Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Hasrat di Bawah Pohon Akasia Bagian 2


__ADS_3

ditulis dan disunting oleh Amanda Chrysilla


Admin Ul hanya kebagian posting 🤪


________


Beberapa jam berikutnya, Mawar kembali memunculkan sosoknya di hadapan Ralya yang sedang sibuk memainkan game di ponselnya. Ralya tampak tak memedulikan kehadiran Mawar di dekatnya.


"Kau ingin melihat masa laluku? Baiklah. Tapi kau harus mau meminjamkan tubuhmu dulu."


Ralya meludah ke arah Mawar—yang tentu saja tidak mengenainya karena Mawar tembus pandang.


"Tak akan," balas Ralya ketus. Dia tak sedikit pun mengubah posisi duduknya yang bersandar pada kepala ranjang tempat tidur.


Mawar tetap mendekati Ralya, lalu tanpa seizin Ralya menyentuh dahi Ralya menggunakan ujung telunjuknya yang tembus pandang. Yang dilakukan Mawar sekarang adalah memindahkan beberapa kenangan akan masa lalunya selama dia bersekolah di tempat yang sama dengan Ralya.


Ralya terpaku. Menerima semua kenangan itu dengan ngeri.


"Sia***!" umpatnya. "Apa yang barusan aku lihat? Menjijikkan!" Ralya tak bisa berhenti mengumpat selama sepuluh menit berikutnya.


"Kau... dan Pak Adrinan... sering tidur bareng? Seriously??! Di WC sekolah, di ruang guru, di bawah pohon akasia itu? Menjijikkan!" Bulu kuduk Ralya meremang.


"Aku ingin menemuinya,” kata Mawar kalem.


"Aku tidak melihat dia membunuhmu."


"Mau aku perlihatkan?"


"Ya!" jawab Ralya tegas.


"Kau harus meminjamkan tubuhmu dulu."


Ralya menangkap reaksi Mawar yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Ada hal penting lain yang sedang ditutup-tutupi olehnya. Mawar sudah meminjam tubuh anak perempuan di sekolahnya berkali-kali, kenapa Mawar tidak juga berhasil membunuh Pak Adrinan? Something is definitely missing from her story.


Ralya akan mencari tahu sendiri. Pasti.


*


"Aku dengar dia mati di bawah pohon akasia besar itu karena penyakit jantung yang dideritanya sejak kecil."


Jadi, dia bukan mati karena diperkosa dan dibunuh?


“Dia punya hobi menggambar pemandangan dan sering menggambar di bawah pohon akasia pas jam istirahat,” jelas Kirana lebih jauh.


"Dari mana kalian dapat cerita ini?" tanya Ralya gusar.

__ADS_1


"Cerita ini semacam urban legend sekolah kita. Judulnya, 'Kau Mencariku, Aku Akan Mencarimu'. So, emang udah ada dari generasi ke generasi."


"Kalian..." Ralya merendahkan intonasi suaranya dan menekan, "jangan lagi menyebarkan cerita nggak guna kayak gitu lagi ke mana-mana."


"Apaan, sih, Ly! Nggak asik kamu!" Cecar Nayra.


Wah, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan selama ini justru sangat berbahaya? Batin Ralya.


"Percayalah padaku," ujar Ralya tenang.


Keempat kawan perempuannya itu menatap Ralya dengan pandangan aneh.


"Abis salah minum obat?" tanya Airi sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Ingin sekali Ralya menggebrak meja di hadapannya. Kenapa tak ada satu pun teman-teman di kelas yang mau mendengarkan ucapannya?


*


Biar kasus kesurupan ini tidak diusut, maka kejadiannya terulang setiap lima tahun sekali. Jadi, para guru menganggap itu hanya kasus kesurupan biasa yang akhirnya menyebabkan sakit dan kematian. Tapi, sebenarnya ada beberapa guru yang ingin mengusut kasus ini karena pola yang sama terjadi setiap lima tahun. Masalahnya, 'dia', si penyebab utama kasus ini, masih ada di sekolah. Masih mengajar sejarah seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Pak Adrinan.


Ralya menggigiti ujung penanya, merasa kesal.


Mawar tak bisa merasuki tubuhnya karena tubuh Ralya tak mudah dirasuki kecuali dia menyerahkan dirinya kepada Mawar. Cuma itu alasan yang tepat yang bisa menjelaskan kenapa Mawar hanya mampu memaksa dirinya meminjamkan tubuhnya.


"Jadi, minggu depan kita ulangan, ya."


Ma'am Anna berhasil membuyarkan lamunan Ralya.


"Cih, ulangan terus," umpat Ralya pelan, memastikan teman di sebelah atau di belakangnya tak mendengar gumamannya. Ma'am Anna, guru bahasa Inggrisnya, memang hobi memberikan ulangan setiap dua minggu sekali, belum lagi kuis-kuis dadakan yang diberikannya pada setiap pertemuan.


