
POV Lily
Pada akhirnya, akulah yang akan tetap terluka karena kenyataan bahwa aku orang ketiga dalam pernikahanku sendiri. Kupikir, aku adalah ratu yang menggenggam kekuasaan suamiku meski ada sepuluh selir sekalipun, aku akan tetap menjadi yang tertinggi. Namun, aku salah. Setinggi apapun jabatan Ratu, jika namaku bahkan tidak ada dalam hatinya, posisi itu hanya sebatas nama. Aku bukan orang munafik yang tidak menginginkan cinta, aku bukan penjilat yang hanya menginginkan kekuasaan serta singgasana sang ratu. Semua itu, aku tidak menginginkannya jika hanya akan menjadikanku seperti orang idiot.
***
Tubuh Lily ambruk begitu melihat foto dalam bingkai yang ia pegang itu. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ada sesuatu semacam batu yang mengganjal di sana, sehingga sulit untuk mengeluarkannya. Batinnya terus bertanya-tanya, siapa wanita berkebaya putih itu? Kenapa dia bersama dengan suaminya?
Apakah kalian tahu seperti apa perasaan Lily saat ini? hatinya begitu hancur. Foto itu bukan hanya sekedar foto biasa. Pasangan yang tersenyum itu telah sah sebagai suami istri, dan hal itu tidak dia ketahui sama sekali.
Lily merasakan sakit hati yang begitu menyakitkan. Dia merasa dibohongi, dibodohi seperti orang idiot. Dia merasa telah diperlakukan seperti layaknya boneka. Di keluarga yang dia hormati, Lily sudah memutuskan untuk mengabdi pada keluarga Bramantyo, menjadi menantu yang baik serta istri yang patuh.
Namun, apa yang dia dapatkan dalam satu Minggu pernikahan? Bukan kebahagiaan, ketenangan, kenyamanan juga kedamaian seperti yang dia inginkan. Bukan! Justru luka, goresan demi goresan mereka torehkan padanya.Lily ingin menjadikan rumahnya sebagai surga, tapi, nyatanya dia seperti hidup dalam neraka.
Ya, memang benar apa yang dikatakan Rio tempo hari bahwa dia akan menjadikan rumah itu sebagai neraka baru baginya. Hanya saja, Lily tidak menyangka bahwa ternyata neraka itu bukan hanya dari suaminya, melainkan juga dari keluarga besarnya. Lily menangis. Dia tidak lagi bisa berpura-pura baik-baik saja. Jika hanya karena perasaan cinta Rio yang memang belum tumbuh untuknya, Lily bisa menunggu. Dia akan terus berusaha memenangkan hati suaminya. Tetapi, jika ternyata kenyataan itu lebih pahit dari sekedar sebuah kata cinta, Lily menyerah.
"Apa aku sebodoh itu? Mereka memperlakukanku bak ratu, menghormatiku sebagai calon nyonya besar keluarga Bramantyo. Aku tidak menyangka ternyata aku hanyalah sebuah alat dan topeng untuk mereka bersembunyi. Bagaimana mereka bisa sejahat itu?’ batin Lily pilu.
Lily teringat wajah teduh ibu mertuanya. Wanita yang telah membuatnya kuat menghadapi ketidakpedulian Rio padanya. Wanita yang terlihat begitu menyayangi dirinya. Wanita yang sangat perhatian pada menantu kesayangannya. Lalu, apa semua itu? Wajah apa yang mereka punya?
Lily terus berpikir kalau keluarga Rio sengaja menyembunyikan pernikahan Rio dengan wanita dalam foto. Benar-benar keluarga yang sempurna. Bahkan, cara mereka berpura-pura pun tetap terlihat alami, sama seperti sikap Rio, suami pembohongnya.
__ADS_1
Sampai petang menyapa, Lily masih mencoba memikirkan teka-teki tentang pernikahan suaminya. Dan hingga saat itu pula, Rio belum kembali untuk menjemputnya.
“Kamu pasti sedang menemui istri pertamamu, Mas! Makan malam bersama dengan romantis, bercanda ria, tertawa tanpa beban, dan yang pasti kau melupakanku yang sedang menunggumu ini,” gumam Lily dengan pandangan menerawang. Dia tersenyum getir.
