Antara Cinta Dan Restu

Antara Cinta Dan Restu
17. Calon Istri


__ADS_3

"Masak apa?" tanya Abryne yang baru saja tiba sehabis pulang dari kantor polisi.


Amoera menolehkan kepalanya sebentar. "Soup, tumben pulang cepet."


Abryne mengangguk mengiyakan pertanyaan Amoera. "Nggak banyak yang harus di urus tadi."


"Mau aku bantu?" tawar Abryne.


"Nggak usah, sedikit lagi selesai."


"Oke, aku ke kamar dulu ya."


"Iya."


Abryne melangkah pergi dari area dapur menuju kamar yang sekarang ia gunakan.


Ceklek.


Abryne langsung merebahkan badannya di atas ranjang seraya menghela nafas. "Haaah."


Membuka ponselnya sebentar, bola matanya melihat sebuah notifikasi Whatsapp muncul dari mamahnya dan ia langsung membuka notif tersebut.


Mamah


Nanti usahakan pulang jam 6 malam Bryne.


Dahi Abryne menyerngit bingung, tumben mamahnya mengirim pesan menyuruhnya pulang cepat. Mungkinkah ada hal penting.


^^^Ada apa? ^^^


Tinggal pulang apa susahnya sih?


^^^Iya mah. ^^^


Setelah selesai menjawab pesan mamahnya, Abryne segera bangkit menuju kamar mandi berniat membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Bertepatan dengan itu, Amoera memasuki kamar. Melihat ke kamar mandi yang terdengar suara gemerisik air Amoera menduga bahwa Abryne tengah mandi.


Amoera melangkah ke meja belajarnya, lalu ia duduk disana dan mulai mengedit vidio yang baru dibuatnya.


15 menit kemudian, Abryne keluar dari kamar mandi dan juga pakaian yang sudah melekat ditubuhnya. Melihat Amoera yang sibuk dengan laptopnya membuat Abryne penasaran.


"Lagi apa?"


"Eh?" kaget Amoera.


Menatap Abryne sebentar yang tengah mengeringkan rambutnya dan segera Amoera mengambil alih.


Abryne segera menududukkan dirinya dibawah kursi Amoera dan Amoera segera mengeringkan rambut Abryne.


"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi Amoera."


"Ngedit video Abryne," jawab Amoera cepat.


"Oh ya, besok mumpung hari minggu kita kerestoran Ayah ya," ajak Amoera.


Abryne terdiam, sedangkan Amoera melihat respon Abryne yang hanya diam. Tangannya yang bergerak diatas kepala Abryne langsung berhenti juga. "Kenapa? Kamu nggak bisa?"


Abryne mendongak. "Aku pikir-pikir dulu ya?"


"Kenapa harus pikir-pikir dulu? Kalau kamu emang nggak mau, bilang sekarang! Nggak usah mikirin alesan buat nolak!" Amoera mengucapkan hal tersebut dengan tenang namun penuh akan penekanan.


Abryne menghela nafas. "Besok kita pergi jam 01.00."


Setelah mengucapkan kalimat tadi, Abryne langsung bangkit dari duduknya menuju pintu keluar.


"Kamu mau kemana?" tanya Amoera.

__ADS_1


"Makan."


Ceklek, brak.


"Ck," decak Amoera, setelah itu ia bangkit mengejar Abryne.


Usaha mengejar Abryne tidak sia-sia, Amoera berhasil menghentikan langkah Abryne menuju dapur dengan Amoera yang memegang telapak tangan Abryne.


Abryne membalikkan badannya.


"Kalau kamu keberatan, kita bisa lain hari pergi ke Restorannya, kamu jangan bilang 'iya, besok pergi' dengan terpaksa. Buat apa kita pergi kalau kamu kesananya dengan keadaan perasaan terpaksa, kita nggak bisa menikmati kegiatan tersebut."


Mendengar kalimat yang penuh perhatian oleh Amoera, membuat Abryne luluh. Tadinya memang Abryne merasa kesal dan hatinya dongkol, ia merasa hidupnya diatur tidak disana maupun disini. Sehingga ia berfikir sudah seharusnya ia mematuhi aturan tersebut.


Namun nyatanya, disini berbeda dengan disana. Disini ia diberi perhatian oleh sang kekasih sedangkan disana ia seperti dituntut.


Abryne segera merengkuh tubuh Amoera, ia menaruh kepalanya di pundak Amoera seraya bergumam disamping telinga sang istri. "Makasih."


Amoera membalas pelukan tersebut.


⋇⋆✦⋆⋇ 


"Aku pergi dulu ya, jangan nunggu aku pulang. Jangan lupa pintunya dikunci." pesan Abryne.


Amoera mengangguk. "Atasan kamu kok aneh, kenapa nggak sekalian tadi siang aja ngasih kerjaannya malah malam-malam mendadak banget lagi."


Abryne tersenyum kikuk, didalam hati Abryne berkali-kali meminta maaf pada sang Pencipta, istrinya dan juga Mamahnya.


