Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Sudahi Semua atau Mati Bagian 2


__ADS_3

Setelah kejadian sore itu di perpustakaan, aku dan Adit memang mengabaikannya. Namun, semakin diabaikan, sosok perempuan dengan mata agak menonjol itu justru malah mengikuti kami. Beberapa kali, Adit mengeluhkan tentang sosok tersebut yang hadir di mimpinya. Sementara, sosok itu justru selalu datang tiba-tiba saat aku sendirian di rumah. Semua kejadian tersebut membuat kita terpaksa mencari tau bagaimana dia bisa mati.


Adit melakukan pencarian melalui internet, sementara aku mencari tahu melalui Kak Amel yang kebetulan alumni dari kampus itu.



“Kak, aku mau tanya dong.” Aku masih mengikuti kakak yang saat ini baru pulang kerja.



“Tanya apa, Ra. Kakak baru pulang kerja nih, capek.”



“Tapi harus dijawab jujur, ya. Ini penting banget soalnya.”



“Iya, iya apa.” Kak Amel memasuki kamarnya dan masih aku ikuti.



“Itu loh, Kak. Mahasiswi yang pernah bunuh diri di kampus kita. Kakak tau nggak?”



Kak Amel berhenti sejenak, lantas berbalik badan. “Kakak sudah bilang, kakak nggak tau soal itu. Kok kamu nanya itu terus sih. Udah ah keluar, kakak capek.”



Kak Amel mendorongku keluar, lantas mengunci kamarnya. Aku masih agak heran dengan sikap kak Amel yang seperti itu. Dia tidak seperti biasanya dan malah membuatku curiga. Ah, tapi kak Amel udah bilang nggak tau, berarti memang kayaknya nggak tau.



Tiba\-tiba ponselku berdering dan ternyata ada panggilan dari Adit.



“Iya, kenapa Dit?”



“Gue punya informasi baru, nih. Lo bisa datang ke taman, nggak?”



“Oke siap.”



Setelah mendapatkan panggilan dari Adit, aku buru\-buru mengambil kunci motor dan menyalakannya. Lantas, segera pergi ke taman kota. Untunglah jarak rumah dan taman kota tidak terlalu jauh, sehingga aku bisa segera sampai ke tempat tersebut.



Aku memarkirkan motor terlebih dahulu dan bergegas mencari Adit. Adit sedang duduk di kursi taman sambil sibuk dengan buku yang dipegangnya.



“Itu buku apaan, Dit.”



“Eh, Ra. Ini loh biodata dari mahasiswi yang bunuh diri itu. Gue nemu buku kenangan ini saat tadi siang ke perpustakaan. Sebenarnya ini nggak dipinjemin, tapi gue ambil.” Adit malah tersenyum.



Aku mengambil buku kenangan tersebut dan duduk di samping Adit. “Emang zaman dulu masih ada buku kenangan, ya?”



“Ada, itu buktinya. Eh tapi, ini hanya buku kenangan sejurusan gitu. Tiap jurusan juga punya, Ra. Petugas perpustakaan nyimpen buku kenangan ini di rak arsip. Makannya jarang ada yang tau. Oh iya, tadi pas gue baca dan lihat. Ada foto kakak lo juga.”



“Kakak gue? Tadi dia bilang nggak tau, kok. Bentar gue liat.” Setelah aku melihat\-lihat buku kenangan tersebut, benar saja ada foto kak Amel di sana dan fotonya sebelahan dengan mahasiswi yang kita curigai bunuh diri itu.



Di buku kenangan tersebut, hanya ada foto, nama, tanggal lahir dari mahasiswi yang diduga bunuh diri. Namanya adalah Kila Ardianti. Nama yang rasanya pernah aku dengar, tapi lupa di mana dan kapan.



“Apa Kak Amel nyembunyiin sesuatu dari gue?”



“Mana gue tau. Udah ah gue mau pulang, besok lagi aja. Oh iya, besok gue jemput seperti biasa,” ucap Adit sambil berdiri.



“Oke.”



Keesokan harinya, seperti biasa Adit menjemputku. Memang aku memiliki motor sendiri, hanya saja sudah kebiasaan dari SMA diantar jemput oleh Adit dan kebiasan itu malah aneh kalau tidak dilakukan. Sepanjang perjalanan menuju kampus, aku dan Adit masih memperbincangkan mengenai sosok itu. Entah kenapa dari berita yang didapat di internet, sepertinya ada yang ditutupi.


__ADS_1


“Turun Ra, udah nyampe.” Adit mematikan motornya, lantas membuka helm.



Aku juga mengikuti kegiatan Adit dan mencari gawai di tas untuk mengetahui tempat belajar hari ini ada di kelas mana. Namun, ketika kubuka tas, ada sebuah amplop berwarna merah maroon.



“Dit, ini apa?” Aku mengeluarkan surat itu.



Adit menengok, lantas mengambil amplop itu. Ketika dibuka, Adit langsung melemparnya.



“Gila, itu darah, Ra. Ngapain lo bawa amplop kayak gitu?” Adit mundur beberapa langkah.



