Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Sosok Kiriman Bagian 2


__ADS_3

ditulis dan disunting oleh Ul


disayangi oleh kamu 🤪😝


__________


Lihatlah sosok di tengah masjid tersebut, kain putih yang membungkus seluruh badannya terlihat lusuh. Tak ada juntaian di atas kepala. Wulan perlu melotot tajam agar bisa melihat jelas. Dia khawatir yang tak diundang itu datang untuk minta dibukakan ikatan tali kepala seperti di film horor.


Bukan hanya kain pembungkusnya saja yang lusuh, wajah sosok yang kemungkinan pria itu juga lusuh, dipenuhi tanah basah. Yang lebih menakutkan adalah matanya sedang menatap Wulan. Meski tak secepat kilat, tapi cewek itu berusaha berdiri.


Adakah yang bertanya-tanya, kenapa masjid bisa didatangi makhluk halus? Wulan tak bisa menjawab karena dia juga mempertanyakannya. Aroma tanah basah tercium padahal malam ini tidak ada hujan. Cewek itu menelan ludah sendiri berusaha untuk tidak melihat sosok yang kemungkinan saat ini sedang memperhatikannya.


Wulan menggoyang tubuh Novi yang sejak tadi tertidur di sebelah tumpukan buku. Setengah sadar, Novi terduduk. Setelah menguap, Novi seperti menunjukkan ekspresi protes karena dibangunkan dengan sangat kasar.


"Ayo kita pergi dari sini!" Wulan juga membangunkan Atiyah dan Putri.


"Ada apa, sih, Lan? Orang lagi tidur, ganggu aja." Atiyah tak peduli dan kembali memejamkan mata.


"Terserah!" Tak ada waktu lagi untuk berdebat dengan Atiyah. Tanpa terasa masjid memang hanya menyisakan mereka malam ini. Entah ke mana kelompok lain yang biasa mengobrol di masjid.


Novi dan Putri memaksa Atiyah untuk berdiri. Mereka berjalan cepat meninggalkan tempat rebahan ternyaman itu tanpa merapikan.


"Gak usah banyak tanya!" Wulan marah karena tanpa melihat jelas pun, sudut matanya sudah bisa menangkap sosok yang masih saja berdiri di tengah masjid. Tepat di dekat pilar.


Wulan memilih pintu keluar di sebelah selatan demi menghindari makhluk menakutkan itu. Tak diduga, sosok itu justru memutar badan dan meloncat menuju ke arah pintu selatan juga. Hal ini tentu saja membuat bulu kuduk Wulan semakin meremang.


"Sebenernya kita lari dikejar apa, sih?" tanya Putri sambil mengatur napas. Tangannya bergandengan erat dengan tangan Atiyah.


"Makhluk yang pake kain kafan mukanya penuh tanah." Wulan terpaksa menjawab meskipun hal itu membuat dia semakin merinding.


Novi terbelalak mendengar jawaban Wulan. "Pocong? Sumpah, Lan?" Dia bertanya dengan lirih.


Sementara itu, Atiyah dan Putri terus mengekor langkah Wulan dan Novi. Mereka memang tak melihat apa yang dilihat Wulan, tapi percaya bahwa meninggalkan masjid adalah anjuran yang sangat tepat. Kamar di dekat pintu timur masjid terasa sangat jauh.

__ADS_1


Angin malam berembus kencang. Suasana koridor asrama hening dan mencekam. Novi menarik gagang pintu dan ... terkunci. "Kok tumben kamar gue dikunci?"


Atiyah dan Putri yang sedang menunggu di balik punggung Wulan lantas bertatapan karena galau. Novi mengetuk pintu kamarnya, "Kak Lisna, buka!" Dia memanggil nama ketua kamar.


Sementara itu, Wulan mendekap dirinya sendiri, bibirnya mulai membiru karena merasa kedinginan. Jantungnya terus berdetak kencang. Dia melihat remahan tanah kering di lantai bawah pintu kamar Novi. Cewek itu menoleh ke kanan dan tak menemukan apa pun yang akan membuat dirinya kaget.


Dia menoleh ke kiri dan pandangannya tertuju pada sosok lelaki dengan wajah kotor di balik punggung Atiyah. "Astagfirullah!" Wulan menarik lengan Novi dan berlari ke kamar sebelah yang lampunya masih menyala. Atiyah dan Putri sontak bergandengan tangan, berlari mengikuti mereka.


"Kak, bukain pintu!" Karena Wulan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, Novi berinisiatif untuk memanggil ketua kamar. Tak ada jawaban. Keheningan membuat keadaan terasa semakin mencekam.


"Kamu liat apaan, Lan?" tanya Atiyah sangat santai.


"Bisa nggak wawancaranya nanti aja?" Putri kesal sekali. "BTW, bau tanah dari tadi."


Mereka memang tak melihat sosok berkain kafan dengan wajah kotor di belakangnya. Sementara itu, Wulan tak berhasil membuka pintu atau membangunkan orang di kamar tersebut. Kenapa orang-orang seperti sangat kelelahan malam ini? Atau mungkinkah telinga mereka sedang ditulikan oleh sosok jin yang sedari tadi sedang menatap Wulan.


