Antara Cinta Dan Restu

Antara Cinta Dan Restu
Tertangkap


__ADS_3

Di sebuah ruang rapat.


"Bagaimana dengan Ryco Sebastian sebagai pemeran utama laki-laki dan juga Sysila Primata?" ucap Mita, seorang karyawan di perusahaan X-Entertraiment.


Semua orang yang berada di ruang rapat mengangguk setuju atas usulan Mita.


"Berikan alasannya?"


Mita mulai melihat layar tab nya. "Akhir-akhir ini, Ryco Sebastian dan juga Sysila Primata menjadi tranding topic di kalangan pemuda dan juga para ibu rumah tangga. Mereka sering disebut sebagai couple pasangan yang serasi atas drama lalunya, Sang Buaya Jatuh Cinta. Selain itu, mereka memiliki akting yang sangat baik dan juga bagus dalam mendalami perannya. Jika kita menggunakan mereka, bisa dipastikan drama kali ini menuai banyak pujian dan mendapat rating tinggi."


Andre mengangguk. "Bagaimana pendapat kalian?"


"Kami setuju pak," ucap para karyawan disana.


"Baik, lalu pemeran pembantu?"


"Amoera Vetyani," ucap seorang pria.


⋇⋆✦⋆⋇ 


"Kamu mau kemana?" tanya Amoera yang melihat Abryne berjalan keluar pintu Apartemen.


"Kerja."


Mata Amoera membola beberapa saat sebelum menyipit. "Jam segini baru berangkat? Aku heran sama kamu, ngakunya jadi polisi, tapi sering punya waktu luang. Kamu beneran polisi atau bukan si?" curiganya.


Abryne mulai mengambil sandalnya di rak. "Aku polisi istimewa, kamu gak salim sama suami?"


Tiba-tiba bibir Amoera bergerak seperti mau muntah. "Howek."


Melihat itu, Abryne langsung berlari ke Amoera dengan sandal yang masih terpakai. "Kamu kenapa? Hamil?"


Mata Amoera melotot. "Heh! Jangan ngada-ngada kamu!"


Bibir Abryne cemberut. "Siapa yang ngada-ngada, kita kan sudah bekerja--"


"Baru juga tadi malam, aneh kamu."


"Ta-"


"Kita sudah setuju buat nunda, kamu jangan lupa."


"Tapi tadi malam aku gak janji sayang."


Amoera menginjak kaki Abryne keras. "Jawab tross!"


Setelah itu, Amoera pergi melangkah menjauh kesal. "Sayang aku gak janji!"


"Bodoamat, sudah minum kb juga."


"Aaaa sayanggg."


"Dihh, suara apantuh. Kek banci."


"Astaghfirullah, jahad! "


"Jihidd, berangkat sana! Rusuh bener dah."


Abryne melangkah lesu ke arah pintu.


"Pulang nanti, sandalnya pel!"


Abryne menoleh terkejut. "Eh?"


⋇⋆✦⋆⋇ 


"Amoera Vetyani," ucap seorang pria.


Andre terdiam beberapa saat. "Alasannya?"


Pria itu menunjukan sebuah laman insta*ram, sebuah profil ia tampilkan disana.


Sebelah alis Andre terangkat.

__ADS_1


"Bisa dikatakan orang ini belum pernah membintangi sebuah film apapun, akan tetapi dia sudah cukup terkenal dan diminati kalangan masyarakat sekarang--"


"Pak, saat ini kita membutuhkan seorang artis yang dapat berakting dengan baik dan bisa memikat penonton. Apa bapak jamin, orang ini bisa melakukannya?"


"Saya yakin pak, dia bisa."


"Jaminannya?"


Pria itu terdiam berfikir. "Saya tidak menyutradarai projek ini."


⋇⋆✦⋆⋇ 


Pukul 15.00


Mata Amoera kini fokus pada layar didepannya, sesekali ia mengikuti ekspresi yang ditampilkan dan pola pengucapan di film tersebut.


Trett... trettt..


Kepala Amoera menoleh melihat handphonenya yang berbunyi, kemudian ia mengambil handphone tersebut dan jarinya menggeser ikon berwarna hijau.


"Halo?"


"Assalamu'alaikum sayang."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, ada apa?"


"Pulang nanti mau aku bawain sesuatu gak?"


Kening Amoera berkerut, berfikir. "Pengin rujak, nanti beliin ya?"


"Kaya orang hamil aja, jangan-jangan emang-"


Tut--


Amoera mematikan terlfonnya sepihak. "Hamil, hamil, kecebong lo udah gue tahan pakai kb ya, ngebet banget perasaan. Lo pikir enak punya anak hah?" dumelnya.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Tut-


Mendengar suara telepon yang dimatikanAbryne menjauhkannya dari telinga dan meletakkan dengan keras di meja. "Belom selese ngomong pake dimatiin! Bininya sape si, pengin tak hiiih!"


