
Cerita ini mungkin tidak seram menurut kalian, tapi aku menuliskannya sekuat jiwa raga karena memang sebagian kisah nyata, sebagian dramatisasi. Wkwk. Selamat membaca!
Sosok Kiriman
Oleh: Ul
Duh, malam Jum'at nih, gaess. 😆😆😆
_________
Kalian tahu, sejak lama Wulan takut melihat tanah? Ini bukan sekadar fobia atau takut kotor. Berani kotor itu baik? Oke, Wulan pasti sudah hafal kalimat itu!
Merinding gak, sih? Kalian akan takut melihat remahan tanah bila mengalami hal yang sama dengan Wulan. Segenggam remahan tanah saja sudah bisa membuat dia lari ketakutan.
Ini kisah beberapa tahun lalu di sekolah. Pesantren tempat Wulan menuntut ilmu dikirim jin entah oleh siapa. Bukan satu atau dua jin saja, bahkan ribuan. Please, deh, kenapa nggak kirim nastar aja? Kirim rujak petis yang enakan lagi.
Jin sukses dikirim. Begitu kira-kira mungkin isi obrolan orang-orang jahat itu. Wulan kembali mengingat secuil kisah dari ribuan jin itu. Sebaiknya mundur saja dari bacaan ini, bila terasa cukup menegangkan.
Terjemahan kitab Tafsir yang belum Wulan salin membludak. Tak ada pilihan. Saking malasnya menuntut ilmu, kadang santri gampang masuk angin. Dijadikan alasan untuk rebahan 1-2 jam hingga akhirnya tugas sekolah menggunung.
Penyesalan adanya di belakang, bukan? Kalau sudah begitu, siapa yang bisa menolong Wulan menyalin pelajaran segitu banyak? Teman-teman yang lain pun sibuk dengan kelengkapan buku masing-masing.
__ADS_1
Wulan, Putri, Atiyah, Unay, dan Novi biasa menggelar sajadah di dalam masjid untuk belajar bersama. Mereka memilih lapak rebahan dekat imam sebagai tempat favorit. Angin dari jendela-jendela yang terbuka lebar akan membuat mereka kuat berjaga, kadang ... justru ketiduran.
Setelah pulang kajian kitab Jurumiyah, mereka asyik berkumpul di lapak ceria. Jendela dengan kusen berwarna coklat tua juga andil dalam setiap pertemuan. Di luar jendela, ada latar selebar dua ubin. Di balik pagar yang mengelilingi latar, mereka bisa melihat pohon-pohon jambu biji. Tentu saja syahdu bila duduk bersantai di pagi dan sore hari.
Sayang sekali, tak ada yang berani duduk memandang kebun jambu kala malam hari. Tak ada penerangan di sana. Gelap sepanjang mata memandang.
"Berapa lembar lagi, Lan?" Putri sudah mengganti jilbabnya dengan mukena. Dia melongok ke arah buku tulis Wulan dan langsung menggeleng.
"Nggak kira-kira ya utang salinannya." Si Pipi Bakpao itu berdecak lalu tertawa. Wulan mendelik kesal.
"Wulan, kalo kurang, ini bantuin ane juga, dong!" Atiyah malah berniat menambahkan kerjaan.
"Teman sedang kesusahan, sebaiknya bantulah! Mawaddatus sodiqi tadzharu waqtad diiqi!" Wulan sudah mirip Ustadzah Mahfuzdhot saja. Itu lho, pelajaran yang isinya hadis dan kata-kata mutiara.
Novi tertawa geli memperhatikan kelakuan teman-temannya. "Kalau ribut terus, kapan selesainya? Dasar kalian!" Dia merebahkan diri di atas sajadah, tepat di bawa kipas angin gantung--di samping tumpukan buku Wulan. Angin dari jendela pun dirasa kurang sejuk tanpa kipas angin.
Malam semakin larut. Jendela lebar masjid yang tak bertirai menampakkan kegelapan kebun jambu. Wulan belum juga menyelesaikan salinan terjemah kitab Tafsir. Dia sesekali mengusap tengkuknya yang tak gatal. Di atas hamparan sejadah berwarna coklat tua, dirinya berselonjor. Posisi mukena coklat susu yang dipakainya sudah mulai berantakan.
Entah ini yang ke berapa, Wulan menguap. Kantuk sudah datang sejak sejam yang lalu. Tentu saja. Sekarang sudah pukul dua belas malam. Sudah waktunya tertidur pulas. Namun, tumpukan tugas seolah tak ada habis, karena kesalahan sendiri.
