Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Diary Usang di Meja Pojok Perpustakaan Bagian 7


__ADS_3

ditulis dan disunting oleh Salmah Nurhaliza


Sabtu, 13 April 2002 …


“Nad, Mr. AZ ngajakin aku ketemuan nanti sore. Gimana, nih?” tanya Gladys saat menunggu bus di halte. Mereka baru akan berangkat sekolah.


“Kamu jangan mau, deh. Dia itu psikopat. Dia pasti udah nyusun rencana aneh-aneh buat kamu. Aku takut kamu diapa-apain.” Nadia khawatir.


“Iya, aku juga takut. Gimana kalo dia nanti macam-macam. Serem banget.”


Bus yang mereka tunggu tiba. Tidak ada pembahasan tentang Mr. AZ lagi setelahnya. Kedua sahabat itu asyik mengonbrol tentang tangga lagu di MTV.


***


Bel pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu. Gladys dan Nadia masih di tempat duduknya, merencanakan acara menginap nanti malam di rumah Gladys. Mereka mau menonton film Titanic di DVD Player milik kakak Gladys.


“Gladys, kamu disuruh beresin perpustakaan sama Bu Mira.” Lisa, teman sekelasnya kembali ke kelas memberi tahu.


“Kok, tumben? Kenapa aku?”


“Aku juga nggak tau. Tapi katanya karena kamu, kan, pintar, jadi pasti teliti,” jawab Lisa.


Gladys menoleh pada Nadia, minta pendapat.


“Coba langsung tanya Bu Mira aja, yuk.” Nadia memberi usul.


“Bu Mira udah pergi ke rapat guru Biologi. Tadi aku dapet infonya dari anak IPA 4. Mereka, kan, wali kelasnya itu Bu Mira.”


Gladys makin bingung. Aneh banget. Belum sempat rasa penasarannya terjawab, ada seorang anak dari kelas IPA 4 yang muncul.


“Permisi. Kamu Gladys, ‘kan? Ini ada surat buat kamu.” Seorang cewek berkepang dua dengan kacamata cukup tebal menghampiri. Dia menyodorkan beberapa lembar kertas yang terlipat, lalu berpamitan. Begitupun Lisa.


Gladys, tolong nanti kamu bereskan perpustakaan, ya. Ini daftarnya sudah Ibu sisipkan juga. Jangan minta dibantu orang, nanti makin berantakan. Kalau satu orang yang mengerjakan akan lebih teliti.


Bu Mira.


“Aneh banget, sih, Bu Mira, masa nggak boleh dibantuin,” komentar Nadia setelah membaca isi surat. “Jangan-jangan bukan Bu Mira, nih.”


Galdys berpikir sejenak. “Tapi ini bener, kok, tulisannya Bu Mira. Beliau, kan, khas banget tulisannya sambung gitu.”


“Iya, sih. Jadi gimana, dong, rencana kita?”


“Ya, tetap lanjut, dong, Nad. Kan, itu acaranya nanti malam. Ini masih siang. Tenang aja, aku bakal cepet beresin perpustakaannya.” Gladys tertawa usai menyudahi kalimatnya.


Kedua cewek itu pun berjalan menuju perpustakaan. Nadia hanya mengantarkan Gladys sampai depan pintu, lalu pulang duluan. Gladys memandangi punggunh Nadia yang menjauh.


Semua masih berjalan wajar. Hingga satu jam kemudian, sebelum sampai rumah, Nadia tiba-tiba terpikir sesuatu. Ada yang aneh menurutnya. Dia berbalik dan berniat kembali ke sekolah. Sebelumya dia mapir ke wartel untuk menelepon Mama lewat telepon rumah Pak Rudi.


Nadia setengah berlari untuk mencapai sekolah. Prasangka-prasangka buruknya tentang kondisi Gladys membuatnya khawatir.


Pukul 15.30 Gladys memutuskan untuk istirahat. Dia lelah. Baru tiga rak yang selesai, masih ada satu rak lagi. Cewek cantik berambut ikal sebahu itu mengeluarkan buku diary dan mencurahkan perasaannya.


Sabtu, 13 April 2002 (15.35)


Sebel banget! Kenapa sih tiba-tiba Bu Mira ngasih aku tugas buat beresin perpustakaan? Alasannya juga nggak masuk akal banget, cuma karena aku salah satu murid pintar dan pasti teliti. Malah Nadia juga nggak boleh bantuin aku. Nyebelin! Capek banget. Baru sebagian yang udah rapi, masih banyak sisanya yang berantakan. Aku—


Tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang. Gladys tidak dapat melihat wajah orang itu. Sosok dengan tangan besar itu menyeretnya ke ruang kecil di pojok perpustakaan. Ruangan ini biasa digunakan untuk menyimpan buku-buku baru yang baru datang dan belum bisa disusun di rak atau diserahkan ke siswa.

