
ditulis dan disunting oleh aprilwriters.
ditagih dan diteror oleh Admin Ul.
__________
MOS di SMA Cendrawasih akan berakhir hari ini, tapi euforia di lapangan utama belum juga reda, keramaian tercipta di depan deretan stand tiap-tiap ekskul. Beberapa ekskul terlihat melakukan atraksi sekaligus orasi agar menarik minat para junior baru.
Ekskul futsal memperlihatkan salah satu kapten yang sibuk mengolah si kulit bundar dengan peragaan kakinya di depan tenda stand mereka. Dia begitu piawai menggocek bola dengan sepasang kaki, lalu dilambungkan tinggi dan mendarat pada punggung yang membungkuk. Tepuk tangan para junior mengudara.
Ekskul stand basket juga tak sudi mengalah. Salah satu pemain handal SMA Cendrawasih melakukan atraksi dengan bola basketnya, memutar si bola menggunakan telunjuk berganti dari kanan ke kiri, decakan kagum dari para junior yang didominasi siswa tampak kentara.
Ekskul musik juga perlihatkan permainan sederhana dari beberapa alat musik, salah satunya biola dan perkusi. Melia—ketua ekskul musik--terlihat melakukan aksi biolanya di depan banyak orang, padahal biola menjadi salah satu alat musik yang cukup sulit dimainkan. Namun, untuk Melia hal itu bukanlah sesuatu yang rumit.
Dia sudah mampu mengolah permainan biolanya sejak masih duduk di bangku kelas tiga SD, sang ayah miliki teman asal Italia yang kebetulan seorang pembuat biola, alhasil Melia yang sejak lama menyukai acara permainan biola di televisi akhirnya mendapatkan les khusus biola di rumahnya.
Ekspresi yang Melia tampilkan begitu menghayati. Dia terpejam seraya nikmati alunan melodi yang mengudara oleh gesekan antara senar biola dan busurnya, setiap kali menyentuh benda itu dan memainkannya.
Pasti Melia lantas hanyut terbawa arus. Dirinya sendiri paham jika biola dimainkan setiap hari maka nada yang dihasilkan bisa semakin bagus. Biola bukanlah sesuatu yang harus dipajang pada lemari kaca di ruang tamu, bukan benda yang hanya bisa dipandang mata. Jika pemiliknya memang mencintai si biola, maka ia wajib memainkannya setiap hari.
"Kak Mel! Semangat!" seru salah satu siswi kelas sepuluh yang baru saja mengisi formulir pendaftaran.
Dia sudah menyerahkannya pada panitia di depan tenda, kini ia beralih hampiri Melia yang masih sibuk dengan urusan biola.
"Ayo, guys! Masuk ke ekskul musik biar kalian bisa mengolah bakat musik kalian yang terpendam. Tutor di tim musik dijamin berkelas dan handal, contohnya Melia yang lagi main biola di depan!" seru Kevan—salah satu panitia ekskul musik.
Dia juga pemain gitar yang handal. Kevan bisa mainkan gitar akustik serta gitar listrik. Dia bahkan memiliki studio musik sendiri di rumahnya. Kevan berbicara menggebu melalui toa, ia berdiri di depan tenda, lebih tepatnya di sisi meja tempat para peserta mengisi formulir pendaftaran.
Saat Melia hentikan aksinya, orang-orang bertepuk tangan, semua orang terhipnotis dalam sejekap, bukan hanya alunan melodi indah yang bisa mereka dengar, tapi rupa cantik sang pemain biola juga menjadi nilai tersendiri.
"Makasih, semua," ucap Melia menatap peserta yang berkerumun di dekatnya, si pemain perkusi sampai tak terlihat. "Jangan lupa pilih ekskul musik, ya. Kalian semua dijamin bisa main musik sebaik permainan aku tadi kalau kalian daftar ekskul musik sekarang juga, yang nggak daftar bisa nyesel, lho ...." Ia tersenyum pada orang-orang.
Beberapa siswa yang sempat memperhatikan permainan basket dan futsal ikut melipir hampiri stand ekskul musik.
"Ayo! Ayo! Segera daftarkan diri kalian buat bergabung ke ekskul musik, Kak Mel sama tim yang lain bakal ajarin kalian sampai pintar!" seru Kevan lagi ketika lebih banyak orang yang datang
__ADS_1
Hari terakhir MOS memang hari paling melelahkan, belum lagi sebulan berikutnya masih ada agenda pensi dari tim anak OSIS sebagai pergantian jabatan yang baru, semua makin sibuk dari hari-hari biasanya.