Oh iya, ada yang aneh di masjid ini. Kalau kebanyakan film horor akan membuat jam berdentang pukul dua belas malam, di sini tidak. Jam besar itu akan berdentang pada angka dua. Suaranya bahkan terdengar jelas hingga asrama lantai tiga. Jam tersebut diletakkan di dinding atas pintu masjid.
__ADS_1
Wulan melihat ke sekeliling. Atiyah yang punya banyak salinan dengan mudahnya terlelap. Apa dia tidak takut pada kemarahan Ustad Samullah? Lain lagi dengan Putri yang sedikit-sedikit mengigau. Kenapa sih mereka nggak tidur di kamar saja? Ada bagusnya juga, sih. Wulan jadi merasa punya teman. Novi yang memang sudah menyelesaikan salinan baru saja tertidur beberapa menit.
Menengok ke kanan dan kiri, Wulan mencari keberadaan Unay. Di mana teman galaknya itu? Memang lebih baik dia ke kamar. Wulan jadi sedikit beristirahat dari omelannya. Kebetulan, kamar Unay memang berada tak jauh dari masjid. Kamarnya persis di depan sana.
Dong! Dong! Dentang jam terdengar keras. "Waktu menunjukkan pukul dua!" Suara wanita yang khas itu keluar secara otomatis juga. Memang sudah pengaturan jamnya begitu. Tidak perlu takut. Meski begitu, Wulan mengelus dada juga karena kaget. Kekuatan mata cewek itu tinggal lima watt, apalagi otaknya. Kalau tahu akan begini, kapok menunda tugas sekolah. Untuk saat ini, ya. Besok, pasti dia akan mengulangi lagi. Dasar Wulan!
Seharusnya, Wulan tidak merinding. Tapi entah kenapa, angin dari luar jendela berembus, membalikkan beberapa lembar kitabnya hingga menciptakan suara gesekan kertas. Wulan menoleh ke jendela besar yang berada jauh darinya, dekat pintu masjid.
Ada sosok yang diyakini Wulan salah satu santri juga, terlihat dari balik jendela besar masjid di dekat jam besar. Mungkin cewek itu ingin salat tahajud. Begitu pikir Wulan. Dia lekas memfokuskan diri pada buku. "Tapi, siapa yang salat tahajud segini malamnya?" Wulan berpikir keras. Dia meletakkan pensilnya tanpa alasan.
Wulan seketika mengangkat kepala, meluruskan pandangan ke arah pintu masjid. Kalau dia bisa menjerit, tentu saja dia akan menjerit keras. Hawa dingin menyergap sekujur badan. Mata Wulan terperangah dan membulat. Jantung berdetak tak karuan. Susah payah dirinya mengatur napas. Semoga dugaan akan sosok yang berada di dekat pintu masjid adalah karena kelelahan semata. Itu halusinasi semata.
Pada apa yang tampak jauh di depan pintu masjid yang terbuka lebar, Wulan terkejut sejak tadi. Dia berusaha bersikap tenang. Saat ini yang ingin dilakukannya antara pura-pura pingsan atau lari sekuat tenaga. Wulan meraih dan memakai kacamatanya yang sejak tadi tergeletak di dekat tumpukan buku. Dia menajamkan pandangan.
Membaringkan badan di atas sajadah, Wulan memejamkan mata kuat. Lalu dia berpikir apakah sosok itu akan menjauh atau mendekat?
Kalo gue pingsan, pas buka mata, dia ada di depan muka gue kayak film-film horor gimana? Duh!
Wulan merutuki dirinya yang bodoh di saat genting begini. Dia membuka mata sedikit dan mengintip ke arah timur. Sosok yang sejak tadi membuat keringat dingin menyergap dirinya sedang mendekat. Saking paniknya, Wulan sampai lupa mengecek, apakah sosok itu berjalan atau meloncat seperti kebanyakan di film horor yang pernah dia tonton dulu.
Gue harus bangun? Gue nggak mau kan itu Copong ada di depan muka gue? Gustiii!
__ADS_1
Menghabiskan waktu berdiskusi dengan diri sendiri, cewek itu tak sadar bila sosok yang keberadaannya hanya beberapa langkah itu sudah berdiam di tengah masjid. Wulan menarik napas dan berusaha bangun. Ini bukan saatnya untuk berpikir, apalagi pura-pura pingsan. Sekujur badannya terasa dingin.