
ditulis dan disunting oleh Imas Pupu
ditagih dan diteror oleh Admin Ul 🤪
_______
Desas\-desus mengenai serangkaian kejadian di ospek kampus seminggu yang lalo terus menerus diceritakan satu sama lain. Bahkan, sudah menyebar di kalangan para mahasiswa senior. Sepanjang jalan menuju kelas, cerita itu semakin ramai diperbincangkan. Dari beberapa cerita yang kudengar, hantu itu merupakan mahasiswa kampus ini. Kabarnya, dia sudah mati bunuh diri. Sementara, versi lain menyebutkan bahwa hantu tersebut merupakan korban gempa beberapa tahun lalu.
Sebenarnya, aku tidak mau percaya dengan apa yang mereka ceritakan. Terlebih saat ini, ketika mata kuliah sudah selesai, ada beberapa mahasiswa yang sedang menceritakan kejadian tersebut menurut versi mereka masing\-masing.
“Gue masih belum percaya deh kejadian waktu ospek, itu mungkin akal\-akalan panitia buat nakut\-nakutin kita.” Seorang perempuan berambut pirang mulai bercerita.
“Tapi, lo kan nggak tidur di kelas yang ada kejadian tersebut. Kenapa bisa seyakin itu?” tanya lelaki berambut gondrong.
“Halah, buktinya nggak ada tuh yang tidur di kelas tersebut dan mau menceritakan kejadian sebenarnya. Bahkan nggak ada saksi yang bisa memperkuat semua cerita yang beredar,” jelas perempuan yang ternyata adalah Ardilla.
Perdebatan dari kelima orang tersebut terus berlanjut. Mengungkapkan cerita dari versi masing\-masing. Sebenarnya, aku ingin sekali keluar dari kelas ini. Namun Adit –temanku masih setia mendengarkan cerita mereka.
“Dit, ayo pulang,” bisikku. Kebetulan, Adit duduk di sampingku. Sementara, jarak antara kami dengan kelima mahasiswa tersebut hanya dipisahkan oleh beberapa kursi saja.
“Bentar, gue penasaran sama cerita ini. Lagipula, gue juga liat,” ucap Adit dengan suara yang pelan.
“Iya tau, gue juga liat, kok. Gue kan tidur di kelas yang heboh itu. Tapi, udahlah ayo pulang.”
Mendengar pernyataan tersebut, Adit langsung berdiri dan mengikutiku.
“Ceritain dong, gue pengen tau. Eh bentar, ceritanya di perpustakaan aja. Sekalian nyari buku buat nugas.”
Aku menghela napas panjang, “Perpustakaan ada di lantai 5, Dit. Capek tau.”
“Kita pake lift aja, biar cepet.” Adit menarik tanganku dan bergegas menuju perpustakaan yang berada di lantai paling atas.
Ketika sudah di dalam lift dan memencet tombol menuju lantai yang dimaksud, tiba\-tiba lift berhenti mendadak. Sementara, lampu mati nyala dan suara musik sudah menghilang. Aku segera mencari gawai yang ada di tas, bermaksud untuk mencari bantuan. Namun nihil, tidak ada sinyal di sini.
“Dit gimana, nih? Gue takut.”
“Gue lupa, kalau udah sore gini lift nggak boleh dipake, suka mati mendadak. Nggak tau kenapa.”
“Kenapa nggak bilang sih, gimana nih cara kita keluar?” Aku berusaha mendekati Adit dan memegang tasnya. Memastikan bahwa dia masih ada di sampingku.
Adit tidak mengatakan apa\-apa lagi, semuanya menjadi hening. Malah hanya ada semilir angin yang tidak tau datang dari mana. Aku tidak bisa melihat apapun, karena kondisi yang benar\-benar gelap. Bulo kuduk malah berdiri, lantas beberapa saat kudengar ada seseorang yang berbisik.
*Jangan pergi ke perpustakaan*
“Aaa, Adit, gue takut. Tadi lo denger suara bisikan, nggak?” Spontan aku memegang tangan Adit dengan sangat erat. Sementara, si empunyanya malah tertawa.
“Dit, lo nggak kesurupan, kan?” Aku menjauh dari Adit.
“Hahaha, santai aja dong, Ra. Tadi gue yang bisikin lu, udah sini jangan takut. Mana ada sih hantu sore\-sore gini.” Adit langsung mendekati dan memegang tanganku.
“Nggak lucu, sumpah.” Aku menepis tangan Adit dan tetap berdiri di pojok lift.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, lift sudah berjalan kembali, hingga akhirnya membawa kita ke perpustakaan.