***
Senja telah tiba, mengajak semua orang agar akhiri aktivitas mereka hari ini, membawa lelah mereka untuk pulang ke tempat paling nyaman. Kesibukan di SMA Cendrawasih juga telah menyusut, para penghuninya sudah menipis sejak dua jam terakhir, tapi tidak untuk aktivitas di ruang musik lantai dua, beberapa panitia masih sibuk merekap formulir peserta yang masuk.
Melia, Kevan, Adinia, Selly dan anggota lain tampak duduk mengelilingi meja bundar dari balik sekat dinding di ruang musik, mereka memang miliki tempat sendiri untuk berdiskusi tanpa harus menyewa ruang OSIS.
"Gue nggak nyangka effort ekskul kita bakal sebesar ini, semua berkat Melia yang berhasil bius anak-anak nih," ucap Kevan menggebu, dari tatapan matanya terpancar jelas rasa kagum pada sosok gadis yang duduk di seberang Kevan itu.
"Wah, benar. Gue setuju banget sama Kevan. Si Mel itu udah kayak primadona buat tim musik kita, dia udah kayak ambassador, kan," imbuh Selly.
"Ya ampun, kalian ngapain sih bangga-banggain gue kayak gitu, biasa aja kali. Tugas gue kan emang harus menarik minat orang buat masuk, kalau gue main asal-asalan tanpa rasa, siapa yang mau gabung nanti?" sanggah Melia, ia memang selalu rendah diri.
"Lihat dong, Mel. Ekskul kita banyak banget yang masuk tahun ini," ucap Adinia, ia geser tumpukan formulir ke depan Melia. "Itu naik 40% dari peserta ekskul tahun lalu, Mel. Bayangin aja."
"Kalau Mel enggak ngelakuin permainan biolanya kayak tadi, pasti nggak banyak peserta yang bakal ikut, gue ingat dia emang udah janji mau unjuk gigi karena—" Bibir Kevan lantas mengatup sebelum ia selesaikan dialognya, ekspresi semua orang terlihat tegang begitu mereka mendengar suara itu, suara salah satu alat musik dari balik sekat dinding tempat bermusyawarah.
"Kalian dengar nggak?" tanya Adinia menatap satu per satu teman-temannya.
Dia menelan ludah sebelum berdiri seraya bereskan kertas formulir di depan Melia. Adinia masukan semuanya ke dalam ransel, ia tampak terburu-buru. "Gue bakal rekap semuanya di laptop nanti malam, gue mau pulang sekarang. Kayaknya belum lewat jam enam, kenapa dia udah datang aja."
Angkatan Melia tahu jelas siapa yang biasa memperdengarkan melodi sendu jika jam enam sore telah lewat, tapi sekarang masih pukul lima, kenapa benda itu sudah berbunyi?
"Bubar, bubar. Dia nggak suka kita heboh sendiri, udah sore, cepat bubar!" tegas Kevan yang ikut menyusul berlalunya Adinia tadi.
Kini temannya yang lain ikut berkemas, hanya Melia yang bergeming seperti melamun. Suara yang menginstruksikan rasa takut dari teman-temannya tak mampu Melia dengar, ia tengah membiarkan pikirannya melayang pada kenang yang telah usai.
"Gue pulang, ya, Mel," pamit Selly seraya menepuk bahu Melia, tapi temannya itu tetap diam tanpa ekspresi. Dia tak peduli jika Selly meninggalkan Melia sendirian di sana meski sesuatu telah memperingatkan.
Saat suara piano kembali terdengar, lamunan Melia pecah seketika. Dia perhatikan sekitar dan baru menyadari jika hanya ada dirinya yang masih tersisa di tempat itu. Melia beranjak seraya gendong ranselnya. Dia melangkah pelan hampiri pintu yang masih terbuka lebar.
Biasanya sebentar lagi Pak Eko—satpam sekolah—akan mengelilingi setiap ruangan sekadar mengecek kondisi. Dia yang paling mengenal betul jam-jam hadirnya si penekan tuts piano.
Begitu tiba di ambang pintu, langkah Melia terhenti. Embusan angin beraroma kembang seperti baru saja menabraknya masuk ke ruangan itu Aroma kenanga yang begitu khas hingga membuat Melia tertegun kaku. Dia menelan saliva seraya terpejam. Jika aroma kenanga tercium—kemungkinan sesuatu telah datang. Bulu kuduk Melia juga meremang. Dia sadari suhu tubuhnya meningkat.
__ADS_1
Sesuatu seperti menarik Melia agar memutar tubuh dan tatap piano putih di sudut ruangan. Syaraf motoriknya seperti tak berfungsi lagi begitu Melia dapati sosok berseragam SMA duduk di balik piano, menekan tuts demi tuts hingga terdengar melodi yang begitu sendu.
