Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Diary Usang di Meja Pojok Perpustakaan Bagian 2


__ADS_3

“Serius?!”


Ekspresi tak percaya dari wajah Guntur membuat emosi Gina tersulut. Dia sudah berapi-api cerita, tapi Guntur masih saja tak percaya.


“Seriuslah. Ngapain, sih, bohong soal kayak gitu!” tukasnya kesal. Dia mencari sesuatu di dalam tas. “Nih. Sekarang percaya?”


Mata Guntur melebar. Dia menelan ludah. Ragu-ragu dia mengambil benda yang disodorkan Gina. “Kok, bisa? Kemaren gue bahkan belum sempat nyentuh diary ini. Gimana caranya bisa ada di tas lo?”


“Itu dia, makanya gue juga bingung. Horor banget, Gun. Gue takut ....”


Guntur maju selangkah, berdiri berhadapan dengan Gina. Jarak mereka hanya dua langkah sekarang. Disentuhnya bahu kanan cewek itu dengan tangan kiri. “Jangan takut, ya, insya Allah nggak ada apa-apa. Gue akan jagain lo “ Dia tersenyum tulus.


Jika dalam kondisi biasa, Gina pasti sudah mendamprat cowok tinggi itu. Namun, entah mengapa ucapan Guntur kali ini terdengar sangat tulus. Senyumnya pun terlihat tulus. Gina hanya mengangguk pasrah. Dia tidak tahu harus memberikan respons seperti apa.


“Sini, duduk dulu.” Guntur menarik Gina untuk duduk di kursi berbahan semen di taman depan dekat tempat parkir. Saat istirahat begini, tempat ini tidak terlalu ramai. Tadi pagi Guntur sempat ge-er saat Gina mencarinya ke kelas dan mengajak bertemu di sini di jam istirahat. “Jadi sekarang rencana lo apa?”


Gina diam sebentar sambil memandangi diary yang masih dipegang Guntur. “Hhmm ... balikin aja mending ke meja itu.”


“Balikin gimana? Kan, lo tau ruangannya dikunci. Apalagi kemaren kita udah ketauan, pasti Pak Azwar makin waspada.”


“Iya, siiih.” Gina sendiri pun ragu, tapi dia tidak mau berurusan dengan buku diary horor ini. Membukanya saja dia tidak berani. “Buang aja, deh. Sini!”


Gina merebut buku itu dari genggaman Guntur, tapi benda tebal itu justru jatuh ke tanah dan terbuka di satu halaman kosong. Tangan Guntur yang terulur hendak memungut, berhenti di udara saat tiba-tiba bercak merah serupa darah muncul di halaman kosong tadi. Perlahan, bercak-bercak itu membentuk satu kata: TOLONG.


Kedua siswa itu refleks berdiri dan sedikit menjauh dari tempat mereka duduk. Tanpa sadar Gina mendekat pada tubuh Guntur.


“Gun, i-itu apaan?”


“Tenang, ya.” Guntur menepuk pelan jemari Gina yang mencekal bagian atas lengan kirinya. “Biar gue cek.”


Baru saja Guntur akan melangkah, tiba-tiba angin berembus hingga menerbangkan beberapa daun di sekitar, juga membuat ujung rambut Gina berayun. Kemudian muncul sosok perempuan berseragam SMA dengan wajah pucat yang sebagiannya tertutup rambut hitam, panjang dan kusam.


Sosok itu berdiri dekat buku diary yang masih tergeletak. Wajah ini yang dilihat Gina lewat cerminnya. Cewek mungil itu kontan menyembunyikan wajah di balik punggung Guntur.


“Tolong ....” Satu kata itu diucapkan dengan serak oleh sosok menyeramkan tersebut, nyaris tak terdengar. Lalu dia menghilang tanpa tanda apa pun.


***


Siang ini, untuk pertama kalinya, akhirnya Guntur mengantarkan Gina pulang. Sejak Gina naik ke boncengan motornya hingga sekarang mereka sudah sampai di depan pagar rumah Gina, Guntur tak henti tersenyum.


Ternyata kejadian aneh dan horor itu ada untungnya juga buat gue. Cowok itu terkikik tanpa suara.

__ADS_1


“A-ayo masuk,” ucap Gina agak gengsi sambil membuang pandangan ke sembarang arah. Dia bahkan tidak pernah terpikir akan menerima tawaran Guntur untuk mengantarnya pulang, sekarang dia malah mengajak Guntur untuk mampir. Aib banget ini!


“Coba kita baca aja isi diary ini, Gin. Pasti ada petunjuk kenapa cewek itu minta tolong. Pasti ada sesuatu yang terjadi,” usul Guntur saat Gina keluar dan meletakkan sebotol air dingin dan dua gelas kosong. Mereka duduk di kursi teras depan.


Setelah Gina mengangguk setuju, Guntur membuka buku bersampul merah yang sudah usang itu, yang lembar-lembar isinya sudah menguning. Gina yang duduk cukup dekat di sebelahnya memandangi gerakan tangan Guntur dengan hati berdebar.


Gladys Shapira


3 IPA 1


Halaman pertama memuat tulisan itu. Berarti benar, dia siswa sekolah mereka. Guntur membalik halaman berikutnya. Terdapat foto seorang gadis cantik dengan lesung pipit menghias senyumnya. Rambutnya hitam dan panjang. Mirip dengan sosok yang tadi menampakkan diri di depan mereka.


