Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Hasrat di Bawah Pohon Akasia Bagian 1


__ADS_3

Hasrat di Bawah Pohon Akasia


ditulis dan disunting oleh Amanda Chrysilla


tanpa diteror Admin Ul 🀣🀣🀣


______


"Katanya, kalau kalian pergi ke bawah pohon besar di belakang gedung sekolah kita dan mencari perempuan bernama Mawar. Besoknya dia akan datang mencari kita,” kata Jessica memulai pembicaraan horor di antara mereka berempat.


"Tapi untuk apa dia mencari kita?" tanya Kirana penasaran, kepalanya mendekat ke arah Jessica yang duduk di hadapannya.


"Mengajak kita ke neraka,” jawab Jessica dengan raut wajah serius.


Ralya tertawa. "Omong kosong macam apa itu? Mengajak ke neraka? Lah, dianya aja belum ke neraka. Masih di bumi."


"Iya juga, ya.” Jessica mengangguk-angguk menyetujui.


Kawan-kawannya yang lain pun mengaminkan.


"Tapi gara-gara cerita itu, jadi nggak ada yang berani main di belakang gedung sekolah. Apalagi ke dekat-dekat pohon itu,” celetuk Tyara.


"Halah, palingan rumor ini dibuat biar nggak ada di antara kalian yang bolos lewat halaman belakang sekolah,” kata Ralya lugas lalu menyandang tas ranselnya dengan gagah. "Udah, yuk! Pulang lagi. Sekolah udah sepi juga."


Ketiga teman Ralya mengacungkan satu jempol mereka ke udara dan mengikuti Ralya menyandang tas ransel masing-masing berjalan menuju pintu kelas.


***


Ralya ingin merokok. Iya, anak perempuan yang baru saja naik kelas 2 SMA itu adalah seorang perokok. Dia tak menemukan tempat mana pun yang pas untuk dirinya merokok dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke halaman belakang gedung sekolahnya. Tepatnya halaman belakang gedung sekolah yang dekat dengan pohon akasia tua yang kemarin diceritakan oleh teman-temannya sekelasnya sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.


Karena rasa penasaran yang mendadak menghampiri Ralya, langkah kakinya perlahan berjalan mendekati pohon akasia itu. Telapak tangan kanan Ralya menyentuh batang pohon, "Mawar," gumamnya. β€œMawar, aku mencarimu,” gumamnya sekali lagi.


Ralya memiringkan kepalanya sejenak. Tidak terjadi apa-apa, tuh, pikirnya. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak. Merasa konyol sendiri. Kenapa dirinya tiba-tiba memercayai cerita misteri di sekolahnya yang lebih mirip khayalan tingkat tinggi seseorang kurang kerjaan? Dia pun mengibaskan tangan kanannya ke depan wajah beberapa kali.


Ah, sudahlah, pikirnya. Mari kita hentikan kekonyolan ini dan kembali ke kelas sebelum si tua bangka nan galak itu datang. Ralya sedang mengingat guru matematikanya yang sangat disiplin soal waktu. Tidak ada murid yang boleh terlambat masuk ke kelas barang sedetik pun.


Ralya membuang rokok yang sudah terbakar separuh ke tanah di sekitar pohon akasia besar itu. Kakinya sudah terbiasa menginjak rokok hingga apinya padam. Dia pun kemudian melenggang pergi tanpa merasakan firasat apa pun, bahwa nantinya pemilik nama Mawar akan benar-benar datang menemui dirinya.


***


"Siapa di sana? Apa maumu?"


"Mati. Ikut bersamaku."

__ADS_1


"TIDAAAAAAKKKKKKKK!!!!"


Bahu Ralya ditepuk keras oleh seseorang, membuatnya sadar dari lamunannya di siang bolong yang panas.


"Eh, ada apa, Ly? Muka kamu kelihatan pucat,” tanya Kirana, teman yang menjadi teman sebangkunya di bulan ini. Setiap satu bulan sekali, di kelas Ralya diadakan pergantian tempat duduk.


Ralya memijat-mjjat pangkal kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sakit.


Kenapa dia bisa membayangkan hal-hal yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya? Siapa perempuan itu? Wajahnya samar-samar....


"Nggak apa-apa," balas Ralya skeptis. "Cuma lagi sakit kepala aja."


"Mau aku mintain obat ke UKS?" Terdengar nada khawatir dari suara Kirana.


"Nggak perlu, Ran." Ralya mengibaskan tangan ke udara beberapa kali, mulai merasa Kirana agak mengganggu kehidupannya yang tenang. Kehidupan yang tenang menurut definisi Ralya adalah menyendiri di bangkunya dan jatuh tertidur kapan pun guru tidak ada. "Nggak begitu sakit kok."


β€œKalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita sama aku ya, Ly.”


β€œOke, Ran.” Namun menurut Ralya, punya seorang teman yang perhatian kepadamu juga tidak begitu buruk.


***


"Pinjamkan aku tubuhmu!"


"Apa?!" teriak Ralya histeris.


"Kau siapa?!" teriak Ralya lagi. "Tunggu dulu! Sepertinya aku pernah melihatmu...."