__ADS_1


Begitu berhasil masuk, orang tersebut melepaskan bekapannya dan mendorong Gladys sampai membentur meja. Lalu dia menutup pintu.


“Pak Adrian. Bapak mau apa?” tanya Gladys takut.


Pak Adrian maju perlahan, membuat Gladys semakin takut dan merapatkan diri ke dinding di balik meja.


“Kamu, kan, sudah tau mau saya apa. Saya cuma mau kamu jadi pacar saya. Apa susahnya?”


Gladys menggeleng berkali-kali. “Saya nggak bisa, Pak. Saya, mencintai orang lain.”


“Siapa? Azwar? Anak bodoh itu tidak menyukai kamu. Dia menyukai Nadia, sahabat kamu.” Pak Adrian tersenyum miring. “Dan asal kamu tau, surat yang tadi kamu terima itu adalah hasil tulisan Azwar. Kamu tau, kan, dia pandai meniru tulisan orang lain?”


“Bohong!”


“Untuk apa saya berbohong?” Pria itu makin mendekat. “Sudahlah, Gladys, kamu jangan sombong. Harusnya kamu bangga, disukai oleh laki-laki tampan seperti saya. Apalagi ayah saya adalah pemilik yayasan sekolah ini, kamu akan jadi pacar anak orang kaya.”


Gladys makin ketakutan. Apalagi tubuhnya sudah membentur tembok paling ujung. “Tolong biarin saya pergi, Pak.” Dia mulai terisak.


Pak Adrian meyentuh wajah Gladys. “Jangan menangis, Sayang, aku nggak akan melukai kamu. Aku cuma mau memiliki kamu.” Dia mendekatkan wajah, lalu mengunci bahu Gladys dengan tekanan di kedua bahunya. Pria itu menccba untuk mencium Gladys.


Gladys berontak, tapi tenaganya kalah kuat. Dia hanya bisa memalingkan wajah ke kiri dan kanan saat Pak Adrian terus berusaha menciumnya. Dengan satu tangan Pak Azwar membuka kancing-kancing kemejanya hingga terbuka semua.


“Galdys! Gladys!” teriak Nadia begitu sampai di perpustakaan. “Gladys kamu di mana?”


Dia mengedar, menyapu seluruh sudut perpustakaan dengan matanya dan berhenti di meja tampat tadi Gladys menulis buku diary.


Di dalam, Pak Adrian kembali membekap mulut Gladys agar tak mengeluarkan suara. Saat itulah Gladys menggigit telapak tangan Pak Adrian yang terasa asin karena keringat.


“Nadia, tolooong!”


Nadia yang mendengar suara itu langsung mencari sumber suara. Dia berlari ke ruang kecil. Pintunya tertutup, tapi tidak dikunci. Matanya langsung menangkap pemandangan Gladys yang mencoba berlari, tapi langsung dicengkeram oleh Pak Adrian.


“Jangan ikut campur kamu!” Pak Adrian mendorong Nadia.


Mereka terlibat perseteruan bertiga, hingga akhirnya Gladys berhasil lepas. Nadia langsung menariknya.


“Jangan macam-macam, Pak. Saya akan melaporkan Bapak ke pihak sekolah.”


Pak Adrian tertawa. “Silakan, Nadia, silakan kamu laporkan. Tidak akan ada yang percaya. Kamu lupa siapa saya?”


Tiba-tiba Azwar masuk. “Ada apa ini?”


Saat itulah kedua cewek itu lengah. Pak Adrian langsung menarik tangan Gladys dan mendekapnya erat. Lalu mengeluarkan sebilah belati dan meletakkan di depan leher Gladys.


“Bapak mau apa?” tanya Azwar.


“Diam kamu! Cepat bawa Nadia pergi dari sini! Atau saya habisi Gladys!”


“Nadia, ayok, pergi.”


“Nggak!”


“Nadia, kamu pergi aja sama Azwar. Aku nggak akan apa-apa. Please, kamu pergi aja.”


“Nggak, Gladys, aku nggak akan ninggalin kamu.”


Suasana menjadi sangat tegang. Azwar bergerak perlahan lalu menarik Nadia menjauh. Nadia berontak, tapi Azwar terus berusaha menarik cewek berambut panjang itu agar dia mau keluar. Nadia lalu menonjok Azwar sekuat tenaga hingga cekala. Azwar terlepas.

__ADS_1


Azwar tidak terima ditonjok, dia lantas menjambak rambut Nadia. “Kamu jangan kurang ajar. Aku ke sini buat nolong kamu, kenapa malah ngelawan?”


“Azwar, jangan sakitin Nadia!” teriak Gladys.