Gina merinding melihat senyum itu. Dia meminta Guntur segera beralih ke halaman selanjutnya. Beberapa lembar pertama hanya berisi cerita persahabatan dengan cewek bernama Nadia. Juga kisah-kisah kejadian di sekolah yang tidak memberi petunjuk apa-apa.


Mereka pun sampai di lembar ketiga belas.


Minggu, 3 Maret 2002


Semalam dia ke rumah, meminta jawaban dari pernyataan cintanya yang dia tulis di surat minggu lalu. Aku bingung banget. Aku nggak punya perasaan apa-apa sama dia. Aku ... menyukai orang lain. Akhirnya aku nggak memberikan jawaban apa-apa. Dia marah!


Guntur dan Gina saling pandang saat di balik lembar itu terdapat sebuah amplop berwarna merah muda.


Gina mengambil amplop itu dan mengeluarkan sekembar kertas dari dalamnya, lalu membaca isinya.


Gladys yang cantik ....


Langsung saja, tanpa basa-basi.


Aku menyukai kamu sudah sejak lama. Sekarang aku sudah tidak sanggup menahan perasaan ini. Aku sangat berharap kamu mau menerima cintaku dan menjadi kekasihku. Aku akan meminta jawabannya minggu depan.


Salam sayang,


Mr. AZ yang selalu memimpikanmu.


Gina dan Guntur kembali berpandangan, mereka menahan tawa. Di kepala mereka terbentuk pendapat yang sama: surat cinta ini norak banget!


Halaman berikutnya ....


Rabu, 13 Maret 2002


Mr. AZ benar-benar menakutkan. Dia mengancamku cuma karena aku menolak cintanya. Nadia bilang dia psikopat. Aku setuju. Kalau dia bukan psikopat, dia nggak mungkin ngasih aku kado yang isinya boneka Teddy Bear yang berlumur darah dan kepalanya hampir putus. Dia juga menyelipkan notes di dalam kado itu. Sinting!

__ADS_1


Gina membaca secarik kertas kecil yang ditempel di halaman itu. “Kalau kamu nggak mau menerima cintaku, kita lihat siapa yang akan bernasib sama seperti boneka ini. Kamu atau aku. Berdarah ... dan mati!” Seketika tubuhnya merinding.


“Psikopat banget,” komentar Guntur.


Halaman selanjutnya ....


Kamis, 21 Maret 2002


Tadi siang saat pulang sekolah, aku nemu paper bag cantik di gantungan depan motor. Ada kotak kado cantik di dalamnya. Tapi pas aku buka ... ternyata isinya bangkai tikus yang sudah dimutilasi dan penuh darah. Nadia langsung pingsan di tempat. Aku yakin, pelakunya pasti dia! Tapi saat melapor ke pihak sekolah, nggak ada yang percaya. (


Beberapa halaman selanjutnya hanya berisi tulisan-tulisan yang ditulis besar-besar dengan satu kata di masing-masing halaman: psycho, gila, sinting, pembunuh berdarah dingin, monster.


Sabtu, 13 April 2002 (06:10)


Dia mengajakku bertemu nanti sore. Aku sama sekali nggak berminat. Aku takut. Dia pasti udah merencanakan sesuatu. Aku nggak mau masuk ke perangkap psikopat itu!


Sabtu, 13 April 2002 (15.35)


Sebel banget! Kenapa sih tiba-tiba Bu Mira ngasih aku tugas buat beresin perpustakaan? Alasannya juga nggak masuk akal banget, cuma karena aku salah satu murid pintar dan pasti teliti. Malah Nadia juga nggak boleh bantuin aku. Nyebelin! Capek banget. Baru sebagian yang udah rapi, masih banyak sisanya yang berantakan. Aku—


Isi cerita itu terputus. Setelah kata 'aku', hanya ada coretan garis panjang yang tidak beraturan. Sepertinya saat menulis, tangan Gladys ditarik paksa oleh orang lain. Di lembar-lembar berikutnya hanya ada sedikit bercak darah, dan halaman akhir, di bagian dalam sampul belakang, ada jejak telapak tangan yang juga terbentuk dari darah.


“Siapa Mr. AZ ini?” tanya Gina.


“Mungkin nggak kalau Pak Azwar?”


Gina berdiri, mondar-mandir di dekat meja. “Bisa jadi. Ekspresi muka dia pas mergokin kita di ruangan terlarang itu aneh banget. Kayak ketakutan. Katanya dia alumni sekolah kita juga, kan? Dan tahun 2002 ... dia kelas berapa, ya? Lo tau nggak umur Pak Azwar sekarang berapa?”


Guntur mengembuskan napas. “Ya, mana gue ngurusin umur Pak Azwar, sih, Gin. Ngapain juga gue kepo tentang dia. Kalau tentang lo ... tanpa disuruh gue udah semangat buat kepo.” Cowok itu terkekeh.


Tatapan membunuh langsung diberikan Gina. “Lagi serius begini malah modus lagi!” Dia makin emosi saat melihat Guntur memamerkan cengiran khasnya.


“Kita stalking Facebook-nya aja!” Sebuah ide brilian diberikan Guntur. Dia bergegas membuka laman media sosial itu dan mengetik nama Azwar Kurniawan. Kebetulan Guntur memang berteman dengan penjaga perpustakaan itu.


Gina kembali duduk di sebelah Guntur dan mengamati dengan penuh minat. Mereka menarik napas panjang sambil berpandangan saat melihat informasi pendidikan: SMA Perjuangan angkatan 2002.


Bersambung


_____


Wadaw! Masih bersambung aja nih, kayak kisah cinta kita berdua 🤣🤭 Cuss, pantengin, ya, kalo masih pinisirin. 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2