
Taman Apartment
Amoera kini tengah membungkukkan badannya di samping tanaman bunga, tidak lupa dengan pose dua jari di samping wajah.
"Sudah belum? Pegel nih!" ucap Amoera menampilkan raut kesalnya, setelah itu ia menurunkan posenya dan berjalan menuju sang fotografer.
Cekrek!
Mata Amoera melotot, firasat Amoera mulai menjadi aneh sekarang dan ia segera mendekati fotografernya.
"Hasil foto nya bagus nggak?" tanya Amoera ragu.
Orang itu menyerahkan handphone yang di gunakan untuk memfoto ke Amoera, dan Amoera segera menerima hp tersebut. Melihat hasil fotonya, mata Amoera kembali melotot.
Abryne yang merupakan forografer sementara menatap ekspresi Amoera yang berubah setelah melihat fotonya. "Kenapa?"
Abryne yang ingin berpacaran dengan Amoera membuat nya tidak pergi ke kantor polisi dengan alasan mempersiapkan diri untuk misinya nanti malam.
Amoera menoleh menatap Abryne sengit. "Nggak ikhlas banget fotoin nya," sindirnya
"Su'udzon banget sama suami."
"Bukan su'udzon, tapi emang bener kan!?"
"Mana buktinya kalo saya nggak ikhlas?"
"Nih!" Amoera memberikan handphone nya ke Abryne.
"Kenapa burem semua fotonya!?"
Abryne melihat kembali hasil jepretannya.
"Fotonya jelas nggak burem, burem dimana nya?" tanya Abryne lembut.
Kepala Amoera ia dekatkan pada layar, lalu menunjuk bagian foto-fotonya yang burem. "Ini, ini, ini, ini, ini, ini."
Cup.
Abryne mengecup rambut Amoera yang berada di depan wajahnya lalu jari tangannya menggeser layar menunjuk foto yang burem di bagian wajah. "Kenapa yang ini saya liatnya jelas?"
Seketika Amoera mendongakkan kepala, sehingga membuat wajah mereka saling berhadapan dan membuat mereka dapat melihat dengan jelas wajah lawan bicara mereka.
"Kumisnya dicukur ih," celetuk Amoera
Setelah itu, Amoera melangkah menjauhi Abryne dengan kedua tangan yang memegang kedua pipinya tidak lupa dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Abryne memegang bagian bawah hidungnya dan ia merasakan sebuah helai kasar disana. "Perasaan baru kemarin saya cukur, kenapa cepat banget tumbuhnya?" gumam Abryne dengan dahi yang berkerut.
Meong..
Mendengar kucing mengeong, kesadaran Abryne muncul dan ia melihat Amoera yang sudah jauh dari tempatnya berdiri.
"Sayaanggg! Heee! Saya ketinggalaann!" teriak Abryne dengan kencang.
Drtt... Drtt
Abryne yang berniat akan lari mengejar Amoera tertunda karena sebuah dering telefon ia rasakan di kulitnya.
Abryne mengambil handphonenya yang berada di saku celana dan melihat nama kontak si pemanggil. Setelah melihat nama pemanggil bibir Abryne terlipat kedalam dengan bola matanya yang bergerak tak menentu.
Huft...
Setelah menenangkan diri, jari jempolnya menggeser keatas logo telfon yang berwarna merah.
"Halo."
"Hem."
__ADS_1
"... "
Tangan kanan Abryne ia taruh di pinggang dengan tangan kiri yang memegang ponselnya.
"Gimana kabar kamu?"
"Baik."
"Hahaha!" suara kekehan sinis terdengar dalam pendengaran Abryne.
"Kalau begitu, kamu pulang sekarang!"
"Tidak, Abryne tidak bisa pulang sekarang, banyak tahanan yang--"
"Kelamaan disana membuat kamu jadi mulai mbantah sama perintah orangtua ya."
Abryne menghela nafasnya dan berdecak kecil. "Mahh... Abryne--"
Tut.. Tut.
