
Lili sudah berada di taksi yang akan membawanya pulang ke rumah temannya yaitu rumah flora. saat ini sudah pukul 12.00 siang, dan dia dilanda kelaparan. tak sempat dua puluh menit taksi biru itu tiba di depan bangunan yang di mana itu adalah kos-kosan milik flora yang sudah 3 tahun ini menjadi tempat tinggalnya..
Lily pun menaiki tangga menuju ke lantai 2 di mana flora berada di sana. wanita itu merogoh kunci dari dalam tas tangannya yang memang flora memberikan ia kunci serep, bersama nenek pintu di depannya terbuka dan menampilkan sosok sahabatnya." flora?'' ucap Lili yang kemudian menerobos masuk tanpa peduli dengan raut keheranan dari wajah temannya itu.
'' hey, Dari mana saja kau?'' tanya wanita berambut coklat sebahu itu dan terkejut ketika melihat ada banyak warna merah di sekitar leher temannya itu.
Lily mengambil air minum Seraya mengangkat tangannya meminta wanita di depannya untuk diam sebentar. flora melipat kedua tangan di atas perut menunggu penjelasan dari wanita yang sepertinya tengah dehidrasi itu.
usai menekuk air, Lili membuka lemari es belakangnya dan mencari makanan. dia Ingat masih menyisakan roti keju yang kemarin sore dia beli.
"Apa kalian bermain hingga pagi, dan pria itu tidak memberimu makan?''
Lili menggigit kecil roti dan menaruhnya di atas meja makan.
" Katakan lah,"titah Flora tegas.
"Kau yang kemana? aku mencari mu semalam,"kata Lily, seraya bertolak pinggang.
"Tunggu... tunggu.. apa kau bertemu seorang pria semalam?" tanya Flora seakans emang mengintimidasi Lily yang kelihatan lelah sedari tadi.
"Ya," jawab Lily singkat jelas dan padat.
"Siapa?"
"Bosku," jawab Lily cepat.
"What! Bos mu?suami kakak sepupu mu? yang benar?" tanya flora dengan nada tinggi.
" Bisakah kau kecilkan suaramu, bodoh!" seru Lili kesal.
Flora hanya ikut terkekeh kecil.
" Ceritakan padaku, Lily. Aku penasaran bagaimana dia bisa menerobos keperawananmu?''
Lili melotot tajam ke arah flora yang berucap spontan tanpa menyaring terlebih dahulu kata-katanya.
"Ck! Ayolah, ceritakan!"
"Tidak sekarang."
Lily kembali mengunyah sisa roti yang tinggal setengah. mengabaikan kejengkelan flora yang memaksanya untuk menceritakan tentang dia dengan bosnya itu.
"Lily?"
"Aku mandi dulu," ucap Lily seraya melangkah menjauh dari temannya itu.
Lili memilih berendam di bath up untuk merilekskan tubuhnya. dipejamkan matanya mengingat kejadian yang terjadi pagi tadi di kamar hotel pria itu yang tak lain adalah bosnya sendiri. entah bagaimana jadinya bila mereka bertemu di kantor nanti. wanita itu membenamkan seluruh tubuh hingga kepalanya ke dalam air.
ππππ
Selasa pagi yang cerah seakan menyambut hari pertama Lily menjadi sekretaris pribadi Harris Dirgantara. dia berharap di hari pertamanya tidak mengalami banyak kesalahan, sebisa mungkin dia akan melakukan yang terbaik dan tidak ingin mengecewakan Kakak sepupunya. Apalagi, setelah kejadian kemarin itu sungguh di luar dugaan.
Lili Tengah membereskan ruangan Harris dari berbagai file yang menumpuk, dan merapikannya ke tempat yang sudah tersedia. sekiranya sudah yakin tidak ada yang mesti dirapikan lagi, wanita itu keluar menuju mejanya untuk menyusun Schedule hari ini untuk bosnya.
__ADS_1
wanita itu Tengah fokus pada layar persegi di depannya, jemarinya menari indah di atas papan keyboard mengetikkan sesuatu. tanpa dia sadari sepasang mata tengah memperhatikannya lama.
hari sudah berdiri sejak 15 menit lalu dan memandangi wanita yang tampak fokus mengetik. pria itu mengingat kejadian kemarin, terbangun sendirian tanpa adanya wanita itu di ranjangnya. dia juga berniat untuk mengunjungi Lily, tapi diurungkan takut kalau wanita itu akan syok begitu mendapati dirinya berdiri di depan pintu flatnya.
" Selamat pagi Lili.'' siapa Haris dengan suara baritonnya yang khas.
Lili yang mendengar itu langsung bangkit berdiri meninggalkan ketikannya dengan spontan.
" Selamat pagi, Pak.'' balas Lili gugup.
" ke ruangan saya, sekarang.'' titahnya, lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Baik, pak" ucap Lily pelan.
Lily menarik nafas dalam, lalu. engembuskan perlahan sebelum mengetuk pintu bos nya itu.
Tok! tok! tok!
"Masuk!"
Lili menekan handle pintu dan mendorongnya, lalu wanita itu melangkah masuk ke ruangan atasannya.
Haris yang masih duduk tanpa mengerjakan apa-apa langsung memandang Lili Yang melangkah pelan menuju hadapannya. hari ini wanita itu memakai kemeja berwarna ungu Terang lengan pendek dengan kancing yang memanjang. untuk bawahannya Lily memakai rok span di atas lutut berwarna hitam dipadu dengan heels hitam setinggi 5 cm.