Perpustakaan ini lumayan luas, di sebelah kanan pintu terdapat ruangan khusus mengerjakan tugas kelompok. Sementara, di bagian sebelah kiri terdapat banyak sekali rak buku dengan beberapa meja melingkar dan kursi untuk para pembaca. Kemudian, selain kursi biasa, ada juga karpet berbulo untuk para mahasiswa teknik melakukan pengerjaan tugas menggambar.
Aku memasuki perpustakaan dan melakukan pendaftaran terlebih dahulu, ssementara Adit masih mengikuti di belakang. Setelah kejadian tadi, Adit tidak berbicara apapun lagi. Mungkin dia menyesal sudah mengerjaiku seperti tadi.
“Ra, tunggu. Maafin gue, ya.” Adit menunduk.
“Di dalam perpustakaan tidak boleh berisik, ayo cari dulu buku buat referensinya. Setelah itu, kita duduk di ruangan sana.” Aku menunjuk ruangan tempat para mahasiswa mengerjakan tugas kelompok.
Adit masih terdiam dan tetap mengikutiku. Meskipun susunan dari perpustakaan ini sangat rapi dan bersih, juga dilengkapi dengan wifi, tidak banyak yang datang berkunjung. Kalau dihitung\-hitung, hanya ada sekitar 7 mahasiswa saja yang tersebar. Mungkin karena memang perpustakaan yang berada di lantai paling atas atau memang sudah sore, jadi tidak banyak yang berkunjung.
“Dit, kayaknya itu deh buku yang kita butuhkan. Tapi gue nggak nyampe nih.”
Adit mendekat dan mengambil buku tersebut. Setelahnya, kita berdua pergi ke ruangan tempat mengerjakan tugas. Aku memilih tempat yang dekat dengan jendela dengan dua kursi.
“Dit, jangan diem aja dong. Jadi sepi, nih.”
“Maafin gue, ya, Ra. Pasti tadi lo tadi ketakutan banget dan malah gue kerjain.”
“Udahlah, nggak apa\-apa. Kayak baru kenal hari ini aja. Tapi jangan diulangi lagi.”
“Makasih, Ra.” Adit mengangguk. “Eh iya, gue mau cerita nih soal ospek kampus kemarin itu. Gue liat cewek yang sampai sekarang nggak ditemuin lagi.”
“Hah, maksud lo, ngilang, gitu?”
“Mana gue tau, Dit. Lo kan tau kalau gue susah akrab sama orang baru. Eh tapi, pas waktu acara api unggun, gue liat cewek di atas gedung perpustakaan ini.”
Menceritakaan kejadian malam itu, malah membuatku merinding, terlebih saat ini aku sama Adit masih di perpustakaan.
“Apaan sih lo, pasti mau balas dendam gara\-gara tadi gue kerjain. Udah ah merinding.” Adit langsung membuka buku yang tadi dipinjamnya.
“Gue beneran, dengerin dulu. Katanya mau tau cerita pas ospek gimana. Lagian ngapain gue balas dendam, kayak nggak ada kerjaan lain aja.”
“Yaudah lanjutin.” Adit menutup kembali bukunya dan memandangku.
“Jadi, sesudah acara api unggun, semua peserta langsung tidur, kan. Nah, pas di ruangan gue tuh si lampunya dimatiin. Kata panitia biar bisa cepet tidur dan baik buat kesehatan. Yaudah kita peserta nurut\-nurut aja. Tapi, baru aja gue merem, ada yang teriak. Gue langsung bangun dalam keadaan gelap dan liat cewek merangkak dengan rambut panjang. Cewek itu liat gue dan malah senyum. Gila, senyumnya lebar banget, terus pipinya penuh darah dan mata kanan yang dipake buat lirik ke arah gue kayak mau lepas gitu. Serem, sumpah.”
“Udah ah, gue merinding, nih. Eh, tapi apa mungkin itu kerjaan panitia?”
“Gue rasa bukan sih, soalnya si cewek itu kan buka pintu gitu, terus nutupnya keras banget. Nah, panitia juga nggak tau, langsung masuk ke ruangan kita karena ada yang menjerit. Terus lagi, sesudah melakukan presensi, panitianya pada kebingungan nyari satu mahasiswi yang hilang. Gue rasa mahasiswi yang dimaksud si cewek itu, deh.”
Aku masih mengingat detail cerita yang saat ini diceritakan ulang kepada Adit. Bahkan, sejak kejadian itu, aku mulai bertanya-tanya kepada kakakku yang kebetulan alumni dari kampus ini. Namun, kakak nggak memberikan informasi apapun.
“Ah, gue bingung, masa ada hantu yang nyamar jadi mahasiswi, terus ngilang pas acara ospek. Emang, hantu bisa gitu, ya?”
