
ditulis dan disunting oleh Winda Nurdiana
“Sial-sial. Kenapa,sih ,harus ada kuliah malam? “ Andro bergumam tak karuan. Cowok berambut cepak itu menaiki tangga menuju ke lantai dua. Sesampainya di sana, suasana kelas masih sepi. Aura mencekam mulai dirasakannya. Akhirnya, cowok itu memilih untuk masuk kelas. Suasana malah makin mencekam, ditambah pohon besar yang terlihat dari lantai dua menambah kesan menyeramkan.
“Ini orang pada ke mana, sih? “ tanyanya lagi. Dia mulai kesal, tidak ada tanda-tanda satu orang pun yang masuk kelas. Padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Tiba-tiba Andro dikagetkan dengan kedatangan temannya yang bernama Sandi yang datang secara tergopoh-gopoh.
“Lo kenapa? “ tanya Andro penasaran. Terlihat raut muka Sandi seperti ketakutan.
“Di Bale Lantip ada yang kesurupan, “ jawabnya.
Andro kaget bukan main saat mendengar pernyataan dari temannya itu. Dia langsung menggeret tangan Sandi menuruni tangga untuk menuju Bale Lantip.
Sampai di sana, suasana sudah ramai penuh dengan orang-orang yang melihat kejadian kesurupan itu.
Andro dan Sandi mendekat ke kerumunan itu. Andro kaget bukan main saat melihat seorang perempuan yang kesurupan itu berteriak-teriak.
“Jangan ganggu hidup kami! “ serunya. Matanya memutih, tatapannya kosong.
“Itu,kan, si Fira, Ndro, “ kata Sandi, sembari menepuk bahu Andro.
“Lo kenal? “
“Kenal. Dia, kan, anak TI-2. Memang itu cewek suka kerasukan gitu, kok,” jelas Sandi.
Andro mengernyitkan alis. “Lo serius? “
Sandi mengangguk.
Beberapa menit kemudian, datanglah seorang berbaju putih memakai pecis berwarna putih mendatangi gadis itu. Laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu membacakan lantunan ayat kursi secara terus menerus. Selama orang itu membacakan ayat kursi, gadis itu semakin berteriak-teriak seperti orang kepanasan. Dia terus meronta-ronta tak karuan. Selang beberapa menit, gadis bernama Fira itu tidak sadarkan diri. Mungkinsetanyang merasuki sudah keluar dari tubuh gadis itu. Beberapa orang yang membopong Fira menuju UKS yang tak jauh dari Bale Lantip.
“Serem, ya, San? “ Andro bergidik ngeri sendiri seusai melihat fenomena kejadian itu.
“Udah sering dia kayak gitu, Ndro,” ucapan Sandi terhenti. “Kayaknya tadi ada rapat HMJ TI, deh. “
“Tahu dari mana? “ Andro dan Sandi bergegas menuju ke kelas yang berada di gedung S. 2.1.
__ADS_1
“Bu Syamsu kemarin cerita pas gue bimbingan skripsi. AnakHMJ TI hobi banget rapat sampai larut malam. “
Andro hanya mengangguk. Sesampainya di kelas, sudah beberapaorang duduk di kursi dekat dosen.
“Dosennya belum datang? “ tanya Andro pada salah salah satu temannya.
“Lo telat, Bro. Tadi dosennya ke sini, nggak jadi kuliah malam, soalnya mau ngurusin mahasiswi yang kesurupan tadi.”
Jawaban temannya membuat Andro sedikit kecewa. Bagaimana tidak? Dia sudah rela datang malam-malam dari rumahnya yang jaraknya 10km.
“Ya udah, gue pulang aja, deh, “ Andro keluar kelas menuju ke lantai dasar.
“Lo mau balik? “ Sandi ternyata mengikuti langkah Andro saat keluar kelas tadi.
Lagi-lagi cowok itu hanya mengangguk.
“Baru juga jam 9,” jawabnya setelah beberapa saat. Dia melirik jam yang terpasang di tembok dekat lantai dua.
Sandi menggaruk tenguknya yang tidak gatal. “Bener juga, sih. “
“San, lo denger sesuatu? “
Sandi menajamkan pendengarannya. Dia juga mendengar seperti ada suasana perkuliahan di sana.
