Antara Cinta Dan Restu

Antara Cinta Dan Restu
13. Aku-Kamu


__ADS_3

"Aku mau tanya boleh?"


Abryne memutar kedua bola matanya bosan. "Jangan mulai, by. "


Amoera menggeleng. "Enggak, enggak, enggak! Dengerin aku dulu."


Abryne mengangguk. "Okay."


"Kenapa kamu nikahi aku? Padahal kita baru aja ketemu."


Abryne membaringkan tubuhnya disofa dengan paha Amoera yang menjadi batal. "Kayaknya kamu lupa kejadian waktu itu."


Dahi Amoera menyerngit bingung. "Kejadian apa?'


"Waktu itu... "


Flashback on


3 tahun lalu.


Brak...


Deg... Deg... Deg...


Abryne yang tengah berdiri di trotoar dengan seragam lengkapnya menatap terkejut pada kecelakaan yang terjadi didepannya. Detak jantungnya tiba-tiba berdetak cepat, namun Abryne mengabaikan ritme tersebut dan segera berlari menuju tempat kejadian.


Sebuah motor matic berwarna merah bertabrakan dengan motor ninja berwarna hitam yang berbeda jalur dengan motor matic merah.


Seorang gadis yang mengendarai matic merah bangkit dari posisi jatuhnya dengan lutut kaki kanan tangan kanan dan juga pipi kanan gadis itu terlihat terluka.


Deg... Deg.. Deg...


Abryne yang melihat segera mempercepat larinya menuju gadis tersebut. Namun, gadis itu terus melangkah mendekati pria pengemudi motor ninja dan menatap marah pengemudi tersebut. "BAWA MOTOR YANG BENER DONG MAS!"


Pengemudi itu mendongak menatap si gadis lalu ia ikut bangkit dari posisi jatuhnya. "SEHARUSNYA LO YANG BENER BAWA MOTOR LO! NGAPAIN NGEBUT DI JALAN HAH?"


"NGACA DONG MAS! MAS YANG NGEBUT! LIHAT LAMPU MERAH DI JALURNYA MAS NGGAK SIH?!"


Keributan akibat kecelakaan tersebut mengundang banyak perhatian pengendara. Apalagi ditambah melihat seorang polisi yang mendekati mereka dengan berlari.


"LO JANGAN MUTAR BALIKAN FAKTA YA! SUDAH JELAS SALAH MALAH NYALAHIN ORANG LAGI! DASAR CEWEK KALO DISALAHIN NGGAK MAU,--"


"HEH, MAKSUDNYA APA NIH? KENAPA MASNYA MALAH NYALAHIN SAYA?"


"Prit-prit!" Suara peluit terdengar di telinga mereka, namun mereka tetap mengabaikan peluitan tersebut.


"GANTI RUGI LO! LIHAT, KAN!BANYAK YANG RUSAK DI MOTOR GUE AKIBAT LO!! " Pengendara itu yang beridentitas pria menunjuk badan motor ninja nya yang rusak.


Dan gadis itu melihat badan motor ninja pria itu, namun gadis itu segera melihat motornya yang masih berbaring di jalan dengan spion kanan yang sudah hilang dan juga bagian kanan yang sudah di pastikan lecet. "MASNYA JUGA LIHAT MOTOR SAYA DONG! LIHAT KAN?"


"Prit-prit!"


"BERHENTI KALIAN! CEPAT PINGGIRKAN MOTOR KALIAN, SEBELUM SAYA ANGKUT KE KANTOR POLISI! " Teriak Abryne dengan kerasnya.


Gadis dan pria itu melihat polisi yang berada di jarak sangat dekat dengan mereka segera mengikuti perintah polisi tersebut.


Abryne menatap mereka dengan tatapan murka. Melihat gadis itu yang terlihat kesusahan mengangkat motornya membuat Abryne segera bergerak membantu gadis tersebut.

__ADS_1


Gadis tersebut tersenyum sungkan kepada polisi yang didepannya kini. "Makasih."


Abryne menatap gadis didepannya dengan datar dan tidak ada niatan sedikitpun menjawab ucapan tersebut. Sedangkan, gadis itu yang tidak mendengar jawaban dari polisi didepannya langsung terasa kikuk sendiri.


3 menit kemudian, motor-motor itu sudah berada di trotoar begitu juga sang pemilik motor.


"KTP kalian sini! " Perintah Abryne dengan sebuah buku kecil di tangannya.


Mereka menyerahkan KTP mereka kepada Abryne yang tentu saja langsung di terima oleh Abryne.


"Agus Sandego... Amoera Vetyani..," gumam Abryne setelah membaca nama mereka di ktp.


"Mas Agus, kenapa anda menerobos lampu merah?"


"Saya lagi buru-buru pak."


"Kalau mbaknya?"


"Loh? Saya kan wajar pak. Lampu jalur saya lampunya warna hijau, bukannya ngebut tak masalah?"


Abryne menatap Amoera tidak setuju. "Tidak begitu mba, mbak harus tetap menjalankan kendaraan dalam kecepatan rata-rata--"


"Nggak bisa gitu dong pak, kalau saya jalanin motor di angka rata-rata. Saya bisa telat masuk kuliah pak."