“Kamu lihat, kan, Gladys, cowok seperti itu yang kamu suka? Dia tidak lebih baik dari saya.” Pak Adrian tertawa mengejek.


Gladys yang sudah tidak tahan melihat sahabatnya kesakitan karena dijambak oleh Azwar, nekat menonjok perut Pak Adrian dengan sikunya hingga belatinya terlepas, lalu berlari ke arah Nadia. Dia menendang Azwar.


Dua pria itu sama-sama marah dan menghampiri Gladys dan Nadia.


“Kalian berdua jangan sok jagoan. Kalian itu cuma perempuan, tidak akan bisa melawan kami!” ancam Pak Adrian. Dia mendorong Gladys dan Nadia hingg kedua cewek itu jatuh terduduk. Lalu dia berjongkok dan mencekal rahang Gladys dan memainkan pisau di wajahnya. “Gladys, saya ini cinta sekali sama kamu. Kamu cukup bilang bersedia jadi pacar saya, dan saya akan melepaskan kalian.”


“Jangan Gladys! Jangan sampai kamu menerima psikopat itu!” teriak Nadia.


Pak Adrian naik pitam. Dia menampar Nadia. “Kurang ajar kamu!” Dia menoleh pada Azwar. “Azwar, kamu mau tau caranya biar Nadia tunduk sama kamu?”


Azwar mengernyitkan dahi. Dia tidak mengerti.


“Kamu rampas kehormatannya. Dia pasti akan memohon-mohon minta kamu menikahinya.” Pak Adrian tertawa.


Kedua cewek itu makin mengkerut. Terlebih saat Azwar maju dan menarik paksa Nadia lalu mendorongnya ke tembok. Dia pun mulai mencumbu Nadia. Nadia berontak sebisa mungkin, tapi tenaganya sudah lemah.


“Azwar, lepasin Nadia!” Gladys menangis.


“Kenapa, Gladys, kamu mau juga?” Pak Adrian memajukan wajah.


Gladys meludahi wajah Pak Adrian, lalu menendang bagain vitalnya sampai dia terjengkang.


“Kurang ajar!”


Cewek cantik itu melihat di sudut tembok, tepat di belakang Nadia, ada pemukul kasti. Entah kenapa bisa ada benda itu di sana. Mungkin punya Pak Munir, penjaga perpustakaan yang juga merupakan pelatih ekstrakurikuler kasti. Dia mengambil pemukul kasti itu dan memukulkannya ke punggung Azwar. Tidak terlalu kuat karena tenaganya pun sudah lemah, tapi berhasil membuat Azwar terhuyung.


Pak Adrian bangkit dan mengarahkan pisaunya pada Gladys, tapi Nadia yang menghalangi, hingga lengannya kanan atasnya tergores dan merobek seragamnya. Gladys pun mengarahkan pemukul ke Pak Adrian, telak mengenai badannya. Lalu secara membabi buta Gladys memukuli kaki guru Fisika itu.


Tak diduga, Azwar justru membela Pak Adrian dan berhasil merampas tongkat itu dari Gladys. Dia hendak memukul Gladys, tapi justru Nadia yang kembali menjadi pelindung sahabatnya. Benda tumpul itu mengenai punggungnya.


“Nadia!” jerit Gladys.


Azwar langsung melepaskan benda itu dari genggamannya. Dia terduduk lemah. “Nadia … aku nggak bermaksud menyakiti kamu,” ucapnya menyesal sekaligus takut.


Pak Adrian bangkit dan akan menyerang Gladys lagi, Nadia berinisiatif memungut pisau yang tadi terlempar dari tangan pria itu. Saat Nadia mengacungkan pisaunya untuk menakuti dua laki-laki itu, Pak Adrian mengambil pemukul kasti dan menghantamkannya ke kepala Nadia.


Gladys berteriak histeris saat tubuh Nadia roboh dan jatuh ke pelukannya. Karena tak sanggup menahan bobot, akhirnya mereka jatuh ke lantai bersama.


“Nadiaaa!”


“Gladys ….”


Setelah itu Nadia pun mengalami sakaratul maut. Gladys menangis histeris. Karena panik, Pak Adrian pun memukulkan tongkat tadi ke kepala Gladys, tapi tidak sekeras tadi. Gladys pun ikut rebah di sebelah sahabatnya dengan kepala Nadia yang masih di atas pangkuannya.


[Bersambung]


__________


Omegaaad! Masih bersambung again? 😆😆😆😆 Cuss ada ending setelah ini. NKNSCIBT.


Nanti Kita Ngobrol Setelah Cerbung Ini Beneran Tamat. wkwk

__ADS_1


Typo harap maklum. fresh banget baru dari oven. Demi siapa? Demi kalean. wkwk


__ADS_2