Melia seringkali mendengar melodi yang sama saat ia masih kelas sepuluh, kini setahun berlalu sejak seseorang pergi untuk selamanya, tapi seakan tak sudi pergi dari tempat itu.
Tubuh Melia bergetar hebat, tapi ia belum sanggup menggerakannya barang sedetik saja. Degup jantung gadis itu seperti genderang perang. Netranya seakan terus dipaksa menatap sosok pucat di balik piano, yang begitu cantik dengan bandana abu-abu di kepala, belum lagi seulas senyum tipis yang ditampilkan, tapi saat ekor matanya lirik kehadiran Melia, gadis itu berteriak nyaring sebelum tak sadarkan diri di ambang pintu ruang musik. Melia melihat perubahan wujud menyeramkan dari si penekan tuts piano tadi, dari bandana yang berlumuran darah hingga membanjiri sebagian wajah, mata memelotot serta seringaian menyeramkan.
***
Gerbang sekolah terbuka lebar sejak pukul enam pagi. Pak Eko selalu datang lima belas menit sebelumnya. Dia memang tipikal satpam yang bisa diandalkan. Saat malam pun Pak Eko selalu pulang pukul delapan meski ia sendiri tahu apa saja yang bisa berkeliling menemaninya di SMA Cendrawasih.
Kala petang menjelang, bukan lagi penghuni bernapas dari tempat itu, tapi mereka yang telah lama terkubur dalam cerita seram masing-masing.
Kemarin sore Pak Eko berhasil temukan Melia yang pingsan di ruang musik. Untung tubuh gadis itu cukup ringan, jadi dia berhasil membawanya pergi dari sana dan hubungi salah satu pihak sekolah. Hari ini berita pingsannya Melia di ruang musik menjadi trending topik di sekolah.
Begitu gempar dengan segala asumsi bertebaran. Para junior kelas sepuluh mulai bertanya-tanya perihal gosip yang beredar, padahal naiknya jumlah peserta untuk ekskul musik sudah cukup membanggakan, tapi dengan adanya tragedi Melia di ruang musik berhasil membuat cukup banyak peserta mengundurkan diri, terutama setelah mereka mendengar kesaksian para senior tentang piano di ruang musik.
"Tahu gitu kemarin aku enggak daftar, seram juga kalau ada piano bisa bunyi sendiri."
"Iya, sumpah nggak nyangka juga kalau salah satu ruangan di sekolah elite ini punya mitos yang seram."
"Kasihan Kak Mel sampai pingsan, dia pasti lihat wujud setan di sana."
Wajah-wajah suram mendominasi mereka yang berada di ruang musik. Tak ada semangat terlihat seperti kemarin. Hari ini Melia juga absen dari sekolah. Gadis itu dikabarkan demam setelah tragedi kemarin sore.
"Parah banget, masa bisa turun drastis dalam jangka sehari aja, gue udah siap lho ngajarin mereka semua main gitar listrik," ucap Kevan terdengar kecewa, ia sandarkan punggung pada pintu yang terbuka, beberapa teman lain duduk pada kursi kayu panjang di dekat barisan gitar.
"Iya, gue nggak nyangka banget mereka semua tarik lagi formulir yang udah gue rekap capek-capek sampai lembur semalam," imbuh Adinia, bersidekap seraya menerawang, Selly berada di sisinya.
"Gue sih udah tebak aja ini bakal terjadi," tambah Selly. Di tatap satu per satu temannya. "Mereka mau daftar karena kagum sama Melia, tapi mereka kan belum dengar mitos dari ruangan ini, bahkan emang bukan mitos, kita semua tahu apa faktanya. Benar sih, nggak ada yang betah kalau nyalurin hobi di tempat yang udah dicap angker."
"Elo, kenapa betah?" Kevan tampak tak setuju.
"Lo kalau tahu ini ruangan angker, kenapa masih di sini?"
"Kevan bisa sewot juga," sahut Selly, "gue betah karena kalian semua, karena kita punya tanggung jawab yang sama, bahkan sebelum tragedi itu, kita semua juga udah ada di sini, 'kan? Kita udah kompak di tim musik sekolah, tapi tragedi itu buat semuanya lebur!"
__ADS_1
"Selly! Jangan olok-olok dong!" Adinia memperingatkan. "Udah jangan debat, ini masih pagi, kepala kita udah panas, jangan ditambah lagi. Mau gimana semua udah terjadi. Tugas kita tetap harus bikin image dari ruang musik bagus di mata anak lain."
"Gue mau tengokin Mel pas pulang nanti." Kevan mengakhiri sebelum keluar dari ruang musik, meninggalkan ketegangan yang baru saja terjadi.