
Siang ini Haris dan Lili mendatangi hotel di mana CEO Dewantara Group menginap. Haris tampak fokus pada jalanan yang mereka lalui, sementara Lily mendengarkan musik yang diputar di stereo mobil. dan tak lama mereka tiba di restoran hotel dan menunggu sang klien turun untuk menemui mereka. Lili sudah menghubungi asisten dari Dewantara group dan mengabarkan kalau mereka sudah menunggu.
Tak lama kemudian, pria tinggi dengan rambut sehitam jerami mendatangi meja Harris dan Lili. Wajah pria itu tak kalah tampan dari Harris, dan masih terlihat muda. Lili pikir Tuan Dewantara yang dimaksud sudah berumur, ternyata tidak.
"Hallo, apa kabar? senang bertemu dengan kalian, " sapa Tuan Dewantara dengan ramah.
harus menyambut uluran tangan kliennya Begitu juga dengan Lili.
"Kamu Nona Lily kan?" ucap CEO Dewantara itu kepada sekretaris Haris.
"Benar pak, saya yang berbicara dengan asisten bapak." ucap Lily sopan.
" sudah kuduga, bukan hanya suaranya saja yang merdu tetapi wajahnya juga sangat cantik, senang bertemu denganmu Nona Lily,'' kata CEO Dewantara tersebut.
"Nama ku Kenzo Dewantara," ucap nya lagi dan dibalas lily dengan senyuman nya.
Haris mengetatkan rahangnya. ada rasa kesal yang dia rasakan ketika pria itu memuji sekretarisnya. Apakah dia cemburu?
×××××
Haris mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimum, Lili yang duduk di sebelahnya merasa takut. entah apa yang terjadi pada bosnya saat ini. dan mobil itu berhenti di basement Hotel Harris. pria itu membanting pintu mobil sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Lili hampir saja terlonjak dibuatnya. Gadis itu mengekori langka bosnya yang lebar menuju lift.
Lily tidak tahu mengapa dia bisa mengikut ke sini, ke hotel pria itu seharusnya dia pulang ke rumah di mana dia dikasih tempat tinggal oleh Kakak sepupunya. Lili berdiri diam di luar lift sementara hari sudah berada di dalam, menunggunya.
"Masuk, Nona Lily!" Titahnya dengan suara dingin.
Lili pun melangkah masuk ke dalam lift yang hanya ada Haris di dalamnya. wanita itu berdiri di sebelah pria yang saat ini tengah diliputi Aura yang berbeda. entah marah atau apa, dia sama sekali tidak mengerti dengan perubahan yang tiba-tiba saja terjadi pada Bosnya itu. Emang saat pertemuan dengan Kenzo Dewantara tadi, harus terlihat kaku dan cuek. Mungkin pembawaannya memang seperti itu, karena ini pertama kali Lili menemani Haris bertemu dengan kliennya.
__ADS_1
Lift mulai bergerak naik, Lili menahan nafasnya berharap dia akan baik-baik saja. tak Berapa lama kotak besi itu berhenti di lantai 10 Di mana letak lantai kamar hotel milik Harris berada. harus membuka pintu hotelnya, dengan Sigap langsung membopong tubuh Lily ke atas pundaknya.
"Argh!"
Lily terkejut dengan perlakuan pria itu tiba-tiba. Haris membuka pintu kamar dan langsung menjatuhkan tubuh Lili kasar ke atas ranjang king size nya.
" Are you crazy?'' Pekik Lili dengan nafas naik turun.
Haris tidak menanggapi pertanyaan Lily, memilih menarik lepas dasinya, melempar jasnya sembarang, dan membuka kancing kemejanya satu persatu. Lili menatap Nalar pria yang tengah diburu oleh emosi itu. Haris telah topless menampilkan dada bidangnya yang seketika membuat Lily meneteskan air liurnya.
Haris memandang Lili dengan tatapan lapar, kemudian pria itu melangkah perlahan naik keranjang. menarik lepas high heels wanita itu dan melemparnya asal. harus membelai kulit kaki Lili yang lembut dan halus sampai ke paha dalam wanita itu. Dara Lili berdesir halus seketika jemari tangan Haris membelai kulitnya.