Wulan terduduk di depan pintu kamar. "PERGII!!!" Dia berteriak karena frustasi. Telapak tangannya menutupi wajah. Novi sontak langsung memeluk temannya itu.


"Lan, Wulan! Sekarang dia di mana?" bisik Novi.


Putri yang mencuri dengar pembicaraan Novi dan Wulan membelalakkan mata. Dia melepas genggaman tangan Atiyah dan berlari meninggalkan Atiyah menuju lantai dua.


"Si Bakpao kenapa, sih?" Atiyah tampak heran dengan sikap Putri.


"Ayo kita ke lantai dua aja. Ke kamar Unay! Semoga dia belum tidur." Novi menarik Wulan yang saat ini hanya mampu memejamkan mata karena takut melihat sosok itu. Bau tanah basah masih memenuhi indera penciumannya.


Wulan menutup matanya dengan tangan kanan, mereka berlari menaiki anak tangga. Tentu saja Atiyah mengekor di belakang. Belum sempat mereka berpijak di asrama lantai dua, Novi menghentikan langkahnya.


Mereka sama-sama terengah. Wulan mencoba membuka mata. "Ada apa, Nov?"


"Lan ... banyak tanah di tangga ini." Suara Novi terdengar agak bergetar.


Wulan mengalihkan pandangan pada anak-anak tangga selanjutnya. Benar. Remahan tanah seperti debu ada di sepanjang pijakan sebelum sampai ke lantai dua asrama. Jantung terasa makin tak karuan, apalagi saat melihat sosok berkain kafan sedang menanti mereka tepat setelah anak tangga terakhir.

__ADS_1


"Turun lagi, Nov!" Wulan hanya bisa berkata lirih. Sebenarnya dia pun tak paham kenapa makhluk itu mengikutinya sejak tadi.


"Kita jangan turun! Lu merem aja. Kita tabrak aja dia. Pasti tembus, 'kan?" Novi meyakinkan Wulan.


Cewek berkaca mata itu mengangkat kepala, melihat sosok berwajah kasar dan kotor yang sedang menatapnya tajam tanpa berkedip. Tatapannya seakan menghujam matanya, membuat merinding. Badannya mulai gemetaran. Saran Novi terdengar seperti ajakan untuk terjun dari lantai lima.


"Lan, kita bismillah aja." Atiyah yang sejak tadi ada di belakang, menepuk punggung Wulan halus. Dia berniat memberi semangat


"Bismillahillaji la yadhurru ma'as mihi syai un fil Ardhi wala fissama i wahuawas sami'un 'aliiim!" Wulan memejamkan mata dan mengeratkan genggamannya pada tangan Novi.


Mereka menaiki anak tangga satu per satu. Waktu terasa berhenti berputar di antara degupan jantung yang semakin memacu adrenalin. Novi menarik tangan Wulan yang terasa berat karena sepertinya dia sudah tak kuasa menahan rasa takutnya.


Kamar di belokan pertama asrama lantai dua, Unay sudah membuka pintu. Ada putri dan Unay yang menunggu mereka sejak tadi. "Cepetan masuk!" Unay berteriak, tampak ketakutan.


Setelah Novi, Wulan, dan Atiyah masuk, Unay lekas menutup pintu kamar. Putri berjalan ke barisan belakang kamar. Beberapa lemari kayu berjejer menyekat kamar ini. Para santri yang lain sedang tertidur pulas.


Novi memapah tubuh Wulan yang kehabisan tenaga. Dia merebahkan temannya di kasur lantai milik Unay. "Lo istirahat dulu." katanya sambil terengah. Meski tak melihat apa pun, tapi dia juga merasakan keadaan yang mencekam.


"Gue udah lihat juga itu pocong yang mukanya kotor penuh tanah pas jam sebelas malem, makanya gue buru-buru lari ke kamar, tapi gue nggak bisa tidur sampe sekarang. Terus Putri gedor-gedor kamar gue dan cerita semuanya." Unay bercerita dengan lugas. Dia tak peduli kalau Atiyah saat ini sudah terlihat pucat pasi.


"Kenapa, Atiyah?" tanya Novi.


Atiyah menunjuk Wulan yang sedang tertidur. "Wu-wulan, mukanya, kenapa banyak tanahnya?"


Novi, Unay, dan Putri sontak melihat ke arah wajah Wulan. Mereka terkejut karena wajah Wulan seperti pingsan dalam keadaan penuh remahan tanah, terlihat seperti debu kecokelatan.


"Aaargh!" Mereka berlari ke luar kamar. Bukan saja karena melihat Wulan, tapi pada sosok berkain kafan yang berdiri di pojok kamar, dekat dengan tempat Wulan.


___________


Ampon, aku! Pas lagi posting kucing gedor-gedor jendela. Aku teriak kenceng.


🤣🤣🤣🤣 Payahlah emang calon penulis romance gak kuat hidup dalam kehororan. Sanggupnya dalam keromantisan.

__ADS_1


Masih ada stok yang serem-serem nih, Gaess. Besok, ya. 🤭🤭🤭


__ADS_2