“Gue nggak bawa yang kayak gituan. Gue aja nggak ngerti kenapa amplop itu ada di dalam tas.” Aku mendekati amplop dan surat yang sudah tergeletak di bawah.


Ternyata memang benar, surat itu seperti dilumuri darah. Ah tidak, maksudku tulisan di surat itu seperti darah. Aku memutuskan untuk mengambil suratnya.


***Mau tau sebab kematian Kila? Datang ke perpustakaan jam 12 malam***


Setelah membaca itu, aku sedikit merinding. Untuk apa datang ke perpustakaan di malam hari? Padahal gedungnya sudah pasti dikunci.


“Ra, lo yakin mau datang ke perpustakaan nanti malam?” Tiba\-tiba Adit sudah ada di belakangku.



“Apaan sih, lo. Bikin kaget aja.” Aku memukul lengan Adit, “menurut lo gimana, nih?”



Adit terdiam sejenak, “Kalau lo penasaran, kita datang aja nanti malam.”



Aku mengangguk, lantas mengambil amplop tempat surat ini dan langsung memasukkannya kembali. Sepanjang jalan menuju kelas, pikiran masih menerka\-nerka. Tentang siapa yang memasukkan amplop ini, tentang bagaimana nanti bisa masuk perpustakaan dan lain sebagainya.



Sepanjang perkuliahan, aku benar\-benar tidak bisa fokus terhadap apa yang disampaikan oleh dosen. Pikiranku masih melayang tentang sebab kematian Kila dan beberapa berita di internet. Soal harus keluar rumah pukul 12 malam, aku sudah memiliki rencana. Tepatnya akan menginap di rumah Adit. Kebetulan, orangtua kami berdua sudah saling kenal dan baik aku atau Adit sering menginap satu sama lain. Oleh sebab itu, aku langsung mengirim pesan ke mamah dan untunglah, mamah memperbolehkan.



“Dit, gue balik ke rumah lo, ya,” ucapku saat sudah memakai helm.




“Nanti malem kita kan mau ke kampus, jadi lebih aman gue nginep di rumah lo. Biar nggak ditanya\-tanya.”



Adit hanya mengangguk dan langsung menyalakan motornya.


***


Tepat pukul 11 malam, kami memutuskan untuk segera pergi ke kampus. Sebelum pergi, Adit membuat alasan terlebih dahulu agar diberi izin. Setelah mengalami perdebatan dengan ayahnya, akhirnya Adit diberi izin. Kami langsung pergi ke kampus.


Ternyata, gerbangnya masih dibuka. Mungkin masih ada kegiatan dari himpunan juga. Namun tetap saja, ketika melewati gedung tempat perpustakaan, gedungnya dikunci. Sementara, gedung tempat himpunan masih nyala dan aku melihat ada beberapa orang senior yang sedang nongkrong di depan gedung tersebut.


“Dit, gue ke pos satpam dulu, ya.” Aku melepas helm dan langsung pergi menghampiri pos satpam yang terhalang oleh beberapa gedung perkuliahan lainnya.



“Pak, saya mau pinjam kunci gedung E. Buat acara hari ini.”



“Memangnya belum dikasih, ya? Padahal acaranya sebentar lagi, kan?”



“Hmm, iya tadi kami lupa.”



Hanya perlu menunggu sebentar saja, pak satpam sudah memberikan kunci gedung tersebut. Aku bergegas menuju gedung perpustakaan. Namun, sepanjang perjalanan aku masih tidak menyangka bahwa alibi meminjam kunci untuk acara bisa lancar. Padahal aku nggak tau ada acara apa malam ini di kampus.



“Dit, ayo masuk.” Aku memanggil Adit yang sedari tadi memainkan ponsel di depan gedung itu.



Di dalam gedung sudah sangat gelap dan menyeramkan untukku. Terlebih, angin malam kali ini lumayan kencang. Aku menyalakan senter dari gawar, lantas segera memegang lengan Adit.



“Gue takut, Dit,” gumamku.


__ADS_1


“Sama, Ra.”



Meskipun kami berdua sama\-sama takut, tapi lebih takut lagi jika harus mati di tangan hantu itu. Sedikit demi sedikit kami menaiki tangga, sesekali aku memejamkan mata, karena sekilas melihat hantu\-hantu. Bahkan, kadang ada yang menarik\-narik celanaku. Rasanya ingin sekali mengabaikan mereka, tapi susah.



“Ra, itu si ... siapa?” tanya Adit gugup sambil menunjuk ke arah sesosok makhluk.



Saat ini kami sudah berada di depan pintu perpustakaan. Di dalam perputakaan sudah ada sesosok perempuan yang memakai baju serba hitam, dia membelakangi kami. Aku mengeratkan genggaman terhadap lengan Adit. Samar kulihat kaki dari sosok itu masih menempel di atas lantai. Aku yakin dia bukan hantu.



“Kalian mau tau bagaimana Kila mati? Masuklah.” Sosok itu membalikan badannya dan malah menunduk. Rambutnya sebahu, tingginya hampir sama denganku.