Tok tok tok


Suara pintu yang diketuk dari luar membuat Abryne bertanya-tanya. "Masuk!"


Ceklek


Bima memasuki ruangan Abryne dengan sebuah dokumen di tangannya.


"Tumben ketuk pintu," sindir Abryne.


Bima cengengesan. "Sama atasan harus lebih hormat sekarang."


Bola mata Abryne memutar. "Ada apa?"


Bila meletakkan dokumennya di atas meja Abryne. "Nih ngasih lo dokumen, oh ya didepan tadi katanya ada yang nyariin lo tuh."


Abryne menyerngit. "Siapa?"


Wajah Bima sekarang berubah serius. "Kamu nanyeaa?"


Mendengar itu, Abryne mengambil handphone nya mencari kontak seseorang dan melakukan panggilan.


"Halo mas Abryne, ada apa?"


Bima mendengar suara yang tak asing matanya melotot. Sedangkan Abryne ia tersenyum mengejek Bima. "Pak Bima tadi habis makan sama ce-"


Sret!


"Baby, i'm miss you, " ucap Bima setelah berhasil mengambil handphone milik Abryne.


"Saya gumoh pak, " bisik Abryne.

__ADS_1


Sedangkan Bima melotot lalu ia pergi meninggalkan ruangan Abryne, saat sudah keluar dari pintu jari tengah Bima mengacung ke arah Abryne.


Abryne yang tercengang akan kelakuan Bima geleng kepala. "Handphone nya nanti kembaliin pak! Itu iPhone, jangan sampai lecet!" teriak Abryne.


"Hahaha," Abryne tertawa lucu beberapa detik sebelum ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke luar ruangan dengan ekspresi datar.


Ia terus berjalan sampai didepan seorang pria berbaju serba hitam, orang ini adalah orang yang berada di depan apartemen tadi malam.


Dihalaman kantor polisi.


"Kalian kesini atas perintah siapa? Mama?"


Orang itu mengangguk. "Betul Tuan, apakah Tuan bersedia saya bawa ke depan nyonya?"


Abryne berdecih. "Cih, kau pikir dengan bertanya-"


Bugh!


"Sial!"


Tengkuk Abryne telah dipukul oleh seorang pria lainnya namun pukulan itu tidak mempan untuk seorang Abryne, dengan gerakan cepat Abryne berbalik menyerang pria itu.


Pria yang baru saja berbicara dengan Abryne segera mendekati Abryne dengan sebuah jarum suntik. Disaat Abryne sibuk berkelahi, pria itu menggunakan kesempatannya untuk menyuntikan obat bius kepada Abryne asal.


Cuzz...


Pria itu berhasil menyuntikkannya di punggung Abryne.


"Brengs*k!"


Abryne menoleh dengan tatapan tajam sebelum benar-benar pingsan.


Tubuh Abryne merosot ke bawah dan dengan sigap pria-pria itu menangkap Abryne sebelum jatuh ke lantai.


Salah satu pria melihat sekeliling, memastikan tidak ada seorang pun yang melihat mereka. Dirasa aman, pria itu mengangguk kepada rekannya lalu mulai membawa Abryne kedalam mobil.


⋇⋆✦⋆⋇ 


"Sebentar lagi kalian akan melaksanakan graduation, jadi mohon persiapkan kalian," setelah mengatakan hal tersebut, dosen itu pergi meninggalkan kelas.


"Wahh, gak nyangka kita sampai dititik ini, di titik yang paling ditunggu-tunggu. Asal lo tau ndi, gue rasa otak gue sudah kemebul ngerjain skripsi yang gak ada habisnya."


Andi diam seraya memasukkan buku-buku yang berada di meja ke dalam tas.


Orang itu melihat Andi. "Kita butuh refresing nih ndi, kuy kepantai."


"Bosen."


Orang itu mencebikkan bibirnya. "Nge gunung gimana?"


"Itu apalagi."


"Camping?"


"Banyak nyamuk malam."


Pak


Orang itu menggeplak kepala Andi. "Gak beres lo, terus kemana?"


Andi berdecak tak suka. "Ck, gue gak butuh refreshing, gue mau dirumah saja Ren."


Orang yang dipanggil 'Ren' alias Reno itu tercengang dengan jawaban Andi. "Yakin lo?"


Andi mengangguk lalu mulai melangkah pergi meninggalkan kelas yang diikuti Reno. "Yang bener ndi?"


"Iya, bener."


"Tumben?"


Andi menghiraukan Reno dan ia tetap fokus pada langkahnya menuju parkiran.


⋇⋆✦⋆⋇ 

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2