"Sial!" Abryne menendang krikil didepan kakinya lalu mengacak rambutnya kesal. Abryne menduga keluarganya mengetahui perihal pernikahannya. Memang sangat kemungkinan kecil keluarganya tidak mengetahui pernikahannya sebab ia melakukan live inst*grm saat melakukan itu.
Namun, tidak Abryne duga ia akan disuruh pulang secepat ini, disaat ia belum siap menjelaskan apapun. Sekarang ia harus bagaimana?
"RYNEEEE!!" teriakan Amoera yang memanggilnya membuat Ia mengalihkan perhatian. Abryne melihat ke depan sana, dimana Amoera yang melihat dirinya dengan kedua tangan yang berada di pinggang dan kedua kaki yang terbuka sedikit lebar. Melihat hal tersebut membuat nya terkekeh kecil, menurutnya Amoera terlihat lucu dengan posisi tersebut.
Sebelum berlari mendekati Amoera, Abryne menghela nafasnya terlebih dahulu dengan maksud menghilangkan perasaan beban yang sedang dirasakan. Setelah dirasa tenang Abryne segera berlari menghampiri Amoera dengan senyum manisnya.
"Ngapain sih berdiri disana sendirian, kaya orang linglung aja," tanya Amoera.
Abryne yang memang sudah didepan Amoera segera menyentil bibir gadis itu. "Kebiasaan! Ngomong nggak sopan sama suami kayak gitu lagi."
Amoera mengerucutkan bibirnya. "Tapi kan emang bener, kamu disana sendirian, kaya orang linglung!"
"Sama suami nggak boleh kayak gitu, apalagi kalau kamu sampai menyakiti hati suami. Inget ridho suami ridho Allah," nasihat Abryne.
Melihat Amoera yang terus menundukan kepala, membuat Abryne segera menangkup kan wajah Amoera dan mengarahkannya ke depan wajahnya, sehingga kini ia dapat melihat wajah Amoera dengan jelas.
Entah kenapa saat melihat Amoera yang terus menundukan kepala, dirinya merasakan perasaan tidak nyaman sehingga membuat Ia melakukan hal tersebut.
Namun, saat melihat wajah Amoera yang seperti tengah menahan tangis membuat nya kebingungan dan juga cemas, cemas-- karena Ia takut Amoera tengah menahan sakit sehingga membuat Amoera ingin menangis namun ditahan.
"Kenapa? Ada yang sakit?" khawatir Abryne.
Amoera menggelengkan kepalanya. "Terus kenapa?"
Amoera mulai menjelaskan dengan hidung yang memerah dan juga mata yang berkaca-kaca. "Kamu nasehatin aku kayak tadi karena kamu sering sakit hati sama aku ya?" tanya Amoera dengan suara bergetar.
"Tapi kan itu salah kamu juga! Kamu nggak tanya dulu kalau kamu mau nikahin aku, asal kamu tau ya. Aku belum sepenuhnya percaya kalau kita suami istri, kalaupun percaya aku lagi dalam proses menerima. " lanjutnya.
Mendengar kalimat-kalimat yang Amoera lontarkan Abryne tertegun beberapa saat.
"Kok diem? Pasti iya kamu sering merasa sakit hati sama aku! Hweeeeehehehehikss, maaaf."
Melihat reaksi Amoera yang diakhiri dengan suara yang membingungkan membuat Abryne kebingungan. "Kamu nangis apa lagi ketawa?"
Amoera yang mendengar hal itu tentu membuat nya kesal. "NHAANGISSSS! HWEEEEHEHEHEHEEEEHIKSSSROTT," tangis kencang Amoera.
Orang-orang yang berlalu lalang melihat hal tersebut membuat mereka menatap Abryne dengan tatapan menuduh.
Sedangkan Abryne yang menyadari reaksi mereka segera mendekap Amoera kedalam pelukannya. "Cup cup cup, sayangg. Jangan nangis, iya nanti kita beli kepiting. Cup cup."