“Aku benar-benar bodoh! Bisa-bisanya aku mau bertarung melawan wanita itu. Aku pikir dia adalah pelakor yang bisa dengan mudah kusingkirkan. Tetapi, ternyata akulah yang patut untuk disingkirkan. Tidak kusangka, aku orang ketiga dalam pernikahanmu, Mas!”batin Lily lagi menyesali dan membenci pernikahan nya ini.
sejak hari itu Lily hanya bersikap Acuh Tak Acuh kepada Rio, dirinya sama sekali tidak peduli akan suaminya itu mau pulang atau tidak Dan ia hanya menunggu sesuatu yang akan suaminya Ucapkan pada dirinya. Namun, satu minggu sudah Rio tidak memberikan jawaban atas diamnya lindung atau atas sikap Lily terhadapnya. Namun, entah sakit mana lagi yang belum dirasakan namun kali ini Rio berikan kepada dirinya, entah terbuat dari apa hati laki-laki itu sehingga dengan tega menghancurkan masa depan seorang gadis yang tidak bersalah seperti lily,bahkan pernikahan mereka atas Perjodohan orang tua yang mana mereka berdua sama-sama menerimanya.
pagi itu setelah semalaman Rio tidak pulang ke rumah, Lily mendapat pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal dan mendapati pesan tersebut bahwa dirinya harus datang ke sebuah apartemen dengan nomor 201 di lantai 3. Lily sebenarnya takut dan merasa ini adalah hanya kerjaan orang iseng yang ingin mengganggu nomornya. Namun, rasa penasarannya amatlah sangat besar dan Lily pun memutuskan untuk mendatangi apartemen tersebut yang memang lokasinya tidak jauh dari kediamannya saat ini.
saat pergi dari rumah Lily tidak berpamitan dengan orang rumah dikarenakan mertuanya itu sedang kumpul dengan tetangganya yang memang sosialita di lingkungan mereka, telepon langsung menaiki taksi online dan langsung berhenti tepat di depan gedung apartemen di sana. lama wanita itu berdiri di depan apartemen antara ini masuk dan ingin kembali saja pulang ke rumah.
Lily dinikahi seorang anak orang kaya dan mereka Langsung melamar Lili dan menikahi Lili di kampung halaman tempat tinggal gadis itu namun setelah selesai ijab qobul mereka membawa Lily tinggal di ibukota. jadi benar-benar Gadis itu tidak memiliki teman atau saudara yang ada di ibukota bahkan jika terjadi apa-apa kepada dirinya pun dia hanya bisa meminta bantuan kepada keluarga suaminya karena dunia pun tidak memiliki saudara di sana.
dengan jantung yang terpompa sangat kencang dengan dada yang terasa sedikit sesak wanita itu tetap berjalan menuju lantai 3 dengan menggunakan tangga manual tanpa menaiki lift yang ada di apartemen tersebut.
Setelah tiba di depan kamar 201 yang ada di lantai 3 itu Lily sempat ragu untuk menggedor kamar itu, dia merasa ini salah namun rasa penasarannya jauh lebih besar dari itu semua. Lily Langsung kembali mengecek pesan yang masuk ke dalam ponsel tadi, dan dia mau Scroll ke bawah dan ternyata di dalam pesan tersebut tertulis Jika dia harus masuk saja tanpa harus menggedor terlebih dahulu.
Ceklek.....
bunyi pintu yang Lili buka tersebut, entah kenapa melihat sebuah kamar besar itu dadanya sebagai sesak dan seakan tidak bisa bernafas namun Ia tetap terus berjalan menuju ranjang yang ada di pengkolan kamar tersebut, Setibanya ia sampai di depan ranjang mulut Lili menganga lebar kaget bukan main.
__ADS_1
"Hahk?"
"Kalian?"
wanita itu histeris Bagaimana tidak, pria yang telah menghalalkannya sebagai seorang istri sedang berada di atas tubuh wanita tanpa busana di atas ranjang itu bahkan yang lebih parahnya Lily melihat secara live adegan vulgar tersebut.
"Lily?"
"Kamu ngapain kesini?"ucap Rio langsung menutupi tubuhnya dengan bedcover yang ada diatas ranjang itu sedangkan wanita yang bersamanya tersenyum penuh kemenangan.
" Mas?"suara bergetar terdengar jelas.
"Lily?" Rio turun dari ranjang dan langsung mendekati Lily, namun dengan cepat wanita itu menghindar.
"Jangan sentuh aku," ucap nya dengan wajah datar dan tatapan mata yang kosong.
"Percayalah, kecewa tapi tidak marah adalah sabar yang sangat luar biasa,"
"Terimakasih atas semuanya, tunggu surat dari pengadilan yang ku hadiahkan kepadamu, Mas."
bersambung.....
__ADS_1
❣❣❣❣