalu tangan wanita itu bergerak menepuk beberapa kali ke atas kepala Abryne. "Mamah beri kamu waktu untuk menjawab."
Bola mata Abryne mengikuti pergerakan Erica yang berjalan ke luar kamar.
"HP kamu mamah simpan sampai kamu bisa memilih keputusan yang tepat," ucap Erica sebelum ia benar-benar keluar kamar.
Kedua bola mata Abryne membola mendengar itu. "M-mah--"
Brak, ceklek.
Pintu terkunci dari arah luar.
Prang!
"****!" umpat Abryne setelah tangannya dengan sengaja menjatuhkan lampu tidurnya.
Abryne bangkit dari kasurnya lalu berjalan menuju laci meja kerjanya. Ia mengambil satu bungkus batang rokok tidak lupa dengan koreknya.
Jarinya bergerak mengambil satu batang rokok dan ia arahkan ke mulutnya, setelah itu ia arahkan koreknya ke ujung rokok guna membakar rokok tersebut. Bibir Abryne bergerak kuat mengisap nikotin itu lalu ia hembuskan dengan kuat pula.
"Haaah!" asap-asap rokok mulai beterbangan dari mulut Abryne.
Abryne berjalan menuju tepi kasur dan mendudukkan dirinya disana. Ia pejamkan matanya dengan pikiran yang terbayang akan wajah Amoera.
"Hanya sebentar, tunggu aku."
__ADS_1
Mata Abryne terbuka kembali lalu ia menghisap nikotin rokoknya.
⋇⋆✦⋆⋇ ⋇⋆✦⋆⋇
Ckiiiit
Mobil yang Andi kendarai berhenti tepat di garasi rumah. Ia mulai keluar dari dalam mobil dan melangkah kan kakinya menuju dalam rumah.
Langkahnya berhenti saat ia sampai di dapur. Tangannya pun bergerak mengambil gelas yang lalu ia arahkan lagi ke arah dispenser.
Tap tap tap
Suara langkah kaki yang sangat familiar membuat Andi mengalihkan perhatiannya.
"Tumben mamah sudah di rumah jam segini?"
Erica tersenyum hangat. "Mamah pengin istirahat, cape diluar mulu."
Dahi Andi menyerngit tak percaya namun ia tetap mengangguk, perhatian Andi kembali ke arah gelasnya yang mulai penuh terisi air dan ia segera menghentikan aliran dispenser tersebut.
Tangannya bergerak mengarahkan gelas ke mulutnya.
"Wisuda mu kapan nak?" tanya Erica seraya jari tangannya yang bergerak mengupas kulit jeruk.
"Hari sabtu besok mah," jawab Andi setelah selesai minum dan meletakkan gelasnya didalam wastafel.
Erica mengangguk. "1 minggu lagi dong?"
"Iya," Andi mendekati meja dan tangannya bergerak mengambil apel.
"Mah, aku kekamar dulu ya."
Erica mengangguk. "Iya, langsung tidur jangan main hp."
"Kamu itu masih kaya anak kecil di mata mamah."
Andi diam tak menjawab, ia tetap fokus pada langkahnya menuju kamar. Ia terus melangkah dan melewati kamar pintu hitam.
⋇⋆✦⋆⋇
Pukul 18.30
Andre pulang dari kantornya dengan setelannya yang masih melekat. Entah mengapa hari ini terasa begitu sibuk dari hari sebelumnya.
Andre mengendurkan dasinya yang terasa sesak di leher.
"Sini aku bantu mas," ucap Erica yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya.
Andre mengangguk menjawab setelah itu tangan Erica mulai melepaskan ikatan dasi itu.
"Andi dimana?"
"Dikamar, kenapa nyariin?"
Andre menatap Erica geli. "Loh, wajar dong kalo ayahnya nyariin anaknya yang gak keliatan. Emang aneh?"
Erica tertawa malu. "Hahaha, gak aneh si."
Andre ikut tertawa lalu wajahnya mendekati kening Erica dan menciumnya disana. "Kamu sudah makan?"
"Kalau kamu gimana mas, sudah makan?" tanya Erica balik.
__ADS_1
Kepala Andre menggeleng. "Kebiasaan ya kalau orang nanya ikut nanya, aku belum makan laper sayang," wajah Andre dibuat merajuk.
Erica mencubit hidung Andre. "Sudah tua masih saja manja, ayo makan nanti magh kamu kambuh lagi," Erica menarik tangan Andre menuju dapur.
Andi yang tengah menuruni tangga melihat itu hanya bisa diam lalu ia memutar badannya kembali menuju kamarnya.
Ceklek ceklek ceklek
Dugh dugh dugh
Kepala Andi menoleh ke arah pintu warna hitam, tepatnya kamar sang kakaknya.
Dahi Andi menyerngit. "Abang dirumah?" gumamnya pelan.
Kaki Andi melangkah mendekati pintu lalu telinga ia dekatkan ke pintu. "Bang?"
"... "
Tidak ada jawaban apapun, tangan Andi bergerak ke pegangan pintu dan ia gerakan ke atas bawah. "Dikunci?"
Bibir Andi melipat ke dalam. "Perasaan gue gak enak."
"Abang kalau didalam jawab bang! Abang!"
"..."
"Khem, iya ini gue ndi."
Andi bernafas lega. "Untung bukan maling," gumamnya sekali lagi.
"Abang ngapain gedor-gedor pintu? Pintunya kan abang kunci."
"..... Bantuin abang mau gak ndi?"
Andi diam berfikir. "Apa bang?"
"Tolong kamu pergi ke apartemen mawar kamar 125."
Andi diam tak menjawab.
"Ndi? Andi? Andi kamu mau kan? Plis ndi bantuin abang."
"Kenapa abang gak sendiri saja yang kesana?"
".... Abang gak bisa keluar sekarang ndi, tolong ya?"
"Mamah yang ngunci abang?" tanya Andi paham.
"....Plis ndi, kamu mau kan? Kalau kamu mau, abang bakal ngelakuin apapun keinginan kamu ndi."
Sudut bibir Andi terangkat. "Oke! Gue setuju, jadi gue kesana buat apa bang?"
"Kamu bilang sama orang yang disana, cewek. Katakan pada dia kalau saya ada tugas ke luar kota, jadi beberapa hari saya gak pulang."
Dahi Andi menyerngit mendengar itu. "Serius lo bang? Gue bilangin itu ke dia?"
"Iya gue serius bilangin ke dia dan kalau dia tanya kamu siapa, bilang saja kamu rekan kerja abang, paham kan?"
Andi mengangguk. "Oke."
⋇⋆✦⋆⋇
__ADS_1
...-Bersambung-...