
ditulis dan disunting oleh Salmah Nurhaliza
ditagih oleh Admin Ulfah 🤣😆🤣🤪
Pak Adrian terus menarik tas besar serupa karung berbahan mori dengan tenaga yang tinggal separuh. Di dalamnya terdapat mayat Nadia. Sementara tubuh Gladys yang masih bernyawa ditinggalkannya bersama Azwar yang masih syok di TKP.
Pria itu melangkah melewati koridor hingga menuju ke tengah ladang di belakang sekolah. Dia berhenti dan melepaskan genggaman dari tas yang kini bagian bawahnya nyaris berwarna cokelat pekat. Tanpa menoleh, Pak Adrian meninggalkan kain berisi mayat Nadia itu begitu saja. Dalam langkah tenang, dia tersenyum samar sambil menatap langit yang mulai berubah jadi jingga.
Beberapa waktu setelah Pak Adrian pergi, sesuatu merembes dari balik tas mori. Sedikit demi sedikit, perlahan mengotori hampir satu sisi permukaan tas. Cairan kental berwarna merah dengan bau anyir yang menyengat. Darah dari kepala Nadia.
Setelah itu Pak Adrian kembali ke perpustakaan dan menghilangkan semua jejak juga barang bukti. Dibopongnya tubuh Gladys yang pingsan ke mobil, lalu menyeret Azwar yang masih terlihat terpukul.
“Azwar, sadar. Ayok, pergi!”
Setengah sadar Azwar mengikuti Pak Adrian dan ikut masuk ke mobil. Di tengah perjalanan, Gladys sadar dan setelah berhasil menyesuaikan kesadaran, dia berteriak-teriak histeris. Azwar yang ditugaskan duduk di sebelah Gladys langsung menamparnya, hingga gadis itu hanya bisa menangis.
Tak disangka, ternyata Pak Adrian membelokkan mobilnya masuk ke pekarangan sebuah bangunan. Azwar bingung saat membaca plang di depan: RUMAH SAKIT JIWA.
“Buat apa kita ke sini, Pak?”
“Untuk membungkam Gladys.”
Besoknya, karena terlalu merasa bersalah pada Nadia, Azwar sampai tidak fokus saat mengendarai motor sepulang sekolah. Dia mengalami kecelakaan hingga kakinya cacat permanen dan tidak bisa lagi berjalan normal.
***
Guntur, Gina, Bu Rahmi, Pak Deni dan Bu Lestari menunggu dengan dada berdebar di ruang tunggu. Rasanya ingin segera menyusul ke dalam. Terlebih Pak Deni dan Bu Lestari, keduanya sudah sangat tidak sabar.
Akhirnya seseorang yang mereka tunggu muncul bersama seorang perawat yang menggandengnya.
“Bapak, Ibu, ini Gladys,” ujar si perawat, memandang perempuan di sebelahnya yang rambutnya kemarin baru dipotong pendek sebahu.
Pak Deni dan Bu Lestari langsung menangis melihat anak perempuan satu-satunya yang telah hilang selama 18 tahun.
“Gladys ... anak Mama.” Bu Lestari berusaha meraih tubuh Gladys, tapi Gladys malah seperti ketakutan. “Gladys ... ini Mama.”
“Ma-ma?” eja Gladys sambil memandangi wanita di hadapannya yang sudah basah.
Bu Lestari mengangguk. “Iya, Sayang, ini Mama.”
“Ma-ma? Mama?”
Bu Lestari dan Pak Deni memeluk Gladys bergantian. Meski tahu anaknya belum benar-benar mengenali dan menyadari siapa mereka, tapi kedua sangat lega karena Gladys masih hidup.
“Gladys ... ingat Tante? Mamanya Nadia.” Bu Rahmi ikut bicara.
“Nadia? Nadia! Tolong Nadia! Tolong. Jangan sakiti Nadia!” Gladys langsung menangis histeris. Beberapa perawat harus menenangkannya dan membawanya kembali ke kamar. Setelah Gladys dibawa, perawat menjelaskan kondisinya.
Di koridor menuju kamar, tiba-tiba langkah Gladys terhenti. Dia melihat Nadia sekitar dua meter di hadapannya. Sahabatnya itu tersenyum manis.