“Mana gue tau. Gue kan manusia, nggak ada hubungannya sama hantu. Oh iya, kemarin gue sempet cari di internet mengenai kampus ini dan bentar ... “ Aku mengambil gawai dan membuka galeri, lalu menunjukkan hasil screen shoot beberapa berita ke Adit.
“Mahasiswi ditemukan tewas bunuh diri,” gumam Adit dan seketika melempar gawaiku, untunglah gawai tersebut masih tertangkap.
“Apaan sih lo, gawai gue hampir jatuh, nih.”
__ADS_1
“Gila, itu gambar jasadnya enggak disensor. Gue kaget, makanya gue lempar.”
“Apaan sih, gambarnya disensor kali.” Aku langsung mengecek gambar yang dimaksud oleh Adit dan benar saja gambar tersebut disensor. Lalu, kutunjukkan gambar tersebut kepada Adit.
“Nih, disensor, kan?”
“Sumpah, Ra. Tadi gue lihat gambar itu nggak disensor. Matanya kayak liatin gue gitu. Udah ah, gue nggak mau bahas ini lagi. Mending ngerjain tugas aja.”
Adit langsung membaca bukunya kembali. Sementara pikiranku masih dipenuhi tentang kejadian ospek kemarin.
“Eh, Dit. Ini kok di bawah kayak rame gitu, ya. Padahal udah sore dan perkuliahan rata\-rata udah selesai.”
“Mungkin mereka lagi mabar kali, Ra. Udah ah, baca itu buku dan cepat kerjain tugasnya.”
Benar juga kata Adit, mungkin mereka lagi mabar. Aku lanjut mengerjakan tugas yang tadi diberikan oleh dosen. Sampai tidak terasa sudah agak begitu lama berada di perpustakaan.
“Adek\-adek, sudah mau malam. Ayo pulang, perpustakaannya mau dikunci.”
Aku dan Adit menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berada di dekat kaca. Tepatnya, berada di luar. Sosok tersebut sama persis dengan apa yang tadi aku ceritakan kepada Adit. Rambutnya panjang, bibirnya hampir sobek dan mata kanannya sedikit menonjol. Aku dan Adit saling melirik, lantas bergegas berlari ke luar.
Aku memutuskan untuk menggunakan tangga, Adit pun masih mengikuti. Sementara, di setiap lantai ternyata sudah tidak ada orang. Padahal, dari tadi suara berisik masih kedengaran.
Akhirnya, setelah terus berlari, kami berdua keluar dari gedung itu dan sekarang sudah berada di area parkir.
“Tadi gue kira itu orang, Ra. Tapi kok aneh suaranya di dekat jendela, padahal tempat duduk kita udah mepet banget sama itu jendela. Pas gue nengok, udah pengen pingsan aja.”
“Sama, gue kira itu orang. Cuman gue mikir, masa ada orang setinggi itu, sampai bisa muncul di jendela lantai 5. Merinding nih, gue.”
Tempat parkir ternyata sudah lumayan sepi, hanya tinggal beberapa motor saja dan motor Adit. Cuaca hari ini juga kurang bagus, langitnya mendung tapi tidak hujan. Malah angin cukup kencang.
“Ra, kayaknya itu sosok yang lo ceritain deh. Gue soalnya udah terlanjur ngebayangin dari ciri\-ciri yang lo sebut, eh ternyata ada.” Adit menyondorkan helm kepadaku.
“Iya, gue rasa emang dia, sih. Tapi gue masih penasaran, nih.” Aku mengambil helm dari Adit dan segera memakainya.
“Udah deh, apaan sih penasaran sama hal kayak gitu. Gue takut, nih. Ra, itu kan sosok yang tadi.” Adit langsung mundur beberapa langkah setelah menunjuk ke arah sosok tersebut.
“Dit, gimana, nih. Kalau didatengin gini gue juga takut. Wajahnya serem banget, sih.” Aku memegang tangan Adit erat dan terus mundur.
“Jangan takut, aku hanya mau minta tolong saja.” Tiba\-tiba sosok itu sudah ada di hadapan kami dengan wajah yang sudah bagus.
“Min ... minta tolong apa?” tanyaku gugup.
“Cari tau, bagaimana aku bisa mati atau salah satu diantara kalian ada yang harus mati.” Sosok itu terus mendekat dan wajahnya kembali ke bentuk awal. Peganganku ke tangan Adit semakin erat. Tiba\-tiba semakin dekat sosok itu, dia langsung menghilang.
________
Bersambung ....
________
Aduh, seram banget ini cerpen. Tolongin Admin Ul, dong. Pengen lempar HP abis baca. 😂😂😂😂
Lanjut, yuk.
__ADS_1