Abryne telah membuat pernyataan alasan palsu mendapat pekerjaan dimalam hari secara mendadak kepada Amoera, dimana yang sebenarnya ia akan pulang ke rumah orang tuanya atas suruhan mamahnya.


Abryne mengacak rambut Amoera beberapa kali. "Maaf ya, gara-gara ini kamu jadi sendirian dalam Apartemen."


"Iya suami, sudah sana berangkat nanti telat lagi.... Kenapa kamu nggak pakai seragam dari Apartemen aja sih, seragam saja pakai ditinggal di kantor kan kamu jadi ribet juga harus gonta-ganti pakaian."


"Ciee perhatian."


"Iya istri, ini juga mau berangkat tapi kamu nyrocos mulu."


Amoera mendorong Abryne keluar pintu Apartemen. "Dah, suami."


Sedangkan Abryne dia memegang dadanya seraya bergumam. "Sabar banget punya istri kayak gitu."


(Maksudnya disini Abryne merasa secara gak langsung Amoera mengusir Abryne dari Apartemen.)


Setelah itu, Abryne melangkah pergi diringi perasaan bahagia.


⋇⋆✦⋆⋇ 


Ruang tamu


Seluruh keluarga Abryne terkecuali Abryne tengah berkumpul di ruang tamu.


"Hai jeng, apa kabar?"


"Haha ya beginilah," ucap Erica seraya tertawa bahagia.


Erica mengalihkan perhatiannya ke seorang gadis. "Ini..."


"Oh ya, ini jeng anak aku. Yang mau kita jodohin sama anak kamu.... Yang itu ya?" tunjuk dagu Rani ke Andi.


Mendengar itu, Andi langsung melotot kan matanya terkejut. "Mahh..."


"E hahaha... " Erica tertawa canggung.


"Bukan yang ini jeng, yang satunya lagi," lanjut Erica menjelaskan.


"Lohh, terus mana calon mantuku?" kernyit Rani.

__ADS_1


Disisi lain, Tia--gadis yang akan dijodohkan menampilkan raut cemberut. Sedangkan Andre dan juga Cakra-- suami dari Rani hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Mah," panggil Andre ke Erica yang hanya di respon sebuah senyuman.


"Mah!" pelan namun penuh tekanan ucap Andre.


Erica menolehkan kepalanya. "Ada apa sih pah?"


"Kamu yakin mau jodohin Bryne sama gadis ini?" bisik Andre.


"Yakinlah pah, papah mending diem aja deh."


Brummm...


Brumm...


Terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumah.


"Nah, itu pasti orangnya. Maaf ya jeng, maklum pekerjaannya polisi jadi banyak yang harus dilakuin."


"Ohhh," Rani mengangguk kepala paham.


Erica melihat ke arah sofa sebentar. "Eh ayo duduk-duduk, baru sadar sedari tadi kita ngobrol sambil berdiri."


"Hahaa iya ya," jawab Rani.


Setelah itu mereka berjalan mendekati sofa dan duduk diatasnya. Tak lama mereka duduk muncul Abryne dengan pakaian rapi nya.


Abryne menyalimi Cakra dan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada kepada Rani dan Tia.


Tia melihat kesopanan yang ada dalam diri Abryne membuat gadis itu terkagum tidak lupa poin plusnya, paras rupawan yang dimiliki Abryne membuatnya berkali-kali terkagum.


"Ini anaknya jeng," ucap Erica.


Rani mengangguk seraya tersenyum.


"Sini duduk dekat mamah nak," suruh Erica kepada Abryne.


Abryne mengangguk dan melakukan sesuai arahan Erica.


"Ini ada apa mah?" tanya Abryne kepo setelah lama terdiam.


Sedari awal Abryne memasuki halaman dan melihat sebuah mobil asing yang terparkir dihalaman membuatnya tahu, bahwa sekarang tengah ada tamu dalam rumah. Entah itu urusan apa, hingga membuat Erica menyuruh Abryne pulang dan itu membuat Abryne penasaran.


"Tia ini Abryne, gimana menurutmu?" tanya Erica kepada Tia dan mengabaikan pertanyaan Abryne.


Tia menahan senyumnya lalu melihat ke arah Rani dan juga Cakra melihat respon mereka.


Melihat Rani yang tersenyum seraya mengelus rambutnya dan juga Cakra yang hanya tersenyum membuat Tia paham.


Tia menatap kearah Abryne dimana Abryne yang menatapnya datar. "Tia mau tante."


Erica semakin tersenyum lebar. "Maksud kamu, kamu mau sama Abryne?"


Tia menunduk mengangguk seraya tersenyum.


Melihat jawaban Tia membuat mereka tersenyum gembira kecuali Andre yang terlihat resah, Andi yang tersenyum smirk dan juga Abryne yang terlihat bingung dengan keadaan saat ini.


"Mah, ini ada apa? Jawab!"


Erica menoleh ke Abryne seraya tersenyum gembira. "Tia ini calon istri kamu Abryne dan mamah sebentar lagi jadi nenek hahahaa."


Deg!


⋇⋆✦⋆⋇ 


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2