“Nadia .... Nadia cantik,” ucapnya riang.
***
Hari ini suasana sekolah cukup tenang. Seminggu yang lalu kepala sekolah baru sudah dilantik. Dan sudah tiga minggu sejak kejadian penangkapan itu. Pak Adrian dan Pak Azwar sudah ditahan dan hari ini adalah proses sidang terakhir untuk mendengarkan putusan hakim. Namun, Gina dan Guntur tidak bisa ikut menyaksikan persidangan karena harus sekolah.
__ADS_1
Sejak peristiwa itu, Guntur dan Gina jadi terkenal. Sekolah juga memberikan mereka apresiasi berupa beasiswa untuk satu semester. Lumayan. Dan ayah Pak Adrian selaku pemilik yayasan sangat profesional. Meskipun anaknya sendiri, beliau tetap lebih menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.
“Gin, entar malem lo gue antar lagi, ya, ngajar privat-nya?” Guntur berbicara selembut mungkin. Dia sengaja menghampiri Gina ke kelasnya di jam istirahat pertama.
Gina melotot. “Lo lama-lama ngelunjak, ya. Kemaren-kemaren tuh gue bersedia diantar-jemput karena takut tiba-tiba Gladys, eh, Nadia muncul. Sekarang, kan, udah nggak pernah. Jadi gue udah nggak takut lagi.”
Bahu Guntur langsung melorot di kursi. Dia bersandar lemah. “Yah ... kok, gitu, Gin. Gue pikir akhir-akhir ini hubungan kita ada kemajuan. Apalagi setelah melewati peristiwa kemaren itu. Ternyata sama aja.”
Suara Guntur yang terdengar kecewa membuat Gina tak enak hati, tapi dia juga tidak mau terlihat begitu gampang luluh.
“Ya, udah, sih, nggak usah melas gitu mukanya, nggak bakal gue jajanin juga.”
Guntur langsung kembali semangat. “Kalo gitu gue aja yang jajanin lo. Yuk, ke kantin.”
Gina terpaksa menurut sebelum dia sempat menolak, karena Guntur sudah keburu menarik tangannya lembut tapi tegas. Gina bukan tidak suka, tapi belum suka. Kalimat itu yang terus jadi mantra sakti penyemangatnya.
Pelan-pelan dengan tidak kentara, Gina melepaskan tangannya dari genggaman Guntur.
Jangan baper, Gina. Jangan baper. Dia terus berdoa dalam hati.
***
Begitu bel pulang berbunyi dan Pak Bimo keluar, Guntur langsung melesat ke kelas Gina. Dia tidak boleh ketinggalan, nanti Gina keburu pulang duluan. Harus gercep. Pepet terus!
Pas sekali, Guntur sampai di depan pintu kelas Gina tepat saat cewek itu akan keluar. Guntur memamerkan senyum terbaiknya. Senyum semanis itu harusnya bisa membuat cewek mana pun klepek-klepek, tapi Guntur hanya ingin Gina. Dia ingin Gina terbucin-bucin padanya.
“Hai, Gin,” sapanya lembut.
“Ngapain lo udah ada di sini?” Gina malah bertanya sinis.
Gina langsung memamerkan gerakan seperti mau muntah. Dia memalingkan wajah. Hanya alibi, agar Guntur tidak melihat rona merah yang pasti muncul karena dia merasakan hangat di pipinya.
“Gun, gercep banget lo,” ledek Nuri.
Guntur tertawa. “Pejuang cinta harus gercep, Nur.”
Nuri pun ikut tertawa. “Gue, sih, kalo jadi lo udah klepek-klepek, Gin. Guntur kurang apa, sih?”
“Itu, sih, lo aja yang gampang baper,” sambar Gina.
“Whatever! Pokoknya lo jangan nyesel kalau nanti tiba-tiba Guntur mundur dan putar balik, terus parkir di hati yang lain.” Nuri mengingatkan dengan santai, lalu melangkah meninggalkan dua orang yang masih berdiri dekat pintu. “Udah, ah, gue duluan. Daaah.”
Entah mengapa kata-kata Nuri tadi terus berputar di kepala Gina. Dia tidak suka Guntur, tapi lebih tidak suka kalau Guntur menggoda cewek lain. Ah, aneh memang.