Orang-orang yang berlalu lalang mengangguk paham dengan konflik mereka, ternyata mengenai kepiting pikir orang-orang berlalu lalang.
Mendengar Abryne mengatakan hal tersebut, membuat Amoera seketika terdiam didalam pelukan Abryne dan memasang ekspresi datar. "Kepiting, buat apa?"
"Loh, sudah lupa? Katanya kamu mau masak kepiting."
__ADS_1
"Nggak pernah lupa kalau gue nggak suka kepiting," setelah mengatakan hal tersebut ia mendorong Abryne dengan kekuatan nya, sehingga membuat pelukan Abryne terlepas begitu saja. Ia menatap sinis Abryne beberapa saat sebelum kembali berjalan meninggalkan Abryne.
Abryne menggaruk belakang kepalanya dengan asal. "Maaf, saya tidak tahu."
⋇⋆✦⋆⋇
Melihat Amoera yang tengah melipat baju di depan tv membuat Abryne segera melangkah mendekati Amoera dan duduk dibawah sofa tepatnya dibawah sofa tempat duduk Amoera.
Abryne melakukan hal tersebut karena Ia melihat Amoera yang melipat silang kaki di sofa dan membuat nya ingin duduk didepan Amoera walaupun dibawah.
"Ngapain duduk disitu?" tanya Amoera.
"Suka-suka."
"Dih, ngeselinnya mulai muncul," sindir Amoera.
Abryne mengangkat bahunya acuh kemudian ia mulai fokus pada sinetron didepannya dengan sebuah toples yang berisi kacang dipangkuannya.
15 menit berlalu dan kini sinetron tersebut berganti menjadi iklan.
Abryne melihat Amoera yang sudah selesai melipat pakaian segera merebahkan kepalanya ke belakang, sehingga membuat kepalanya jatuh di pangkuan Amoera.
Amoera yang peka segera mengelus rambut Abryne.
"Amoera?"
Amoera menyerngit dahinya, ia merasa aneh Abryne memanggilnya dengan nama aslinya. "Tumben manggil gue pakai nama."
Abryne tersenyum. "Nggak dulu."
"Kenapa?"
"Saya pengin, kalau kamu lagi ngomong sama saya jangan pake lo-gue," alih Abryne.
Amoera segera mengelak. "Nggak bisa!"
"Kenapa? Ditaman tadi kamu bisa ngomong sama saya nggak pakai lo-gue, kenapa sekarang nggak bisa?"
Amoera terdiam beberapa saat sebelum sebuah dering telefon terdengar.
Drt.. Drt..
Abryne dan Amoera melihat ke arah meja dimana kedua ponsel mereka berada. Melihat hp ber casing hijau menyala dan bergetar membuat mereka tahu pemilik siapa hp tersebut.
Amoera segera bangkit dari duduk nya dan mengambil hp nya. Melihat nama si pemanggil membuat dirinya senang dan segera Ia mengangkat telfon tersebut.
"Halo?"
"Kenapa baru nelfon?! Vetya kemarin nelfon kenapa nggak diangkat juga!? Padahal Vetya sudah kangen banget, hikss," tanya Amoera runtut disertai tangis rindu.
Abryne melihat Amoera menangis segera bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekati Amoera, Ia memeluk gadis itu dan membawanya menuju sofa.
"Maaf sayang, kita nggak mau nganggu acara bulan madu kalian."
"Hikss, hikss, hikss. Vetya butuh penjelasan dari kalian!"
⋇⋆✦⋆⋇
Do you remember with Vetya?
Vetya nama panggilan Amoera dari keluarga, sahabat. Sedangkan vetyy nama panggilan yang ia buat untuk para followers nya.
Vetya, vety diambil dari nama belakang Amoera-(Amoera Vetyani)
Oke, bay. Agak laen part ini emang.
Ps: Amoera kalo lagi marah kembali ke sifat awal bicara pake lo-gue
__ADS_1