"Diatas rata-rata sedikit tidak papa. Tapi tadi saya lihat mbaknya ngendarain nya--"


"Pak--"


"Eh lo, jangan motong ucapan pak polisi terus. Kasih kesempatan polisinya--"


Amoera dan Agus menatap Abryne tidak setuju. "Nggak! Atas dasar apa pak? Kenapa kita didenda?" Amoera mengangguk.


"Kalian bikin saya pusing, ngganggu  jalannya lalu lintas. Sudah cepat sini uang dendanya dan kalian cepet pulang, obatin luka-lukanya. Kalian aneh, nggak kaya orang lain. Orang tu ya kalo habis kecelakaan nangis-nangis atau nggak langsung benerin motor dan berusaha bisa pulang eh ini yang ada malah ribut. "


"Pak polisi crewet, " celetuk Amoera yang dibalas Abryne sinis.


Agus yang sudah tidak mau berurusan lebih panjang langsung mengambil uang 100 ribu di dompetnya dan memberikannya pada Abryne. "Sudahkan pak?"


"Iya, mana kamu?" Tanya Abryne pada Amoera.


"Saya pamit pak, permisi. "


Abryne segera menatap Agus dan menyodorkan KTP. "Bentar dulu, ini KTPnya. "


Agus segera menerima ktp-nya dan segera menaiki motornya dan menjauh dari Abryne dan juga Amoera.


"Bentar... "


Amoera merogoh tasnya menggunakan tangan kiri mencari dompetnya, namun nihil. Jari-jari telapak tangannya tidak merasakan sebuah benda persegi panjang dengan sebuah hiasan-hiasan yang menyentuh kulit nya


"Loh, sek sek. Ko ngga ada ya? "


Abryne menatap Amoera yang terlihat kebingungan. "Kenapa mba?"


Amoera berfikir sejenak setelah itu, Amoera mendongak menatap Abryne. "Maaf Pak, dompet saya ketinggalan, hehe."


Abryne menghela nafasnya.

__ADS_1


"Pak, boleh minta tolong, " tanya Amoera tiba-tiba.


"Apa?"


"Bantu saya anter pulang pak, saya kesulitan ngendarainnya.... Bapak kan tahu sendiri," ucap Amoera dengan rasa malu yang ia pendam sementara.


Abryne melihat luka-luka Amoera yang berada di kaki, tangan dan pipi gadis didepan nya. "Baru sadar lukanya mba? Mbak aneh--"


"Pak ini sakit loh, Bapak ngritik saya mulu dari tadi perasaan."


Abryne menghela nafasnya kembali, lalu berjalan mendekati Amoera dan mengangkat Amoera guna mendudukkan nya di jok belakang motor.


Amoera menatap wajah Abryne dengan ekspresi terkejutnya. Sedangkan Abryne, ia menampilkan ekspresi yang biasa-biasa saja.


Flashback off


"Serius? Jadi yang dijembatan itu bukan waktu pertama kita meet?"


Abryne bangkit dari posisi berbaring nya lalu ia mengambil apel yang berada di meja dan mengarahkan ke mulutnya.


"Tapi aku masih nggak paham, kenapa kamu menikahiku? Kita nggak saling kenal dan waktu itu kita hanya sebatas pertemuan doang."


Abryne menggeleng dengan mulut yang masih berusaha menelan apel kedalam perutnya. "Sebelum kejadian itu, saya solat istikharah. Minta petunjuk sama Allah--"


"Soal jodoh?" tanya Amoera dengan ekspresi kaget.


Abryne mengangguk dengan enteng.


Amoera menggeleng tidak percaya. "Kayaknya aku nggak paham. Ceritain yang lebih jelas lagi Ryne."


Abryne tersenyum lalu mengacak rambut Amoera. "Omong-omong saya suka, akhir-akhir ini kamu jadi sering ngomong sama saya 'aku-kamu'," alih pembicaraan Abryne.


Amoera memasang wajah kesal dengan tangan yang merapihkan rambutnya. "Asal lo tau ya, gue nggak suka lo ngomong formal sama gue."


Abryne menyerngit tidak suka mendengar Amoera yang kembali bicara lo-gue padanya.


"Gue bakal ubah cara bicara gue, asal lo berhenti ngomong sama gue pakai 'saya-kamu' gue berasa jadi temen kantor lo bukan sebagai istri."


Seketika Abryne memasang wajah ragu.


"Kenapa? Nggak bisa? "


Abryne menggeleng. "Bisa kok, bisa."


"Coba, coba," wajah Amoera mendekati wajah Abryne dengan tampang serius.


"Ak-ku, nanti malam kamu langsung tidur. Jangan tungguin sa- ee- ak-ku pulang," selesai mengatakan hal tersebut, Abryne langsung bangkit dari duduknya dengan tubuh dan wajah yang terlihat kaku.


Sedangkan Amoera menatap kepergian Abryne dengan wajah heran. "Wajahnya kenapa?"


Abryne berjalan menuju belakang tembok yang membatasi ruang keluarga dengan dapur. Ia berdiri di tembok dengan tangan memegang dada sebelah kiri.


"Dekat banget," ucapnya.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Paham tak?

__ADS_1


__ADS_2