“Jadi gimana, Gin, mau pulang bareng nggak, nih?” tanya Guntur lagi meminta kepastian.
Gina berpikir lagi. Gengsi banget kalau bilang mau.
“Kak Guntur!” Seseorang tiba-tiba muncul. Pasti kelas sepuluh. “Kak Guntur mau pulang, ya?”
Guntur tersenyum pada cewek manis berponi depan itu. Rambutnya hitam dan panjang, cocok jadi iklan sampo. “Eh, Alya. Iya, nih. Kamu belum pulang?”
Alya terlihat malu. “Hmm ... kalau Alya mau nebeng sama Kak Guntur boleh nggak? Kita, kan, searah.”
Guntur menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Hmm ... gimana, ya.”
__ADS_1
“Ya, udah, lu anterin aja, Gun. Kan, searah juga. Gue bisa pulang sendiri, kok. Lagian rumah kita beda arah!” Gina menekankan kata ‘beda arah’, lalu melangkah meninggalkan dua orang itu. Begitu sudah lima langkah, Gina memelankan laju kakinya. Kok, Guntur nggak ngejar gue, sih? Dia beneran mau nganterin cewek itu? Gina terus menggerutu dalam hati sambil berjalan pelan.
“Pasti lagi nunggu gue kejar, ya?”
Gina terlonjak. Tiba-tiba Guntur sudah ada di sebelahnya. “Ngapain lo ngejar gue? Sana, anterin aja cewek itu.”
“Ya nggak mungkinlah, Gin, gue ninggalin lo demi cewek lain.”
“Kak, Alya duluan, ya.” Alya melintas melewati Guntur dan Gina.
“Iya, hati-hati, ya, Alya.”
Guntur tertawa geli. “Ciee yang cemburu.” Disenggolnya bahu Gina.
“Nggak!”
“Cemburu.”
“Nggak!”
Guntur membuang napas berat. “Ya, udah kalau nggak cemburu. Berarti usaha gue selama ini sia-sia. Mungkin emang udah saatnya gue mundur dan putar balik.” Dia berbicara dengan nada sarat kekecewaan. “Ya, udah, gue duluan, ya, Gin. Lo hati-hati baliknya. Daaah.”
Gina memandangi punggung Guntur yang berjalan lemah. Dia kesal sekali pada cowok itu.
“Gun!”
Guntur berhenti lalu tersenyum sendiri. Namun, begitu berbalik menghadap Gina, dia kembali mengubah ekspresi wajahnya jadi melas. “Iya?”
Gina mendekati Guntur. “Maaf kalau selama ini gue selalu jutek sama lo. Kalau emang lo mau mundur dan putar balik, silakan. Gue nggak akan ngelarang.”
Harapan yang tadi tumbuh di hati Guntur langsung pupus seketika. Ternyata dia mang benar-benar gagal. Guntur tersenyum kecut.
“Tapi lo nggak boleh parkir di hati lain.”
Mata Guntur melebar mendengar kalimat itu. Keningnya berkerut tanda tak mengerti.
“Lo harus balik lagi dan cuma boleh parkir di hati gue.”
Setelah mengucapkan itu, Gina langsung berjalan cepat sambil tersenyum malu. Dia berusaha menyembunyikan rona di wajahnya yang serasa terbakar karena malu. Di belakangnya terdengar Guntur berteriak-teriak kegirangan seperti orang gila. Gina masih tak habis pikir, kenapa dia bisa mengucapkan kata-kata tadi pada Guntur.
Langkahnya terhenti sejenak, saat melihat di depan perpustakaan sosok Nadia berdiri dan tersenyum begitu manisnya. Wajahnya tak tertutup rambut sama sekali. Gina balas tersenyum. Kemudian sosok itu menghilang.
[SELESAI]
________
Omegadd
Guntur, motor satu lagi boleh parkir di hati aku.
wkwkwk
🤪🤪🤪🤪
Next, akan ada cerpen Bale Lantip, lho. Setelah misteri, kita pindah ke cerita horor karya Winda Nurdiana. Yuk, cuss, mariii! 🤭
__ADS_1