Lily bergerak gelisah karena hari setengah memindai dirinya.
" duduklah, Lily.'' perintah Harris, wanita itu pun menurut dan mengambil duduk di kursi depannya.
" sebelum memulai pekerjaan hari ini, Saya ingin menawarkan kontrak kerja padamu.'' ucap Haris datar.
"Maksudnya?" tanya Lily tak mengerti.
Haris menatap lama ke arah Lili tanpa mengucap apapun. Lily bergerak ke Lisa di kursinya ditatap Intens sedemikian rupa oleh pria yang telah berhasil menikmati keperawanannya.
" Saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan pada anda, Nona Lily.''
Lili meneguk ludahnya susah payah. dalam kepalanya mulai bermunculan banyak pertanyaan.
'' kesepakatan untuk saling memuaskan satu sama lain,'' ucap Haris.
"What?"
β£β£β£
Lili menahan nafas begitu mendengar tawaran pria di depannya.
"Lily?" Panggil Haris, Karena Wanita itu sama sekali tidak menanggapi ucapannya.
" Apa untungnya buat saya?'' tanya wanita itu terdengar lancang.
" aku akan memenuhi kebutuhanmu. Seperti, apartemen, mobil, belanja, dan apapun itu.'' ucap Haris tegas penuh keyakinan.
" Bagaimana dengan istri anda ,Pak?''
__ADS_1
Haris menggertakan rahangnya. Lili yang melihat itu menyesali pertanyaannya barusan.
Haris bangkit berdiri dari kursinya, lalu melangkah ke arah jendela memandang keluar ke jalanan kota besar itu yang pagi ini terlihat sangat ramai lebih tepatnya lagi padat penduduk.
sedangkan Lili masih bergeming di kursinya.
"Aku dan Angel tidak pernah saling melengkapi semenjak menikah,''
Lili tercengang mendengar ucapan pria itu.
" Bagaimana mungkin?"wanita itu membatin.
Yang Lili tahu selama ia tinggal di kampung, dari pertama Kak Angel berpacaran dengan seorang bos kaya yang memang selama ini Lili tidak pernah melihat wajahnya, namun Lili tahu dan selalu mendengar kabar dari berita maupun itu koran akan kemesraan Kakak sepupunya itu, bahkan Lily pun pernah mendapatkan kabar jika pacar dari Kak Angel tersebut yang sekarang menjadi suaminya itu pernah hampir bunuh diri demi Kak Angel. Namun, Bagaimana bisa sekarang pria di hadapan Lily yang sekarang ini adalah suami kakak nya itu bisa berkata bahwa dia tidak sama-sama melengkapi pernikahan mereka selama ini?
"Kau menjadi lingling?" Haris masih tidak menatap wanita itu, dia sibuk memandangi luar jendela.
"Berita benar, aku sangat mencintai istriku dari kami berpacaran dulu," ucap Haris sedangkan Lily masih terdiam.
" pernikahan kami hanya sebuah topeng, Angel lebih menyibukkan dirinya terhadap bisnis- bisnisnya daripada aku suaminya, Bahkan dia jarang sekali pulang hanya karena menghadirkan acara penting di bisnisnya itu.''
Haris mengembalikan tubuhnya ke arah Lili, dan bersandar pada jendela. pria itu lalu bersedekap menatap wanita yang masih bergeming di kursinya.
" bagaimana, Lili?'' tanyanya lagi.'' aku akan menunggu keputusanmu hingga sore ini, bila kau menolak Aku tidak akan menyentuhmu lagi.'' tambahnya lagi.
setelah mengatakan itu, Haris kembali melangkah duduk di kursinya.
" apa jadwal hari ini, Nona Lily?'' tanyanya kembali formal.
Lili tergagap, tak lama dia pun mulai menguasai keadaan. wanita itu bangkit dari kursinya, lalu mulai membacakan jadwal untuk hari ini pada Bosnya itu.
. . . . ..
lilin menjatuhkan bobotnya di kursi putarnya. Gadis itu menghembuskan nafas berat, mengingat penawaran pria itu.'' apa yang harus aku lakukan? dia hanya memberiku waktu sedikit untuk berpikir. Menyebalkan!" sungut wanita itu.
pukul 05.30 sore, seluruh pegawai sudah meninggalkan kantor. Lili berjalan mondar-mandir di depan mejanya, dia gugup. sore ini dia akan menemui Haris dan menjawab penawaran pria itu.
Haris masih sibuk di depan layar perseginya bermain permainan poker, menunggu wanita itu.
tok! tok! tok!
" Masuklah!" titahnya pada si pengetuk.
Wanita itu melangkah masuk ke ruangan Masih dengan penampilannya yang menggairahkan. harus menelan saliva setiap kali berhadapan dengan wanita itu.
" Selamat sore, Nona Lily.''sapa nya ramah.
Mereka saling bertatap muka dengan diam, netra mereka saling bertemu seakan ada magnet di dalamnya. Lili pun mencoba kembali melangkah lebih dekat ke arah meja Harris.
"Saya ingin mengatakan kalau, saya bersedia menerima tawaran anda."
Bibir pria itu terangkat membentuk sebuah senyuman.
Bersambung.....
__ADS_1
π€π€