"Kau yang membuat ku gila, Nona Lily," bisik hari sembari memanggut bibir wanita itu dengan kasar.
"Kau janda pesona ku."
"Kenapa kau begitu agresif sekali tadi?" tanya Lily saat mereka baru saja selesai melakukan percintaan mereka yang mana Haris benar-benar dalam keadaan yang aneh menurut Lily.
"Entahlah," jawab Haris singkat.
Lili tak ingin memaksa Haris untuk menjelaskan tentang sikap nya tadi. yang dia tangkap adalah pria itu Tengah dilanda cemburu karena Kenzo Dewantara banyak memuji dirinya tadi. Namun, rasa-rasanya tidak mungkin bila Haris cemburu, memang Siapa dirinya pantas dicemburui oleh pria itu.
******
setelah hari itu, sore ini adalah waktunya hari pulang ke rumahnya bukan ke hotel miliknya. Haris mengendarai mobil yang menuju arah pulang ke arah hotelnya. dia tahu kalau Lilis sudah tidak ada di sana melainkan pulang ke rumah istrinya. naon bisa saja dia mendatangi tempat tinggalnya dan membuat garis itu shock ketika mendapati dirinya berdiri di depan pintu platnya. membayangkan itu membuat Haris tersenyum sendiri. Tapi tidak untuk hari ini, dia akan membiarkan Gadis itu beristirahat Setelah dia membuatnya kelelahan tadi malam. Mungkin dia akan melakukan esok hari ketika di kantor, bisa saja, kan?
sampe disini udah paham ya hubungan Haris dan Lily 🥰🥰
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️
Sejak hari itu di saat Lili bermain dengan bosnya di kantor dan tiba-tiba saja istri dari Bosnya itu menelpon untuk dijemput dan sampai hari itu Lili memang belum pernah bertemu dengan bosnya lagi. yang Lily pikir mungkin bosnya sedang menghabiskan waktu dengan istrinya.
Haris hanya memberikan Black card miliknya kepada Lily untuk bersenang-senang. Namun, wanita itu hanya menggunakannya untuk membeli parfum. dia dilanda Kerinduan karena terakhir dia bertemu dengan bosnya itu 5 hari yang lalu. Entah kenapa dia merasa nyaman walaupun menjadi pelampiasan saja dalam rumah tangga Kakak sepupunya itu.
dan pagi ini seperti biasa Lili tengah menyusun Schedule hari ini untuk atasannya. itupun jika bosnya tidak absen lagi.
" Selamat pagi, Nona Lily,'' siapa Haris melewati meja Lily tanpa menghentikan langkahnya dan langsung masuk ke dalam ruangannya.
belum sempat Lili membalas sapaan bosnya, pria itu sudah menghilang di balik pintu ruangannya. Namun, tak Berapa lama telepon di meja wanita itu berbunyi dan lampu panggilan berwarna merah berkedip satu kali, menandakan Harris memintanya untuk datang ke ruangan pria itu.
Lili pun menyiapkan catatan dan beberapa berkas yang akan dia bawa untuk pekerjaan Haris hari ini. sebelumnya wanita itu merapikan penampilannya terlebih dahulu. setelah dirasa cukup, Lili pun langsung mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat izin dari pria itu.
" Kunci pintunyapintunya!" kita harus sembari pria itu bangkit dari kursi kebesarannya dan melangkah ke sofa panjang yang ada di ruangannya.
"Kemarilah, Lily." Panggil Haris meminta wanita itu menghampirinya. Lili segera melangkah mendekat ke arah Atasannya itu, Sebelumnya dia menaruh beberapa berkas yang dibawanya ke atas meja di depan Haris.
Haris langsung menarik tangan wanita itu sehingga jatuh terduduk di atas pangkuannya.
" beri aku sarapan,'' ucapnya dengan suara rendah.
"Hah?" lili melongo mendengar permintaan pria itu.
" cium aku!" pinta Haris pada wanita itu.
"*Manja."
__ADS_1
Bersambung....