Sepasang mata Ralya menyipit, memandang dari atas hingga ke bawah secara teliti hantu perempuan muda itu. JikaJika dilihat dari wajahnya, hantu perempuan itu menurut Ralya berusia kurang lebih sama dengannya. Kalaupun lebih tua, Ralya memprediksi si hantu perempuan hanya lebih tua setahun atau dua tahun darinya. Hantu perempuan itu memakai gaun sederhana berwarna putih selutut, terdapat aksen bergelombang pada rok gaunnya. Tak ada luka pada tubuhnya. Nyaris seperti manusia biasa minus warna kulit yang putih pucat seperti mayat.


Ralya tidak heran. Tentu saja kulitnya terlihat seperti mayat, dia 'kan hantu, batinnya.


Padahal, selama ini Ralya menonton film horor, hantu-hantu selalu digambarkan dengan seram, banyak luka yang tertinggal pada tubuh mereka. Wajah mereka juga hancur-hancur. Ada yang mukanya rata, ada yang matanya hilang, ada yang hidungnya terus-terusan mengalirkan darah. Pokoknya, nggak banget deh!


"Ah, ya! Jadi, kau yang selama ini menakut-nakutiku di dalam mimpi? Ternyata benar, pohon akasia sialann itu ada penghuninya," kata Ralya muram.


"Kau tidak takut kepadaku?" tanya si hantu perempuan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ralya. Ternyata, tinggi mereka juga hampir sama. Ralya lebih tinggi sedikit dari si hantu perempuan.


Ralya berdecak, mengeluarkan ekspresi meremehkan. "Takut? Bukankah dari kecil kita diajarkan untuk hanya takut kepada Tuhan?"


"Wow." Si hantu perempuan terkesima, yang terkesan dibuat-buat menurut Ralya.


"Lagi pula penampilanmu... sama sekali tidak menyeramkan. Dan..." Jeda sejenak. "kamu dulunya pasti primadona di sekolahmu. Benar, 'kan, Mawar?"

__ADS_1


Mawar tertawa keras. Keras sekali hingga memekakkan telinga Ralya.


"Untuk apa menjadi primadona sekolah jika akhirnya kau jatuh cinta dengan gurumu sendiri?" kata Mawar sarkas.


"Kau harus tahu, aku memang seorang perokok berat. Tapi maaf saja, aku nggak akan mau main-main dengan guruku." Ralya menahan dirinya untuk tidak meludah ke arah Mawar, walaupun Ralya tahu sia-sia saja meludahi Mawar karena tubuhnya hanyalah sebuah bayangan yang tampak utuh seperti tubuh manusia. Yang ada, Ralya hanya akan mengotori lantai kamarnya yang bersih.


Sepasang mata Mawar menatap tajam wajah Ralya. "Aku bilang, pinjamkan aku tubuhmu!"


Ralya menantang dan menatap balik tajam wajah Mawar yang baginya sama sekali tak menakutkan. Di mata Ralya, Mawar tak lebih dari seorang perempuan cantik yang memiliki kulit sangat pucat layaknya wanita-wanita turunan Kaukasia. Fitur wajahnya sempurna dengan hidung mancung yang kecil, matanya berukuran sedang terlihat sangat menarik (di mata laki-laki pastinya, Ralya seratus persen masih lurus), bentuk bibirnya penuh, dan dia juga memiliki sepasang alis yang rapi yang berhasil membuat Ralya, si pemilik alis tebal berantakan merasa iri. "Apa untungnya buatku?" tanya Ralya galak.


Mawar tak menjawab.


"Sudah berapa murid yang kau pinjam tubuhnya? Apakah kau mengembalikannya selama ini?"


"Cih!" Satu sudut bibir Mawar naik, dia tersenyum sinis. "Bukan urusanmu."


"Hei, Nona. Aku nggak sebodoh itu meminjamkan tubuhku kepada hantu yang baru aku kenal sepuluh menit lalu. Jadi, untuk mencapai kesepakatan, kau harus menceritakan semuanya kepadaku, dari awal hingga akhir. Tak boleh ada yang ditutup-tutupi dan tak boleh ada detail penting cerita yang sengaja dilewatkan,” jelas Ralya tegas, dia sengaja menaikkan dagunya sedikit.


"Seperti yang kau bilang, mana ada yang sukarela meminjamkan tubuhnya."


"Terus kau merasuki mereka?"


Mawar mengangguk dua kali.


"Apakah mereka mati karena kehabisan energi?"


Mawar mengangguk lagi.


Masuk akal, pikir Ralya. Sepanjang pengetahun Ralya yang sering menonton film-film horor, jawaban-jawaban yang diberikan Mawar terdengar jujur.


"Ah, tapi ada satu yang benar-benar rela meminjamkan tubuhnya. Padahal, tubuhnya sendiri lemah."


Dahi Ralya berkerut. Orang bodoh macam apa yang rela meminjamkan tubuhnya kepada hantu selicik Mawar?


"Siapa?"


"Untuk apa aku memberitahumu?"


Mawar pun menghilang dari pandangan Ralya dalam sekejap mata.


_________


Bersambung ....

__ADS_1


Yang udah baca jangan lupa like dan komen. Rating lima yuk, man-teman. Rating empat simpan aja dalam hati. 🀣🀣🀣🀣


Ayo, kita lanjutkan bacaan ini.


__ADS_2