Aku dan Adit memberanikan diri untuk memasuki perpustakaan. Namun, ketika kami sudah masuk, pintu tersebut dikunci dari luar. Aku segera berlari ke arah pintu dan menggedor\-gedornya. Pintu kaca itu memperlihatkan lelaki bertubuh tegap. Aku mengenal sosok itu, dia satpam yang tadi.



Sosok itu mendekati kami, “Untuk apa kalian mau tau kematian tentang Kila? Nggak akan berguna. Kila sudah mati dan kalian tidak berhak tau apa yang menimpanya.” Sosok itu mengacungkan sebuah pisau. Sementara aku dan Adit sudah tidak bisa kemana\-mana lagi.



Sosok berbaju hitam itu menegakkan kepalanya. Aku benar\-benar kaget melihat muka dari sosok tersebut. “Kak Amel?”



“Kenapa, Ra? Kamu kaget? Kakak sudah bilang jangan cari tau kematian tentang Kila, tapi apa? Kamu malah terus mencarinya dan menemukan beberapa berita. Dan kamu.” Kakak berpaling melihat Adit, “kamu malah mendapatkan buku kenangan sialan itu. Kalian harus mati di tanganku. Agar semua yang telah berlalu tidak diungkit kembali, agar aku bisa tetap hidup tenang.”



“Tapi kenapa, Kak? Kakak ada hubungannya dengan kematian Kila?” Aku menatap tajam ke arah Kak Amel. Aku masih tidak percaya bahwa sosok ini adalah kak Amel.



“Kamu tidak perlu tau alasannya. Ah, tapi lebih baik tau saja. Toh kalian sebentar lagi juga akan menyusulnya.” Kak Amel membelakangi kami.



“Dia mati karena terlalu cari perhatian ke setiap dosen dan lebih dikenal banyak orang. Padahal dia tidak cantik, sering pakai kacamata, tubuhnya bau, tapi banyak juga yang menyukainya. Aku nggak mau kepopuleran waktu SMA direbut sama dia di kampus. Terlebih, orang yang kusukai malah menyukainya. Jadi, dia harus mati. Semua orang yang menghalangiku harus mati. Termasuk kamu.” Kak Amel berbalik dan berjalan cepat mengacungkan pisaunya.



Namun tiba\-tiba, Kak Amel malah terdorong ke belakang dan jatuh mengenai meja. Kak Amel bangkit kembali, “Wah, si bau ternyata sudah ada di sini. Kamu nggak puas aku buat mati mengenaskan dan berita yang ada malah menyebut dirimu mati bunuh diri?” Kak Amel mendekati sosok yang ternyata membantuku tadi. Dia Kila, sosok yang memiliki mata hampir menonjol dengan pipi kanan dipenuhi darah. Sementara, rambutnya panjang dan hitam.



“Setelah membunuhku, kamu ingin membunuh adikmu sendiri? Benar\-benar nggak punya hati, ya.”



Aku mendekati Adit, kaget dan masih takut dengan apa yang terjadi saat ini. Sementara, aku melihat Kak Amel masih menantang hantu Kila.



“Kamu pikir dengan membunuh orang yang aku mintai tolong semuanya akan berakhir? Kamu sudah gila, Mel. Semakin kamu seperti ini, semakin banyak orang yang mati di tanganmu. Orangtuamu? Hahaha, mereka malah menutupi kejahatan anaknya ini.”



Aku kaget mendengar pernyataan Kila. Orangtuaku tau kejadian ini? Bagaimana mungkin mereka sejahat itu?



“Diam kamu Kila, aku akan membunuhmu lagi.” Kak Amel berlari sambil mengacungkan pisau.



“Kamu lupa, aku sudah meninggal.”



Tiba\-tiba, Kak Amel melayang berputar di atas. Aku dan Adit sangat kaget melihat semua itu.



“Kamu juga harus mati, biar semuanya selesai.” Hantu Kila tersenyum lebar, sampai\-sampai mulutnya seperti mau robek.



Tubuh Kak Amel terlempar ke luar, aku segera berlari melihat kaca jendela yang sudah pecah.



“Kak Amel ...” teriakku.


****


Penemuan mayat di kampus buana hari ini mengungkap penemuan mayat beberapa tahun lalu. Mayat yang diketahui bernama Amel, merupakan pembunuh seorang mahasiswi bernama Kila. Orangtua yang merupakan pejabat daerah menutupi hal tersebut sampai 5 tahun berlalu. Hal itu disampaikan oleh putri kedua mereka, Andara Permata.


Aku masih mengurung diri di kamar membaca berita\-berita di internet. Semuanya terasa menyesakkan. Kedua orangtua dan kakakku sendiri merupakan pembunuh yang keji. Bahkan, setelah kejadian itu, aku baru tau bahwa satpam yang mengunci perpustakaan adalah suruhan mereka. Faktanya, mereka tidak ingin kejahatan Kak Amel terungkap. Sebab, Kak Amel merupakan anak kandung mereka.


-TAMAT-

__ADS_1


__ADS_2