Pedofil brengsek! Ralya tak bisa berhenti memikirkan tentang Pak Adrinan dan si hantu Mawar. Dia memanfaatkan Mawar untuk merasuki gadis-gadis tak berdosa supaya bisa meniduri mereka!


"Ralya, do you have any question?"


"Huh?" Ralya sadar kalau kata yang disebutkannya barusan kurang sopan. Dia segera meralatnya, "Sorry, Ma'am."


"I saw you looked at me so fiercely before. Is there something bothering you?"


"No, Ma'am. I'm just... hungry."


Teman-teman sekelasnya serempak tertawa.


"Oh, that's why.... I understand, Ralya. Hang in there. We can finish the study in five minutes."


Kalau bukan karena Ma'am Anna adalah gurunya, Ralya pasti sudah membalas, "Lima menit lagi memang waktunya istirahat, Madam." Namun Ralya sebaiknya menyimpan perkataan itu di dalam hati saja supaya tidak terkena masalah untuk kemudian dipanggil ke ruangan Bimbingan Konseling.

__ADS_1


*


"Hantu bodoh! Selama ini kau cuma dimanfaatkan!"


"Kalau memang iya, kenapa? Aku mencintainya!"


"Tetap saja kau tidak boleh memanfaatkan tubuh orang lain untuk bercinta dengan orang bejat yang kaucintai!!!"


"Kamu nggak pernah jadi aku, Ralya! Dulu aku nggak punya teman sewaktu aku masih hidup! Saat aku memakai tubuh anak-anak itu, aku jadi punya banyak teman dan aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan laki-laki yang aku cintai! Menyentuhnya langsung menggunakan tanganku yang terasa hangat!"


"Kalian berdua menjijikkan!"


"Cih, anggap saja kali ini aku bertemu seseorang yang sulit. Aku sedang kurang beruntung."


Mawar menghilang. Ralya merasakan Mawar benar-benar menghilang dan tak berniat kembali muncul di hadapannya. Hantu itu menolak permintaan Ralya untuk berhenti mengganggu perempuan-perempuan tak bersalah di sekolahnya. Memanfaatkan tubuh perempuan-perempuan itu demi memuaskan nafsu lelaki seperti Adrinan.


Bibir bawah Ralya berdarah karena dia gigiti sejak tadi. Dia tak memedulikan rasa perih yang kini menyerang bibirnya.


Ralya telah membawa pisau dari dapur rumahnya. Pisau itu tergenggam erat pada tangan kanannya. Dia mulai mencoba mengiris-ngiris batang pohon akasia yang menjadi asal-muasal kematian beberapa gadis perawan di sekolahnya setiap lima tahun sekali.


Sebenarnya, Ralya lebih ingin mengiris leher Pak Adrinan. Namun, apa daya, tanpa bukti yang kuat, Ralya hanya akan berakhir di penjara karena kasus pembunuhan. Sebagai orang yang masih punya akal sehat, Ralya jelas tak akan mengikuti kemauannya tanpa memikirkan risiko besar yang dapat diterimanya nanti.


Ralya menendang berkali-kali pohon yang tak berhasil ditebangnya menggunakan pisau dapur. Besok dia akan datang lagi dengan membawa gergaji. Dia telah bertekad untuk menebang pohon itu.


Mungkin ada satu hal lagi yang dapat dilakukannya....


"Bapak Kepala Sekolah, tolong tebang pohon akasia besar di belakang gedung sekolah kita!" teriak Ralya setelah membuka pintu ruangan kepala sekolah.


"Ada apa, Nak? Kenapa tiba-tiba kamu ingin menebang pohon?"


"Pak, tolong tebang pohon akasia besar di belakang gedung sekolah kita!" ulang Ralya sabar. “Satu-satunya pohon yang selama ini menjadi rumor kehebohan di sekolah kita!”


"Nak." Suara Kepala Sekolah terdengar dalam dan serius. "Sepuluh tahun lalu kepala sekolah sebelumnya pernah berusaha menebang pohon itu. Tapi pohon itu tak bisa ditebang dan bahkan setelahnya beliau sakit parah."


"Tapi, Pak. Saya bertemu penunggu pohon itu dan dialah yang menyebabkan kematian murid perempuan di sekolah kita setiap lima tahun sekali karena kerasukan!"


"Sekarang sudah masuk tahun keenam, tak ada yang meninggal karena kerasukan. Semuanya cuma soal kebetulan."


Ralya ingin menarik kerah kemeja kepala sekolahnya. Mengguncang-guncang tubuh tua itu supaya segera tersadar. Lagi-lagi, Ralya merasa tak berdaya.


TBC


_______


KESEL, GAK, SIH, SAMA KEPSEKNYA? Siapa yang pinisirin? Yuk, lanjut. 🤭

__ADS_1


__ADS_2