“Gue denger. Tapi, nggak mungkin, lah, kan, nggak ada kelas di ruang itu. “
“Tapi lo denger sendiri, kan? “
Sandi mengangkat bahunya acuh.
“Gue penasaran, San. Ayo kita ke sana. “
Ajakan Andro sangat gila menurut Sandi. Cowok itu langsung menolak ajakan temannya itu mentah-mentah. Akhirnya , Sandi membalikkan badan untuk pulang ke kost. Sayang, niatnya dihalangi oleh Andro yang malah menarik paksa tangannya menunju ke gedung U. 2.4. Tangga demi tangga mereka lewati. Benar saja , saat sudah sampai di ruang itu, terdengar jelas suasana seperti ada perkuliahan.
“Apa gue bilang. Ada yang aneh, “ celetuk Andro.
Sandi semakin takut. Perasannya jadi tidak enak. Dia hanya takut terjadi apa-apa dengan dirinya dan Andro.
__ADS_1
“Ndro, ayo kita pergi dari sini, “ ajak Sandi, menarik tangan Andro erat. Namun Andro tidak menghiraukan perkataan temannya itu. Dia malah mengintip ruang itu dari balik jendela. Terlihat jelas suasana kelas sedang mengadakan kuliah.
Anehnya, raut wajah yang ada di kelas itu tampak pucat. Leher Andro tercekat saat ada salah satu yang mirip seorang dosen memandangnya dengan tatapan marah. Seketika Andro berlari terbirit-birit. Dia lupa kalau meninggalkan Sandi di sana.
“Kelas hantu, “gumamnya. Masih ada takut dalam dirinya.
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang. Dengan setengah takut, Andro mencoba memberanikan diri untuk menoleh.
“Dasar lo ninggalin gue gitu aja, “ gerutu Sandi kesal.
Alangkah senangnya Andro saat mengetahui orang itu adalah Sandi. Dia sekarang bisa bernapas lega.
“Maaf, gue tadi takut, San, “ jawab Andro. “Dugaan gue bener, tadi itu kelas hantu. Itu mempelajari apa, ya? Kalau kita, kan, mempelajari IT, kalau mereka mempelajari tentang apa? “
Belum Sandi menanggapi perkataan Andro, datanglah seorang satpam yang mereka kenal dengan nama Pak Eko.
“Kalian ngapain masih di sini? Pulang sana, sebentar lagi gerbang depan dan belakang mau saya tutup. “
“Kan kami habis dari kuliah malam, Pak, “ jawab Andro santai.
“Cepetan pulang, atau kalian mau menemani saya jaga di sini? “
Andro dan Sandi menggeleng secara bersamaan. Membayangkannya saja sudah seram. Ditambah kejadian di gedung U. 2.4 tadi. Secepat kilat, akhirnya Sandi pulang ke kostnya dan Andro menuju parkiran untuk mengambil motornya dan pulang ke rumah.
Sesmpainya di rumah, Andro meletakkan motor, dan menuju kamarnya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ya, butuh waktu setengah jam perjalanan menuju rumahnya.
Andro merebahkan tubuh di kasur. Lima menit kemudian, dia tertidur dengan lelap. Saat tidur nyenyak, cowok itu merasa ada tangan yang mencekeknya. Entah dalam kondisi sadar atau tidak, dia melihat sosok perempuan berwajah setengah hancur berbaju putih lah yang tengah mencekiknya. Andro berusaha melepaskan cengkraman itu. Sayang, semakin dia berusaha melepaskan cekikan itu, semakin pula kuat cekikannya.Akhirnya, Andro mencoba membacakan ayat kursi. Perlahan, perempuan setengah hancur itu menghilang begitu saja.
Andro terbangun dari tidur. Ternyata tadi yang dialaminya hanyalah mimpi. Anehnya, lehernya terasa sakit. Dia mengambil kaca yang ada di laci dekat tempat tidur. Andro mengaca pada cermin. Terlihat ada bekas cekikan berwarna merah pada lehernya.
“Bukannya tadi itu mimpi, ya? “ Andro mulai bingung. “Tapi kok jadi nyata gini? “ Dia menggeleng masih dalam keadaan tidak percaya. Besok dia akan menceritakan hal aneh tersebut pada Sandi.
****
TBC
Admin Ul bacanya sambil ngintip aja, euy. Sebelah mata. 😆😆😆
__ADS_1